Senin, 18 April 2011

LP HDR

GANGGUAN KONSEP DIRI:
HARGA DIRI RENDAH



A.     KONSEP DIRI


1.      Pengertian konsep diri
Konsep diri adalah semua ide, pikiran, keyakinan dan kepercayaan yang membuat seseorang mengetahui tentang dirinya dan mempengaruhi hubungan dengan orang lain (Stuart dan sundeen 1998: 227).

Konsep diri seseorang tidak terbentuk waktu lahir, tetapi dipelajari sebagai hasil dari pengalaman unik seseorang dalam dirinya sendiri, dengan orang terdekat, dan dengan realita dunia.

Konsep diri terdiri atas komponen-komponen berikut:
a.      Citra tubuh adalah kumpulan dari sikap individu yang disadari dan tidak disadari terhadap tubuhnya. Termasuk persepsi masa lalu dan sekarang, serta perasaan tentang ukuran, fungsi, penampilan dan potensi yang secara berkesinambungan dimodifikasi dengan persepsi dan pengalaman baru.
b.      Ideal diri adalah persepsi individu tentang bagaimana dia seharusnya berprilaku berdasarkan standar, aspirasi, tujuan, atau nilai personal tertentu.
c.      Harga diri adalah penilaian individu tentang nilai personal yang diperoleh dengan menganalisa seberapa baik prilaku seseorang sesuai dengan identitas diri, harga diri yang tinggi adalah perasaan yang berakar dalam penerimaan diri sendiri tanpa syarat, walaupun melakukan kesalahan, kekalahan dan kegagalan, tetapi merasa sebagai seorang yang penting dan berharga.
d.      Penampilan peran adalah serangkaian pola prilaku yang diharapkan oleh lingkungan sosial berhubungan dengan fungsi diberbagai kelompok sosial. Peran yang ditetapkan adalah peran dimana seseorang tidak mempunyai pilihan. Peran yang di terima adalah peran yang terpilih atau dipilih oleh individu.
e.      Identitas personal adalah pengorganisasian prinsip dari kepribadian yang bertanggung jawab terhadap kesatuan, kesinambungan, konsistensi dan keunikan individu. Pembentukan identitas dimulai pada masa bayi dan terus berlangsung sepanjang hidupnya, tetapi merupakan tugas utama pada masa remaja.
Gangguan harga diri dapat digambarkan sebagai perasaan negatif terhadap diri sendiri, hilang kepercayaan diri, merasa gagal mencapai keinginan.

2.      Psikodinamika konsep diri
a.      Etiologi
Penyebab dari gangguan konsep diri adalah:
1)      Situasional
Yaitu terjadi trauma yang tiba–tiba, misal : harus operasi, kecelakaan, dicerai suami, putus sekolah, putus hubungan kerja, perasaan malu karena sesuatu terjadi (korban perkosaan, dituduh, korupsi, kolusi, nepotisme, dipenjara tiba-tiba).


2)      Kronik
Yaitu perasaan negatif terhadap diri sendiri telah berlangsung lama sebelum sakit atau  dirawat, klien mempunyai cara berfikir negatif. Kejadian sakit dan dirawat akan menambah persepsi negatif terhadap dirinya.

b.      Faktor Predisposisi
1)      Penolakan orang tua.
2)      Harapan orang tua yang tidak realistis.
3)      Kegagalan berulang kali.
4)      Kurang mempunyai tanggung jawab personal.
5)      Ketergantungan pada orang lain. 
6)      Ideal diri yang tidak realistis.

c.      Komplikasi
1)      Isolasi sosial: menarik diri.
2)      Timbulnya masalah persepsi sensori halusinasi dengar, lihat, raba, cium dan lain-lain.

d.   Rentang respon konsep diri
                       
                  Respon adaptif                                                               Respon maladaptif
                                    
                  Aktualisasi   Konsep diri          Harga diri        Kerancuan   Deporsonalisasi
                          diri           positif                  rendah             identitas
(Stuart and Sundeen 1998)
e.      Tanda dan gejala  
Tanda dan gejala yang bisa muncul akibat dari gangguan konsep diri  adalah mengkritik diri sendiri atau  orang lain, penurunan produktifitas,  destruktif yang diarahkan pada orang lain, gangguan dalam berhubungan, rasa diri penting yang berlebihan, perasaan tidak mampu, rasa bersalah, mudah tersinggung atau marah yang berlebihan, perasaan negatif mengenai tubuhnya sendiri., ketegangan peran yang dirasakan, pandangan hidup yang pesimis, keluhan fisik, pandangan hidup yang bertentangan, penolakan terhadap kemampuan personal, destruktif terhadap diri sendiri, pengurangan diri, penarikan diri secara sosial, penyalahgunaan zat, menarik diri dari realitas.


B.     ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN GANGGUAN KONSEP DIRI


Dalam melakukan asuhan keperawatan pada gangguan konsep diri meliputi                        beberapa kegiatan, diantaranya adalah:

1.      Pengkajian
Didalam kegiatan pengkajian ini, beberapa komponen yang dikaji yaitu:
a.      Faktor yang mempengaruhi gangguan konsep diri
Faktor ini meliputi penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak realistis, kegagalan berulang kali, kurang mempunyai tanggung jawab personal, ketergantungan pada orang lain dan ideal diri yang tidak realistis.


b.      Stresor Pencetus
1).    Adanya trauma
Trauma aniaya seksual, psikologis, dan menyaksikan kejadian yang mengancam kehidupan.     
2).    Ketegangan peran
Berhubungan dengan peran atau posisi yang diharapkan, dimana individu mengalami fluktuasi.

c.      Manifestasi klinis 
Gejala – gejala yang muncul akibat dari gangguan konsep diri yaitu : Mengkritik diri sendiri, perasaan malu terhadap diri sendiri, perasaan bersalah terhadap diri sendiri, gangguan hubungan sosial, kurang percaya diri.

d.      Pohon Masalah
Isolasi  sosial : Menarik diri


 





Gangguan citra tubuh
(Kelliat 1998)
Masalah Keperawatan
1).    Isolasi sosial: Menarik diri.
2).    Gangguan konsep diri: Harga diri rendah.
3).    Gangguan citra tubuh

2.      Diagnosa Keperawatan
a.      Isolasi sosial: Menarik diri berhubungan dengan gangguan konsep diri : Harga diri rendah.
b.      Gangguan konsep diri: Harga diri rendah berhubungan dengan gangguan citra tubuh.

3.      Intervensi Keperawatan
a.      Perencanaan Keperawatan:
1).    Isolasi sosial menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah
a).    Tujuan umum: klien dapat berhubungan dengan orang lain secara optimal
b).    Tujuan Khusus:
(1). Klien dapat membina hubungan saling percaya
Kriteria Evaluasi:
(a). Klien dapat memperkenalkan dirinya
(b). Klien dapat mengungkapkan perasaannya terhadap penyakit yang diderita
(c). Klien mau menjawab salam
(d). Klien menunjukan ekspresi bersahabat
Tindakan keperawatan:
(a). Bina hubungan saling percaya
-       Salam terapeutik
-       Jelaskan tujuan interkasi
-       Buat kontrak yang jelas
(b). Beri kesempatan untuk mengungkapkan perasaannya dengan penyakit yang diderita
(c). Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
(d). Katakan pada klien bahwa ia adalah seseorang yang berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya sendiri.
(2). Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
Keriteria Evaluasi: klien dapat menyebutkan aspek positif dan kemampuan dirinya
Tindakan keperawatan:
                                                                         (a).Diskusikan kemampuan dan sapek positif yang dimiliki klien
                                                                         (b).Setiap bertemu klien hindarkan memberi penilaian negatif
                                                                         (c).Utamakan memberikan pujian yang realistik.
(3). Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan
Kriteria Evaluasi: klien dapat menyabutkan kemampuan yang masih dapat digunakan
Tindakan Keperawatan:
                                                                         (a).Diskusikan kemampuan yang dapat digunakan selama sakit
                                                                         (b).Diskusikan pula kemampuan yang dapat dianjurkan penggunaannya setelah pulang sesuai dengan kondisi sakit klien
(4). Klien dapat menetapkan (merencanakan) kegiatan sesuai dengan kondisi sakit dan kemampuan yamg dimiliki.
Kriteria Evaluasi: klien dapat menetapkan keinginan atau tujuan yang realistis.
Tidakan Keperawatan:
                                                                         (a).Rencana bersama klien aktivitas yang dapat dilakukan setiap hari sesuai kemampuan
                                                                         (b).Tingkatkan kegiatan sesuai dengan toleransi kondisi klien
                                                                         (c).Beri contoh pekasanaan kegiatan yang boleh klien lakukan
(5). Klien dapat melakukan kegiatan sesuai dengan kondisi sakit dan kemampuan yang dimiliki
Kriteria Evaluasi: klien melakukan kegiatan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki
Tindakan keperawatan:
                                                                         (a).Beri kesempatan pada klien untuk mencoba kegiatan yang telah direncanakan
                                                                         (b).Beri pujian atas keberhasilan klien
                                                                         (c).Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah
(6). Klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada
Kriteria Evaluasi: klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada dikeluarga
Tindakan keperawatan:
                                                                         (a).Berikan pendidikan kesehatan pada keluarga tentang cara merawat klien harga diri rendah
                                                                         (b).Bantu keluarga memberikan dukungan selama klien di rawat
                                                                         (c).Bantu keluarga menyiapkan lingkungan di rumah
(7). Klien dapat mengguanakan obat dengan 6 benar
Kriteria Evaluasi: klien dapat mengguankan obat dengan prinsip 6 benar


Tindakan keperawatan:
                                                                         (a).Beri pengetahuan tentang obat, dosis dan manfaat obat dengan benar
                                                                         (b).Anjurkan klien meminta obat sendiri pada perawat

2).    Gangguan konsep diri: harga diri rendah berhubungan dengan gangguan citra tubuh
a).    Tujuan umum: klien dapat menunjukan peningkatan harga diri
b).    Tujuan Khusus
(1). Klien dapat meningkatkan keterbukaan dan hubungan saling percaya
Kriteria Evaluasi: klien dapat meningkatkan keterbukaan dan saling percaya dengan perawat
Tindakan keperawatan:
(a)   Bina hubungan saling percaya
-       Salam terapeutik
-       Komunikasi terbuka, jujur dan empati
-       Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
-       Berikan kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaan terhadap perubahan itu
(2). Klien dapat mengidentifikasi perubahan citra tubuh
Kriteria Evaluasi: klien menerima perubahan tubuh yang terjadi
Tindakan keperawatan:
(a)   Diskusikan perubahan struktur, bentuk atau fungsi tubuh
(b)   Observasi ekspresi klien pada saat diskusi
(3). Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
Kriteria Evaluasi: klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
Tindakan keperawatan:
(a)   Diskusikan kemampuan dan aspek positif yang dimiliki oleh klien dari luar perubahab yang terjadi
(b)   Beri pujian atas aspek positif dan kemampuan yang masih dimiliki klien
(4). Klien dapat menerima realita perubahan struktur, bentuk atau fungsi tubuh
Kriteria Evaluasi: klien menerima perubahan tubuh yang terjadi
Tindakan keperawatan:
(a)   Dorong klien untuk dan berperan serta dalam asuhan keperawatan secara bertahap
(b)   Libatkan klien dalam kelompok dengan masalah gangguan citra tubuh
(c)   Tingkatkan dukungan keluarga pada klien terutama pasangan
(5). Klien dapat menyusun rencana cara-cara menyelesaikan masalah yang harus dihadapi.
Kriteria evaluasi: klien dapat memilih beberapa cara mengatasi perubahan yang terjadi
Tindakan keperawatan:
(a)   Diskusikan cara-cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak perubahan struktur atau fungsi tubuh.
(b)   Dorong klien memilih cara yang sesuai bagi klien
(c)   Bantu klien melakukan cara yang dipilih
(6). Klien dapat melakukan tindakan pengambilan integritas tubuh
Kriteria evaluasi: Klien adaptasi dengan cara yang dipilih dan digunakan
Tindakan keperawatan:
(a)   Bantu klien mengurangi perubahan citra tubuh, misalnya protes untuk bagian tubuh yang tertentu
(b)   Rehabilitasi bertahap bagi klien.

b.      Penatalaksanaan Medis
Harga diri rendah termasuk dalam kelompok penyakit skizoprenia tidak tergolongkan, maka jenis penatalaksanaan yang bisa dilakukan adalah:
1)      Psikofarmakol
Adalah terapi dengan menggunakan obat, tujuannya untuk mengurangi atau menghilangkan gejala gangguan jiwa, obat yang biasa digunakan di RS jiwa antara lain.
a)      Anti Psikosis
(1)   Cloropromazin ( Thorazime) dosis 25-2000 mg/hari
(2)   Haloperidol (hal dol) dosis 2-40 mg/hr indikasi digunakan untuk pengobatan psikosa, mengobati masalah perilaku yang berat pada anak-anak yang berhubungan dengan keadaan yang tiba-tiba meledak, mengontrol mual dan muntah yang berat dan kecemasan berat. Kontra indikasi: hiperaktif, galaukoma, hamil dan menyesui, efek samping yaitu anemia, mulut kering, mual dan muntah, konstipasi, diare, hipotensi, aritmia cordis, takikardi, eksrapiramidal, penglihatan berkabut.
b)      Anti Parkinson
Trihexypenidril (artane) dosis 5-15 mg/hr indikasi berbagai bentuk parkinsonisme. Kontra indikasi: galukoma, takikardi, hipertensi, penyakit jantung, asma, ulserasi, duodenum. Efek samping: sakit kepala, lemas, cemas, psikosis, depresi, halusinasi, ortostatik, foto sensitivitas, penglihatan berkabut, mual muntah, konstipasi, frekuensi/retansi urin.
2)      Pengobatan Somatik
a)      Elektro Convulsif Therapi (ECT)
Merupakan pengobatan untuk menimbulkan kejang grand mal yang menghasilkan efek therapi dengan menggunakan arus listrik berkekuatan 75-100 volt. Cara kerja belum diketahui secara jelas namun dapat dikatakan bahwa therapi convulsif dapat memperpendek lamanya skizofrenia dan dapat mempermudah kontak dengan orang lain, indikasi ECT yaitu depresi berat dan bila therapi obat-obatan belum berhasil (gangguan berpolar), klien yang sangat mania, hiperaktif, klien resiko tinggi bunuh diri, psikosis akut, skozoprenia.
b)      Pengkajian Fisik
Terdiri dari pengekangan mekanik dan isolasi
Pengekangan mekanik dilakukan dengan menggunakan manset untuk pergelangan tangan dan kaki serta seprei pengekang.
Isolasi yaitu menempatkan klien dalam suatu ruangan tertentu di Rumah sakit.
Indikasi: Pengendalian prilaku amuk yang membahayakan diri dan orang lain
Kontra indikasi: resiko tinggi bunuh diri, hukuman.


3)      Psikoterapi
Psikoterapi membutuhkan waktu yang relatif cukup lama dan merupakan bagian penting proses terapeutik, upaya dalam psikoterapi yaitu memberikan rasa aman dan tenang. Menerima klien apa adanya, motivasi klien untuk dapat mengungkapkan perasaannya secara verbal, bersikap ramah sopan dan jujur pada klien.
4)      Terapy Modalitas
Therapi Okupasi:
Therapi okupasi adalah suatu ilmu dan seni untuk mengarahkan partisifasi seseorang dalam melaksanakan aktivitas atau juga yang segala dipilih dengan maksud untuk memperbaiki, memperkuat dan meningkatkan harga diri.

3.      Evaluasi
a.      Isolasi sosial: menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah
1)      Klien dapat membina hubungan saling percaya dengan perawat
2)      Klien dapat mengidentifikasi kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
3)      Klien dapat menilai kemampuan yang dapat digunakan
4)      klien dapat menetapkan (merencanakan) kegiatan sesuai dengan kondisi sakit  dan kemampuan yang dimiliki
5)      klien dapat melakukan kegiatan sesuai dengan kondisi sakit yang dimiliki
6)      klien dapat memanfaatkan sistem pendukung yang ada
7)      klien dapat menggunakan kegiatan sesuai kondisi sakit yang dimiliki
b.      Gangguan konsep diri: Harga diri rendah berhubungan dengan gangguan citra tubuh
1)      Klien dapat meningkatkan keterbukaan dan hubungan saling percaya
2)      klien  dapat mengidentifikasi perubahan citra tubuh
3)      Klien dapat menilai kemampuan dan aspek positif yang dimiliki
4)      klien dapat menerima realita perubahan struktur, bentuk fungsi tubuh
5)      klien dapat menyusun rencana cara-cara menyelesaikan masalah yang harus dihadapi
6)      klien dapat melakukan tindakan pengembalian integritas tubuh

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan RI, (1994), Pedoman Perawatan Psikiatri Intervensi Keperawatan, Direktorat Kesehatan Jiwa, Direktorat Jendral Pelayanan Medik Departemen Kesehatan RI.

Kelliat, Budi Anna, (1998), Proses Keperawatan Klien Gangguan Jiwa,  Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Maramis, W.F, (1998), Catatan Ilmu Keperawatan Jiwa, Surabaya, Airlangga Universitas Press.

Rusdi Muslim, Dr, (2001), Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Tujuan Ringkas,  PPDGJ III, Jakarta.

Stuart, Gail Wiscart and Sundeen Sandra, (1998), Buku Saku Keperawatan Jiwa, (edisi 3), EGC, Jakarta.

Towesend Mary, (1998), Buku Saku Diagnosa Keperawatan Psikiatri, Buku Kedokteran EGC, Jakarta.    



















ISOLASI SOSIAL:
MENARIK DIRI



A.     KONSEP DASAR

1.      Pengertian
Gangguan hubungan sosial adalah suatu gangguan keperibadian yang tidak fleksibel pada tingkah laku yang mal adptif menggangu fungsi seseorang dalam hubungan sosialanya. prilaku menarik diri merupakan cobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, menghindari hubungan dengan orang lain (Kawlins, 1993, hal 336).

Isolasi social suatu keadaan dimana individu atau kelompok mengalami atau merasakan keinginan untuk meningkatkan keterlibatan dengan orang lain tetapi tidak mampu untuk membuat kontrak (Carpenito, 1997).

Perilaku menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi hubungan dengan orang lain (Rowlins, 1993).         

2.      Etiologi
Terjadinya menarik diri dipengarui oleh faktor predisposisi dan stresosr presipitasi, faktor perkembangan dan sosial budaya merupakan faktor predisposisi terjadinya prilaku menarik diri, kegagalan perkembangan dapat mengakibatkan individu tidak percaya diri, tidak percaya diri pada orang lain, menghindari dari orang lain, tidak mampu memuaskan keingnan dan merasa tertekan. Keadan ini dapat menimbulkan prilaku tidak ingin bekomunikasi, dengan orang lain, menghindari diri dari orang lain lebih menyukai berdiam diri, kegiatan sehari hari hampir terabaikan.

3.      Rentang Respon sosial
Manusia dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari selalu membutuhkan orang lain dan lingkungan sosial, manusia tidak akan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa adanya hubungan dengan lingkungan sosial. Berada dalam rentang yang adaptif dan mal adaptif.

RENTANG RESPON SOSIAL


 


Konstruktif                                  Respon Sosial                         Deskriptif











 


Respon adaptif                                                                           Respon mal adaptif-







 


-  Solotude                                  - Alonese                                 - Lonelinees
- Otonomi                                   - Manifulasi                             - Ekploitas
- Kebersamaan                          - Tergantung                           - Menarik diri
- Interdependen                          - Curiga                                   - Paranoid

Bila terjadi kecemasan yang tinggi, maka indifidu cenderung untuk menarik diri sampai respon yang mal adaptif sehingga rangsangan terhadaplingkungan akan menurun dan juga lebih berfokus terhadap dunia internalnya sehingga dapat meningkatkan kecemasan klien.

4.      Respon Adaptif
Adalah respon yang masih dapat diterima oleh norma-norma sosial dan budaya secara umum yang berlaku dengan kata lain bahwa individu tersebut masih dalam batas normal menyelesaikan masalah, respon ini meliputi:
a.      Menyendiri (Solitude) adalah rspon yang dibutuhkan oleh sesorang untuk merenungkan apa yang telah di lakukan di lingkungan sosialnya dan  salah  satu
b.      cara mengvaluasi diri untuk menentukan langkah selanjutnya.
c.      Otonomi adalah kemampuan indifidu untuk menentukan dan menyampaikan ide- ide, pikiran, perasaan, dalam hubungan sosial.
d.      Interdependen adalah saling ketergantungan antara indifidu dengan orang lain dalam membina hubungan interpersonal.
e.      Kerja sama adalah suatu kondisi dimana huungan interpersonal indi fidu tersebut mampu untuk saling memberi dan menerima.

5.      Respon Mal Adaptif 
Adalah respon yang diberikan individu dalam menyelesaikan masalah misalnya yang sudah menyimpang dari norma sosial dan kebudayaan suatu tempat, respon mal adaptif yang sering ditmukan antara lain:
a.      Menarik diri, dimana terjadi apabila sseorang menemukan kesulitan dalam membina hubungan scara terbuka dngan orang lain.
b.      Tergantung, terjadi apabila individu gagal mengembangkan rasa prcaya diri atau kemampuan untuk berfungsi secara terbuka.
c.      Manipulasi, terdapa pada individu yang mngganggap orng lain sebagai obyek, indivdu tidak dapat membina hubungan sosial secara mendalam.
d.      Curiga, terjadi apabila individu gagal mengembangkan rasa percaya dengan orang lain.

6.      Tanda Dan Gejala
a.      Apatis, ekspresi sedih, afek tumpul.
b.      Menghindar dari orang lain (Menarik diri), klien tampak memisakan diri dari orang lain, misalnya pada saat makan.
c.      Komunikasi kurang atau tidak ada klien tidak dapat becakap-cakap denan orang lain.
d.      Tidak ada kontak mata, klien lebih sering menunduk.
e.      Berdiam diri dikamar atau tempat terpisah, klien kurang mobilitasnya.
f.        Menolak berhubungan dengan orang lain, klien mumutuskan percakapan atau pergi jika dajak becakap-cakap.
g.      Tidak melakukan kegiatan sehari hari
h.      Posisi seperti posisi janin saat tidur






B.     ASUHAN KEPERAWATAN

1.    Pengkajian
Meliputi:  Faktor pendukung, faktor pencetus, terjadinya hubungan sosial, prilaku pasen, mekanisme koping.
a.      Faktor Predisposisi
Beberapa faktor pendukung tejadinya hubungan sosial:
1)      Faktor tumbuh kembang individu
Ada tugas perkembangan yang harus dipenui agar tidak trjadi dalam hubungan sosial. tugas perkembangan ini pada masing masing tahap tumbuh kembang mempunyai spesifik terdiri dari, bila tugas-tugas dalam perkembangan ini tidak dapat terpenui akan menghambat perkembangan selanjutnya pada fase oral apabila tugas perkembangan dalam bentuk ras asaling percaya pada dirinya dan orang lain ( dirinya)
2)      Faktor komunikasi dam keluarga
Gangguan komunikasi  dalam  keluarga merupakan faktor pendukung utuk terjadi dalam hubungan sosial.
3)      Faktor sosial dan budaya
Isolasi sosial atau mengasingkan diri dari lingkungan sosial, mrupakan sutu faktor pendukung terjadinya gangguan dalam hubungan sosial.
4)      Faktor biologis
Genetik merupakan salah satu faktor pendukung gangguan jiwa.

b.      Faktor presifitasi
Faktor presifitasi dapat ditimbulkan oleh faktor internal dan eksternal, meliputi:
1)      Stresor sosial budaya, setres yang ditimbulkan oleh faktor sosial ini disebabkan oleh berapa hal antara lain keluarga yang labil, berpisah dengan orang terdekat/beradapatasi, misalnya: dirawat di RS akibat penyakit kronis.
2)      Faktor hormonal, gangguan dari fungsi kelenjar bawah otak (Gland pituari) menyebabkan turunnya hormon ESH dan LH.
3)      Hipotesa virus, Virus HIV dapat menyebabkan tingkah laku psikotik.
4)      Model biological lingkungan sosial, Tubuh akan menggambarkan ambang toleransi seotang terhdap  setress, pada sat terjadinya interaksi dengan sekessor dilingkungan sendiri
5)      Stresor psikologik, Kecemasan yang berkepanjangan cukup berat dengan terbatasnya individu dalam menyelesaikan masalah tersebut akan menyebabkan gangguan hubungan social.

c.       Pohon masalah
Resiko Peruahan Sensori Persepsi: Halusinasi







 Masalah utama
 

 


Isolasi Sosial: Menarik diri


 


Gangguan Konsep diri: Harga diri Rendah

d.      Masalah Keperawatan
1)      Resiko perubahan sensori persepsi: Halusinasi.
2)      Gangguan Konsep Diri: Harga Diri Rendah.
2.      Diagnosa keperawatan
a.      Resiko perubahan sensori persepsi: Halusinasi berhubungan dengan menarik diri.
b.      Gangguan hubungan sosial: menarik diri berhubungan dengan harga diri rendah

3.      Rencana Tindakan Keperawatan
Diagnosa; Resiko perubahan sensori persepsi: halusinasi berhubungan dengan menarik diri.
a.      Tujuan Umum: Tidak terjadi perubahan sensori persepsi
b.      Tujuan Khussus: Klien dapat:
1)      Membina hubungan saling percaya.
2)      Menyebutkan penyebab menarik diri.
3)      Menyebutkan keuntungan berhubungan dengan orang lain.
4)      Melakukan hubungan sosial secara bertahap: klien-erawat, klien-perawat-klien/perawat, klien kelompok, klien-keluarga
5)      Mengungkapkan perasaan setelah berhubungan dengan orang lain.
6)      Memberdayakan sistem pendukung.
7)      Menggunakan obat dengan benar dan tepat.

4.      Tindakan Keperawatan
a.      Bina hubungan saling percaya: salam trapiutik, perkenalan diri, jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang Buat kontak dari setiap pertemuan (topik yang akan dibicarakan, tempat pembicaraan, waktu berbicara)
b.      Berikan perhatian dan penghargaan: temani klien walau klien tidak menjawab, katakan “Saya akan duduk disamping anada, jika ingin mengatakan sesuatu saya siap mendengarkan “Jika menatap perawat, katakan“ Ada yang ingin  anda katakana”
c.       Dengarkan klien dengan empati: beri kesempatan bicara (janggan diburu-uru) tunjukkan perawat mengikuti pembicaraan klien.
d.      Bicarakan dengan klien penyebab tidak ingin bergaul dengan orang lain.
e.      Diskusikan akibat yang dirasakan dari menarik diri.
f.        Diskusikan keuntungan bergaul dengan orang lain.
g.      Bantu klien mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki klien untuk bergaul.
h.      Lakukan interaksi sering dan singkat dengan klien (jika mungkin perawat yang sama)
i.         Motivasi/temani klien untuk berinteraksi/berkenaan dengan klien/perawat lain, beri contoh cara berkenalan.
j.         Tingkatkan interaksi klien secara beratahap (Satu lien, dua klien, satu perawat, 2 perawat dan seterusnya).
k.      Libatkan klien dalam terpi aktifitas kelompok: sosialisasi.
l.         Bantu klien melaksanakan aktifitas hidup sehari -hari dengan interaksi.
m.    Fasilitasi hubungan klien dengan keluarga secara terapiutik.
n.      Diskusikan dengan klien setiap selesai interaksi atau kegiatan.
o.      Beri pujian akan keberhasilan klien.
p.      Berikan pendidikan kesehatan tentang cara merawat klien melalui pertemuan indifidu secara rutin dan pertemuan keluarga.
q.      Bantu klien menggunakan obat dengan prinsip yang benar (Benar obat, benar dosis, benar cara, benar waktu, benar klien).
r.        Anjurkan klien membicarakan efek atau efek samping obat yang dirasakan.


5.      Hasil Akhir yang Diharapkan
a.      Pada Klien:
1)      Tidak terjadi perubahan sensori persepsi.
2)      Klien mengatakan penyebab menarik diri.
3)      Klien mengetahui keuntungan berinteraksi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar