Senin, 18 April 2011

GAGAL GINJAL KRONIK (GGK)/


CRONIK RENAL FEVAR (CRF)



A.     KONSEP DASAR

 

1.      Pengertian

Banyak pendapat yang dikemukanan oleh para ahli tentang pengertian dari gagal ginjal kronok, diantaranya yaitu: gagal ginjal kronik adalah penurunan faal ginjal yang terjadi secara berangsur-angsur dan menahun umumnya tidak bisa pulih atau irreversible (Suparman, IPD Jilid II FKUI, II).

Gagal ginjal kronik adalah suatu kegagalan fungsi ginjal yang berlangasung perlahan-lahan karena penyakit berlangsung lama, sehingga tidak dapat menutupi kebutuhan biasa lagi dan menimbulkan gejala sakit (Purnawan, Kapita Seleketa Kediokteran, FKUI, Jakarta 1992).

Gagal ginjal kronisk adalah keadaan dimana fungsi ginjal memburuk secara progeresif dan irrversibel dalam memelihara keseimbangan cairan dan elektrolit (Suzore c medical surgical nursing 1992)

Gagal ginjal kroni adalah ginjal kurang mampu membuang hasil sisa metabolisme dan air yang berlebihan dari dalam darah atau fungsi filtrasi glomerulus menurun. Hal ini dapat berlangsung dalam beberapa waktu, bulan, tahun dan biasanya ireversibel. (Ignatavicius B, 1991).

Klasifikasi dari gagal ginjal kronik :
a.      Menurunnya cadangan ginjal (faal ginjal 40 – 75 % )
Fungsi regulasi dan eksresi masih baik, keluhan (-)
b.      Insufisiensi Ginjal (faal ginjal 20–50%)
Kelainan lab mulai tampak, klien masih dapat beraktivitas normal, keluhan uremia mulai tampak.
c.      Gagal ginjal kronik (faal ginjal 5–25 %)
Anemia (+), kelebihan cairan (+), klien masih mampu beraktivivas.
d.      Gagal ginjal kronik fase terminal (faal ginjal < 10 % )

 

2.      Etiologi

a.      Pyelonefritis merupakan infeksi yang berulang sehingga dapat menyebabkan penurunan filtrasi glomerulonefritis
b.      Glomerulonefritis merupakan peradangan yang menyebabkan terjadinya lesi glomerolus akhirnya semua nefron rusak
c.      Nefrotik sindroem terjadi karena retensi garam dan cairan tubuh oleh ginjal sebagai akibat sekresi aldosreron dan dapat menyebabkan udema anasarka
d.      Penyakit ginjal polykisti penyakit ini lambat laun akan menghancurkan ginjal akibat penekanan dari kista-kista tersebut
e.      Hipertensi esensial tekanan darah yang meningkat terus sehingga menyebbkan thrombus dan peradangan gromerolus infark seluruh nefron dan kematian yang cepat dari seluruh sel-sel ginjal.
f.        Obstruksi saluran kemih menyebabkan dilatasi kaliks dan pelvis renalis sehingga terjadi penenakan yang tinggi diteruskan ke duktus koligens maka terjadi komplesi pembuluh darah yang menurun.
g.      Diabetes mellitus seringkali menyrang pada lesi yang sering dijumpai adalah nefrosklerosis akkibat lesi pada arteriol, pyelonefritis nekrosis papilla ginjal dan glomerolus sclerosis.
h.      Nefrotoksik penggunaan obat yang tidak terkontrol atau dosis yang berlebihan dalm waktu yang lama dapat mengakibatkan kerusakan pada nefron.
i.         Kongenital, bawaan sejak lahir

3.      Pathofisiologi

Ganguan fungsi ginjal pada GGK dapat diawali pada kerusakan semua unit nefron atau hanya sebagian saja yang rusak, dengan berkurangnya nefron keseimbangan cairan dan ektrolit tidak dapat dipertahankan lagi.

Terdapat tiga stadium diantaranya:
a.      Stadium pertama terjadinya penurunan kapasitas ginjal karena sisa-sisa nefron yang ada mengalami hepertropi dalam melaksanakan semua beban kerja ginjal dan peningkatan kecepatan filtrasi beban solute diabsorpsi di tubulus dalam setiap nefron pada stadium ini serum dan ureum nitrogen di dalam darah (BUN) dan dapat diketahui melalui test pemekatan urine.
b.      Stadium kedua terjadi indufisiensi ginjal, dimana 75% mas nefron telah hancur atau rusak sehingga kecepatan filtrasi dan peningkatan reabsorpsi oleh tubullus tidak dipertahankan lagi.
c.      Pada stadium payah ginjal stadium akhir atau disebut stadium uraemia sekitar 90% atau lebih dari masa nefron telah rusak, nilai GFR hanya 10% dari normal CCT sebesar 5-10 mg/dk atau kurang (normal 25 mg/dl) kadar kreatinin dan BUN meningkat seara menyolok sebagai reaksi sebagai penuntunan GFR klien merasa cukup payah karena ginjal tidak mampu mempertahankan homestasis cairan dan elektrolit.

4.      Manifestasi klinis

Gangguan pada klien pada klien payah ginjal atau gagal ginjal kronik yang sering terjadi adalah sebagai berikut:
a.      Sistem Gastrointestinal
Anoreksia, mual, muntah yang berhubungan dengan gangguan metabolisme protein dalam usus dengan terbentuknya zat-zat toksik akibat metabolisme bacteri usus seperti amoniadan metal guanidine, gastritis ulkus peptikum colitis uremua.
b.      Sistem integument
Kulit berwarna pucat akibat anemia dan kekuningan akibat penimbunan urokrom, gatal dan ekskoriasi akibat toxin uremic dan pengendapan kalsium di pori-pori, ecimosis akibat gangguan hematologi, urea fross (kulit kering dan bersisik) akibat kristalisasi urea yang ada pada keringat.
c.       Sistem Hematologi
Anemia akibat berkurangnya produksi eritropoetin hemolisis akibat berkurangnya masa hidup eritrosit, defisiensi besi dan asam folat karena anoreksia, perdarahan dan gangguan fungsi trombosit dan trombositopenia.



d.      Sistem Syaraf dan Otot
Restless leg syndrome (pegal di tungkai bawah), buring test syndrome (rasa kesemutan, terbakar terutama pada kaki), anselopati metabolic (lemas, tidak bisa tidur, tremor dan kejang) dan miopati (kelemahan dan hipertrofi otot)
e.       Sistem Kardiovaskuler
Hipertensi akibat penumpukan cairan dan garam, nyeri dada dan sesak nafas disebabkan oleh perikarditis dan efusi pericardial, udema akibat penumpukan  cairan.
f.       Sistem Endokrin
Gangguan sexual (menurunnya libido, fertilisas dan ereksi), gangguan toleransi glukosa dan gangguan metabolic lemak dan vitamin D.
g.       Sistem lain berupa ganguan tulang
Osteomyelitis atau osteomalaisia, ganguan asam basa (asidosis metabolic) dan gangguan metabolic, ganguan elektrolit (hipokalsemia, hipofotamia) dan hiperkalsemia.

6.      Pemeriksaan Penunjang
a.      Radiologi
Foto polos abdomen< IVP, USG, renogram, rontgen thoraks, roentgen tulang, pyelografi retrograf
b.      EKG utnuk mengetahui hipertropi fentrikle kiri, tanda perikarditi dan aritmia
c.      Biopsi ginjal untuk mengetahui adanya sel-sel abnormal
d.      Laboratorium
Anemia peningkatan LED, penurunan CCT, peningkatan ureum, kreatinin serum, gula darah dan albumin, dan AGD.

7.      Penatalaksanaan
Terdapat dua tindakan yaitu dengan tindakan konservatif dan tindakan medis:
a.      Tindakan konservatif
Tujuan :
1).    Mencegah penurunan faal ginjal yang progresif
2).    Meringankan keluhan uremia
3).    Mengurangi gejala uremia dengan memperbaiki metabolisme
Tindakan:
1).    Pengontrolan keseimbangan sairan dan elktrolit
2).    Pencegahan pembentukan sisa metabolisme melalui pembatasan intake protein, pemberian KH dan lemak yang cukup, pemberian vitamin yang larut dalam air
3).    Mempertahan kan keseimbangan tehadap transport oksigen anemia pada GGK umumnya tidak diberikan transfuse kecuali hematokritnya sangat rnedah sehingga cegah terjadinya perdarahan, berikan antacid dengan interval yang teratur, perawatan yang lebih intensive.
4).    Memberikan rasa nyaman, istirahat dan tidur. Rasa tidak nyaman pada GGK meliputi proritus kram otot, sakit kepala, insomnia, dan kulit yang kering maka tindakannya menjaga kelemababan kulit, mengontrol suhu kemar, memberikan obat anti gatal, mencegah terjadinya luka.
b.      Tindakan medis
1).    Dialysis perirorial
2).    Hemodialisa
3).    Tromboplantsi ginjal
B.     ASUHAN KEPERAWATAN

1.      Pengkajian

a.       Riwayat penyakit infeksi ginjal
b.      Penyakit batu dan obstruksi saluran kemih
c.       Penggunaan obat-obatan
d.      Penyakit endokrin, vaskuler dan jantung
e.       Pola berkemih, penambahan BB dan edema.

2.      Diagnosa Keperawatan

a.      Penurunan curah jantung behubungan dengan hipervolemi, gangguan cistem rennin angiotensin
b.      Gangguan keseimbangan cairan: B/D dengan penurunan fungsi ginjal
c.      Gangguan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh behubungan dengan intake yang tidak adekuat ditandai dengan anoreksia dan muntaj
d.      Gangguan integritas kulit behubungan dengan eksresi zat-zat toksin (penumpukan toksin ureum dan kreatinin dibawah kulit)
e.      Gangguan psikologis cemas behubungan dengan persepsi yang negatif tentang penyakit
f.        Kurang kemampuan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari behubungan dengan kelemahan fisik
g.      Kurang pengetahuan  tentang proses penyakit: perawatan dan pengobantannya kurangnya informasi

3.      Intervensi Keperawatan

Diagnosa No.1
a.       Monitor TTV: TD, Nadi, Suhu, dan RR secara rutin
b.      Anjurkan untuk mengurangi  makanan yang mengandung kalium tinggi
c.       Monitor kadar elektrolit (kalium)
d.      Anjurkan utnuk diet rendah garam untuk mengurangi retensi cairan
e.       Kolaborasi dengan dokter untuk pemerian obat anti hipertensi

Diagnosa No.2
a.      Monitor intake dan output cairan
b.      Batasi cairan yang masuk
c.      Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat therapy anti diuretic (mencegah retensi urine)
d.      Libatkan keluarga untuk program perawatan dan therapy

Diagnosa No.3
b.      Jelaskan pada klien tentang pentingnya nutrisi
c.      Berikan makanan dalm porsi kecil sedikit tapi sering
d.      Berikan atau sajikan makanan dalam keadaan hangat

Diagnosa No.4
a.      Kaji keadaan kulit klien
b.      Ubah posisi tiap 2 jam
c.      Berikan perawatan pada kulit dengan memberikan pelembab
d.      Gunakan pakaian yang menyerap keringat

Diagnosa No.5
a.      Kaji tingkat kesemasan dan penerimaan klien terhadap kenyataan
b.      Kaji koping klien
c.      Berikan penjelasan pada klien tentang penyakit, perawatannya dan pengobatannya serta manfaat prosedur HD
d.      Bantu klien untuk mengungkapkan perasaannya
e.      Berikan reinforcement (agar meningkatkan harga diri)

Diagnosa No.6
a.      Kaji sejauh mana klien dapatberaktivitas
b.      Bantu klien untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari klien
c.      Libatkan keluarga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari klien

Diagnosa No.7
a.      Kaji pengetahuan klien tentang penyakit
b.      Diskusikan tentang proses penyakit pengobatannnya dan perawatannya
c.      Berikan kesempatan klien untuk bertanya

































DAFTAR PUSTAKA


Doengoes, Marylyn. E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Edisi 3.  Jakarta: EGC.

Barbara C long, 1996 Perawatan Medikal Bedah, Bandung; Yayasan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjadjaran

Price, Sylvia Andersons, 1994, Patofisiologi (Konsep Klinik Proses Penyakit), Edisi 2, Jakarta; EGC
Dorland, Kamus Kedokteran, edisi 2 EGC
















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar