Senin, 18 April 2011

APENDIKSITIS


A.     KONSEP DASAR

1.      Pengertian
Appendiksitis adalah “peradangan dari appendiks vermiformis” (Ilusna Analisis, Purnama Zunaedi, Ajerk Soenarto Selekta Kedokteran, Edisi Kedua, 341).
Appendiksitis adalah “peradangan pada appendiks yang berbentuk cacing, yang berlokasi dekat katup ileoceal” (Sorensen’s and Lukman Midical Surgical Nursing, 1993: 1635).

2.      Anatomi
Appendiks vermoformis merupakan tabung buntu yang berukuran lebih kecil dari jari kelingking. Tabung yang relatif panjang namun sempit, memiliki ukuran sekitar 6-9 cm. Pada posisi yang normal, appendiks terletak pada dinding abdomen di titik Mc Burney’s dicari dengan menarik garis spina iliaka superior dekstra ke umbilikus sepertiga (1/3 lateral).

3.      Etiologi
Penyebab utama adalah obstruksi atau penyumbatan yang dapat disebabkan oleh: hiperplasia dari folikel limfoid (yang merupakan penyebab terbanyak, adanya fekolit dalam lumen appendiks, adanya benda asing seperti cacing, striktur karena fibrosis akibat peradangan sebelumnya, sebab lain misalnya keganasan seperti karsinoma, karsinoid), penyebab ini juga sering terjadi pada orang yang biasa mengkonsumsi diet rendah serat. Dari penyebab-penyebab diatas bahwa penyebab-penyebab obstruksi yang paling jarang adalah batu, tumor, cacing atau parasit, infeksi virus atau banda asing yang mengakibatkan pembengkakkan jaringan limfoid. Obstroksi appendiks itu menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa terbendung. Makin lama mukus yang terbandung makin banyak dan menekan dinding appendiks sehingga mengganggu aliran limfe dan menyebabkan dinding appendiks oedem serta merangsang tunika serosa peritonium viseral. Oleh karena persyarafan appendiks sama dengan usus, yaitu torakal X (nervus vagus) maka rangsangan itu dirasakan sebagai rasa sakit di sekitar umbilikus peradangan yang timbul meluas dan timbul peritonium perietal setempat, sehingga menimbulkan rasa sakit dikanan bawah, keadaan ini disebut dengan appendiksitis supuratif akut atau bahkan folikel limfe.

4.      Patofisiologi
Pada dasarnya appendiksitis akut adalah suatu proses obstruksi dan disusul dengan infeksi, sehingga menimbuilkan gejala awal berupa sakit perut sekitar perut pusat atau kolik, mual, muntah anoreksia dan demam yang tidak terlalu tinggi. Gejala awal ini sampai pada puncaknya berkisar 4-6 jam yang kemudian perlahan-lahan menghilang dan timbul rasa sakit di perut dan kanan bawah yang semakin hebat dan pada setiap gerakkan badan terutama pada waktu batuk akan menambah rasa sakit. Faktor obstruksi pada anak-anak terutama submukosal, sedangkan pada orang dewasa disebabkan oleh fekalit, dan sedikit oleh benda asing atau tumor. Obstrukis pada lumen mengakibatkan peregangan lumen appendiks oleh sekresi mukus yang berlebihan karena rangsangan obstruksi tersebut juga dapat menimbulkan hambatan pada aliran limfe sehingga terjadi oedem appandiks. Hal ini merupakkan tahap dari akut fecal dari appendiksitis. Sekresi yang banyak akan meningkatkan tekanan iluminial dengan mengakibatkan obstruksi vena dan trombosis sehingga rejadi oedem dan iskemi appendiks. Hal ini disebut tahap tahap atau fase akut supurative appendiksitis. Selanjutnya proses patologi mungkin mengenai sistem arterial appendiks. Appendiks dengan vaskularisasi yang sangat kurang dapat terjadi gangrenosa, hal ini merupakakan komplikasi awal dari appendiksitis akut dan bila terus berjalan dapat terjadi perforasi appendiks, dan kemudian terjadi peritonitis diffusa, abses abdomen dan abses hati. Ada juga yang mengatakan bahwa feses dari bakteri masuk ke dalam lumen appendiks yang disebabkan oleh tekanan dan gangguan sirkulasi sehingga menyebabkan pembengkakkan atau oedem dan kerusakan pada selaput lendir lapisan lain dari appendiks. Hal ini memudahkan bakteri menyerang lapisan lain dari appendiks.

Kerusakan dinding appendiks disebabkan oleh:
1.      Tekanan organ dalam
2.      Toksin yang disebabkan oleh bakteri lain
3.      Tekanan dari feses
Tekanan dari feses dapat menyebabkan gangguan sirkulasi darah, bila dinding menjadi rusak atau mati dan appendiks pecah akan menyebabkan appendiks infiltrat, dimana appendiks diselubungi oleh omentum sehinmgga infeksi tersebut terkumpul dalam suatu organ (peritonitis lokalis), bila infeksi tersebut menjalar ke rongga perut nyeri yang disebabkan oleh appendiksitis dapat dimulai di seluruh abdomen dan kemudian berlokasi pada kanan bawah. Bilamana appendiksitis akut peradangannya tidak hebat dan mendapatkan pengobatan kopnservatif akan membentuk appendiksitis infiltrat. Appendiksitis infiltrat adalah suatu massa yang terdiri dari appendiks yang dibungkus oleh alat-alat lain disekitarnya, seperti: usus halus (ilium terminalis), kolon (caecum) dan omentum. Ini merupakan usaha tubuh dalam menagkis atau mengisolir peradangan tersebut. Bila appendiksitis infiltrat tidak dapat pengobatan konservatif akan menjadi appendiksitis kronis. Appendiksitis bila tidak dioperasi akan menjadi appendiksitis kronis eksaserbasi akut. Oleh karena itu appendiksitis harus dioperasi dalam waktu 2x24 jam, agar tidak mengalami komplikasi.

5.      Manifestasi klinis
Urutan keluhan yang paling klasik pada appndiksitis akut adalah sakit perut pada daerah kanan bawah, mual, muntah, rasa ngilu dan sakit tekan pada daerah abdomen dan demam. Perasaan sakit merupakan keluhan awal, yaitu sakit viseral yang menjalar dari appendiks ke organ-organ yang disekitarnya. Intensitas sakit mencapai puncaknya empat sampai enam jam, dan secara perlahan-lahan menghilang, kemudian rasa sakit menjadi tervokus pada daerah perut kanan bawah yang merupakan sakit somatik akibat peradangan jaringan appendiks. Rasa sakit ini sering disertai perasaan ingin defekasi. Keluhan rasa sakit ini merupakan keluhan 97,100 % kasus. Walaupun beberapa kasus mengeluh gangguan saluran pencernaan, beberapa hari sebelumnya kira-kira 95% kasus mengeluh anoreksia, mual, muntah-muntah. Muntah dapat terjadi satu atau dua kali dalam beberapa jam sesudah timbul rasa sakit, tetapi anoreksia tetap ada, walaupun mual sudah tidak ada lagi. Pada saat ini biasanya klien demam ringan. Perasaan konstipasi sering ditemukan dan tidak menghilang, walaupun sudah diberikan obat laksatif. Pada pemeriksaan fisik ditemukan demam yang bervariasi, biasanya berkisar 37oc, temperatur tubuh yang berada diatas 38,5oc mencurigakan adanya perforasi gerakkan dan eksensi kaki kanan akan menambah rasa sakit, sehingga penderita memilih tidur terlentang dan kaki (terutama kanan) ditekuk mendekati abdomen secara fleksi. Perasaan ngilu dan sakit tekan ditemukan pada daerah Mc. Burbney,s dan dapat juga nyeri lepas langsung dan tidak langsung yang ada peritonitis setempat. Pada appendiks letak retrosekal atau letak pelviks, mungkin tidak ditemukan nyeri takan abdomen. Rasa sakit mungkin terdapat pada pinggang kanan atau pada pemeriksaan rektal (vaginal). Bila penyakit makin progresif dan mengarah ke perotinitis lokal (difusi) dan perforasi, dapat ditemukan adanya nyeri takan yang hebat. Mungkin ditemukan massa bila terjadi perforasi lokal kira-kira tiga hari sebelumnya. Perforasi jarang terjadi pada 24 jam peratama sejak awal sakit, tetapi bisa ditemukan sampai 80% sesudah 48 jam sakit.


6.      Komplikasi
Komplikasi yang sering terjadi pada appendikaitis akut yaitu perforasi, peritonitis, abses appendiksitis, dan protoflebitas (trombo-flebitis septik vena portal) dan sepsis.

7.      Pemeriksaan diagnostik
Pada pemeriksaan diagnostik, ada dua pemeriksaan yang dapat dilakukan, yaitui:
a.      Diagnosa penunjang
1)      Pemeriksaan darah rutin, akan ditemukan lekositosis 10.000-18.000/m3 kadang-kadang dengan pergeseran kekiri disertai keluhan atau gejala appendiksitis labih dari empat jam, dicurigai untuk perforasi, sehingga diduga bahwa tingginya leukositosis dibanding dengan hebatnya peradangan.
2)      Pemeriksaan urine rutin, akan menunjukkan dan membedakan antara appendiksitis dengan kelainan ginjal. Kadang-kadang ditemukan leukosit pada urine penderita appendiks pada jaringan disekitarnya termasuk ureter atau vesika urinaria.
3)      Pemeriksaan foto polos abdomen, tidak menunjukkan tanpa pasti appendiksitis, terapi mempunyai arti penting dalam membedakan appendiksitis dengan obstruksi usus halus atau batu ureter kanan. Kadang-kadang dapat ditemukan adanya sedikit “fluid level” dalam usus difosa iliaka. Adanya fekalit merupakan hal yang patogenikolik, namun hal ini sangat jarang ditemukan. Udara bebas di bawah diafragma menunjukkan adanya perforasi.


B.     ASUHAN KEPERAWATAN

1.      Pengkajian
Pengkajian pada klien appendiktomi akut penyakit sekarang pada keluhan klien yaitu keluhan rasa sakit atau nyeri pada daerah abdomen kanan bawah, demam, mual, muntah, diare atau konstipasi, adanya infeksi abdomen sebelumnya. Pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya massa lunak pada kuadran kanan bawah, nyeri tekan pada daerah titik Mc Burney’s, bising usus melemah atau hilang, demam. Melindungi perut jika ditekuk, dehidrasi dan perubahan tanda vital. Selain data tersebut diatas, perlu diketahui pemeriksaan diagnostik atau pemeriksaan laboratorium, biasanya untuk pemeriksaan laboratorium adalah pemeriksaan darah.


2.      Kemungkinan Diagnosa Keperawatan pada klien Appendiktomi Akut
a.      Gangguan rasa nyaman “nyeri akut” berhubungan dengan adanya luka jahitan post appendiks di daerah perut bagian bawah sebelah kanan.
b.      Gangguan aktivitas sehari-hari berhubungan dengan rasa nyeri pada abdomen daerah operasi
c.      Resiko tinggi terjadi infeksi berhubungan dengan masuknya MO dalam luka post op appendiks
d.      Kurangnmya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi (prosedur perawatan post op di rumah untuk selanjutnya)

3.      Intervensi
a.      DX 1
1)      Kaji status nyeri, durasi, intensitas, irama dan kekuatan nyeri
2)      Observasi tanda-tanda vital
3)      Anjurkan klien untuk relaksasi
4)      Pantau klien pada posisi yang nyaman
5)      Anjurkan klien untuk tidak stroc/cemas
6)      Kolaborasi untuk pemberian analgetik
                        
b.      DX 2
1)      Kaji sejauh mana klien klien beraktivitas
2)      Observasi tanda-tanda vital
3)      Dekatkan kebutuhan klien dengan tempat tidur
4)      Anjurkan klien untuk melakukan aktivitas sesuai kemampuan
5)      Bantu kebutuhan klien selama klien belum dapat melakukan sendiri

c.      DX 3
1)      Monitor luka operasi
2)      Observasi tanda-tanda vital
3)      Monitor tanda-tanda infeksi
4)      Ganti balutan setiap 1x24 jam
5)      Lakukan perawatan luka dengan menggunakan tehnik aseptik dan antiseptik
6)      Anjurka untuk melaporkan jika ada tanda-tanda infeksi
7)      Anjurkan klien untuk tidak memegang daerah operasi
8)      Kolaborasi pemberian obat antibiotik

d.      DX 4
1)      Kaji tingkat pengetahuan klien
2)      Diskusikan tentang tanda-tanda gejala infeksi
3)      Anjurkan klien untuk selalu menjaga luka secara bersih dan kering
4)      Jelaskan cara pencegahan infeksi
5)      Diskusikan tentang diit yang merangsang peristaltik usus dan anjurkan untuk makan TKTP
6)      Anjurkan untuk tidak melakukan latihan fisik yang kurang
7)      Anjurkan untuk menghubungi dokter untuk memonitor penyembuhan luka
8)      Beri kesempatan pada klien untuk menjelaskan dan mendemonstrasikan tentang proses penyakit



DAFTAR PUSTAKA


Marlynn E. Doengoes Mary Prances Moorhause. Alice C. Gasler (2001). “Rencana keperawatan maternitas” (edisi 2) penerbit EGC: Jakarta.

FKAUI Kapita selekta Kedokteran, Edisi 3, jilid I

Soeparman, Ilmu Penyakit Dalam Jilid II, Balai Penerbit FKUI Jakarta, 1990








 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar