Rabu, 20 April 2011

proposal penelitian

 
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Berdasarkan data World Health Organization (WHO) pada tahun 2005, bahwa setiap tahunnya wanita yang bersalin meninggal dunia mencapai lebih dari 500.000 orang. (Winkjosastro, 2005). Menurut Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 2005 Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia yaitu 262/100.000 Kelahiran Hidup, sedangkan Angka Kematian Bayi (AKB) yaitu 32/1000 Kelahiran Hidup. (DinKes Jabar, 2006). Kematian ibu adalah kematian seorang wanita yang terjadi selama kehamilan sampai dengan 42 hari setelah berakhirnya kehamilan, tanpa melihat lama dan tempat terjadinya kehamilan, yang disebabkan oleh kehamilan atau penanganannya, tetapi bukan karena kecelakaan. (international stastistical classification of deseases, injuries and causes of death, edition ICD X). (1)
AKI di Propinsi Jawa Barat pada tahun 2005 terdapat 321,5/100.000 Kelahiran  hidup AKB 43,93/1000 Kelahiran Hidup. Adapun faktor penyebab langsung kematian ibu  adalah perdarahan 40-60 %, preeklamsi dan eklampsi 20-30 %, infeksi 20-30 %. Perdarahan  merupakan faktor terbesar penyebab tingginya AKI. Sedangkan penyebab tidak langsung yang  mendasar adalah faktor lingkungan, perilaku, genetik dan pelayanan kesehatan sendiri, salah satunya adalah 53% ibu hamil menderita anemia, 4 Terlalu (hamil atau bersalin terlalu muda  dan tua umurnya, terlalu banyak anaknya dan terlalu dekat jarak kehamilan/persalinannya)  dan 3 Terlambat (terlambat mengetahui tanda bahaya dan memutuskan rujukan, terlambat merujuk karena masalah transportasi dan geografi, terlambat ditangani ditempat pelayanan karena tidak efektifnya pelayanan di Puskesmas maupun di Rumah Sakit. (DinKes Jabar, 2005).
Faktor yang mempengaruhi terjadinya anemia pada ibu hamil adalah kekurangan zat besi, infeksi, kekurangan asam folat dan kelainan haemoglobin..Anemia dalam kehamilan adalah suatu kondisi ibu dengan kadar nilai hemoglobin di bawah 11 gr% pada trimester satu dan tiga, atau kadar nilai hemoglobin kurang dari 10,5 gr% pada trimester dua. Perbedaan nilai batas diatas dihubungkan dengan kejadian hemodilusi. (2)
Perdarahan merupakan faktor utama penyebab tingginya AKI. Perdarahan dapat terjadi pada kehamilan, persalinan dan pasca persalinan. Anemia merupakan salah satu faktor risiko yang dapat memperburuk keadaan ibu apabila disertai perdarahan saat kehamilan, persalinan dan pasca salin. (Mardliyanti, 2005). (1)
Anemia dalam kehamilan dapat berpengaruh buruk terutama saat kehamilan, persalinan dan nifas. Pengaruh anemia saat kehamilan dapat berupa abortus, persalinan kurang bulan, ketuban pecah dini (KPD). Pengaruh anemia saat persalinan dapat berupa partus lama, gangguan his dan kekuatan mengedan serta kala uri memanjang sehingga dapat terjadi retensio plasenta. Pengaruh anemia saat masa nifas salah salah satunya subinvolusi uteri, perdarahan post partum, infeksi nifas dan penyembuhan luka perineum lama.
Anemia yang paling sering dijumpai dalam kehamilan adalah anemia akibat kekurangan zat besi karena kurangnya asupan unsur besi dalam makanan. Gangguan penyerapan, peningkatan kebutuhan zat besi atau karena terlampau banyaknya zat besi yang keluar dari tubuh, misalnya pada perdarahan. Wanita hamil butuh zat besi sekitar 40 mg perhari atau 2 x lipat kebutuhan kondisi tidak hamil. Jarak kehamilan sangat berpengaruh terhadap kejadian anemia saat kehamilan. Kehamilan yang berulang dalam waktu singkat akan menguras cadangan zat besi ibu. Pengaturan jarak kehamilan yang baik minimal dua tahun menjadi penting untuk diperhatikan sehingga badan ibu siap untuk menerima janin kembali tanpa harus menghabiskan cadangan zat besinya.
Pendidikan yang dijalani seseorang memiliki pengaruh pada peningkatan kemampuan berfikir, dengan kata lain seseorang yang berpendidikan lebih tinggi akan dapat mengambil keputusan yang lebih rasional, umumnya terbuka untuk menerima perubahan atau hal baru dibandingkan dengan individu yang berpendidikan lebih rendah (Depkes RI, 2002). Umur ibu mempengaruhi bagaimana mengambil keputusan dalam pemeliharaan kesehatannya.
Status gizi ibu hamil akan sangat berperan dalam kehamilan baik terhadap ibu maupun janin, salah satu unsur gizi yang penting ketika hamil adalah zat besi. Kenaikan volume darah selama kehamilan akan meningkatkan kebutuhan Fe atau Zat Besi. Jumlah Fe pada bayi baru lahir kira-kira 300 mg dan jumlah yang diperlukan ibu untuk mencegah anemia akibat meningkatnya volume darah adalah 500 mg.

Rumah Sakit Umum Sultan Daeng Raja Kabupaten Bulukumba merupakan tempat yang salah satu fungsinya adalah memberikan pelayanan pemeriksaan kehamilan. Cakupan Tablet Tambah Darah (TTD) untuk ibu hamil di Rumah Sakit Umum Sultan Daeng Raja Kabupaten Bulukumba pada tahun 2008 sudah hampir memenuhi target yang diharapkan. Walaupun cakupan TTD sudah hampir merata tetapi kejadian anemia di Rumah Sakit Umum Sultan Daeng Raja Kabupaten Bulukumba masih tinggi dan mengalami peningkatan.
Berdasarkan uraian diatas peneliti sangat tertarik untuk melakukan penelitian tentang kejadian anemia pada ibu hamil yang dihubungkan dengan karakteristik ibu yang meliputi umur, pendidikan, paritas, jarak kehamilan dan asupan tablet tambah darah. Oleh karena itu peneliti memilih penelitian dengan judul ”Hubungan Karakteristik Ibu Hamil dengan Kejadian Anemia di Rumah Sakit Umum Sultan Daeng Raja Kabupaten Bulukumba periode Januari – Desember 2008.
1.2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut : ” Ada Hubungan Karakteristik Ibu hamil dengan Kejadian Anemia di Rumah Sakit Umum Sultan Daeng Raja Kabupaten Bulukumba periode Januari-Desember 2008.
1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui Hubungan Karakteristik Ibu Hamil dengan Kejadian Anemia di Rumah Sakit Umum Sultan Daeng Raja Kabupaten Bulukumba.
1.3.2. Tujuan Khusus
1. Mengetahui distribusi frekuensi umur ibu hamil, pendidikan, paritas, jarak kehamilan,dan asupan tablet tambah darah di Rumah Sakit Umum . . . .   .
 2. Mengetahui hubungan umur ibu dengan kejadian anemia ibu hamil di Rumah Sakit Umum Sultan Daeng Raja Kabupaten Bulukumba.
3. Mengetahui hubungan paritas ibu dengan kejadian anemia ibu hamil di Rumah Sakit Umum …..
4. Mengetahui hubungan jarak kehamilan ibu dengan kejadian anemia ibu hamil di Rumah Sakit Umum…..
5. Mengetahui hubungan pendidikan ibu dengan kejadian anemia ibu hamil di Rumah Sakit Umum …….
6. Mengetahui hubungan asupan Tablet Tambah Darah ( TTD ) dengan kejadian anemia ibu hamil di Rumah Sakit Umum…...
7. Mengetahui hubungan AntenataPl Care (ANC) dengan kejadian anemia ibu hamil di Rumah Sakit Umum…...
1. 4. Manfaat Penelitian
1.4.1. Manfaat teoritik
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan kesehatan masyarakat, terutama pentingnya pemeriksaan kehamilan untuk menghindari terjadinya anemia dalam kehamilan.
1.4.2. Manfaat Praktis Langsung
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai masukan dalam rangka meningkatkan upaya pencegahan anemia di Rumah Sakit Umum Sultan Daeng Raja Kabupaten Bulukumba.
1.4.3. Bagi Peneliti Sendiri
Merupakan pengalaman berharga dan wadah latihan untuk memperoleh wawasan dan pengetahuan dalam rangka penerapan ilmu pengetahuan yang telah diterima selama kuliah.
1.4.4. Bagi Rumah Sakit Umum ……
Sebagai bahan masukan dalam hal perencanaan dan penanggulangan faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian ibu hamil dan diharapkan para dokter dan bidan memantau ibu hamil dengan memeriksa kadar hemoglobin pada setiap wanita hamil.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pendahuluan
Sampai saat ini tingginya angka kematian ibu di Indonesia masih merupakan masalah yang menjadi prioritas di bidang kesehatan. Di samping menunjukkan derajat kesehatan masyarakat, juga dapat menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat dan kualitas pelayanan kesehatan. Penyebab langsung kematian ibu adalah trias perdarahan, infeksi, dan keracunan kehamilan. Penyebab kematian langsung tersebut tidak dapat sepenuhnya dimengerti tanpa memperhatikan latar belakang (underlying factor), yang mana bersifat medikmaupun non medik. Di antara faktor non medik dapat disebut keadaan kesejahteraan ekonomi keluarga, pendidikan ibu, lingkungan hidup, perilaku, dan lain-lain.
Status kesehatan ibu, menurut model Mc Carthy dan Maine merupakan faktor penting dalam terjadinya kematian ibu. Penyakit atau gizi yang buruk merupakan faktor yang dapat mempengaruhi status kesehatan ibu. Rao (1975) melaporkan bahwa salah satu sebab kematian obstetrik tidak langsung pada kasus kematian ibu adalah anemia. Anemia merupakan salah satu sebab kematian ibu, demikian juga WHO menyatakan bahwa anemia merupakan sebab penting dari kematian Anemia pada kehamilan juga berhubungan dengan meningkatnya kesakitan ibu.
Pada wanita hamil, anemia meningkatkan frekuensi komplikasi pada kehamilan dan persalinan. Risiko kematian maternal, angka prematuritas, berat badan bayi lahir rendah, dan angka kematian perinatal meningkat. Di samping itu, perdarahan antepartum dan postpartum lebih sering dijumpai pada wanita yang anemis dan lebih sering berakibat fatal, sebab wanita yang anemis tidak dapat mentolerir kehilangan darah. Dampak anemia pada kehamilan bervariasi dari keluhan yang sangat ringan hingga terjadinya gangguan kelangsungan kehamilan abortus, partus imatur/prematur), gangguan proses persalinan (inertia, atonia, partus lama, perdarahan atonis), gangguan pada masa nifas (subinvolusi rahim, daya tahan terhadap infeksi dan stres kurang, produksi ASI rendah), dan gangguan pada janin (abortus, dismaturitas, mikrosomi, BBLR, kematian perinatal, dan lain-lain).
Prevalensi anemia pada wanita hamil di Indonesia berkisar 20-80%, tetapi pada umumnya banyak penelitian yang menunjukkan prevalensi anemia pada wanita hamil yang lebih besar dari 50%. Juga banyak dilaporkan bahwa prevalensi anemia pada trimester III berkisar 50-79%. Affandi menyebutkan bahwa anemia kehamilan di Indonesia berdasarkan data Departemen Kesehatan tahun 1990 adalah 60%. Penelitian selama tahun 1978-1980 di 12 rumah sakit pendidikan/rujukan di Indonesia menunjukkan prevalensi wanita hamil dengan anemia yang melahirkan di RS pendidikan/rujukan adalah 30,86%. Prevalensi tersebut meningkat dengan bertambahnya paritas. Hal yang sama diperoleh dari hasil SKRT 1986 dimana prevalensi anemia ringan dan berat akan makin tinggi dengan bertambahnya paritas. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa prevalensi anemia pada kehamilan secara global 55% dimana secara bermakna tinggi pada trimester ketiga dibandingkan dengan trimester pertama dan kedua kehamilan.
Anemia karena defisiensi zat besi merupakan penyebab utama anemia pada ibu hamil dibandingkan dengan defisiensi zat gizi lain. Oleh karena itu anemia gizi pada masa kehamilan sering diidentikkan dengan anemia gizi besi Hal ini juga diungkapkan oleh Simanjuntak tahun 1992 bahwa sekitar 70 % ibu hamil di Indonesia menderita anemia gizi.
Indonesia, prevalensi anemia tahun l970–an adalah 46,5–70%. Pada SKRT tahun 1992 dengan angka anemia ibu hamil sebesar 63,5% sedangkan data SKRT tahun 1995 turun menjadi 50,9%. Pada tahun 1999 didapatkan anemia gizi pada ibu hamil sebesar 39,5%.
Propinsi Sulawesi Selatan berdasarkan SKRT pada tahun 1992 prevalensi anemia gizi khususnya pada ibu hamil berkisar 45,5 – 71,2% dan pada tahun 1994 meningkat menjadi 76,17% 14,3 % di Kabupaten Pinrang dan 28,7% di Kabupaten Soppeng dan tertinggi adalah di Kabupaten Bone 68,6% (1996) dan Kabupaten Bulukumba sebesar 67,3% (1997).
Sedangkan laporan data di Kabupaten Maros khususnya di Kecamatan Bantimurung anemia ibu hamil pada tahun 1999 sebesar 31,73%, pada tahun 2000 meningkat menjadi 76,74% dan pada tahun 2001 sebesar 68,65%.(2)
Prevalensi anemia yang tinggi dapat membawa akibat negatif berupa gangguan dan hambatan pada pertumbuhan, baik sel tubuh maupun sel otak dan kekurangan Hb dalam darah mengakibatkan kurangnya oksigen yang dibawa/ditransfer ke sel tubuh maupun ke otak. Pada
ibu hamil dapat mengakibatkan efek buruk pada ibu itu sendiri maupun pada bayi yang dilahirkan. Studi di Kualalumpur memperlihatkan terjadinya 20 % kelahiran prematur bagi ibu yang tingkat kadar hemoglobinnya di bawah 6,5gr/dl. Studi lain menunjukkan bahwa risiko kejadian BBLR, kelahiran prematur dan kematian perinatal meningkat pada wanita hamil dengan kadar hemoglobin kurang dari 10,4 gr/dl. Pada usia kehamilan sebelum 24 minggu dibandingkan kontrol mengemukakan bahwa anemia merupakan salah satu faktor kehamilan dengan risiko tinggi. (2)
2.2 Defenisi
Anemia pada wanita tidak hamil didefinisikan sebagai konsentrasi hemoglobin yang kurang dari 12 g/dl dan kurang dari 10 g/dl selama kehamilan atau masa nifas. Konsentrasi hemoglobin lebih rendah pada pertengahan kehamilan, pada awal kehamilan dan kembali menjelang aterm, kadar hemoglobin pada sebagian besar wanita sehat yang memiliki cadangan besi adalah 11g/dl atau lebih. Atas alasan tersebut, Centers for disease control (1990) mendefinisikan anemia pada kehamilan sebagai kadar hemoglobin kurang dari 11 g/dl pada trimester pertama dan ketiga, dan kurang dari 10,5 g/dl pada trimester kedua.
Penurunan sedang kadar hemoglobin yang dijumpai selama kehamilan pada wanita sehatyang tidak mengalami defisiensi besi atau folat disebabkan oleh penambah volume plasma yang relatif lebih besar daripada penambahan massa hemoglobin dan volume sel darah merah. Ketidakseimbangan antara kecepatan penambahan plasma dan penambahan eritrosit ke dalam sirkulasi ibu biasanya memuncak pada trimester kedua. Istilah anemia fisiologis yang telah lama digunakan untuk menerangkan proses ini kurang tepat dan seyogyanya ditinggalkan. Pada kehamilan tahap selanjutnya, ekspansi plasma pada dasarnya berhenti sementara massa hemoglobin terus meningkat.
Selama masa nifas, tanpa adanya kehilangan darah berlebihan, konsentrasi hemoglobin tidak banyak berbeda dibanding konsentrasi sebelum melahirkan. Setelah melahirkan, kadar hemoglobin biasanya berfluktuasi sedang disekitar kadar pra persalinan selama beberapa hari dan kemudian meningkat ke kadar yang lebih tinggi daripada kadar tidak hamil. Kecepatan dan besarnya peningkatan pada awal masa nifas ditentukan oleh jumlah hemoglobin yang bertambah selama kehamilan dan jumlah darah yang hilang saat pelahiran serta dimodifikasi oleh penurunan volume plasma selama masa nifas.
Walaupun sedikit lebih sering dijumpai pada wanita hamil dari kalangan kurang mampu, anemia tidak terbatas hanya pada mereka. Frekuensi anemia selama kehamilan sangat bervariasi, terutama bergantung pada apakah selama hamil wanita yang bersangkutan mendapat suplemen besi.
2.3 Pembagian Anemia
Anemia adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin (Hb) dalam darahnya kurang dari 12 gr% (Wiknjosastro, 2002). Sedangkan anemia dalam kehamilan adalah kondisi ibu dengan kadar haemoglobin dibawah 11 gr% pada trimester I dan III atau kadar <10,5 gr% pada trimester II (Saifuddin, 2002). Anemia dalam kehamilan yang disebabkan karena kekurangan zat besi, jenis pengobatannya relatif mudah. Darah akan bertambah banyak dalam kehamilan yang lazim disebut Hidremia atau Hipervolemia. Akan tetapi, bertambahnya sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya
plasma sehingga terjadi pengenceran darah. Perbandingan tersebut adalah sebagai berikut: plasma
30%, sel darah 18% dan haemoglobin 19%. Bertambahnya darah dalam kehamilan sudah dimulai
sejak kehamilan 10 minggu dan mencapai puncaknya dalam kehamilan antara 32 dan 36 minggu
(Wiknjosastro, 2002). Secara fisiologis, pengenceran darah ini untuk membantu meringankan kerja
jantung yang semakin berat dengan adanya kehamilan. (9,10,11)    
Pada kehamilan kebutuhan oksigen lebih tinggi sehingga memicu peningkatan produksi
eritropoietin. Akibatnya, volume plasma bertambah dan sel darah merah (eritrosit) meningkat.
Namun peningkatan volume plasma terjadi dalam proporsi yang lebih besar jika dibandingkan
dengan peningkatan eritrosit sehingga terjadi penurunan konsentrasi hemoglobin (Hb) akibat
hemodilusi. (11)
Anemia secara praktis didefenisikan sebagai kadar Ht, konsentrasi Hb atau hitung eritrosit
dibawah batas normal. Namun nilai normal yang akurat untuk ibu hamil sulit dipastikan karena
ketiga parameter laboratorium tersebut bervariasi selama periode kehamilan. Umumnya ibu hamil  dianggap anemik jika kadar hemoglobin di bawah 11 gr/dl atau hematokrit kurang dari 33%.
Namun, CDC membuat nilai batas khusus berdasarkan trimester kehamilan dan status merokok.
Dalam praktek rutin, konsentrasi Hb kurang dari 11 gr/dl pada akhir trimester pertama dan < 10
gr/dl pada akhir trimester kedua dan ketiga ketiga diusulkan menjadi batas bawah untuk mencari
penyebab anemia dalam kehamilan. Nilai-nilai ini kurang lebih sama nilai Hb terendah pada ibuibu
hamil yang mendapat suplementasi besi, yaitu 11,0 gr/dl pada trimester pertama dan 10,5 gr/dl
pada trimester kedua dan ketiga. (11)

Anemia terjadi saat:

1.
Tubuh kehilangan banyak darah (siklus haid yang banyak, penyakit tertentu, trauma/luka
dengan perdarahan) atau
2.
Tubuh memiliki masalah dalam pembentukan sel darah merah
3.
Sel darah merah rusak atau mati lebih cepat dari kemampuan tubuh memproduksi sel darah
merah yang baru
4.
Lebih dari satu keadaan di atas terjadi bersamaan(9,10,11)
2.4. Klasifikasi Anemia dalam Kehamilan
Terdapat banyak jenis anemia dengan penyebab yang berbeda:

1.
Anemia defisiensi besi
Anemia defisiensi besi merupakan jenis anemia yang sering terjadi bila tubuh
kekurangan zat besi. Tubuh kita memerlukan zat besi untuk membentuk hemoglobin.
Seseorang dapat kekurangan zat besi karena kehilangan darah. Pada perempuan,
kehilangan zat besi dan sel darah merah saat perdarahan yang banyak dan cukup lama
misalnya pada persalinan. Perempuan juga dapat mengalami kekurangan besi dan sel
darah merah pada keadaan tumor rahim (uterine fibroid) yang dapat berdarah perlahanlahan.
Keadaan lain yang dapat menyebabkan kehilangan zat besi dan sel darah merah
adalah ulkus, polip pada usus besar, atau kanker kolon (usus besar), pemakaian aspirin
atau obat penghilang nyeri lainnya, infeksi, luka yang berat, pembedahan.
Makan makanan yang rendah zat besi juga bisa mengakibatkan anemia defisiensi
besi. Sumber makanan yang mengandung banyak zat besi adalah daging, ikan, ternak,
telur, produk susu atau makanan yang diperkaya zat besi. (9,10,11)

2. Anemia defisiensi vitamin (anemia megaloblastik)
Kekurangan vitamin B12 atau folat adalah penyebab anemia jenis ini. Anemia
defisiensi B12 (anemia pernisiosa) adalah anemia yang terjadi karena tubuh kekurangan
vitamin B12, sedangkan tubuh memerlukannya untuk membuat sel darah merah dan
menjaga sistem saraf bekerja normal. Hal ini biasa didapatkan pada orang yang tubuhnya
tidak dapat menyerap vitamin B12 karena gangguan usus atau sistem kekebalan tubuh atau makan makanan yang kurang B12.Vitamin B12 terdapat pada makanan yang berasal dari binatang.Kekurangan vitamin B12 dapat menyebabkan rasa kebas di tungkai dan kaki, gangguan berjalan, mudah lupa dan gangguan penglihatan. Terapi sesuai penyebabnya. Folat atau asam folat juga diperlukan dalam pembentukan sel darah merah, jika terjadi anemia jenis ini timbul saat kita tidak mengkonsumsi folat dalam jumlah cukup atau ada gangguan penyerapan folat dalam usus. Anemia ini juga dapat terjadi pada kehamilan trimester ketiga disaat tubuh ibu memerlukan banyak folat. Folat ditemukan pada makanan seperti sayuran berdaun hijau, buah-buahan, kacang-kacangan dan biji-bijian. Folat juga terdapat pada roti, pasta dan sereal yang difortifikasi. (9,10,11)
3. Anemia karena penyakit lain
Hal ini disebabkan oleh beberapa penyakit yang menyebabkan kemampuan tubuh
untuk menghasilkan sel darah merah berkurang. Pada orang dengan penyakit ginjal,
ginjalnya tidak dapat menghasilkan hormon dalam jumlah cukup untuk memerintahkan
tubuh membuat sel darah merah. Zat besi juga hilang saat orang dengan sakit ginjal

mengalami cuci darah (dialisis). (9,10,11)

4. Anemia karena penyakit darah yang diturunkan
Anemia sel sabit (sickle cell anemia) dimana sel darah merah orang dengan
penyakit ini berbentuk lengkung/sabit dan keras. Sehingga dapat tersangkut pada pembuluh
darah kecil dan menutup aliran darah ke organ atau tungkai. Tubuh cepat menghancurkan
sel darah merah sabit ini tetapi tidak menghasilkan yang baru lebih cepat sehingga
menyebabkan anemia. Orang dengan talasemia membuat hemoglobin dan sel darah merah

yang lebih sedikit dari normal. Keadaan ini membuat anemia ringan sampai berat. (9,10,11)

5. Anemia aplastik
Merupakan suatu kelainan darah yang jarang, tubuh berhenti membuat sel darah
yang baru. Semua sel darah terganggu semua sel darah merah, sel darah putih dan keping
darah/trombosit. Kekurangan sel darah merah berakibat anemia, kekurangan sel darah putih

meyebabkan rentan terkena infeksi, kekurangan keping darah menyebabkan darah tidak
dapat membeku dengan normal. Hal ini dapat disebabkan oleh:

1. Pengobatan kanker (radiasi atau kemoterapi)
2. Paparan terhadap zat kimia beracun (insektisida, cat)
3. Obat-obatan tertentu (obat untuk pengobatan arthritis rematoid)
4. Penyakit autoimun (seperti lupus) (9,10,11)
2.5. Gejala Klinis
Anemia timbul perlahan-lahan. Pada awalnya gejala yang ada mungkin ringan atau tidak
ada sama sekali. Saat gejala bertambah berat dapat timbul gejala seperti :

1. Rasa lelah (sering sekali)
2. Lemas (sering sekali)
3. Pusing
4. Sakit kepala
5. Kebas atau dingin pada telapak tangan atau kaki
6. Kulit pucat
7. Denyut jantung yang cepat atau tidak teratur
8. Napas pendek
9. Nyeri dada
10. Tidak optimal saat bekerja atau di sekolah
11. Rewel
Gejala-gejala ini dapat muncul karena jantung bekerja lebih keras untuk memompa darah
yang berisi oksigen ke seluruh tubuh. (9,10,11)

2.5 Diagnosis
Diagnosis anemia dalam kehamilan untuk menegakkan diagnosis anemia dalam kehamilan
dapat dilakukan dengan:

1. Anamnesis
Pada anamnesis ditanya mengenai riwayat penyakit sekarang dan riwayat penyakit dahulu,
riwayat gizi, anamnesis mengenai lingkungan fisik sekitar, apakah ada paparan terhadap
bahan kilia atau fisik serta riwayat pemakaian obat. Riwayat penyakit keluarga juaga
ditanya untuk mengetahui apakah ada faktor keturunan. (9,10,11)

2. Pemeriksaan fisik(9,10,11)
Pemeriksaan dilakukan secara sistematik dan menyeluruh, antara lain:
a. Warna kulit : pucat, sianosis, ikterus, kulit telapak tangan kuning seperti jerami
b. Kuku : koilonychias (kuku sendok)
c. Mata : ikterus, konjugtiva pucat, perubahan pada fundus
d. Mulut : ulserasi, hipertrofi gusi, atrofi papil lidah
e. Limfadenopati, hepatomegali, splenomegali
3. Pemeriksaan laboratorium hematologi(9,10,11)
a. Tes penyaring
1. Kadar hemoglobin
2. Indeks eritrosit (MCV,MCH, dan MCHC)
3. Hapusan darah tepi
b. Pemeriksaan rutin
1. Laju endap darah
2. Hitung deferensial
3. Hitung retikulosit
c. Pemeriksaan sumsum tulang
d. Pemeriksaan atas indikasi khusus
1. Anemia defesiensi besi : serum iron, TIBC, saturasi transferin
2. Anemia megaloblastik : asam folat darah/eritrosit, vitamin B12
3. Anemia hemolitik : tes Coomb, elektroforesis Hb
4. Leukemia akut : pemeriksaan sitokimia
5. Diatesa hemoragik : tes faal hemostasis
4. Pemeriksaan laboratorium non hematologi(10)
Pemeriksaan faal ginjal, hati, endokrin, asam urat, kultur bakteri
5. Pemeriksaan penunjang lainnya
a. Biopsy kelenjar dan PA
b. Radiologi : Foto Thoraks, bone survey, USG, CT-Scan (10)
2.5 Penatalaksanaan
2.5.1. Anemia Defisiensi Besi
Penyebab tersering anemia selama kehamilan dan masa nifas adalah defisiensi besi
dan kehilangan darah akut. Tidak jarang keduanya saling berkaitan erat, karena
pengeluaran darah yang berlebihan disertai hilangnya besi hemoglobin dan terkurasnya
simpanan besi pada suatu kehamilan dapat menjadi penyebab penting anemia defisiensi

besi pada kehamilan berikutnya. (7,9,10,11)

Defisiesnsi besi sering terjadi pada wanita dan Centers For Disease Control and
Prevention (1989) memperkirakan bahwa sekitar 8 juta wanita Amerika usia subur
mengalami defisiensi besi. Status gizi yang kurang sering berkaitan dengan anemia
defisiensi besi (scholl, 1998). Pada gestasi biasa dengan satu janin, kebutuhan ibu akan besi
yang dipicu oleh kehamilannya rata-rata mendekati 800 mg; sekitar 500 mg, bila tersedia,
untuk ekspansi massa hemoglobin ibu sekitar 200 mg atau lebih keluar melalui usus, urin

dan kulit. Jumlah total ini 1000 mg jelas melebihi cadangan besi pada sebagian besar
wanita. Kecuali apabila perbedaan antara jumlah cadangan besi ibu dan kebutuhan besi
selama kehamilan normal yang disebutkan diatas dikompensasi oleh penyerapan besi dari

saluran cerna, akan terjadi anemia defisiensi besi. (7,9,10,11)

Dengan meningkatnya volume darah yang relatif pesat selama trimester kedua,
maka kekurangan besi sering bermanifestasi sebagai penurunan tajam konsentrasi
hemoglobin. Walaupun pada trimester ketiga laju peningkatan volume darah tidak terlalu
besar, kebutuhan akan besi tetap meningkat karena peningkatan massa hemoglobin ibu
berlanjut dan banyak besi yang sekarang disalurkan kepada janin. Karena jumlah besi tidak
jauh berbeda dari jumlah yang secara normal dialihkan, neonatus dari ibu dengan anemia

berat tidak menderita anemia defisiensi besi. (7,9,10,11)

Penegakan diagnosis

Evaluasi awal pada wanita hamil dengan anemia sedang adalah pengukuran
hemoglobin, hemaokrit, dan indeks-indeks sel darah merah, pemeriksaan cermat terhadap
sedian apus darah tepi; preparat sel sabit apabila wanita yang bersangkutan keturunan
Afrika; dan pengukuran konsentrasi besi atau ferritin serum, atau keduanya. Gambaran
morfologis klasik anemia defisiensi besi-hipokromia dan mikrositosis dan mikrositosis
eritrosit tidak begitu menonjol pada wanita hamil dibandingkan pada wanita tidak hamil
dengan kosentrasi hemogolobin yang sama. Anemia difesiensi besi tingkat sedang selama
kehamilan contohnya, konsentrasi hemoglobin 9g/dl,biasanya tidak disertai perubahan
morfologis eritrosit yang nyata. Namun, dengan derajat anemia defisiensi besi sebesar ini,
kadar feritin serum lebih rendah daripada normal, dan pewarna besi pada sumsum tulang
memberi hasil negatif. Kapasitas serum untuk mengikat besi (serum iron-binding capacity)

meningkat, tetapi kapasitas ini saja tidak banyak bernilai diagnostic karena kapasitas ini
juga meningkat pada kehamilan normal tanpa defisiensi besi. Hyperplasia normoblastik
sedang pada sumsum tulang juga sama dengan yang terjadi pada kehamilan normal. Karena
itu, anemia defisiensi besi pada kehamilan terutama merupakan konsekuensi dari ekspansi
volume darah tanpa ekspansi normal massa hemogolobin ibu. (7,9,10,11)

Kadar ferritin serum normalnya menurun selama kehamilan (Godenberg dkk,
1996). Kadar yang kurang dari 15 mg/l memastikan anemia difisiensi besi (centers for
disease control and prevention, 1989). Namun, Van Den Broek dkk (1998) menyajikan
bukti bahwa titik patokan (cutoff point) 30 mg/l memiliki nilai prediksi positif 85 persen
dan nilai prediksi negatif 90%. Secara pragmatis, diagnosis defisiensi besi pada wanita
hamil dengan anemia sedang biasanya bersifat presumtif dan terutama didasarkan pada
ekslusi kausa anemia yang lain. (7,9,10,11)

Apabila wanita hamil dengan anemia defisiensi besi tingkat sedang diberi terapi
besi yang memadai, akan terdeteksi respons hematologist berupa peningkatan hitung
retikulosit. Laju peningkatan konsentrasi hemgolobin atau hematokrit cukup bervariasi,
tetapi biasanya lebih lambat dibanding pada wanita tidak hamil. Penyebabnya terutama
berkaitan dengan perbedaan volume darah, dan pada separuh terakhir kehamilan, terjadi
penambahan hemoglobin baru kedalam volume sirkulasi yang lebih besar. (7,9,10,11)

Terapi

Tujuan terapi adalah koreksi defisit massa hemoglobin dan akhirnya pemulihan
cadangan besi. Kedua tujuan ini dapat dicapai dengan senyawa besi sederhana ferro sulfat,
fumarat, atau glukonat per oral yang mengandung dosis harian sekitar 200 mg besi

elemental. Apabila wanita yang bersangkutan tidak dapat atau tidak mau mengkonsumsi
preparat besi oral, ia diberi terapi parental (Andrews, 1999; Hallak dkk., 1997). Untuk
mengganti simpanan besi, terapi oral harus dilanjutkan selama 3 bulan atau lebih setelah
anemia teratasi. Transfuse sel darah merah atau darah lengkap jarang diindikasi untuk
mengobati anemia defisiensi besi kecuali apabila juga terdapat hepovolemia akibat
perdarahan atau harus dilakukan suatu tindakan bedah darurat pada wanita dengan anemia
berat. (7)

2.5.2. Anemia akibat perdarahan akut
Sering terjadi pada masa nifas. Solusio plasenta dan plasenta previa dapat menjadi
sumber perdarahan serius dan anemia sebelum atau setelah pelahiran. Pada awal
kehamilan, anemia akibat perdarahan sering terjadi pada kasus-kasus abortus, kehamilan
ektopik, dan mola hidatidosa. Perdarahan masih membutuhkan terapi segera untuk
memulihkan dan mempertahankan perfusi di organ-organ vital walaupun jumlah darah
yang diganti umumnya tidak mengatasi difisit hemoglobin akibat perdarahan secara tuntas,
secara umum apabila hipovolemia yang berbahaya telah teratasi dan hemostasis tercapai,
anemia yang tersisa seyogyanya diterapi dengan besi. Untuk wanita dengan anemia sedang
yang hemoglobinnya lebih dari 7 g/dl, kondisinya stabil, tidak lagi menghadapi
kemungkinan perdarahan serius, dapat berobat jalan tanpa memperlihatkan keluhan, dan
tidak demam, terapi besi selama setidaknya 3 bulan merupakan terapi terbaik dibandingkan
dengan transfusi darah. (7)

2.5.3. Anemia pada penyakit kronik
Gejala-gejala tubuh lemah, penurunan berat badan, dan pucat sudah sejak jaman
dulu dikenal sebagai cirri penyakit kronik. Berbagai penyakit terutama infeksi kronik dan
neoplasma menyebabkan anemia derajat sedang dan kadang-kadang berat, biasanya
dengan eritrosit yan sedikit hipokromik dan mikrositik. Dahulu, infeksi khususnya
tuberculosis, endokarditis, atau esteomielitis sering menjadi penyebab, tetapi terapi
antimikroba telah secara bermakna menurunkan insiden penyakit-penyakit tersebut. Saat
ini, gagal ginjal kronik, kanker dan kemoterapi, infeksi virus imunodefisiensi manusia
(HIV), dan peradangan kronik merupakan penyebab tersering anemia bentuk ini.
Denominator bersama adalah meningkatkan produksi sitokin yang memperantarai respons
imun atau peradangan. (7)

Pada pasien tidak hamil dengan penyakit peradangan kronik, konsentrasi
hemoglobin jarang kurang dari 7 g/dl. Biasanya morfologi sel sumsum tulang tidak terlalu
berubah. Konsentrasi besi serum menurun, dan kapasitas serum mengikat besi , walaupun
lebih rendah daripada kehamilan normal , tidak jauh dibawah rentang normal tidak hamil.
Kadar ferittin serum biasanya meningkat. Karena itu, walaupun mekanisnmenya sedikit
berbeda satu sama lain, anemia-anemia ini sama-sama memperlihatkan perubahan fungsi
retikuleondotelial, metabolisme besi, dan penurunan eritropoiesis dengan derajat dan
kombinasi yang berbeda-beda. (7)

Selama kehamilan, sejumlah penyakit kronik dapat menyebabkan anemia.
Beberapa diantaranya adalah penyakit ginjal kronik, supurasi, penyakit peradangan usus
(inflammatory bowel disease), lupus eritematosus sistemetik, infeksi granulomatosa,
keganasan, dan arthritis remotoid. Anemia biasanya semakin berat seiring dengan
meningkatnya volume plasma melebihi ekspansi massa sel darah merah. Wanita dengan

pielonfritis akut berat sering mengalami anemia nyata. Hal ini tampaknya terjadi akibat
meningkatnya destruksi eritosit dengan produksi eritropoietin normal. (7)

Anemia pada penyakit kronik berespons terhadap pemberian eritropoietin
rekombinan. Obat ini sudah berhasil digunakan untuk mengobati anemia pada insufisiensi
ginjal kronik, peradangan kronik, dan keganasan (Goodnough dkk, 1997). Dari kajian
mereka, Vora dan Gruslin (1998) hanya mendapatkan beberapa laporan tentang
penggunaan eritropoietin ini pada kehamilan. Braga dkk. (1996) mengobati lima wanita
dengan anemia berat akibat insufisiensi ginjal kronik. Walaupun massa sel darah merah
biasanya meningkat dalam beberapa minggu, dapat timbul efek samping yang
mengkhawatirkan yaitu hipertensi, yang biasanya sudah ada pada para wanita ini.Dalam
studi oleh Braga dkk. (1996) yang disebutkan diatas, satu dari lima wanita yang diterai
mengalami solusio plasenta. (7)

2.5.4. Anemia Megaloblastik
Anemia megaloblastik adalah kelompok penyakit darah yang ditandai oleh
kelainan darah dan sumsum tulang akibat gangguan sintesis DNA. (7)

2.5.4.1. Defisiensi Asam Folat.
Anemia megaloblastik yang dimulai selama kehamilan hampir selalu disebabkan
oleh difisiensi asam folat, dan dahulu disebut sebagai anemia pernisiosa gravidarum.
Anemia ini biasanya dijumpai pada wanita yang tidak mengokonsumsi sayuran berdaun
hijau, polong-polongan, dan protein hewani. Wanita dengan anemia megaloblastik mungkin
mengalami mual, muntah dan anoreksia selama kehamilan. Seiring dengan memburuknya

difisiensi folat dan anemia, anoreksa semakin parah sehinggga difisiensi gizi juga semaki
parah. Pada sebagian kasus, konsumsi etanol yang berlebihan menjadi penyebab atau ikut
berperan dalam timbulnya anemia ini. (7)

Pada wanita normal tidak hamil, kebutuhan asam folat harian adalah 50 sampai
100 mg/hari. Selama kehamilan, kebutuhan akan asam folat meningkat, asupan dianjurkan
400 mg/hari. Bukti biokimiawi yang paling awal ditemui adalah rendahnya aktivitas asam
folat di dalam plasma. Tanda morfologis paling dini biasanya adalah hipersegmentasi
neufrofil. Seiring dengan timbulnya anemia, eritosit yang baru terbentuk akan menjadi
makrositik. Apabila sudah terdapat difisiensi besi, eritrosit makrositik tidak dapat
terdeteksi dari pengukuran volume rata-rata sel darah merah (mean corpuscular volume).
Namun, pada pemeriksaan yang teliti terhadap sediaan apus darah tapi biasanya ditemukan
makrosit. Seiring dengan bertambah parahnya anemia, kadang-kadang muncul eritrosit
berinti didarah tepi. Pada saat yang sama, pemeriksaan sumsum tulang akan
mengungkapkan adanya eritorpoiesis megaloblastik. Anemia kemudian dapat bertambah
parah, dan dapat juga terjadi trombositopenia, laukopenia atau keduanya.

Janin dan plasenta mengekstraksi folat dari sirkulasi ibu sedemikian efektifnya
sehingga janin tidak mengalami anemia walaupun ibunya mengerita anemia berat akibat
difisiensi folat. Pernah dilaporkan kasus-kasus dengan kadar hemoglobin neonatus
mencapai 18 g/dl atau lebih, sedangkan kadar pada ibu serendah 3,6 g/dl (Pritchard dan
Scott,1970). (7)

Terapi

Asam folat, makanan bergizi, dan zat besi. Bahkan hanya 1 mg asam folat yang
diberikan per oral setiap hari sudah dapat menimbulkan respons hematologis yang nyata.

Dalam 4 sampai 7 hari setelah awal pengobatan, hitung retikulosit akan meningkat secara
bermakna, sedangkan leucopenia dan trombositopenia akan segera terkoreksi. Kadangkadang
laju peningkatan konsentrasi hemoglobin atau hematokrit tidak terlalu besar,
terutama apabila dibandingkan dengan retikulositosis yang biasanya mencolok segera
setelah terapi dimulai. (7)

Pencegahan

Makanan yang cukup mengandung asam folat mencegah anemia megaloblastik.
Telah banyak perhatian dipusatkan pada peran defisiensi folat pada pembentukan defek
tabung saraf (neural – tube defect) Temuan-temuan ini mendorong Centers for Disease
control (1992) dan American college of obstetricians and Gymecologists (1996)
mengeluarkan anjuran bahwa semua wanita usia subur mengkonsumsi paling sedikit 0,4
mg asam folat setiap hari. Tambahan asam folat diberikan pada keadaan-keadaan
kebutuhan folat sangat meningkat, misalnya pada kehamilan multijanin atau anemia
hemolitik, misalnya penyakit sel sabit. Indikasi lain adalah penyakit peradangan kulit.
Terdapat bukti bahwa wanita yang pernah melahirkan janin dengan defek tabung saraf
mengalami penurunan angka kekambuhan apabila mereka mendapat asam folat 4 mg
perhari sebelum dan selama awal kehamilan. (7)

2.5.4.2. Defisiensi Vitamin B12
Anemia megaloblastik yang disebabkan oleh kekurangan vitamin B12 selama
kehamilan sangat jarang terjadi, ditandai oleh kegagalan tubuh menyerap vitamin B12
karena tidak adanya faktor intrinsik. Ini adalah suatu penyakit autoimun yang sangat jarang
pada wanita dengan kelainan ini. Defisiensi vitamin B12 pada wanita hamil lebih mungkin

dijumapai pada mereka yang menjalani reseksi lambung parsial atau total. Kausa lain
adalah penyakit Crohn, reseksi ileum, dan pertumbuhan bakteri berlebihan di usus halus. (7)

Kadar vitamin B12 serum diukur dengan radio immunoassay. Selama kehamilan,
kadar nonhamil karena berkurangnya konsentrasi protein pengangkut B12 transkobalamin
(zamorano dkk, 1985). Wanita yang telah menjalani gastrektomi total harus diberi 1000 mg
sianokobalamin (vitamin B12) intramuscular setiap bulan. Mereka yang menjalani
gastrektomi parsial biasanya tidak memerlukan terapi ini, tetapi selama kehamilan kadar
vitamin B12 perlu dipantau. Tidak ada alasan untuk menunda pemberian asam folat selama
kehamilan hanya karena kekhawatiran bahwa akan terjadi gangguan integritas saraf pada
wanita yang mungkin hamil dan secara bersamaan mengidap anemia pernisiosa Addisonian
yang tidak terdeteksi (sehingga tidak diobati). (7)

2.5.5.Anemia hemolitik didapat

2.5.5.1. Anemia Hemolitik Autoimun
Adalah penyakit yang jarang dan penyebab penyimpangan pembentukan antibodi
tidak diketahui. Anemia yang disebabkan oleh faktor-faktor ini mungkin disebabkan oleh
autoantibody aktif-hangat (80 sampai 90%), antibodi aktif – dingin, atau kombinasinya.
Sindrom-sindrom ini juga dapat diklasifikasikan sebagai primer atau idiopatik, dan
separuhnya adalah sekunder akibat suatu penyakit atau faktor lain. Contoh dari keadaan
yang terakhir adalah limfoma dan leukemia, penyakit jaringan ikat, bebarapa infeksi,

penyakit peradangan kronik atau akibat obat (provan dan Watherall, 2000). Pada sebagian
kasus yang diklasifikasikan sebagai idiopatik, tindak lanjut yang cermat mungkin dapat
mengungkapkan adanya suatu penyakit yang mendasari. (7)

Pada anemia hemolitik autoimun, uji antiglobulin (Coombs) langsung dan tidak
langsung biasanya positif. Hemolisis dan uji antiglobulin yang positif mungkin merupakan
konsekuensi dari adanya antibodi lgM atau lgG antieriritrosit. Sferositosis dan
retikulositosis merupakan gambaran khas pada sediaan apus darah tepi. Penyakit agglutinin
dingin (cold agglutinin disease) dapat dipicu oleh Mycoplasma pneumoniae atau
mononucleosis infeksiosa. (7)

Wanita dengan anemia hemolitik autoimun kadang-kadang memperlihatkan
percepatan hemolisis yang mencolok selama hamil. Glukokortikoid biasanya efektif seperti
pada pasien tidak hamil, dan terapinya adalah dengan prednisone 1 mg/kg perhari atau
ekivalennya. Terapi ini juga biasanya memperbaiki trombositopenia yang secara kebetulan
terjadi bersamaan. (7)

Antibodi lgM tidak melewati plasenta sehingga sel darah merah janin tidak
terpengaruh; namun, antibodi lgG, khususnya subkelas lgG1 dan lgG3 menembus plasenta.
Contoh paling umum efek samping pada janin akibat antibodi lgG yang dibentuk oleh ibu
adalah isoimunisasi D maternal disertai penyakit hemolitik pada janin dan neonatus (bab
39, hal 1182). Transfuse sel darah merah untuk ibu hamil dengan penyakit hemolitik
autiomun yang parah dipersulit oleh adanya antibodi antieritrosit yang beredar dalam
darah. Penghangatan sel-sel donor hingga mencapai suhu tubuh akan mengurangi
kerusakan sel-sel donor oleh agglutinin dingin. (7)

2.5.5.2.Anemia Hemolitik Akibat Obat

Hemolisis akibat obat yang dijumpai selama kehamilan harus dibedakan dari
bentuk-bentuk lain anemia hemolitik autoimun. Hemolosis yang terjadi biasanya ringan,
mereda setelah obat dihentikan, dan dapat dicegah dengan menghindari obat tersebut.
mekanisme kerjanya berbeda-beda, tetapi umumnya terjadi karena cedera imunologis sel
darah merah yang perantarai oleh obat. Obat yang bekerja sebagai hapten beratinitas tinggi
dengan suatu protein sel darah merah. Tempat melekatnya antibodi antiobat ini, contohnya
antibodi lgM antipenisilin. Obat dapat bekerja sebagai hapten berafinitas rendah dan
melekat keprotein membran sel. (7)

Gejala yang timbul tergantung pada derajat hemolisis. Biasanya terjadi hemolisis
kronik ringan sampai sedang, tetapi beberapa obat yang bekerja sebagai hapten berafinitas
rendah dapat memicu hemolisis akut yang parah. Garratty dkk(1999) baru-baru ini
melaporkan tujuh kasus anemia hemolitik berat akibat sofetetan profilaksis untuk tindakan
obstetric. Uji antiglobulin langsung positif; dijumpai sfrositosis dan retikulositosis; dan
mungkin terjadi trombotitopenia dan leucopenia. Pada sebagian besar kasus, penghentian
obat penyebab mengakibatkan gejala-gejala lenyap. Efektivitas kortikosteriod masih
dipertanyakan, dan transfusi diberikan hanya apabila anemianya parah. Hemolisis akibat
obat terutama pada wanita Amerika – Afrika, jauh lebih sering berkaitan dengan defek
enzim eritrosit congenital, misalnya defisiensi glukosa 6 fosfat dehidrogenenese (G6PD)
yang parah. (7)

2.5.5.3.Anemia hemolitik akibat kehamilan

Anemia hemolitik yang tidak jelas sebabnya pada kehamilan, jarang dijumpai
tetapi mungkin merupakan entitas tersendiri dan pada kelainan ini terjadi hemolisis berat
yang dimulai pada awal kehamilan dan reda dalam beberapa bulan setelah melahirkan.

Penyakit ini ditandai oleh tidak adanya bukti mekanisme imunologik atau defek intra atau
ekstraeritrosit (Starksen dkk 1983). Karena janin bayi juga mungkin memperlihatkan
hemolisis transient, diduga terdapat suatu kausa imunologis. Terapi kortiko steroid terhadap
ibu biasanya efektif. (7)

2.5.5.4.Hemoglobinuria Noktural Paroksismal

Walaupun sering dianggap sebagai suatu anemia hemolitik, ini adalah suatu
gangguan sel induk hemopoetik yang ditandai oleh terbentuknya trobosit, granulosit, dan
eritrosit yang cacat. Hemoglobinuria nocturnal paroksismal merupakan penyakit didapat
dan timbul dari satu klon sel yang abnormal, kurang lebih seperti neoplasma (Packham,
1998). Salah satu gen terkait – x yang mengalami mutasi dan berperan dalam penyakit ini
disebut PIG – A (fofatidilinositol glikan protein A). Protein-pretoin utama abnormal yang
terbentuk di membrane ertrosiit dan granulosit menyebabkan sel-sel tersebut sangat rentan
mengalami lisis oleh kemplemen. (7)

Gambaran klinisnya sama seperti Anemia hemolitik di dapat dengan awitan
perlahan dan perjalan penyakit yang kronik. Hemoglobinuria terjadi dalam interval yang
tidak teratur dan tidak selalu malam hari. Hemolisis dapat dipicu oleh transfusi, infeksi,
atau pembedahan. Keparahan penyakit berkisar dari ringan sampai mematikan. Penyulit
mencakup penyulit yang terjadi pada enemia kronik, dan diperparah oleh difisiensi besi
akibat pengeluaran besi melalalui urin. Hampir 40 % pasien menderita trombosis vena, dan
pernah dilaporkan sindrom Budd – Chiari yang disebabkan oleh trombosis vena hepatica.
Kelainan ginjal dan hipertensi juga sering terjadi. Media angka harapan hidup setelah
diagnosis adalah 10 tahun tetapi 15 persen pasien mengalami remisi jangka panjang secara

spontan (Hillmen dkk, 1995). Belum ada terapi yang definitive, kecuali mungkin
tranplantasi sumsum tulang. (7)

Efek Pada Kehamilan yaitu dapat membahayakan kehamilan.. Greene dkk (1983)
mengkaji 31 kasus pada kehamillan dan mendapatkan bahwa penyulit timbul pada lebih
dari tiga perempat kasus. Angka kematian ibu adalah 10 persen dan hampir separoh wanita
mengalami trombosis vena pascapartum, termasuk sindrom Budd – Chiari atau trombosis
vena serebri. Solal – Celigny dkk (1987) melaporkan penyulit pada dua pertiga dari 38
kehamilan. Walaupun mereka tidak menjumpai kematian ibu, sering terjadi penyulit yang
mengancam nyawa, terutama akibat hemolisis dan perdarahan. (7)

2.5.5.5. Anemia didapat lainnya.
Seperti diuraikan oleh Pritchard dkk (1976), walaupun jarang, hemolisis fragmentasi
(mikroangiopatik) yang nyata disertai hemoglinemia kadang-kadang menjadi penyulit
preeklamsia-eklamsia. Hal ini sering disebut sabagai sindrom HELP (Hemolysis, Elevated
Liver Ensym an Low Platelest) .Anemia hemolitik didapat yang paling fuminan pada
kehamilan adalah yang disebabkan oleh eksotoksin clostridium perferingens atau
streptokokus b -hemolitikus grup A. Akhirnya, endotoksin bakteri gram-negatif, atau
lipopolisakarida – terutama pada pielonefritis akut berat – mungkin disertai oleh tandatanda
hemolisis dan anemia ringan sampai sedang. (7)

2.5.6. Anemia hemolitik akibat defek eritrosit herediter
Gambaran eritrosit normal berbentuk seperti cakram bikonkaf, dan dibandignkan dengan
volumenya, luas permukaan membrane lebih besar. Hal ini memungkinkan terjadinya berbagai
deformasi siklik reversible sewaktu eritrosit menghadapi gaya regangan yang tercipta di arteri dan
berjalan melalui celah-celah lien yang lebih kesil daripada diameter melintangnya. Sejumlah
defisiensi enzim atau kelainan herediter membran sel darah merah menyebabkan destabilisasi
lapis-ganda. Lemak berkurangnya luas permukaan, dan sel yang kurang lentur sehingga
mengalami hemolisis menyebabkan anemia dengan derajat bervariansi. Beberapa diantara kelaian
herediter membran yang mempercepatkan destruksi ini adalah srositosis. Heraditer,
piropoikilositesis dan ovalositosis. (7)

2.5.6.1.Sferositosis Herediter

Walaupun sebagian besar disebabkan oleh defisiensi spektrin dominant autosom
dengan penetrasi bervariasi, kelainan dapat juga bersifat resesif autosom dan mungkin
disebabkan oleh defisiensi ankirin atau protein atau kombinasinya (Rosse dan Burn, 1994).
Penyakit-penyakit ini secara klinis ditandai oleh anemia dan ikterus dengan derajat
bervariasi akibat hemolisis sel darah merah mikrosferositik. Pemastian diagnosis adalah
dengan membuktikan adanya sferosit pada apus darah tepi, retikulositosis, dan peningkatan
fragilitas osmotik. (7)

Hemolisis dan anemia yang menyertainya bergantung pada keutuhan limpa, yang
biasanya membesar. Splenektomi, walaupun tidak memperbaiki detak membrane,
sferositosis, atau peningkatan fragilitas osmotik, dapat sangat mengurangi hemolosis,
anemia berat akibat percepatan destruksi sel darah merah terjadi pada wanita yang limpanya
masih berfungsi. Infeksi harus dideteksi dan diterapi dengan Negara. (7)

Wanita dengan sferositosis herediter dapat menjalani kehamilan dengan baik.
Dianjurkan pemberia suplemen asam folat. Maberry dkk, (1992) melaporkan di Parkland
Hospital pada 50 kehamilan dari 23 wanita dengan sferositosis. Pada kehamilan tahap
lanjut, hematoksit bervarisi dari 23 sampai 41 dan dihitung retikulosit berkisar dari 1
sampai 23 persen. Morbiditas ibu minimal. Terjadi delapan abortus, dan empat dari 42 bayi
lahir preterm, tetapi tidak ada yang mengalami hambatan pertumbuhan. Infeksi pada empat

wanita memperparah hemolisis dan tiga orang memerlukan transfuse. Hasil-hasil serupa
dilaporkan oleh Pajor dkk (1993) pada 19 kehamilan dari delapan wanita Hongaria. (7)

2.5.6.2.Defisiensi Enzim Sel Darah Merah

Eritrosit memerlukan sejumlah enzim agar dapat menggunakan glukosa dalam
keadaan anaerob. Defisiensi dari banyak, tetapi tentunya tidak semua enzim ini dapat
menyebabkan anemia nonsferotik herediter. Sebagian besar diwariskan sebagai sifat resesif
autosom. Defisiensi glukosa-6-fosfat dehidrogenase, sejauh ini adalah defisiensi enzim
yang paling sering dijumpai, adalah pengecualian karena diwariskan secara terkait-X.
terdapat lebih dari 400 varian enzim ini (Beytler, 1991). Pada varian A, diwarisi oleh sekitar
2 persen wanita Amerika-Afrika, aktivitas enzim di eritrosit sangat jauh berkurang.

Pada keadaan hemozigot atau defisien ini, kedua jromosom X terkena. Keadaan
heterozigot, dengan sati kromosom X normal dan sati defisien, ditemukan pada 10 sampai
15 persen wanita Amerika-Afrika. Defek ini mungkin sedikit banyak memberi perlindungan
terhadap infeksi malaria. Inaktivasi acak kromosom X menyebabkan terjadinya berbagai
defisiensi aktivitas enzim. Infeksi atau beberapa obat oksidan dapat memicu hemolisis pada
sebagian wanita heterozigot serta homozigot. Karena itu, anemia bersifat episodic,
walaupun beberapa varian menyebabkan hemolisis nonsferositik kronik. Karena eritrosit
muda mengandung aktivitas enzim yang lebih tinggi daripada eritrosit tua, tanpa adanya
depresi sum-sum tulang, anemia akhirnya akan mengalami stabilisasi dan terkoreksi segera
setelah obat penyebab dihentikan. (7)

Defisiensi piruvat kinase, walaupun jarang, mungkin merupakan defisiensi enzim
kedua tersering. Penyakit ini diwariskan sebagai sifat resesif autosom. Ghidini dan Korker
(1998) menjelaskan penanganan konservatif tanpa transfuse pada seorang wanita yang kada

hemoglobinya mencapai nadir 6,8 g/dl pada pertengahan kehamilan. Gilsanz dkk, (1993)
melaporkan hidrops fetalis rekuren pada janin yang homozigot. Pada kehamilan keempat,
mereka mendiagnosis anemia janin dan tidak adanya defesiensi piruvat kinase dengan
menggunakan fungsi tali pusat (funipuncture). (7)

Terdapat sejumlah kelainan enzim lain yang sangat jarang ayng sebagian di
antarannya dapat menyebabkan hemolisis, dan sebagian yang tidak. Walaupun derajat
hemolisis kronik berbeda-beda, beberapa episode anemia berat pada semua defisiensi enzim
ini dipicu oleh obat atau infeksi seperti dijelaskan sebalumnya. Selama kehamilan, pasien
diberi besi dan asam folat. Obat oksigen dihindari, dan infeksi bakteri segera diatasi.
Transfusi dengan sel darah merah diberikan hanya apabila hematoksit turun di bawah 20,
kecuali apabila terdapat tanda-tanda gagal jantung atau hipoksia. (7)

2.5.7. Anemia Aplastik dan Hipoplastik
Walaupun jarang dijumpai pada kehamilan, anemia aplastik adalah suatu penyulit yang
parah. Diagnosis ditegakkan apabila dijumpai anemia, biasanya disertai trombositopenia,
leucopenia, dan sumsum tulang yang sangat hiposeluler (Marsh dll, 1999). Pada sekitar sepertiga
kasus, anemua dipicu oleh obat atau zat kimia lain, infeksi, radiasim, leukemia, dan gangguan
imunologis. Anemia Fanconi dan sindrom Diamond-Blackfan merupakan penyakit herediter. Pada
dua pertiga kasus lainnya, kausa tidak diketahui (Provan dan Weatherall, 2000). Kelainan
fungsional mendasar tampaknya adalah penurunan mencolok sel indik yang terikat di sumsum
tulang. Banyak bukti yang menyatakan bahwa penyakit ini diperantarai oleh proses imunologis
(Young dan Maciejewski, 1997). Pada penyakit yang parah, yang didefinisikan sebagai
hiposelularitas sumsum tulang yang kurang dari 25 persen, angka kelangsungan hidup 1 tahun
hanya 20 persen. (7)

Anemia Aplastik pada Kehamilan

Pada sebagian besar kasus, anemia aplastik dan kehamilan tampaknya terjadi bersamaan
secara kebetulan. Karena sekitar sepertiga wanita membaik setelah terminasi kehamilan,
dipostulasikan bahwa kehamilan-melalui satuan cara-memicu hipoplasia eritroid (Aitchison,
1989). Yang jelas, pada beberapa wanita, anemia hipoplastiknya pertama kali diidentifikasi saat
hamil dan kemudian membaik atau bahkan sembuh saat kehamilan berakhir namun kambuh pada
kehamilan berikutnya (Bourantas dkk, 1997, Snyder dkk, 1991).

Rijhsinghani dan Wiechert (1994) melaporkan dua kehamilan pada wanita dengan anemia
Diamond-Blackfan. Aplasia sel darah merah murni yang jarang ini mungkin diwariskan secara
resesif autosom. Sebagian pasien berespons terhadap terapi glukokortikoid, tetapi sebagian besar
berganting pada transfuse. Pengalaman kami dengan dua wanita yang mempunyai penyakit ini
serupa. Penyakit Gaucher adalah seuatu defisiensi encim lososom resesif autosom yang mengenai
banyak system organ. Anemia dan trombositoipenia diperparah oleh kehamilan (Gronovsky-
Grisaru dkk, 1995). Kemudian, kelompok peneliti Israel ini membuktikan bahwa terapi sulih
enzim (algluserase memperbaiki hasil kehamilan pada enam wanita (Elstin dkk, 1997).

Dua risiko besar bagi wanita hamil dengan anemia aplastik adalah perdarahan dan infeksi
(Ascarelli dkk, 1998). Pada kasus-kasus yang dilaporkan sejak tahun 1960, angka kematian selama
atau setelah kehamilan adalah 50 persen, dan kematian hamper selalu disebabkan oleh perdarahan
atau sepsis. Anemia Fanconi tampaknya memiliki prognosis yang lebih baik. Alter dkk (1991)
mengkaji kepustakaan dan menyimpulkan bahwa wanita yang menjadi hamil mengalami perbaikan
penyakit. (7)

Penatalaksanaan
Belum ada satu pun obat ertropoietik yang pada anemia lain dapat menyebabkan remisi terbukti
efektif. Terapi untuk anemia aplastik yang parah, yang kemungkinan besar efektif adalah


transplantasi sumsum tulang atau sel induk. Bagi pasien yang penyakitnya tidak terlalu parah, atau
mereka yang tidak mendapatkan donor, terapi terbaik yang ada adalah globulin antitimosit (Marsh
dkk, 1999). Terapi imunosupresif dengan siklosporin memperbaiki respons terhadap globulin
antitimosit. Kortikosteroid mungkin bermanfaat, demikian juga testosteran atau steroid androgenic
lainnya dalam dosis besar. Wanita yang diterapi hampir pasti mengalami virilisasi. Janin
perempuan dapat memeprlihatkan stigmata kelebihan androgen (pseudohermafroditisme),
bergantung pada senyawa, dosis, dan kapasitas plasma melakukan aromatisasi terhadap androgen.

Pencarian yang kontinu terhadap infeksi harus dilanjutkan, dan apabila ditemukan harus
segera diberikan terapi antimikroba spesifik. Transfuse garanulosit diberikan hanya apabila benarbenar
terjadi infeksi. Transfuse sel darah merah diberikan untuk anemia simtomatik, dan kami
secara rutin memberi transfuse untuk mempertahankan hematoksit pada kadar sekitar 20. Apabila
hitung trombosit sangat rendah, mungkin diperlukan transfuse trombosit untuk mengendalikan
perdarahan. Pelahiran per vaginam dilakukan untuk meminimalisasi insisi dan laserasi sehingga
pengeluaran darah dapat dikurangi saat uterus dirangsang berkontraksi kuat setelah pelahiran.
Bahkan apabila trombositopenianya berat, risiko perdarahan dapat diperkecil dengan pelahiran per
vaginam yang dilakukan sedemikian sehingga laserasi dan episiotomi luas dapat dihindari.

Transplantasi Sumsum Tulang, memerlukan terapi imunosupresif selama beberapa bula
setelah transplantasi. Riwayat transfuse darah, dan bahkan kehamilan, meningkatkan risiko
penolakan tandur. Bagi pasien, yang telah bebas penyakit selama 2 tahun, transplantasi
menyebabkan angka harapan hidup menjadi 90 persen (Deef dkk, 1998). Penyakit graft-versushost
akut dan kronik merupakan penyulit serius yang tersering dan menyebabkan dua pertiga
kematian dalam dua tahun pertama (Socie dkk, 1999). Kelompok peneliti yang sama ini
melaporkan bahwa separuh dari 95 pasien wanita hamil. (7)

2.6. Pengaruh anemia pada kehamilan dan janin
1. Bahaya selama kehamilan
- Dapat terjadi karena abortus
- Persalinan prematur
- Hambatan tumbuh kembang janin dalam rahim
- Mudah terjadi infeksi
-Ancaman decompensasi cordes (Hb<6gr%)
- Mola hidatidosa
- Hiperemesis gravidarum
- Perdarahan antepartum
- Ketuban pecah dini
2. Bahaya saat persalinan
- Gangguan his mempengaruhi kekuatan mengejan
- Kala I berlangsung lama dan terjadi partus terlantar
- Kala II berlangsung lama
- Dapat terjadi perdarahan post partum dan atonia uteri
3. Bahaya pada saat nifas
-Terjadi sub involusi uteri menimbulkan perdarahan PP
- Memudahkan infeksi puerperium
- Pengeluaran ASI berkurang
-Terjadi decompensasi cordis mendadak PP
-Anemia kala nifas
- Mudah terjadi infeksi mamae

4. Bahaya terhadap janin
-Abortus
-Terjadi kematian intra uteri
- Persalinan prematur tinggi
- Berat badan lahir rendah
- Kelahiran dengan anemia
- Dapat terjadi cacat bawaan
- Bayi mudah terkena infeks
-Ancaman decompensasi cordes (Hb<6gr%)
- Mola hidatidosa
- Hiperemesis gravidarum
- Perdarahan antepartum
- Ketuban pecah dini (7)
BAB III
KERANGKA KONSEP


III.1 Dasar Pemikiran variabel yang diteliti
Sampai saat ini tingginya angka kematian ibu di Indonesia masih merupakan
masalah yang menjadi prioritas di bidang kesehatan. Di samping menunjukkan derajat
kesehatan masyarakat, juga dapat menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat dan
kualitas pelayanan kesehatan. Penyebab langsung kematian ibu adalah trias perdarahan,
infeksi, dan keracunan kehamilan. Penyebab kematian langsung tersebut tidak dapat
sepenuhnya dimengerti tanpa memperhatikan latar belakang (underlying factor), yang
mana bersifat medik maupun non medik. Di antara faktor non medik dapat disebut keadaan
kesejahteraan ekonomi keluarga, pendidikan ibu, lingkungan hidup, perilaku, dan lain-lain.

Dari hasil penelusuran tinjauan kepustakaan dan maksud serta tujuan penelitian
maka dapat ditemukan beberapa hal yang berkaitan dengan anemia pada kehamilan seperti
umur, paritas, status gizi, jarak kehamilan, pendidikan, asupan tambah tablet darah,
penggunaan obat antasida, perokok, dan penyakit lain dengan kejadian anemia pada
kehamilan.

Untuk mengetahui bagaimana karakteristik ibu hamil dengan kejadian anemia pada
ibu hamil maka dibuatlah kerangka berpikir seperti yang disajikan dalam skema pola pikir
variabel penelitian.

III.2 Bagan Kerangka Konsep
Keterangan :
: Variabel yang diteliti
: Variabel yang tidak diteliti
III.3 Defenisi Operasional
1. Anemia pada kehamilan

37


Status sakit yang ditulis pada rekam medik, yang diartikan sebagai kondisi ibu

ibu yang hamil dengan kadar hemoglobin dibawah 11 gr% pada trimester I dan III atau

kadar <10,5 gr% pada trimester II. (2,11)

2. Umur
Yang dimaksud dengan umur adalah kelompok umur pasien yang hamil yang
mendapat perawatan anemia pada Rumah Sakit Umum Sultan Daeng Raja Kabupaten
Bulukumba. Umur seorang ibu berkaitan dengan alat – alat reproduksi wanita. Umur
reproduksi yang sehat dan aman adalah umur 20 – 35 tahun. Kehamilan diusia < 20
tahun dan diatas 35 tahun dapat menyebabkan anemia karena pada kehamilan diusia <
20 tahun secara biologis belum optimal emosinya cenderung labil, mentalnya belum
matang sehingga mudah mengalami keguncangan yang mengakibatkan kurangnya
perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan zat – zat gizi selama kehamilannya.
Sedangkan pada usia > 35 tahun terkait dengan kemunduran dan penurunan daya tahan
tubuh serta berbagai penyakit yang sering menimpa diusia ini. (2,11)

3. Paritas (Para)
Parietas adalah jumlah anak yang telah dilahirkan oleh seorang ibu baik lahir
hidup maupun lahir mati. Seorang ibu yang sering melahirkan mempunyai risiko
mengalami anemia pada kehamilan berikutnya apabila tidak memperhatikan
kebutuhan nutrisi. Karena selama hamil zat – zat gizi akan terbagi untuk ibu dan untuk
janin yang dikandungnya. (2,11)

4. Jarak Kehamilan
Jarak kelahiran adalah waktu sejak ibu hamil sampai terjadinya kelahiran
berikutnya. Jarak kelahiran yang terlalu dekat dapat menyebabkan terjadinya anemia.
Hal ini dikarenakan kondisi ibu masih belum pulih dan pemenuhan kebutuhan zat – zat

gizi belum optimal, sudah harus memenuhi kebutuhan nutrisi janin yang
dikandung.(2,11)

5. Pendidikan
Proses penggubahan sikap dan perilaku seseorang atau kelompok orang dalam
usaha mendewasakan manusia melalui penerapan ilmu yang diperoleh dalam
pengetahuannya tentang hal-hal yang berkaitan dengan kehamilannya. Pendidikan
yang dijalani seseorang memiliki pengaruh pada peningkatan kemampuan berfikir,
dengan kata lain seseorang yang berpendidikan lebih tinggi akan dapat mengambil
keputusan yang lebih rasional, umumnya terbuka untuk menerima perubahan atau hal
baru dibandingkan dengan individu yang berpendidikan lebih rendah (2)

6. Asupan Tablet tambah Darah
Suatu keadaan ibu hamil yang mendapatkan tablet tambah darah kesehatan ibu
hamil dan janinnya (zat besi) atu mengkonsumsi tablet tambah darah (zat besi) dalam
masa kehamilannya. (2,11)

7. ANC
Upaya preventif program pelayanan kesehatan obstetrik untuk optimalisasi
luaran maternal dan neonatal melalui serangkaian kegiatan pemantauan rutin selama
kehamilan. Antenatal Care (ANC) ini merupakan upaya pelayanan kesehatan bagi ibu
hamil dan janinnya oleh tenaga profesional meliputi pemeriksaan kehamilan sesuai
dengan standar pelayanan yaitu minimal dilakukan sebanyak 4 kali, yang diberi kode
K1,K2,K3, dan K4. Bila kehamilan termasuk resiko tinggi perhatian dan jadwal
kunjungan harus lebih ketat. (2,11)

BAB IV
METODE PENELITIAN


IV.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang dilakukan adalah metode penelitian deskriptif yang
dimaksudkan untuk mendeskripsikan penderita anemia pada kehamilan berdasarkan faktafakta
yang telah terjadi dan tercatat di rekam medik pada pasien rawat inap dan rawat jalan di
bagian kebidanan Rumah Sakit Umum Sultan Daeng Raja Kabupaten Bulukumba periode
Januari-Desember 2008.

IV.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian : Bagian Kebidanan Rumah Sakit Umum Sultan Daeng
Raja Kabupaten Bulukumba
Waktu Penelitian : Dilakukan selama 2 minggu, terhitung dari tanggal 2
Maret 2009-14 Maret 2009.
IV.3 Populasi dan Sampel
Populasi : Ibu hamil yang dirawat inap dan rawat jalan yang
menderita anemia dalam kehamilan di Bagian
Kebidanan Rumah Sakit Umum Sultan Daeng Raja
Kabupaten Bulukumba periode Januari-Desember 2008.
Sampel : Pengambilan sampel dilakukan dengan metode “total
40

sampling”, yaitu semua pasien yang termasuk dalam
populasi.

IV.4 Kriteria Seleksi
IV.4.1 Kriteria Inklusi
Data rekam medik penderita dengan diagnosis anemia dalam kehamilan di bagian

kebidanan Rumah Sakit Umum Sultan Daeng Raja Kabupaten Bulukumba periode Januari-

Desember 2008.

IV.4.2 Kriteria Eksklusi
Data rekam medik pasien yang tidak lengkap.

IV.5 Cara pengumpulan dan pengolahan data
Data yang digunakan adalah data sekunder yang diambil dari pencatatan pada rekam
medik pasien di bagian kebidanan Rumah Sakit Umum Sultan Daeng Raja Kabupaten
Bulukumba periode Januari-Desember 2008.

IV.6 Etika Penelitian
1.
Setiap subjek akan dijamin kerahasiaannya atas data yang diperoleh dari rekam
medik dengan tidak menuliskan nama pasien tapi hanya berupa inisial.
2.
Sebelum melakukan penelitian maka peneliti akan meminta izin pada beberapa
institusi terkait antara lain Sub Bagian Kesatuan Bangsa Pemerintah Daerah Tingkat
I Sulawesi Selatan, Direktur Rumah Sakit Umum Sultan Daeng Raja Kabupaten
Bulukumba, Bagian Rekam Medik RS. Bersalin Siti Khadijah 4 Makassar.
DAFTAR PUSTAKA

1. Anonymous. Hubungan Karakteristik Ibu Hamil dengan Kejadian Anemia di PKM Banjaran.
Available from: http://www.one.indoskripsi.com.
Amiruddin A, Wahyuddin. Studi Kasus Kontrol Faktor Biomedis Terhadap Kejadian Anemia
Ibu Hamil di Puskesmas Bantimurung. Available from:
http://ridwanamiruddin.wordpress.com/2007/05/24/studi-kasus-kontrol-anemia-ibu-hamiljurnal-
medika-unhas.

3.
Pratomo H dan Wiknjosastro GH, 1995. Pengalaman Puskesmas dalam Upaya Keselamatan
Ibu : Pilot Project di Beberapa Puskesmas. Jurnal Jaringan Epidemiologi Nasional. Edisi 1
tahun 1995, hal. 1-8.
4.
WHO, 1992. Report of Working Group on Anemia. WHO Report, pp 17020.
5.
McCarthy J and Maine D, 1992. A Framework for Analyzing the Determinants of Maternal
Mortality. Studies in Family Planning Vol 23 Number 1 January/February 1992, pp. 23-33.
6.
Soeprono R, 1988. Anemia pada Wanita Hamil. Berkala Ilmu Kedokteran Fakultas Kedokteran
Universitas Gadjah Mada Jilid XX Nomor 4 Desember 1988, hal. 121-135.
7.
Suheimi, HK. Anemia dalam Kehamilan. Available from:
http://ksuheimi.blogspot.com/2007/09/anemia-dalam-kehamilan.html.
8.
Jauhari N. Tentang Penyakit Anemia. Available from:
http://yudhim.dagdigdug.com/2008/08/13/tentang-penyakit-anemiaa.
9.
Rofiq A. Anemia pada Ibu Hamil. Available from:
http://rofiqahmad.wordpress.com/2008/01/24.
10.Anto Dr. Pertanyaan Seputar Anemia. Available from:
http://www.womenshealth.gov/faq/anemia.cfm.
11.Adriaansz G. Asuhan Antenatal. Dalam: Prawiharjo S. Ilmu Kebidanan. Edisi ke-4. Jakarta:
Bagian Obstetri dan Ginekologi FKUI, 2008; 278-87.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar