Senin, 18 April 2011

askep Maternitas


BAB III
TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN

A.    Tinjauan Kasus
1.      Pengkajian
a.       Pengumpulan Data
1)      Identitas
(1)   Identitas Klien
Nama                                 : Ny. I
Umur                                 : 40 Tahun
Pendidikan                                    : Sekolah Dasar
Pekerjaan                           : Dagang
Agama                               : Islam
Suku / Bangsa                   : Sunda / Indonesia
Status Perkawinan                        : Menikah / I
Golongan Darah                : O
Tanggal Masuk RS            : 1 Januari 2004
Tanggal Pengkajian           : 2 Januari 2004
Nomor Medrek                 : 0405001
Diagnosa Medis               : Post Salpingo - oophorectomy kanan atas indikasi kista ovarium kanan serosum unilokuler non papiliferum
Alamat                                : Jl. Karang Tineung Indah Rt.02 / Rw. 01 Cipedes Bandung.

(2)   Identitas Penanggung Jawab
Nama                                 : Tn. O
Umur                                 : 40 Tahun
Pendidikan                                    : Sekolah Dasar
Pekerjaan                           : Dagang
Alamat                                : Jl. Karang Tineung Indah Rt.02 / Rw. 01 Cipedes Bandung.
Hubungan dengan klien    : Suami

2)      Riwayat Kesehatan
(1)   Keluhan Utama
Klien mengatakan nyeri pada daerah luka operasi

(2)   Riwayat Kesehatan Sekarang
Pada saat dikaji klien mengatakan nyeri pada daerah luka operasi, nyeri dirasakan bertambah bila bergerak dan berkurang bila klien miring kiri atau miring kanan. Nyeri dirasakan seperti teriris-iris dan dirasakan pada daerah abdomen sampai ke pinggang, skala nyeri 3 dan nyeri dirasakan sewaktu-waktu.

(3)   Riwayat Kesehatan Dahulu
Klien mengatakan baru pertama kali mengalami penyakit dan tindakan operasi seperti saat ini. Keluhan nyeri abdomen kadang-kadang, tapi dua minggu sebelum dilakukan operasi dirasakan sering. Klien juga mengatakan sudah dua tahun ini menderita hipertensi tapi rutin memeriksakannya ke dokter. Riwayat konstipasi klien mengatakan pernah. Riwayat menorragia dan menstruasi yang tidak teratur pernah. Adapun riwayat penyakit DM, TBC dan metroragia disangkal.

(4)   Riwayat Kesehatan keluarga
Klien mengatakan dikeluarga ada yang mengalami penyakit pencernaan seperti diare dan typoid, riwayat penyakit perkemihan, kelainan / gangguan menstruasi dan ca serta tumor disangkal.

(5)   Riwayat Ginekologi dan Obstetri
(1)   Riwayat Ginekologi
§         Riwayat Menstruasi
Menarche pada usia 15 tahun, siklusnya 28 hari, banyaknya darah pada hari pertama dan kedua + 2-3 duk penuh dan hari selanjutnya 1 duk. Sifat darah merah kehitaman dan lamanya haid 7 hari.

§         Riwayat Perkawinan
Usia saat menikah 15 tahun dan suami berusia 20 tahun. Merupakan perkawinan yang pertama bagi kedua belah pihak. Lamanya pernikahan 25 tahun.
§         Riwayat Keluarga Berencana
Klien mengatakan menggunakan KB suntik dari lahir anak pertama sampai anak ke-4 dan KB yang digunakan saat ini KB pil. Klien mengatakan sudah tidak ingin punya anak lagi.
(2)   Riwayat Obstetri
Selama hamil, lahir, masa nifas dan bayi tidak mengalami masalah
No
Tgl partus
Umur hamil
Tempat penolong
Jenis partus
BB
Keadaan anak
1.
2.
3.
4.
Th 1979
Th 1982
Th 1984
Th 1993
9 bln
9 bln
9 bln
10 bln
Paraji
Paraji
Paraji
Bidan
Spontan
Spontan
Spontan
Spontan
3000 gr
3200 gr
3000 gr
4000 gr
Hidup
Hidup
Hidup
Hidup

3)       Pemeriksaan Fisik
(1)   Sistem Endokrin
Tidak ada pembesaran kelenjar getah bening, hiperpigmentasi dan hipopigmentasi. Siklus menstruasi teratur 28 hari.
(2)   Sistem Integumen
Keadaan kulit kepala bersih. Kebiasaan mandi dirumah 2 x / hari dengan sabun, dirumah sakit mandi di lap 2 x / hari. Suhu badan axilla 36o C, terdapat luka operasi sepanjang + 10 cm dibawah pusat pada abdomen bawah.
(3)   Sistem Pernafasan
Inspeksi : bentuk hidung simetris, septum ditengah, keadaan bersih dan ada sedikit lendir pada lubang hidung kanan setelah pemasangan NGT, lendir berwarna putih jernih, dapat mencium bau kopi dan teh, test kepatenan hidung baik, frekuensi nafas 20 x / menit.
Palpasi : vokal premitus getaran paru-paru kanan dan kiri sama, pada ekspansi paru-paru kiri dan kanan pergerakan sama.
Perkusi : paru-paru terdengar suara resonan pada keduanya. Auskultasi : pada broncho trakheal terdengar suara ronchi.
(4)   Sistem Kardiovaskuler
Inspeksi : Konjungtiva tidak anemis, jari-jari pada ekstremitas tidak pucat.
Auskultasi : Bunyi S1 dan S2 murni reguler. Tekanan darah 130/90 mmHg. Nadi 80 x / menit.
(5)   Sistem Pencernaan
Inspeksi : Bentuk bibir simetris, mukosa bibir kering, jumlah gigi 32 buah, tampak kotor, bau, tidak ada caries. Kebiasaan menggosok gigi dirumah 2 x / hari, di RS belum. Kebiasaan makan dirumah 2 x / hari dengan menu : nasi, sayur, ikan dan buah-buahan, habis 1 porsi, minum 7-8 gelas / hari. Di rumah sakit sementara pagi test feeding dan siangnya sudah mulai makan bubur saring habis 1 porsi. Minum 2 gelas ( 400 ml ) air putih, infus RL 30 gtt/menit, bentuk abdomen tidak tampak distensi, turgor kulit baik. BAB dirumah 1 – 2 x / hari, warna kuning dan konsistensi lembek kadang keras. Di rumah sakit klien belum BAB selama 2 hari.
Auskultasi : Bunyi bising usus (+) 10 x / menit, normal ( 5-35x/ menit )
Perkusi : Suara timpani
Palpasi : Tidak teraba pembesaran hati, terdapat nyeri tekan pada daerah luka dan sekitar luka di abdomen.
(6)   Sistem Perkemihan
Ginjal tidak teraba, tidak ada distensi kandung kemih, frekuensi BAK 3 – 5 x / hari, warna kuning jernih, klien masih terpasang kateter, jumlah urine dari jam 07 s/d 12 è 400 ml, warna kuning jernih.
(7)   Sistem Reproduksi
Ukuran payudara kanan dan kiri sama besar, letak simetris, kontur lembek, tidak ada benjolan dan bengkak, tidak ada eritema, puting susu menonjol dan tidak ditemukan keluar cairan. Terdapat luka operasi pada daerah abdomen dibawah pusat sepanjang + 12 cm, genetalia tidak ada edema, benjolan atau lesi, bentuk simetris, terdapat pengeluaran darah berwarna merah dengan jumlah + 5 cc. Perinium tidak ada jaringan parut, kemerahan atau edema.
(8)   Sistem Muskuloskeletal
Postur tubuh klien tegak, letak kepala simetris, pergerakan leher bebas, ekstremitas kanan dan kiri pergerakan bebas, pembengkakan dan nyeri tekan tidak ada, sensasi tajam dan tumpul (+), reflek bisep ++/++, reflek trisep ++/++, brachioradialis ++/++, kekuatan otot 5, kuku panjang.   Ekstremitas bawah kiri dan kanan simetris, pergerakan bebas, nyeri tekan dan pembengkakan tidak ada, sensasi tajam dan tumpul ada / terasa oleh klien. Homan sign negatif, reflek patella ++/++, reflek babynski -/-, kekuatan otot 5 kanan dan kiri.
(9)   Sistem Persarafan
Kesadaran compos mentis. GCS : 15 ( E4, M 6, V5 )
Test Nervus Kranial
N. I  ( Olfactory )
:
Klien dapat membedakan bau-bauan kopi dan teh dengan mata tertutup
N. II  ( Optikus )
:
Klien dapat melihat jari-jari tangan perawat  pada jarak 30 cm
N. III, IV, VI
s         Okulomotor
s         Troklearis
s         Abdusen
:
Klien dapat menggerakan bola mata kesegala arah
N. V  ( Trigeminus )
:
Klien dapat mengunyah tanpa mengeluh nyeri dan mampu merasakan sensori sentuhan diwajah, mengedip (+), pupil kontraksi saat diberi rangsangan cahaya.
N. VII  ( Fasial )
:
Bentuk wajah simetris
N. VIII  ( Akustik )
:
Klien dapat mendengarkan bisikan dari jarak 30 cm dan klien dapat mengkoordinasikan gerakan tubuhnya
N. IX dan X
s         Glosofaringeal
s         Vagus
:
Klien mampu menelan tanpa rasa nyeri dan dapat membedakan rasa manis, asin
N. XI ( Spina asesoris )
:
Klien dapat mengangkat bahu kiri dan kanan dengan tahanan tanpa rasa nyeri
N. XII ( Hipoglosal )
:
Letak lidah simetris, pergerakan terkontrol.

4)      Aspek Psikososial dan Spiritual
(1)   Pola pikir dan persepsi
-          Klien merasa lega dengan selesainya operasi dengan selamat dan lancar. Klien mengatakan semoga setelah sembuhnya luka operasi ini, kedepannya klien tidak mau terjadi lagi apa yang klien alami saat ini dan klien akan memohon dan berdoa kepada Allah SWT agar tetap diberikan kesehatan.
-          Klien mengatakan lukanya terasa nyeri dan klien bertanya bagaimana dengan pembalut lukanya, apakah akan diganti sekarang atau kapan, agar cepat kering lukanya.
(3)   Persepsi Diri
Klien mengatakan bahwa saat ini dirinya ingin segera sembuh dan pulang kembali kerumah berkumpul dengan keluarga, dan klien berharap agar lukanya tetap kering dan cepat sembuh.
(4)   Konsep Diri
-         Body Image
Klien mengatakan walaupun pada perutnya terdapat luka operasi tetapi klien tidak merasa malu, asalkan lukanya cepat sembuh
-         Peran
Klien mengatakan tetap akan menjalankan perannya sebagai seorang istri, ibu dan nenek bagi kedua cucunya
-         Ideal Diri
Klien ingin segera sembuh dan segera pulang berkumpul dengan keluarga


-         Identitas Diri
Klien mengatakan merasa puas sebagai wanita, karena sudah mampu memberikan / melahirkan 4 orang anak yang sekarang dalam keadaan sehat-sehat
-         Harga Diri
Klien merasa dirinya sama dengan orang lain. Klien mengatakan walaupun terdapat luka operasi tetapi klien tidak malu dan klien berharap lukanya cepat sembuh.
(5)   Hubungan / Komunikasi
Cara bicara klien cukup jelas, klien mau menjawab bila ditanya. Bahasa yang digunakan klien sehari-hari adalah bahasa sunda. Klien cukup kooperatif dalam tindakan keperawatan. Klien mengatakan bahwa dirinya, suami dan anak-anaknya tinggal bersama, hanya anak yang pertama saja yang tinggal bersama suaminya, dan yang memegang peranan penting dalam keluarganya adalah suaminya. Motivasi dari suami cukup tinggi karena suami selalu menunggu dan menerima klien apa adanya.
(6)   Kebiasaan Seksual
Klien mengatakan bahwa sebelum sakit melakukan aktifitas seksual 1 minggu sekali dan klien juga mengatakan setelah sakit tidak akan melakukannya sampai luka benar-benar sembuh, dan pernyataan itu sudah disepakati oleh suami klien. Suami klien pun mengatakan tidak apa-apa.
(7)   Sistem Nilai Kepercayaan
Klien mengatakan dukungan dari suami dan anak-anaknya sangat tinggi. Klien merasa bahwa dirinya terlindung dan tidak merasa sendiri dan apabila klien mempunyai masalah klien menceritakannya kepada suami dan anak-anaknya. Klien sering mengikuti acara pengajian satu minggu sekali. Klien menyerahkan semua keadaannya saat ini kepada Allah SWT.
(8)   Data Penunjang
(1)   Laboratorium
Tanggal 1 Januari 2004                              Nilai Rujukan
Hb
:
13 gr / dl
12-16  gr / dl
Leukosit
:
5.000 / mm3
3.8-10.6 ribu / mm3
Hematokrit
:
40 %
35-47  %
Trombosit
:
250.000 / mm3
150-440 ribu / mm3




Urine



Bj
:
1.020
1.01 – 1.025
PH
:
6,5
4,8 – 7,5
Nitrat
:
Negatif
Negatif mg / dl
Protein
:
500 / +++

Glukosa Urine
:
50 / (+)

Keton
:
50 / +++
Negatif
Eritrosit
:
2 – 4
< 1 / IPb
Leuko
:
1 – 2
< 6 / IPb
Tanggal 2 Januari 2004
Hb
:
11 gr / dl
12 – 16  gr / dl
Leukosit
:
12.000 / mm3
3,8-10,6  ribu / mm3

(2)   Pengobatan
Tanggal 1 Januari 2004
-          Tyasin 2 x 1 gr ( IV )
-          Metronidazol 2 x 500 ml ( IV )
Tanggal 3 Januari 2004
-          Velosep 2 x 500 mg ( oral )
-          Emieton 1 x 1 tab ( oral )
-          Dolos 3 x 1 kaplet ( oral )

b.      Analisa Data
No
Data
Kemungkinan Penyebab
Masalah
1.























DS :
-         Klien mengatakan nyeri pada luka operasi
-         Klien mengatakan nyeri bertambah bila bergerak
-        Klien mengatakan nyeri seperti diiris-iris dan perih
DO :
-          Ekspresi wajah tampak meringis bila bergerak
-        Skala nyeri 3 (0–5)
-          Terdapat luka insisi yang masih tertutup
-        Bentuk insisi vertikal
-          Panjang luka 12 cm
-          Tanda-tanda vital :
Ÿ        Tensi : 150/90 mmHg
Ÿ        Nadi : 80 x / menit
Ÿ        Respirasi : 20 x / menit

Luka insisi operasi Salpingo – oophorectomy
Terputusnya kontinuitas jaringan
Vasokontrikisi
Reaksi hemostatis
Pengeluaran serotinin dan histamin
Peningkatan permeabilitas kapiler
Eksudasi cairan menyebabkan sel radang disertai vasodilatasi
Edema dan pembengkakan
Nyeri

Gangguan rasa nyaman nyeri sedang























2.
DS :
Klien mengatakan ada luka diperutnya dan terasa nyeri bila bergerak
DO :
Terdapat luka insisi pada daerah abdomen sepanjang +12 cm.
Luka insisi operasi Salpingo – oophorectomy
Terputusnya kontinuitas jaringan
Vasokontrikisi
Reaksi hemostatis
Pengeluaran serotinin dan histamin
Peningkatan permeabilitas kapiler
Eksudasi cairan menyebabkan sel radang disertai vasodilatasi
Edema dan pembengkakan
Nyeri

Gangguan integritas kulit


 
Gangguan integritas kulit

4      4
4      4
 
3.
DS :
Klien mengatakan nyeri bila bergerak
DO :
-          Klien tampak terlentang terus ditempat tidur
-          Kekuatan otot


 


-          Aktifitas dibantu keluarga dan perawat
-        Kulit klien teraba lengket
-          Gigi klien kotor dan tercium bau mulut
-          Kuku kedua tangan dan kedua kaki panjang dan kotor
-          Klien   mandi  lap   1 x   tanpa menggunakan sabun
Terputusnya kontinuitas jaringan
Nyeri pada insisi bila bergerak
Klien takut untuk bergerak
Motivasi untuk bergerak tidak ada
Gerakan terbatas
Terjadi defisit perawatan diri : personal hygiene
Defisit perawatan diri : personal hygiene
4.
DS :
Klien mengatakan terasa ada lendir pada tenggorokan tapi susah untuk dikeluarkan
DO :
-         Terdapat ada lendir pada lubang hidung
-         Frekuensi nafas 20 x / menit
Post anastesi
Adanya lendir pada jalan nafas
Jalan nafas terhambat
Suplay O2 ke paru-paru terganggu
Kompensasi paru-paru untuk meningkatkan ritme
Proses inspirasi dan ekspirasi cepat
Pola nafas tidak efektif
Pola nafas tidak efektif
5.
DS :
-          Klien menanyakan keadaan penyakitnya dan bagaimana keadaannya nanti setelah dioperasi
-          Klien mengatakan tidak ingin punya anak lagi
DO :
-          Klien pasca Salpingo – oophorectomy
-          Umur klien 40 tahun
-          Klien sudah mempunyai 4 orang anak
Pasca Salpingo – oophorectomy
Ovarium produksi berkurang
Terjadinya ovulasi berkurang
Pembentukan korpus luteum berkurang
Produksi hormon estrogen dan progesteron berkurang
Menstruasi terhenti dan fertilitas terganggu
Stressor bagi klien
Koping individu tidak efektif
Ancaman gangguan aktualisasi
Resiko gangguan aktualisasi : menopause dini
6.
DS :
Klien mengatakan belum BAB 2 hari
DO :
-         Bising     usus    8 x / menit  lemah
-         Klien   post  operasi salpingo – oophorectomy
-        Pola BAB 1 x / hari
-        Test feeding hari pertama

Anestesi umum
Menekan syaraf dan otot colon
Motilitas berkurang
Memperlambat transportasi fecal
Waktu absorpsi air dalam fecal menjadi panjang
Absorpsi air dalam fecal berlebihan
Fecal menjadi keras
Konstipasi
Resiko konstipasi


2.      Diagnosa Keperawatan Berdasarkan Prioritas
1)      Pola nafas tidak efektif berhubungan dengan adanya lendir pada jalan nafas
2)      Gangguan rasa nyaman nyeri sedang berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan : fase inflamasi
3)      Gangguan integritas kulit yang berhubungan dengan adanya insisi operasi
4)      Defisit perawatan diri : personal hygiene berhubungan dengan keterbatasan gerak akibat nyeri
5)      Resiko konstipasi berhubungan dengan motilitas usus menurun akibat narkose umum.
6)      Resiko gangguan aktualisasi : menopause dini berhubungan dengan ketidaktahuan tentang perubahan fisik : Sistem Reprodusi

3.     
Terlampir
 
Perencanaan
4.      Pelaksanaan
5.      Evaluasi

PERENCANAAN, PELAKSANAAN, EVALUASI

Nama
:
Ny. I

Diagnosa medis
:
Post op Salpingo - ovarectomy

Umur

:
40 th

No. Medrec
:
04050001

No. Tgl

Diagnosa Perawatan

PERENCANAAN
IMPLEMENTASI
Tujuan
Intervensi
Rasional
1
2
3
4
5
6
1.
2-1-04
Pola nafas  tidak efektif    ber -hubungan dengan adanya sekret pada jalan nafas ditandai dengan :
DS :
-         Klien mengatakan merasa ada lendir pada tenggorokan nya tapi susah untuk dikeluarkan
-         Post anestesi umum
DO :
-          Terdapat lendir pada lubang hidung
-          Frekuensi nafas 20 x / menit
-          Bunyi nafas broncho trakhea terdengar ronchi
Tupan :
Pola nafas efektif
Tupen :
Dalam perawatan 1 hari diharapkan pola nafas efektif dengan kriteria :
-          Frekuensi nafas 16 x / menit
-          Tidak ada lendir pada lubang hidung
-          Lendir pada tenggorokan dapat keluar
-          Bunyi nafas broncho / trakhea bersih
1.     Bersihkan lendir pada   lubang hidung







2.     Beri minum air hangat






3.     Bantu   klien untuk merubah posisi miring kiri atau kanan jika  ada   batuk   atau mengeluarkan lendir
4.     Beri informasi pentingnya mobilisasi untuk membantu menghilangkan lendir pada tenggorokan







5.     Lakukan claping ada daerah yang terdapat sekret
1.     Melancarkan    udara masuk melalui rongga hidung






2.     Dapat    melepaskan lendir  yang  menempel pada tenggorokan




3.     Mempermudah   jika akan   mengeluarkan lendir   dan mengurangi penarikan otot perut saat batuk

4.     Dengan   mobilisasi, peredaran    darah menjadi lancar sehingga sisa narkose umum terbuang begitu juga dengan lendir yang menempel pada tenggorokan




5.     Untuk merangsang lendir keluar
1.    Jam 08.00
Membersihkan lendir pada rongga hidung dengan menggunakan tissu
Reaksi respon : keadaaan      rongga hidung   bersih dan klien merasa nyaman
2.    Jam 08.15
Memberikan minum air hangat satu gelas           ( sedikit- sedikit )
Reaksi respon :   klien mengatakan   lendir berkurang    pada tenggorokan
3.    Membantu    klien merubah posisi miring
Reaksi respon : klien merasa nyaman


4.    Memberikan penjelasan pada klien tentang pentingnya mobilisasi jalan untuk menghilangkan lendir yang menempel pada tenggorokan
Reaksi respon : klien mengerti dan mau mencoba duduk, klien mengatakan mau mencoba jalan besok
5.      Jam 08.30
Melakukan claping pada daerah punggung atas
Reaksi respon: sekret keluar dan klien mengatakan tenggorokan sudah terasa enak
2.
2-1-04
Gangguan rasa nyaman nyeri sedang berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan : fase inflamasi ditandai dengan :
DS :
-         Klien mengatakan nyeri pada luka operasi
-         Klien mengatakan nyeri bertambah bila bergerak
-         Klien mengatakan nyeri seperti diiris-iris dan perih
DO :
-         Ekspresi wajah klien meringis bila bergerak
-         Skala nyeri 3 (0-5)
-         Terdapat luka insisi salpingo – oophorectomy hari ke-1
-         Tanda-tanda vital :
s         Tekanan darah :   150/90 mmHg
s         Nadi : 94 x / menit
s         Respirasi : 20 x / menit
s         Suhu tubuh : 37o C
Tupan :
5 hari Nyeri hilang
Tupen :
Kualitas    nyeri   berkurang   dalam   waktu     3   hari     dengan kriteria :
-     Klien     dapat mentoleransi nyeri
-     Ekspresi   wajah tidak   meringis
-     Skala nyeri 1
-     Tanda-tanda   vital dalam    batas normal :
s      Tensi : 120/80 mmHg
s      Nadi : 60 -100 x / menit
s      Suhu : 36 -37oC
s      Respirasi : 16 - 20 x / menit
1.      Evaluasi derajat nyeri dan catat tanda-tanda vital dan emosi







2.      Bantu      klien mendapatkan   posisi yang nyaman  dengan posisi  klien  miring pada  bagian  perut diganjal bantal



3.      Ajarkan teknik penanganan nyeri dengan masase pada daerah luka teknik dan distraksi




4.      Kolaborasi untuk pemberian analgetik Dolos 3 x 1 kaplet per oral
1.             
1.      Merupakan intervensi monitoring   yang efektif, karena tingkat kegelisahan mempengaruhi reaksi nyeri





2.      Dapat     mengurangi ketegangan    otot sehingga   diharapkan nyeri berkurang





3.      Masase  pada daearah luka dan  distraksi dapat   mengalihkan perhatian   klien terhadap nyeri




4.      Dapat   menekan pelepasan substansi “P” dan bradikinin sehingga dapat menurunkan ambang nyeri
1.    Jam 07.30
Mengukur tanda-tanda vital, Tensi : 150/ 90 mmHg, N : 80 x / menit, R : 20 x / menit, Suhu : 37,1oC   dan mengobservasi derajat nyeri
Reaksi respon : tidak ada penaikan suhu, nadi, tensi dan respirasi
2.    Jam 08.45
Mengatur   posisi klien dengan posisi miring   dengan diganjal   bantal pada   bagian belakang   dan depan   ( posisi memeluk bantal )
Reaksi respon : klien merasa nyaman
3.    Melakukan teknik distraksi dengan mengajak ngobrol klien   dan mengajarkan masase   pada daerah sekitar luka bila nyeri
Reaksi respon : klien terlihat nyaman

4.    Jam 09.00
Memberikan therapi   analgetik Dolos 1 kaplet per oral.
Reaksi respon : tidak tampak reaksi komplikasi
3.
2-1-04
Gangguan integritas kulit berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan : fase inflamasi ditandai dengan :
DS :
Klien mengatakan  nyeri pada luka operasi
DO :
-          Terdapat luka insisi  masih tertutup verban
-          Bentuk insisi vertikal
-          Panjang luka + 12 cm


Tupan :
Kulit kembali normal
Tupen :
Dalam jangka waktu 4 hari integritas kulit berkurang dengan kriteria :
-    Keluar cairan pada luka insisi berwarna kuning dan selanjutnya luka tertutup dan kering
-    Klien tidak mengeluh nyeri
1.    Monitor keadaan  luka dan laporkan bila ada tanda-tanda infeksi seperti kemerahan, bengkak, nyeri dan panas.

2.    Bersihkan daerah sekitar insisi dan rawat luka dengan cara septik dan antiseptik







3.    Lanjutkan pemberian therapi antibiotik Tyasin 1 gr (IV) dan metronidazol 500 ml (IV) sesuai program

1.    Agar segera mengetahui bila luka terjadi sesuatu





2.    Menghindari mikro organisme  masuk dan dengan teknik septik  dan anti septik mengurangi kontaminasi mikro organisme dan membunuh kuman




3.    Antibiotik mampu membunuh mikro organisme penyebab infeksi



1.      Jam 07.00
Memonitor keadaan luka
Reaksi respon : luka masih tertutup verban, verban bersih dan kering
2.      Menjaga   dan mempertahankan kebersihan luka dengan menganjurkan mengganti gurita tiap hari, tidak melakukan perawatan luka karena baru hari ke-1
Reaksi respon : klien mau menjaga kebersihan daerah luka
3.      Jam 09.00
Memberikan therapi Tyasin 1 gr (IV) dan Metronidazol 500 ml (IV) sesuai program
Reaksi respon : tidak tampak reaksi komplikasi
4.
2-1-04
Defisit perawatan diri : personal hygiene berhubungan dengan keterbatasan gerak akibat  nyeri, ditandai dengan :
DS :
Klien mengatakan nyeri bila bergerak
DO :
-    Klien tampak terlentang terus ditempat tidur
-    Aktifitas dibantu keluarga dan perawat
-    Kulit klien teraba lengket
-    Gigi kotor dan bau mulut
-    Kuku kedua tangan dan kedua kaki kotor dan panjang
-    Klien mandi  lap 1 x / hari tanpa meng- gunakan sabun
Tupan :
Personal hygiene baik
Tupen :
Dalam jangka waktu 2 hari pasien mampu merawat kebersihan diri sendiri tanpa bantuan orang lain dengan kriteria :
-    Klien dapat duduk
-    Aktifitas sehari-hari dilakukan sediri
-    Gigi bersih
-    Kuku kedua tangan dan kedua kaki bersih dan pendek
-    Klien dapat mandi sendiri minimal 1 x / hari menggunakan sabun

1.    Bantu     klien dan fasilitasi dalam melakukan personal hygiene :

-         Mandi




-         Oral hygiene



-         Bersihkan dan potong kuku  tangan dan kaki





2.    Motivasi klien untuk mencoba melakukan personal hygiene sendiri bila nyeri berkurang dan dukung klien bila mampu untuk melakukannya


3.    Latih klien untuk mobilisasi bertahap : miring kanan / miring kiri, duduk dan jalan



1.    Memberikan kemudahan klien untuk    melakukan personal hygiene :


-         Dapat melancarkan peredaran darah dan membersihkan kulit


-         Dapat membersihkan gigi dari sisa-sisa makanan dan mencegah bau mulut
-         Menghindari mikro organisme menempel pada kuku





2.    Latihan    kegiatan minimal yang berhasil dapat meningkatkan motivasi untuk sering berlatih





3.    Dengan mobilisasi jalan peredaran darah menjadi lancar dan membantu mempercepat proses penyembuhan luka



1.    Jam 08.00
Membantu klien dan memfasilitasi dalam melakukan personal hygiene :
-       Jam 08.00 memandikan  klien dengan cara mandi lap dan menggunakan sabun mandi
-       Jam 08.10 menggosok gigi dengan menggunakan pasta gigi
-       Jam 08.15 memotong dan membersihkan kuku pada kedua tangan dan kaki
Reaksi respon : klien mengatakan akan melakukan personal hygiene sendiri
2.    Melatih klien untuk mencoba aktifitas minimal seperti  :
-Makan dan minum
-Merapihkan rambut
-Mengganti baju
Reaksi respon : klien mampu melakukan aktifitas minimal

3. Melatih klien untuk mobilisasi duduk
Reaksi respon : klien tidak mau melakukan mobilisasi jalan karena masih nyeri, tapi klien mau melakukannya besok
5.
2-1-04
Resiko    konstipasi berhubungan dengan motilitas    usus menurun    akibat narkose    umum ditandai   dengan :
DS :
Klien mengatakan belum BAB 2 hari, biasanya klien BAB setiap hari 1 x
DO :
-         Bising usus 8 x / menit lemah
-         Klien post op salpingo – oophorectomy dengan narkose umum



Tupan :
BAB lancar
Tupen :
Dalam jangka waktu 2 hari klien dapat BAB dengan kriteria :
-         Klien mengatakan sudah BAB
-         Bising usus kuat 5-35 x / menit
1.      Anjurkan banyak minum + 1500-2500 cc


2.      Bantu dan anjurkan klien untuk mobilisasi duduk


3.      Monitor bising usus tiap 30 menit



4.      Anjurkan makan tinggi serat ( sayuran dan buah-buahan )
1.      Mencegah faeces menjadi kering



2.      Mobilisasi dapat merangsang pergerakan usus


3.      Untuk mengetahui keadaan bising usus lemah / kuat


4.      Dapat mencegah konstipasi
1.      Jam 08.15
Memberikan minum ½ gelas ( sedikit-sedikit )
Reaksi respon : air minum habis ½ gelas
2.      Membantu klien pada posisi duduk
Reaksi respon : klien merasa nyaman dengan posisi duduk
3.      Jam 08.30
Mendengarkan bising usus ditiap kuadran
Reaksi respon : bising usus kuat, 10 x / menit
4.      Menganjurkan untuk makan sayur-sayuran dan buah-buahan
Reaksi respon : klien mau melakukannya karena klien menyukai sayur-sayuran dan buah-buahan
6.
2-1-04
Resiko gangguan aktualisasi : menopause dini berhubungan dengan ketidaktahuan tentang perubahan fisik : Sistem Reproduksi ditandai dengan :
DS :
- Klien menanyakan keadaan penyakitnya dan bagaimana keadaannya nanti setelah operasi
-         Klien mengatakan tidak ingin punya anak lagi
DO :
-         Klien pasca salpingo – oophorectomy
-         Umur klien 40 tahun
-         Klien sudah mempunyai anak 4 orang
Tupan :
Dalam waktu 5 hari aktualisasi tidak terganggu
Tupen :
Setelah diberikan pen jelasan selama 15 menit diharapkan klien mengerti : 
-         Tidak terlihat cemas karena aktualisasinya

-           Klien mengerti tentang apa yang disampaikan
-           Klien tidak bertanya-tanya lagi / mengeluh tentang keadaannya nanti
-           Klien tidak tampak murung selama perawatan di Rumah sakit

1.      Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat-obatan hormon estrogen dan memberikan penjelasan tentang kerja obat dalam Sistem Reproduksi : proses menstruasi
2.      Beri penjelasan tentang perubahan fisik : Sistem Reproduksi sebagai dampak tindakan Salpingo - oophorectomy
1.      Menambah pengetahuan klien tentang pentingnya obat hormon estrogen dan tentang kerja obat





2.      Menambah pengetahuan klien tentang perubahan fisik : Sistem Reproduksi
1.      Jam 10.00
Mendampingi klien ketika dokter memberikan penjelasan kepada klien
Reaksi respon : klien mengatakan sudah mengerti dan ingin mendapatkan pengobatan hormon
2.      Menjelaskan tentang perubahan fisik Sistem Reproduksi
Reaksi respon : klien mengerti

No.
Tanggal
Terpecahkan masalah
DP
Catatan Perkembangan
Paraf
1.
3-01-04
DP 2
S : Klien mengatakan nyeri berkurang
O :
-         Ekspresi wajah klien agak meringis ketika berusaha merubah posisi duduk
-         Skala nyeri 2
-         Tanda-tanda vital :
s         N : 88 x / menit
s         S : 37o C
s         R : 16 x / menit
s         T : 130/90 mmHg
A : Klien dapat beradaptasi dengan nyeri
P :
-         Atur posisi tidur senyaman klien mungkin
-         Evaluasi derajat nyeri dan catat perubahan tanda-tanda vital dan emosi
-         Lanjutkan tindakan teknik distraksi dan masase pada daerah sekitar luka
-         Berikan therapi analgetik Dolos 1 tab per oral
I :
-         Jam 07.00 : membantu memposisikan klien duduk sambil bersandar bantal
-         07.15 : mengevaluasi derajat nyeri dan mengukur tanda-tanda vital
-         Melakukan teknik distraksi dengan mengajak ngobrol dan melakukan masase daerah sekitar luka
-         Jam 09.00 : memberikan therapi analgetik Dolos 1 tab per oral
E : Klien tampak lebih aktif mobilisasi mika / miki dan duduk, skala nyeri 2, N : 80 x / menit, S : 36,5o C, R : 16 x / menit, T : 130/90 mmHg
Andriyani
2.
3-01-04
DP 3
S : klien mengatakan luka masih terasa nyeri
O : Luka masih tertutup verban dengan kondisi verban bersih dan kering
A : Masalah belum teratasi
P :
-         Monitor keadaan luka
-         Bersihkan daerah sekitar luka dengan waslap basah ( saat memandikan )
-         Beri therapi Tyasin 1 gr (IV) dan Metronidazol 500 ml (IV) sesuai program
I :
-         Jam 07.00 memonitor keadaan luka
-         Jam 07.00 membersihkan daerah sekitar luka dengan waslap basah
-         Jam 09.00 memberikan therapi Velosep 1 tablet per oral
E : Luka masih tertutup verban

3.
3-01-04
DP 4
S : Klien mengatakan sudah bisa mandi sendiri
 5         5
 5         5

 
O :
-         Kekuatan otot
-         Aktifitas masih dibantu sebagian
-         Klien sedang duduk ditempat tidur
-         Klien tampak rapih dan segar
A : Masalah sudah teratasi

Andriyani

4.
3-01-04
DP 5
S : Klien mengatakan sudah BAB
O : Bising Usus 10 x / menit kuat
A : Masalah teratasi

Andriyani

5.
3-01-04
DP 7
S : Klien mengatakan “tadi dokter bilang selang pada vagina akan dilepas”
O :
-         Kateter sudah terlepas
-         Warna urine kuning jernih ( dalam kantong urine )
-         Jumlah 500 cc
A : Perubahan pola eliminasi BAK berhubungan dengan setelah pelepasan dower kateter
P :
-         Buang urine
-         Siapkan alat dan lakukan aff kateter
-         Beri informasi tentang
s         Minum banyak 1500 – 2500 cc
s         Ajarkan teknik kagel exercise
-         Tanyakan apakah klien sudah BAK alamiah
I :
-         Jam 08.30 membuang urine, jumlah 500 cc
-         Menyiapkan alat dan melakukan aff kateter
-         Memberikan informasi untuk minum banyak
-         Mengajarkan teknik kagel exercise
-         Menanyakan apakah klien sudah BAK alamiah
E : Klien mengatakan belum BAK

Andriyani

1.
4-01-04
DP 2
S : Klien mengatakan masih nyeri sedikit
O :
-         Klien sedang jalan-jalan dan tampak tidak merasakan nyeri
-         Skala nyeri 1
-         Tanda-tanda vital :
s         N : 80 x / menit
s         S : 36o C
s         R : 16 x / menit
s         T : 120/90 mmHg
A : Masalah teratasi

Andriyani

2.
4-01-04
DP 3
S : klien mengatakan luka masih terasa nyeri sedikit
O : Luka tampak masih basah dan terlihat kemerahan disekitarnya
A : Masalah belum teratasi
P :
-         Monitor keadaan luka
-         Ganti balutan dengan teknik septik dan anti septik
-         Beri therapi Tyasin 1 gr (IV) dan Metronidazol 500 ml (IV) sesuai program
I :
-         Jam 07.00 memonitor keadaan luka
-         Jam 08.00 mengganti balutan dengan teknik septik dan anti septik
-         Jam 09.00 memberikan therapi Velosep 1 tablet per oral
E : Luka masih tampak basah dan agak kemerahan

Andriyani

3.
4-01-04
DP 7
S : Klien mengatakan sudah BAK dan bisa menahan sampai ke kamar mandi
O : Blass teraba kosong
A : Masalah teratasi

 

Andriyani

4.
4-01-04
DP 8
S : Klien menanyakan bagaimana cara perawatan dirumah
O : Klien tidak dapat menjawab saat ditanya tentang perawatan dirumah
A : Kurang pengetahuan tentang perawatan dirumah berhubungan dengan kurangnya informasi tentang perawatan dirumah
P :
-           Jelaskan perlunya menghindari koitus selama 4 – 6 minggu
-           Instruksikan klien untuk mobilisasi secara teratur saat dirumah
-           Jelaskan perlunya menghindari aktifitas yang berat selama 6 minggu setelah operasi
-           Jelaskan perlunya menghindari konstipasi
-           Anjurkan klien untuk follow up
-           Rawat luka insisi dengan cara menjaga kebersihan diri dan mengganti balutan luka
-             Jelaskan pentingnya pemakaian obat  hormon estrogen untuk menghindari terjadinya menopause dini
I :
-             Jam 07.30 menjelaskan perlunya menghindari koitus selama 4 – 6 minggu
-             Menginstruksikan klien untuk mobilisasi secara teratur saat dirumah
-             Melakukan penkes tentang cara perawatan luka
-             Menjelaskan perlunya menghindari aktifitas berat selama 6 minggu setelah operasi
-             Menjelaskan pentingnya follow up
-             Menjelaskan tentang pentingnya pemakaian hormon estrogen untuk mencegah terjadinya menopause dini
E : Klien mengatakan sudah mengerti tentang perawatan dirumah

 












































Andriyani

1.
5-01-04
DP 3
S :  Klien mengatakan luka masih terasa nyeri sedikit
O : Luka insisi tampak masih kemerahan dan keluar cairan bening
A : Masalah belum teratasi
P :
-         Mengganti alat tenun dan memelihara kebersihan sekitarnya
-         Ganti balutan dengan teknik septik dan anti septik
-         Lanjutkan therapi antibiotik Dolos 1 kaplet per oral
I :
-         Jam 07.15 Mengganti alat tenun dan memelihara kebersihan sekitarnya
-         Jam 08.15 Mengganti balutan dengan teknik septik dan anti septik
-        Jam 09.00 Memberikan therapi analgetik Dolos 1 kaplet per oral

Andriyani

1.
6-01-04
DP 3
S : Klien mengatakan sudah tidak nyeri
O : Luka terlihat sudah tertutup dan nampak kering

A : Masalah teratasi

Andriyani

2.
6-01-04
DP 8
S :
-           Klien mengatakan ingin mendapatkan penjelasan kembali tentang perawatan dirumah ( perawatan luka )
-           Klien mengatakan rencana pulang hari ini
O : Ketika ditanya tentang perawatan luka klien hanya bisa menjawab sebagian
A : Klien belum dapat merawat lukanya sendiri
P : Demonstrasikan kembali tentang perawatan luka
I :
-             Jam 07.30 Mengganti balutan dan sekaligus mendemonstrasikannya
-             Menganjurkan untuk melanjutkan therapi dirumah dan mengingatkan untuk follow up
E :  Jam 10.00 klien pulang ke Sarijadi - Bandung

 


B.     Pembahasan
Selama melakukan asuhan keperawatan pada klien Ny. I dengan gangguan sistem reproduksi pasca salpingo – oophorectomy dalam waktu 5 hari dari tanggal 2 – 6 Januari 2004, secara langsung di Ruang 17. C Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung melalui pendekatan proses keperawatan, maka ditemukan beberapa hal yang perlu dibahas. Hal ini disebabkan oleh adanya perbedaan atau kesenjangan antara teori dengan kenyataan dilahan praktek, mulai dari tahap pengkajian, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.
1.      Tahap Pengkajian
         Pada tahap ini penulis mengumpulkan data secara komprehensif melalui aspek bio-psiko-sosio-spiritual pada wanita pasangan usia subur pasca salpingo – oophorectomy kanan atas indikasi kista ovarium hari pertama di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Berdasarkan hasil kajian riwayat ginekologi : post salpingo – oophorectomy didapat keluhan pasien nyeri pada luka insisi. Pada pengkajian fisik yang dilakukan penulis adalah dengan teknik dasar keperawatan, antara lain : inspeksi, auskultasi, perkusi dan palpasi, baik data dasar maupun fokus. Adapun caranya dikaji mulai dari kepala sampai kaki ( head to toe ), karena dirasakan lebih efisien, sehingga penulis memperoleh data yang lengkap. Selain pengkajian fisik, penulis juga mengkaji keadaan psikologis, sosial dan spiritual untuk mengetahui tingkat pengetahuan klien dalam merawat luka pasca salpingo – oophorectomy. Seluruh data senjang yang ditemukan dilakukan analisa, kemudian diinterpretasikan menjadi Diagnosa Keperawatan. Rumusan Diagnosa Perawatan lalu diprioritaskan berdasarkan teori Abraham Maslow yang menjelaskan tentang hirarkhi kebutuhan dari fisik / biologis, rasa aman nyaman, rasa dicintai / dihargai, harga diri dan aktualisasi. Pada kasus Ny. I ditemukan 8 Diagnosa Perawatan ( 6 lama dan 2 baru ), sedangkan berdasarkan ( Tucker, 1998 : 624 ) kasus salpingo – oophorectomy timbul kemungkinan masalah 8   ( delapan ). Diantara teori dan kenyataan adanya 6 Diagnosa Perawatan yang sama lain : (1) Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan insisi bedah, (2) Ketidakefektifan pola nafas yang berhubungan dengan ketidaknyaman dan keadaan pasca operasi, (3) Gangguan integritas kulit yang berhubungan dengan adanya insisi operasi, (4) Resiko konstipasi kolon yang berhubungan dengan puasa dan adanya manipulasi pada pelvis dan abdomen saat operasi, (5) Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan sensori motor pasca operasi, (6) Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang perawatan dirumah. Sedangkan perbedaannya : Defisit perawatan diri berhubungan dengan keterbatasan gerak akibat nyeri dan resiko aktalisasi : menopause dini berhubungan dengan ketidaktahuan tentang perubahan fisik sistem reproduksi.
   Perbedaan yang mendasar adalah pada kasus Ny. I diangkat masalah Resiko aktualisasi : menopause dini, karena Ny. I hanya memiliki 1 ovarium setelah tindakan salpingo – oophorectomy. Berdasarkan teori bila ovarium satu dan usia 40 tahun, maka tekanan interna akan mengalami degenerasi produksi hormon estrogen ( Gibson, 1995 : 214 ). Oleh karena itu, maka penulis mengangkat Diagnosa Perawatan tersebut.
            Berdasarkan hasil analisa diinterpretasikan masalah Ny. I, maka gangguan pada pernafasan merupakan masalah yang utama. Alasannya karena sekret pada jalan nafas akan mengganggu asupan atau inspirasi oksigen kedalam paru-paru. Secara teori bunyi nafas pada trakhea inspirasi lebih panjang dari pada ekspirasi, hal ini dipertegas dalam teori maslow yang mengatakan oksigen merupakan kebutuhan yang paling mendasar pada manusia. Oleh karena itu pada pasien Ny. I gangguan tersebut ditetapkan menjadi prioritas utama.
            Pada kasus Ny. I Diagnosa Perawatan ke-2 ( lihat halaman... )  ditetapkan karena nyeri merupakan masalah nomor 2 berdasarkan teori kebutuhan Maslow pada Ny. I klasifikasi nyeri sedang sudah terjadi pada hari pertama fase inflamantori, padahal secara teori skala 3 atau fase sedang biasanya terjadi pada hari ke-2 atau hari ke-3. perbedaan tersebut dimungkinkan karena Ny. I memiliki adaptasi nyeri tinggi ( Suddarth, 2002 ; 489 ) walaupun ambang nyeri pasien tinggi Diagnosa Perawatan ini tetap diangkat menjadi prioritas ke-2, karena penulis menggunakan teori kebutuhan Maslow, yaitu : rasa aman nyaman berada pada hirarkhi ke-2.
            Gangguan integritas kulit dijadikan prioritas ke-3, karena mempunyai resiko terhadap terjadinya resiko infeksi. Hal ini diperkuat oleh teori Maslow yang mengatakan bahwa aman : fisik atau terhindar dari infeksi merupakan prioritas ke-2. Oleh karena itu integritas kulit harus di pecahkan. Bersamaan dengan dignosa nomor 3 ditemukan juga diagnosa perawatan nomor 4. Sehingga diagnosa perawatan nomor 3 akan hilang jika diagnosa perawatan nomor 4 pun terpecahkan.
Devisit perawatan diri diangkat menjadi prioritas ke-4, karena masalah ini masih termasuk berdasarkan teori Maslow pada hirarki ke-2 yaitu rasa aman nyaman. Selain itu devisit perawatan diri : personal hygiene jika tidak diatasi akan menjadi media kuman untuk berkembnag sehingga multiple kuman akan masuk pada daerah luka yang dapat menghambat proses penyembuhan luka ( Suddarth, 2002 ; 490 ).
Resiko konstipasi, Diagnosa Perawatan ini menjadi urutan ke-5 karena belum terjadi gangguan. Gangguan eliminasi BAB ( konstipasi ). Secara teori transportasi dari eliminasi BAB akan terjadi minimal 12-24 jam. Namun karena Ny. I mengalami pemberian anestesi ( ether ) kerja ether tersebut menekan otot dan syaraf kolon sehingga terjadi mortilitas kolon.
Diagnosa Perawatan nomor 6 diangkat karena ibu mengatakan bagaimana keadaan nanti setelah operasi. Hal ini merupakan pernyataan terselubung dari pasien yang mengkhawatirkan tentang keadaan fisik  dan perubahannya sebagai seorang wanita. Pada Diagnosa Perawatan ini tidak diangkat masalah kecemasan atau gangguan fisiologis lainnya karena gangguan fisik lebih diprioritaskan dibandingkan gangguan psikis saat ini oleh pasien. Pernyataan tersebut sesuai dengan teori Maslow bahwa aktualisasi merupakan masalah paling akhir yang harus dipecahkan. Selain 6 Diagnosa Perawatan lama terdapat juga Diagnosa Perawatan baru yaitu perubahan pola eliminasi BAK berhubungan dengan terlepasnya kateter : post narkose umum. Diagnosa Perawatan ini diangkat menjadi Diagnosa Perawatan ke-7 ( ditemukan pada hari ke-2 ). Secara teori akibat efek obat anestesi yang menekan syaraf dan otot polos sistem perkemihan menyebabkan syaraf vesika urinaria dan urethra relaksasi sehingga pola eliminasi tidak terkontrol sehingga dipasang kateter. Sehingga setelah terlepasnya kateter merupakan masalah yang harus dipecahkan.
                        Diagnosa Perawatan baru berikutnya Diagnosa Perawatan ke-8 adalah kurangnya pengetahuan klien tentang perawatan dirumah. Diagnosa Perawatan ini diangkat karena pernyataan klien tentang perawatan dirumah. Diagnosa Perawatan baru ini diangkat menjadi Diagnosa Perawatan baru yang ke-2, karena menurut teori Maslow kebutuhan fisik ada pada hirarkhi yang pertama, sedangkan Diagnosa Perawatan ini pada hirarkhi ke-2 yaitu aman nyaman.
Berdasarkan pembahasan kesekian Diagnosa Perawatan secara prioritas menurut hirarkhi Maslow bahwa prioritas yang ditetapkan pada Ny. I telah sesuai, sedangkan berdasarkan ( Tucker, 1998 : 264 ) menjelaskan bahwa kemungkinan masalah yang timbul pada kasus pasca salpingo – oophorectomy ada 8 ( delapan ).
2.      Perencanaan
Pada tahap ke-2 proses keperawatan, perawat menetapkan pelaksanaan untuk menetapkan sejumlah intervensi. Adapun intervensi yang ditetapkan harus susuai dengan kriteria hasil. Pada kasus Ny. I ditetapkan 6 rencana untuk yang lama dan 2 untuk yang baru.
Sejumlah 5 intervensi telah direncanakan pada Ny. I dengan tujuan Diagnosa  Perawatan ke-1 hilang pada hari ke-1, hal tersebut sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa bersihan jalan nafas pada daerah lubang hidung dapat segera dibersihkan dan hasilnya pun segera terlihat.
Pada Diagnosa Perawatan ke-2, empat intervensi sesuai dengan teori, hanya pemberian analgetik tidak ada. Perbedaan pada kasus Ny. I mendapatkan analgetik, hal ini dapat menyebabkan Ny. I mempunyai skala nyeri 3 sedang.
Pada perencanaan, 5 intervensi yang diberikan pada Diagnosa Perawatan ke-3 terselesaikan pada hari ke-5. begitu juga teori mengatakan bahwa masalah integritas kulit akan hilang pada hari ke-5. adapun alasannya karena fase inflamantory akan terlaui pada hari ke-5. hal ini sesuai dengan teori  ( Suddarth, 2003 ; 490 ) walaupun 3 intervensi pada Diagnosa Perawatan ke-4 yang diberikan pada Ny. I tidak terdapat pada Tucker ( 1998 ; 624 ), namun intervensi tersebut telah memberikan dampak pada klien : terpenuhinya rasa nyaman dalam waktu 2 hari. Bahkan intervensi tersebut mendukung tercapainya pencapaian Diagnosa Perawatan nomor 3. sehingga pasien tidak mengalami infeksi pada daerah luka, karena perkembangan kuman segera dicegah dengan melakukan personal hygiene : mandi seka.
Walaupun intervensi yang diberikan 4 macam pada Diagnosa Perawatan 5 namun masalah tersebut dapat teratasi 2 hari lebih cepat dari waktu yang ditetapkan oleh Tucker ( 1998 ; 624 ). Pada kasus Diagnosa Perawatan ini penulis melakukan intervensi mobilisasi, karena dengan mobilisasi dapat merangsang otot dan syaraf yang terdepresi oleh obat anestesi yang memberikan dampak atau yang mengakibatkan motilitas berkurang. Penulis berpendapat bahwa ambulasi dini lebih efektif dibandingkan dengan pemberian laksatif dan selang kolon, karena kurangnya kontraksi kolon pada Ny. I disebabkan pada dampak anestesi.
            Dua jenis intervensi yang diberikan pada Ny. I untuk mengatasi Diagnosa Perawatan ke-6 tidak terdapat pada penjelasan Tucker. Namun penulis telah memberikan 2 intervensi tersebut dengan alasan untuk memberikan persepsi yang benar kepada pasien tentang tindakan salpingo – oophorectomy terhadap sistem reproduksi wanita dan obat hormonal.
            Selain 6 Diagnosa Perawatan lama terdapat juga Diagnosa Perawatan baru dengan intervensi ( lihat halaman... ) Ada 4 intervensi yang telah diberikan pada Diagnosa Perawatan ke-7, bertujuan untuk mengatasi pola eliminasi BAK. Intervensi tersebut diangkat bertujuan untuk membiasakan ibu berkemih tanpa kateter. Oleh karena itu setelah pengangkatan kateter pasien dianjurkan kagel exercise. Adapun keuntungan dari pelaksanaan kagel exercise adalah melatih otot-otot vagina dan syaraf urethra berespon terhadap rangsangan berkemih.
            Pada intervensi yang diberikan pada Diagnosa Perawatan baru yang ke-8 ada 7. intervensi yang diberikan sesuai dengan teori Tucker dengan alasan seluruh intervensi tersebut dapat mengatasi.
3.      Implementasi
Pada tahap ke-3 proses keperawatan, perawat melaksanakan tindakan keperawatan berdasarkan rencana asuhan keperawatan yang telah disusun. Pada kasus Ny. I adalah sebagai berikut :
¨      Pada Diagnosa Perawatan nomor 6 walaupun intervensi pemberian obat hormonal tidak dapat dilaksanakan pada waktu ditetapkan, namun perawat menganggap bahwa informasi tentang obat hormonal sangat penting diberikan pada pasien pasca salpingo – oophorectomy
¨      Diagnosa Perawatan nomor 5 semua intervensi dilaksanakan sesuai rencana yang telah disusun.
¨      Pada Diagnosa Perawatan nomor 4 intervensi nomor 3 tidak dapat dilaksanakan pada hari pertama karena klien mengatakan masih nyeri kalau harus melakukan aktifitas, namun klien mengatakan akan mencobanya besok.
¨      Pada Diagnosa Perawatan nomor 3 intervensi perawatan luka tidak dilaksanakan karena baru hari pertama post op. Namun perawat membersihkan daerah luka dengan menggunakan waslap yang dibasahi air dengan menjaga verban tetap kering.
¨      Tindakan yang dilakukan pada Diagnosa Perawatan ke-2 dapat dilaksanakan semua sesuai rencana yang telah tersusun dan dapat mengatasi.
¨      Pada Diagnosa Perawatan nomor 1 semua tindakan yang dilakukan sesuai dengan rencana yang telah tersusun.
4.      Evaluasi
Pada tahap ke-4 proses perawatan, perawat melakukan penilaian atau evaluasi yang sistematik dan terencana tentang kesehatan pasien. Adapun pada kasus Ny. I ini, pada evaluasi formatif respon klien menunjukkan pada pencapaian tujuan, sedangkan pada evaluasi sumatif timbul 2 Diagnosa Perawatan baru. Namun seluruh permasalahan dapat teratasi sesuai dengan waktu yang ditetapkan pada jangka panjang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar