Kamis, 21 April 2011

Artritis reumatoid


I.1 Latar Belakang
Artritis reumatoid merupakan kasus panjang yang sangat sering diujikan. Bisanya terdapat banyak tanda- tanda fisik. Diagnosa penyakit ini mudah ditegakkan. Tata laksananya sering merupakan masalah utama. Insiden pucak dari artritis reumatoid terjadi pada umur dekade keempat, dan penyakit ini terdapat pada wanita 3 kali lebih sering dari pada laki- laki. Terdapat insiden familial ( HLA DR-4 ditemukan pada 70% pasien ).
Artritis reumatoid diyakini sebagai respon imun terhadap antigen yang tidak diketahui. Stimulusnya dapat virus atau bakterial. Mungkin juga terdapat predisposisi terhadap penyakit.
 I.2 Tujuan
1.2.1. Tujuan Umum
Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien dengan penyakit Artritis Reumatoid, dan sebagai bahan literatur bagi mahasiswa keperawatan.
1.2.2. Tujuan Khusus
Untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan perawat dan mahasiswa keperawatan dalam :
1.      Mengidentifikasi tanda dan gejala Artritis Reumatoid.
2.      Memberikan asuhan keperawatan yang tepat pada penderita Artritis Reumatoid.
3.      Mencegah untuk tidak terjadinya komplikasi pada penderita Artritis.
 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
 2.1. PENGERTIAN
Artritis Reumatoid adalah penyakit autoimun sistemik kronis yang tidak diketahui penyebabnya dikarekteristikan dengan reaksi inflamasi dalam membrane sinovial yang mengarah pada destruksi kartilago sendi dan deformitas lebih lanjut.
( Susan Martin Tucker.1998 )
Artritis Reumatoid ( AR ) adalah kelainan inflamasi yang terutama mengenai mengenai membran sinovial dari persendian dan umumnya ditandai dengan dengan nyeri persendian, kaku sendi, penurunan mobilitas, dan keletihan.
( Diane C. Baughman. 2000 )
Artritis rematoid adalah suatu penyakit inflamasi kronik dengan manifestasi utama poliartritis progresif dan melibatkan seluruh organ tubuh.
( Arif Mansjour. 2001 )
 2.2. INSIDEN
AR terjadi antara usia 30 tahun dan 50 tahun dengan puncak insiden antara usia 40 tahun dan 60 tahun. Wanita terkena dua sampai tiga kali lebih sering dari pada pria.
 2.3. ETIOLOGI
AR adalah suatu penyakit otoimun yang timbul pada individu – individu yang rentang setelah respon imun terhadap agen pencetus yang tidak diketahui. Faktor pencetus mungkin adalah suatu bakteri, mikoplasma, virus yang menginfeksi sendi atau mirip dengan sendi secara antigenis. Biasanya respon antibodi awal terhadap mikro-organisme diperatarai oleh IgG. Walaupun respon ini berhasil mengancurkan mikro-organisme, namun individu yang mengidap AR mulai membentuk antibodi lain biasanya IgM atau IgG, terhadap antibodi Ig G semula. Antibodi ynng ditujukan ke komponen tubuh sendiri ini disebut faktor rematoid ( FR ). FR menetap di kapsul sendi, dan menimbulkan peradangan kronik dan destruksi jaringan AR diperkirakan terjadi karena predisposisi genetik terhadap penyakit autoimun.

2.4. PATOFISIOLOGI
Faktor genetik, infeksi

Sasaran primer Sinovium

Sinovitis Proliferatif





Pelepasan kolagenesa & produksi  lisozim o/ fagosit    Pembengkakan, kekakuan pergelangan tangan & sendi jari tangan
                                                                                                    
Erosi sendi & periartikularis                     P’katan tekanan sendi distensi serta putusnya kapsula & ligamentum








            Kista dan kolaps sendi                   Sublaksasi sendi MCP & p’kembangan penyimpangan ulna klasik sering timbul                        




                                                             Hiperekstensi / deformitas fleksi bisa b’kembang dlm sendi IP ibu jari tangan,       sendi PIP jr tgn, sendi MCP & IP jr tgn

                                                                          Tenosinovitis, jari tng pelatuk, rupture tendo & sindroma terowongan kaspal lazim di temukan

2.5. MANIFESTASI KLINIS
  1. Ditetapkan dengan tahapan dan keparahan penyakit.
  2. Nyeri sendi, bengkak, hangat, eritema, dan kurang berfungsi adalah gambaran klinis yang klasik.
  3. Palpitasi persendian menunjukan jaringan spon atau boggi.
  4. Seringkali dapat diaspirasi cairan dari sendi yang mengalami pembengkakan.

 Pola karakteristik dari persendian yang terkena 
  1. Mulai pada persendian kecil ditangan, pergelangan , dan kaki.
  2. Secara progresif menenai persendian, lutut, bahu, pinggul, siku, pergelangan kaki, tulang belakang serviks, dan temporomandibular.
  3. Awitan biasnya akut, bilateral, dan simetris.
  4. Persendian dapat teraba hangat, bengkak, dan nyeri ; kaku pada pagi hari berlangsung selama lebih dari 30 menit.
  5. Deformitasi tangan dan kaki adalah hal yang umum.
 Gambaran Ekstra-artikular
  1. Demam, penurunan berat badan, keletihan, anemia
  2. Fenomena Raynaud.
  3. Nodulus rheumatoid, tidak nyeri tekan dan dapat bergerak bebas, di temukan pada jaringan subkutan di atas tonjolan tulang.
 2.6. EVALUASI DIAGNOSIS
  1. Beberapa faktor yang menujang diagnosa AR: nodulus reumatoid, inflamasi sendi, temuan laboraturium.
  2. Faktor reumatoid ( FR ) terdapat lebih dari 80% pada darah pasien.
  3. jumlah sel darah merah dan komponen komplemen C4 menurun.
 2.7. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan umum yang lengkap penting di lakukan. Disamping menilai adanya sinovasi pada setiap sendi, perhatian juga hal –hal berikut ini :
  1. Keadaan umum – komplikasi steroid, berat badan.
  2. Tangan – meliputi vaskulitasi dan fungsi tangan.
  3. Lengan – siku dan sendi bahu, nodul rematoid dan pembesaran kelenjar limfe aksila.
  4. Wajah. Periksa mata untuk sindroma Sjorgen, skleritis, episkleritis, skleromalasia perforans, katarak, anemia dan tanda – tanda hiperviskositas pada fundus. Kelenjar parotis membesar ( sinroma Sjogren ). Mulut ( kering, karies dentis, ulkus ), suara serak, sendi temporomandibula ( krepitus ). Catatan : artritis rematoid tidak menyebabkan iritasi.
  5. Leher – adanya tanda – tanda terkenanya tulang servikal.
  6. Toraks. Jantung ( adanya perikarditis, defek konduksi, inkompetensi katup aorta dan mitral ). Paru – paru ( adanya efusi pleural, fibrosis, nodul infark, sindroma Caplan ).
  7. Abdomen – adanya splenomegali dan nyeri tekan apigastrik.
  8. Panggul dan lutut.
  9. Tungkai bawah – adanya ulkus, pembengkakan betis ( kista Baker yang reptur ) neuropati, mononeuritis  multipleks dan tanda – tanda kompresi medulla spinalis.
  10. Kaki.
  11. Urinalisis untuk protein dan darah, serta pemeriksaan rektum untuk menentukan adanya darah.
 2.8. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Untuk menyokong diagnosa (ingat bahwa ini terutama merupakan diagnosa klinis)
  1. Tes serologik
(a) faktor rematoid – 70% pasien bersifat seronegatif.
             Catatan: 100% dengan factor rematoid yang positif jika terdapat nodul atasindroma                                       
             Sjogren
             (b) Antibodi antinukleus (AAN)- hasil yang positif terdapat pada kira-kira 20 kasus
       2.  Foto sinar X pada sendi-sendi yang terkena. Perubahan-perubahan yang dapat di te 
            mukan adalah:
            (a) pembekakan jaringan lunak;        
            (b) penympitan rongga sendi;
            (c) erosi sendi;
            (d) osteoporosis juksta artikuler;

            
Untuk menilai aktivitas penyakit:
1.      Erosi progresif pada foto sinar X serial.
2.      LED. Ingat bahwa diagnosis banding dari LED yang meningkat pada artritis reumatoid meliputi :
(a)    penyakit aktif ;
(b)    amiloidosis ;
(c)    infeksi ;
(d)    sindroma Sjorgen ;
3.      Anemia – berat ringannya anemia normakromik biasanya berkaitan dengan aktifitas.
4.      Titer factor rematoid – makin tinggi titernya makin mungkin terdapat kelainan ekstra artikuler. Faktor ini terkait dengan aktifitas artritis.
 2.9. KOMPLIKASI
Kelainan sistem pencernaan yang sering dijumpai adalah gastritis dan ulkus peptik yang merupakan komlikasi utama penggunaan obat anti inflamasi nonsteroid (OAINS) atau obat pengubah perjalanan penyakit ( disease modifying antirhematoid drugs, DMARD ) yang menjadi faktor penyebab morbiditas dan mortalitas utama pada arthritis reumatoid.
Komlikasi saraf yang terjadi memberikan gambaran jelas , sehingga sukar dibedakan antara akibat lesi artikuler dan lesi neuropatik. Umumnya berhubungan dengan mielopati akibat ketidakstabilan vertebra servikal dan neuropati iskemik akibat vaskulitis.
 2.10. PENATALAKSANAAN
Tujuan dari penatalaksanaan termasuk penyuluhan, keseimbangan antara istirahat dan latihan, dan rujukan lembaga di komunitas untuk mendapatkan dukungan.
  1. AR dini : penatalaksanaan pengobatan termasuk dosis terapeutik salisilat atau obat – obat antiinflamasi nonsteroid ( NSAIDS ); antimalaria emas, pensilamin, atau sulfasalazin, methotreksat; analgetik selama periode nyeri hebat.
  2. AR sedang , erosit: program formal terapi okupasi dan terapi fisik.
  3. AR persisten, erisif; pembedahan rekonstruksi dan kortikosteroid.
  4. AR tahap lanjut yang tak pulih: preparat immunosupresif, seperti metotreksat, siklosfosfamid, dan azatioprin.
  5. Pasien AR sering mengalami anoreksia, penurunan berat badan, dan anemia, sehingga membutuhkan pengkajian riwayat diit yang sangat cermat untuk mengidntifikasi kebiasaan makan dan makanan yang disukai. ( kortikosteroid dapat menstimulasi napsu makan dan menyebabkan penambahan berat badan ).       
 2.11. PROGNOSIS
Perjalanan penyakit artritis reumatoid sangat bervariasi, bergantung pada ketaatan pasien untuk berobat dalam jangka waktu lama. Sekitar 50 – 70% pasien artritis reumatoid akan mengalami prognosis yang lebih buruk. Golongan ini umumya meninggi 10 – 15 tahun lebih cepat dari pada orang tanpa arthritis rheumatoid. Penyebab kematiannya adalah infeksi, penyakit jantung, gagal pernapasan, gagal ginjal, dan penyakit saluran cerna. Umumnya mereka memiliki keadaan umum yang buruk, lebih dari 30 buah sendi yang mengalami peradangan, dengan manifestasi ekstraartikuler, dan tingkat pendidikan yang rendah. Golongan ini memerlukan terapi secara agresif dan dini karena kerusakan tulang yang luas dapat terjadi dalam 2 tahun pertama.
 
BAB III
PROSES KEPERAWATAN
 3.1. PENGKAJIAN
  1. Kaji citra diri pasien yang berhubungan dengan perubahan muskuloskletal dan tetapkan apakah pasien mengalami keletihan yang tidak lazim, kelemahan umum, nyeri, kaku pada pagi hari, demam, atau anoraksia.
  2. Kaji sistem kardiovaskular, pulmonal, dan renal.
  3. Kaji persendian dengan pengamatan, palpasi, penyelidikan adanya nyeri tekan, bengkak , dan kemerahan pada sendi yang terkena.
  4. Kaji mobilitas sendi, batasan gerak, dan kekuatan otot.
  5. Fokuskan pada pengidentifikasi masalah dan faktor – faktor pasien.
  6. Kaji kepatuhan terhadap pengobatan dan penatalaksanaan diri.
  7. Kumpulan informasi mengenai pemahaman pasien, motivasi, pengetahuan, kemampuan koping, penglaman masa lalu, persepsi dan ketakutan yang tidak diketahui.
 3.2. DIAGNOSA KEPERAWATAN
  1. Nyeri yang berhubungan dengan inflamasi, kerusakan jaringan, dan immobilitas sendi.
  2. Kerusakan immobilitas fisik yang berhubungan dengan keterbatasan gerakan sendi.
  3. Gangguan konsep diri yang berhubungan dengan ketergantungan fisik dan psikologis dari penyakit kronis dan kehilangan kebebasan.
  3.3. INTERVENSI
DX I :
  1. Kaji tingkat nyeri
  2. Ajarkan dan lakukan teknik – teknik penatalaksanan nyeri untuk penatalaksanaan jangka pendek segera ( misal gunakan kompres panas dan dingin, istirahat, dan analgesik ).
  3. Ajarkan tentang penatalaksaan nyeri jangka panjang ( misal penggunaan obat – obat antiinflamasi, menetapkan regimen latihan untuk mempertahankan mobilitas sendi, dan teknik – teknik relaksasi ).
  4. Berikan tindakan yang menghasilkan rasa nyaman ketika memberikan perawatan.
  5. Buat pengharapan yang realitis sehingga pasien dan orang terdekat mengenali bahwa nyeri dapat dikontrol tergantung pada aktivitas penyakit.
 DX II :
  1. Hilangkan nyeri menetap dan kekakuan pada pagi hari untuk meningkatkan kemampuan mobilitas dan perawatan diri pasien.
  2. Bantu dan ajarkan dan / atau latihan rentang gerak aktif setelah tindakan kompres panas.
  3. Kembangkan dan ajarkan rencana program latihan setiap hari
  4. Observasi toleransi pasien terhadap program latihan.
  5. Dorong aktivitas perawatan diri dan kemandirian.
  6. Pertahankan periode istirahat terencana.
  7. Pertahankan lingkungan yang aman.
DX III :
  1. Coba untuk memahami reaksi emosional pasien terhadap penyakit.
  2. Beri semangat untuk melakukan komunikasi sehingga pasien dan keluarga dapat mengungkapkan perasaan, persepsi, dan ketakutannya yang berhubungan dengan penyakit.
  3. Beri dorongan pada pasien dan keluarga untuk patuh terhadap program penatalaksanaan sehingga memungkinkan untuk mencapai hasil yang lebih positif.
  4. Anjurkan mengungkapkan rasa takut dan ansietes terhadap proses penyakit.
  5. Bantu pasien dalam memilih keterampilan.
  6. Terima perubahan prilaku: menyangkal, ketidakberdayaan, ansietas, ketergantungan.
  7. Bersikap suportif tetapi tegas dalam menyusun tujuan.
  8. Tingkatkan perawatan diri dan libatkan dalam perencanaan perawatan.
  9. Dorong kemandirian dan berikan penghargaan trhadap penyelesaian tugas.
  10. Modivikasi lingkungan dan sediakan waktu untuk pasien mencapai tujuan.
  11. Diskusikan perlunya pembatasan dan perubahan gaya hidup ; berikan empati dan pemahaman.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar