Senin, 18 April 2011

HEPATITIS


A.     KONSEP DASAR

1.      Macam Macam Hepatitis
a.      Hepatitis virus A akut
b.      Hepatitis virus B
c.      Hepatitis kronik
d.      Hepatitis toksik
Hepatitis virus A akut merupakan infeksi sistemik akut pada hati yang disebabkan virus hepatitis A.

2.      Etiologi
Virus hepatitis                                                          

3.      Patofisiologi
a.      Penyebab virus hepatitis A melalui fekal –oral, dengan masa inkubasi yang pendek dan sering menyrang golongan ekonomi rendah
b.      Lesi morfologik hepatitis A memliki gambaran hamper sama dengan hepatitis B: nekrosis hati, hyperplasia sel kuffer.
c.      Regenerasi sel terjadi dengan pembelahan sel, juga tampak sel menggelembung
d.      Satu atau dua mingu sebelum muncul gejala kuning muncul anoreksia, nausea, muntah-muntah, lemah, lesu, antralgia, mialgia, sakit kepala, fotofabia, faringitis, batuk dan demam (38-39OC).
e.      Urin berwarna gelap, tinja berwarna pucat dapat ditemukan satu sampai lima hari sebelum kuning muncul
f.        Jika sclera berwarna kuning maka gejala umum berkurang. Hati membesar dan disertai nyeri pada abdomen kuadran atas. Magali dan adenopati servikal juga dapat ditemukan.
g.      Pada masa penyembuhan gejala umum biasanya hilang, tapi pembesaran hati tetap ada.
h.      Penyembuhan sempurna memerlukan waktu 3 sampai 4 bulan serum transaminase (SGOT, SGPT, gama GT, GLDH). Meningkat dengan variasi berbeda antara 150-4000 u/l.
i.         Pada fase akut SGPT meningkat lebih dari SGOT (SGPT/SGOT= 0,7), nilai gama GT lebih tinggi dari pada SGOT.
j.         Ikterus jelas terlihat pada sclera dan kulit bila kadar serum bilirubin lebih dari 2,5/100 ml.
k.      Peningkatan serum bilirubin berkisar 5-20 mg%.
l.         Penurunan enzim transaminase secara cepat merupakan tanda hepatitis akut.
m.    Pada minggu satu enzim tersebut akan turun 30-50% dari nilai tetingginya
n.      Kadar bilirubin diatas 20 mg% dengan penurunan yang perlahan-lahan pertanda pragnosis yang buruk. Kecuali pada hepatitis virus yang disertai dengan kelainan hemolitik.
o.      Neutropenia dan limpopenia bias any disusul dengan limpositosis
p.      Masa protombin penting diperiksa karena jika terjadi perpanjangan pertanda pragnosisnya buruk yang disebabkan kerusakan hati yang luas.
q.      Pada kondisi seperti ini kadar bilirubin dan trasaminase tidak terlalu tinggi.
r.        Fosfatase Alkali kadang-kadang meninggi terutama pada keadaan kolestitis yang disertai dengan peningkatan gama GT.
s.       Penegakan diagnosis jika ditemukan peningkatan enzim dengan rasio yang jelas, disertai penurunan kembali yang cepat dalam waktu 1-3 minggu. 1 minggu anti HAV memastikan diagnosis.

4.      Penatalaksanaan
a.      Tidak ada pengobatan yang spesifik, pemberian kolesteramin dapat dilakukan untuk mengurangi kolestasis.
b.      Pembatasan aktivitas perlu dilakukan untuk penyembuhan.
c.      Perawatan diperlukan bagi penderita dengan prognosis yang buruk dan muntah-muntah.
d.      Diet rendah lemak jika penderita mengalami mual dan muntah.
e.      Isolasi penderita dengan mandi dikamar mandi sendiri penting dilakukan .
f.        Pasien dipulangkan jika ada kecenderunagn kadar enzim dan bilirubinserta masa protombin.

5.      Hepetitis Virus B
Merupakan infeksi hati yang dapat bersipat akut dan kronik yang disebabkan virus hepatitis B pada bagian luar hepatitis B terdiri dari anti gen yang disebut HBSag.

Mekanisme Infeksi
a.      Untuk berkembamg biak Virus hepatitis B membutuhkan hospes yaitu didalam inti sel hati.
b.      Jika dalam masa replikasi maka akan ditemukan partikel virus hepatitis B utuh, dedangkan pada masa noereplikasi hanya ditemukan partikel HbSAg dalam darah.
c.      Bila imunitas tubuh normal maka akan terjadi mekanisme tersebut menjadi tidak efektif sehingga virus hepatitis B menjadi persistem.

Proses Penyakit
a.      Peradangan sel-sel hati di sebabkan oleh respon imun tubuh terhadap adanya infeksi tersebut jika tidak terjadi respon imun maka tidak terjadi kerusakan hati, tetapi sintesis partikel B terjadi terus menerus dan infeksi menjadi persistem, dan penderita tetap sehat.
b.      Hepatitis akut terjadi sebagai akibat respon imun yang normal sehingga terjadi peradangan sel hati tetapi sistesis partikel virus B dapat ditekan.
c.      Bila respon imun ada tapi tidak sempurna maka akan terjadi peradangan hati dan sintesis partikel virus B tidak dapat ditekan maka akan terjadi hepatitis kronik disertai virus yang persisten.

Manifestasi serologi
a.      HbSAg positif dalam darah berarti ada infeksi viruis hepatitis B, bila anti HBc positif HbSAG negative berarti ada infeksi virus hepatitis B.
b.      Anti HBs positif berarti satu anti bodi ini merupakan petunjuk kesembuhan klinis infeksi virus B.
c.      HbCAG merupakan salah satu antigen yang terdapat dalam partikel dan akan positif pada pemeriksaan jaringan hati.
d.      Anti Hbc positif berarti infeksi virus B pada masa lalu maupun infeksi yang masih aktif. Titer anti Hbc yang tinggi menunjukan reprikasi virus B yang aktif. Dalam fase akut komponen Igm yang dominan sedangkan pada fase kronik IgG yang lebih banyak.
e.      HBeAb positif berarti infeksi virus B dalam keadaan aktif dan reprikasi dan sangat infeksius.
f.        Anti Hbe positif menunjukan aktifitas virus B menurun dan pertanda virus dan pertanda prognosis yang baik.
g.      DNA polimerasi adalah enzim yang menunjukan infeksi dalam fase replikasi. Demikian juga pemeriksaan HBV DNA.

Cara penularan   
a.      Partikel dimana terjadi penembusan kulit dan mukosa misalnya melalui suntikan, tranfusi, perawatan gigi, pembedahan dan lain-lain.
b.      Hubungan seksual.

6.      Gejala Klinis
a.      Hepatitis B akut
1)      Hepatitis B akut has (typical acute B hepatitis)
Ada tiga fase: prodromal, ikterik dan penyembuhan
Fase prodromal: anoreksia, mual, muntah dan keluhan system pernapasan umumnya berlangsung agak lama. 10-20% kasus nyeri sendi, nyeri kepala, demam.
Selanjutnya perubahan  pada warna air seni yang merupakan tanda fase ikterik. Pada fase ini terjadi kenaikan bilirubin serum, fosftase alkali, SGOT dan SGPT kemudian terjadi ikterus yang diikuti menurunnya keluhan subjektif diatas.
Fase ikterik sering diikuti dengan pruritus ringan, pembesaran hepar dan nyeri tekan, 20% kasus limpa membesar.
Fase penyembuhan ditandai dengan menurunnya enzim SGOT dan SGPT yang diikuti dengan penurunan kadar HBsAg hingga negative.
2)      Hepatitis pulminan
Terjadi pada 1-3% hepatitis akut tipe B yang sistematik yang ditandai dengan tanda-tanda enchenopati seperti perubahan pola tidur (sulit tidur pada malam hari) mengantuk pada siang hari, perubahan kepribadian dan gejala koma hepatikum. Ukuran hepar cepat mengecil dan terjadi fibrosis. Terjadi kenaikan bilirubin yang progresif dengan kadar enzim aminotrans ferase (SGOT, SGPT) yang tinggi dan perpanjangan waktu protombin.
3)      Infeksi asimtomatik
Merupakan respon yang paling sering HbsAg dan HbcAg positif dalam waktu yang pendek.
b.      Hepatitis B kronik (persisten)
5-10% hepatitis akut akan menjadi kronik, dimana HbsAg tetap positif sampai berbulan, tahunan dan seumur hidup. Anti Hbs dan anti Hbc pada keadaan ini juga meningkat. Tipe ini terdiri dari tiga fase:
1)      Hepatitis akut/sub akut
Berlangsung 1-6 bula, keluhan berupa anoreksia, malaise, mual, merasa tidak enak, dan perut sebelah kanan dan nyeri sendi. Terjadi peningkatan enzim amino transferase 10 kali lipat. Bilirubin normal atau sedikit meningkat, HbsAg yang tingg, HbcAg positif disertai aktifitas DNA polimerasi dan DNA virus B.
2)      Hepatitis kronik
Keluhan subjektif dan kelainan otokimiawi pada sebagian penderita berkurang, pemeriksaan hipopatologi memberikan gamabaran hepatitis kronik aktif. Terjadi penurunan faal hati bahkan kegagalan fungsi hati. Sehingga klien dapat meninggal atau menjadi xerosis hepatitis. Terjadi DNA polimerasi DNA virus B tetap positif.
3)      Asimomatik
Ditandai dengan normalnya kelainan biokimiawi dan hilangnya gejala klinis.

7.      Penatalaksanaan
a.      Istirahat yang cukup pada hepatitis akut
b.      Pemberian terapi interferon atau adenine arabinosa monofosfat menurunkan aktifitas penyakit pada hepatitis kronik.
c.      Diet tinggi karbohidrat dan kalori dengan pembatasan lemak dan protein.
d.      Pemberian terapi asimptomatik


B.     ASUHAN KEPERAWATAN

1.      Pengkajian
a.      Pengkajian factor resiko, terekspos penderita hepatitis, kemungkinan penularan melalui falenteral.
b.      Kaji gejala seperti jaundice, mual, muntah, anoreksia, demam, perasaan tidak enak diperut dan nyeri sendi.
c.       Kaji kemungkinan terjadi hapatik enchepalopati seperty perubahan pola tidur , dan koma hepatikum. Pantau pungsi hati melalui pemeriksaan lab: enzim amino tranparase (sgot sgpt), bilirubin, postat alkali.
d.      Pemeriksaan serologic: HBsAg, HBcAg, HBeAg dan DNA polimerasi

2.      Diagnosa Keperawatan
a.      Gangguan kebutuhan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak asekuat. Gangguan absorpsi dan metabolisme.
b.      Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik.
c.      Cemas berhungan dengan tidak memahami efek penyakit.
d.      Gangguan integritas kulit berhubungan dengan pruritus (rasa gatal karena meningkatnya bilirubin dalam darah)
e.      Gangguan mobilisasi berhubungan dengan periode bedrest
f.        Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya memahami penyakit dan penyebabnya.

3.      Intervensi
a.      Berikan diet dengan pembatasan lemak dan protein dan peningkatan karbohidrat dan kalori
b.      Berikan porsi makan dalam porsi kecil tapi sering
c.      Istirahatkan klien dalam masa akut
d.      Lakukan perawatan kulit dan pantau perubahan ikterik dan joundice
e.      Kolaborasi pemberian terapi seperti intervensi untuk menurunkan aktivitas penyakit
f.        Kolaborasi pemberian terapi asimptomatik
g.      Penkes tentang penyebab, perawatan, pengobatan dan pragnosis penyakit.


4.      Evaluasi
a.      Menurunkan kebutuhan terhadap hati selama meningkatkan kesehatan fisik
b.      Mencegah komplikasi
c.      Meningkatkan konsep diri, penerimaan situasi
d.      Memberikan informasi tentang penyakit, prognosis dan kebutuhan pengobatan













Tidak ada komentar:

Poskan Komentar