Senin, 18 April 2011

TYPHOID


TYPHOID



A.     KONSEP DASAR

1.      Pengertian
Thipus abdominalis ialah penyakit infeksi akut dengan kelainan atau kerusakan pada usus halus yang mempunyai gejala karakteristik adanya panas, nadi lambat dan gejala-gejala lain dari perut.

2.      Etiologi
Penyebab penyakit ini adalah salmonella typhosa, eberthela typhosa yang memasuki tubuh melalui saluran pencernaan. Sifat bakteri ini tidak berspora sangat aktif bergerak, mempunyai piagel panjang, dapat hidup diluar tubuh manusia beberapa bulan dan bila kondisi kurang baik akan berkembang biak.

Beberapa faktor yang berpengaruh terhadap terjadinya penyakit typhus abdominalis yaitu: faktor lingkungan, kebersihan indifidu yang buruk, status ekonomi yang rendah, gizi kurang dan pendidikan yang rendah.

Golongan bakteri typhoid: salmonella typhy dan salmonela paratyphy A, B &C.

3.      Patologi
Kelainan patologi utama terjadi di usus halus terutama di ileum bagian distal. Pada minggu pertama penyakit twerjadi hiperplasia plaks peyer disusul minggu kedua terjadi nekrosis dan dan minggu ketiga ulserasi plaks peyer selanjutnya minggu keempat penyembuhan ulkus-ulkus dengan meninggalkan sikatrik.

Ulkus berbentuk bulat lonjong dengan sumbu memanjang sejajar dengan sumbu usus. Ulkus dapat menyebabkan perdarahan bahkan sampai perforasi usus. Hepar membesar dengan infiltrat limfosit sel plasma dan sel monoklear serta nekrosis fokal.

Kelainan patologik juga dijumpai pada ginjal, paru, jantung, selaput otak, otot dan tulang.

4.      Patofisiologi

                                                      Kuman S. Typhy
 


                                    Masuk melalui mulut kedalam tubuh os
                                   (makanan dan air yang tercemar bakteri)
                            masuk ke lambung               masuk ke usus halus







 


                          dimusnahkan oleh                 terjadinya infeksi pada
                          asam lambung                      saluran pencernaan melalui
                                                                        pembuluh darah limfe halus


 


                                    salmonella masuk ke peredaran darah
                              sampai di organ-organ terutama hati dan limfe


 


                              organ organ tersebut akan membesar disertai
                                              nyeri tekan saat perabaan


 


                                            bakteri masuk kedalam darah 
(bacterimia)


5.      Tanda Dan Gejala
Massa inkubasi penyakit typhoid antara 10-14 hari atau satu sampai dua minggu tergantung dari jumlah bakteri yang masuk. Selama massa tunas/inkubasi akan timbul gejala-gejala yang disebut gejala psodormai seperti: tidak enak makan, meriam/demam, pusing dan sakit kepala, mual, muntah, badan terasa lemas, tulang-tulang atau sendi terasa sakit, nafsu makan kurang atau/tidak ada setelah gejala psodormai.

Gejala khas typhoi yaitu:
a.      Panas terus-menerus selama lebih dari tujuh hari (panas tinggi)
b.      Nadi relatif bradikardi
c.      Lidah yang khas kotor di tengah, tepi dan ujung merah, bila lidah dikeluarkan tremor/bergetar
d.      Ada gangguan mental yatu samnolensia, apatis, delerium, stupar, coma atau psikosis.
e.      Timbul hematomegali, splenomegali, meteorismus, daerah hepar nyeri tekan karena adanya infeksi, bila panas turun pembesaran hepar dari klien hilang
f.        Pada typhus kadang-kadang terjadi obstifasi dan pada paratyphus akan mengalami mencret, kadang-kadang terjadi diare
g.      Pada pemeriksaan lab didapat leukosit menurun (leukopenia)

Panas (febris pada typhus mempunyai beberapa stadium yaitu:
a.      Minggu pertama disebut incremasi
Yaitu menaiknya suhu badan disertai demam, nyeri kepala, pusing, obstifikasi atau diare, perasaan tidak enak diperut, batuk dan kadang-kadang efitaksis.
Pada akhir minggu pertama bisa timbul bintik-bintik merah sebesar jarum pentul, bila ditekan hilang, biasanya timbul sebelah dada bagian bawah, abdomen bagian ats dan menjalar ke daerah perut, bintiuk merah disebut “roseola” atau rase spat.
b.      Minggu kedua dan ketiga disebut stadium “acme”
Yaitu massa memuncak penyakit atau panas yang menetap yang disebut febris continue, suhu berkisar 40-42oc sedangkan nadi relatif bradicardi.


c.      Minggu keempat disebut stadium dekremasi
Yaitu massa penurunan panas, suhu berangsur-angsur turun, nafsu makan mulai ada, badan merasa enak.
d.      Pada akhir minggu keempat disebut reconvalescent
Yaitu massa penyembuhan, keadaan umum makin baik keadaan sudah segar dan kuat, nafsu makan lebih baik
e.      Diantara minggu ketiga dan keempat yang disebut stadium imphibole atau disebut massa sangsi
Biasanya terjadi penurunan suhu yang kritis terjadi kenaikan nadi bila ditemukan gejala ini harus hati-hati menandakan adanya timbul komplikasi seperti perdarahan.

6.      Komplikasi
a.      Komplikasi intestinal
1)      Perdarahan usus
2)      Pervorasi usus
3)      Ulcus paralitik
b.      Komplikasi ekstra intestinal
1)      Komplikasi cardiovaskuler
Kegagalan sirkulasi periver (rejatan sepsis) miocarditis, trombosis dan trombofiegitis
2)      Komplikasi darah
Anemi haemolitik, trombositopenia dan atau desemineted intracaskuler coagulation (DIC)
3)      Komplikasi paru-paru
Pneomonie, empysema dan pleuritis
4)      Komplikasi ginjal
Glomerolus nefritis, plenonefritis
5)      Komplikasi tulang
Osteomielitis, periostitis, spondilitis dan arteitis
6)      Komplikasi neoropsikiatrik
Delerium, meningismus, meningitis, polineuritis periver, syndrom gullan barre, psikose dan sindroma katatonia
c.      Parotitis
d.      Residif atau kambuh kembali

7.      Pencegahan
a.      Usaha terhadap lingkungan hidup
1)      Penyediaan air minum yang memenuhi syarat
2)      Pembuangan kotoran manusia yang hygienes
3)      Pembarantasan vektor, mis: lalat
4)      Pengawasan terhadap rumah-rumah makan dan penjual makanan terutama jajanan anak sekolah
b.      Usaha terhadap manusia
1)      Imunisasi
2)      Menemukan dan mengawasi carier typhoid
3)      Pendidikan kesehatan kepada masyarakat



8.      Pengobatan
Terdiri dari tiga bagian:
a.      Perawatan
b.      Diit
c.      Obat

9.      Penatalksanaan Medis
Pemeriksaan Lab
a.      Pemeriksaan rutin
Urine, feces, Hb, leukosit, eritrosit, ureum, gula darah
b.      Pemeriksaan khusus
1)      Pemeriksaan cultur/biakan darah
Kemungkinan didapat lekopani, limfositosis relatif, anemia dan trombositopenia ringan, pembiakana kuman dari darah penderita.
2)      Tes widal
Yaitu suatu rekasi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin), tujuannya untuk menentukan adanya aglutinin (zat di dalam serum-serum yang menyebabkan aglutinasi/penggumpalan bacteri dengan sel darah merah) dalam serum pasien yang tersangka typhoid.
Akibat infeksi oleh salmonela typi pasien (aglutinin), yaitu:
a)      Aglutinin O yang dibuat karena rangsangan antigen O (berasal dari tubuh kuman)
b)      Aglutinin H karena rangsangan antigen H (berasal dari piegelakuman)
c)      Aglutinin V1 karena rangsangan antigen V1 (berasal dari simpai kuman)
Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang ditentukan liternya untuk diagnosa.
Makin tinggi titernya makin besar kemungkinan pasien menderita typhoid. Pada infeksi yang aktif titer rekasi widal akan meningkat pada pada pemeriksaan ulang yang dilakukan selang waktu paling sedikit lima hari.
c.      Fungsi sumsum tulang/sternum punctie
Dilakukan bila pasien tekah melakukan pengobatan lebih dahulu di rumah yang tidak tuntas sehingga bila diperiksa gal cultur dan widal akan selalu negatif. Sedangkan bila diperiksa sumsum tulang kebanyakan hasilnya positif.
d.      Feces Cultur
e.      Urine cultur
f.        Leokosit kadang-kadang terjadi leukopeni, kadang-kadang normal, kadang-kadang terjadi leukositosis.
Bila terjadi perdarahan dilakukan pemeriksaan
a.      Hb
b.      Trombosit
c.      Waktu pembekuan
d.      Waktu perdarahan
e.      Cairan elektrolit
f.        DIC (disminated intracaskuler coagulation), yaitu pemeriksaan adanya pengendapan pada pembuluh darah (emboli) yang disebabkan hasil typhus.





B.     ASUHAN KEPERAWATAN

1.      Pengkajian
a.      Data objektif
1)      Panas yang terus-menerus tinggi selama tujuh hari
2)      Nadi relatif bradicardi
3)      Lidah kotor
4)      Gangguan kesadaran yaitu samnolensia, delerium, apatis
b.      Data subjektif
1)      Nafsu makan kurang, mual ingin muntah
2)      Badan merasa tidak enak dan lemas
3)      Tulang atau sendi-sendi sakit, pusing dan sakit kepala
c.      Data penunjang
Leokosit menurun

2.      Diagnosa Keperawatan
a.      Peningkatan suhu tubuh sehubungan dengan salmonella typhosa dan endotoksinnya menyerang atau merangsang sintesis dan pelepasan pirogen  oleh leokosit pada jaringan yang meradang (usus halus)
b.      Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi sehubungan dengan adanya anoreksia, mual dan muntah juga pengaruh demam dan penyakitnya sendiri
c.      Gangguan pola aktivitas sehari-hari sehubungan dengan pasien lemah dan bedrest total
d.      Gangguan atau penurunan kesadaran, delirium, samnolensia, apatis sehubungan dengan toksin masuk secara hematogen ke otak

Tujuan
a.      Suhu tubuh dapat diatasi dengan kriteria suhu turun normal 36-37oc, kulit tidak merah, pasien tenang dan tampak segar
b.      Nutrisi terpenuhi dengan kriteria nafsu makan baik, makanan yang disajikan habis, tidak ada mual dan muntah, pasien tampak segar
c.      Keadaan pulih kembali dengan kriteria kesadaran normal, dapat diajak bicara, pasien tenang
d.      Dapat melakukan aktifitas secara bertahap dengan kriteria pasien dapat melaksanakan kebutuhan sehari-hari tanpa dibantu orang lain, keadaan umum pasien baik
e.      Menghindari terjadinya dekubitus dan hipostatis pneomonie dengan kriteria kulit bokong tidak merah atau lecet pasien tidak sesak

3.      Rencana Tindakan Perawatan
a.      Untuk mengatasi gangguan suhu tubuh
1)      Anjurkan agar pasien bedrest total
2)      Beri minum yang segar dan cukup
3)      Beri kompres hangat pada dahi, kuduk atau ketia
4)      Monitor temperatur secara teratur, catat adanya gejala-gejala klinis sehubungan dengan adanya proses infeksi
b.      Untuk memenuhi nutrisi
1)      Bujuk pasien agar mau mkaan dan beri pengertian akan pentingnya makanan
2)      Berikan makanan yang mudah dicerna, tidak merangsang dan sajikan dalam keadaan hangat
3)      Auskultasi bising usus, catat bila bunyi hiperaktif
4)      Lakukan oral hygiene setiap habis makan observasi temperatur
5)      Berikan vitamin sesuai dengan petunjuk, seperti vitamin B komplek
c.      Pemenuhan aktifitas sehari-hari
Bantu kebutuhan aktifitas sehari-hari pasien: BAB, BAK dan personal hygiene
d.      Untuk menanggulangi penurunan kesadaran
1)      Jaga keaamanan pasien dengan dengan pasang pelindung pada kedua sisi ranjang
2)      Monitor secara continue keadaan umum pasien dan monitor temperatur secara teratur dan catat gejala-gejala klinis
e.      Mencegah terjadinya dekubitus dan pneumoni baring
1)      Rubah posisi pasien miring kiri atau kanan sesuai kebutuhan
2)      Anjurkan pasien untuk ambulasi bila sudah kuat
3)      Massage daerah yang terkena tekanan
4)      Pertahankan agar laken tetap rata atau tidak berkerut
5)      Kaki tempat tidur bagian kepala ditinggika








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar