Senin, 18 April 2011

LP Halusinasi


BAB II
LANDASAN TEORI

A.    Konsep Dasar
1.      Pengertian
Halusinasi adalah sensori persepsi yang muncul tanpa adanya starmisi yang meliputi semua sistem penginderaan yang terjadi saat kesadaran penuhatau baik. (Pedoman Perawatan Psikiatri Intervensi Keperawatan tahun 1994 hal 123)
Halusinasi adalah pengalaman panca indra tanpa adanya rangsangan,artinya individu mendengar suara-suara atau bisikan-bisikan tanpa adanya rangsangandari luar dan orang lain tidak mendengarnya. (Kelliat Budi Anna, 2001 hal 44)
Halusinasi merupakan salah satu respon Neurobiologik (orientasi realita) yang mal adaptif, halusiansi adalah persepsi klien terhadap lingkungan tanpa stimulus yang nyata artinya klien menginterprestasikan sesuatu yang nyata tanpa stimulus atau rangsangan yang nyata (Stuart dan Suden, 95).

2.       Psikodinamika
a.      Etiologi    
1)      Halusinasi dapat terjadi pada klien dengan gangguan jiwa seperti Schizoprenia, depresi atau keadaan psikosa lainnya, dimensia, keadaan delirium dan kondisiyang berhubungan dengan penggunaan alkohol dan substansi lainnya. Halusinasi juga dapat terjadi dengan epilepsi, kondisi infeksi sistemik dan penggunaan metabolik. Halusinasi dapat juga dialami sebagai efek samping dari berbagai pengobatan yang meliputi anti depresi, antikolinergik, anti inflamasi, dan antibiotik. Sedangkan obat-obatan halusinogen dapat membuat terjadinya halusinasi sama seperti pemberian obat diatas. Halusinasi dapat terjadi pada saat individu normal, yaitu pada individu yang mengalami isolasi, perubahan sensori seperti kebutaan, kurangnya pendengaran atau adanya permasalahan pada saat pembicaraan.
2)      Halusinasi terjadi akibat kemampuan kognitif yang terganggu. Hal ini dikarenakan informasi atau beban sensori terlalu berlebihan atau overload, dan menghasilkan halusinasi.
3)      Halusinasi terjadi karena defisit fungsi ego atau pertahanan diri, sehingga terjadi konflik psikologis. Dan penggunaan mekanisme pertahanan seperti distori, denial, dan proyeksi (halusinasi).
4)      Halusinasi dapat terjadi bila seseorang berada dalam situasi atau lingkungan yang penuh dengan stresor. Bila individu tersebut tidak dapat mengatasi dan hanya berfokus pada kecemasan yang diakibatkan stressor,maka individu tersebut akan melamun dan berangan-angan, bila didiamkan berlarut-larut akan menyebabkan halusinasi.
5)      Halusinasi akibat strukturotak yang abnormal sehingga tidak mampu menerima stimulus dengan baik, faktor genetik juga menjadi penyebab besar dan faktor biokimia yang mempengaruhi otak dengan adanya dopamin.
6)      Halusinasi disebabkan karena adanya gangguan pada otak. Otak tidak berkembang secara sempurna, menurunnya volume otak dan fungsi abnormal. Sehingga otak mengalami kesulitan dalam memfilter sensori dan kesulitan dalam memproses informasi.
7)      Halusinasi dapat ditimbulkan oleh hubngan antar anggota keluarga atau khususnya anak dengan orang tua yang tidak harmonis, adanya konflik keluarga, kegagalan dalam menyelesaikan tahap awal perkembangan psikososial, koping stres yang tidak adekuat sehingga menimbulkan gangguan orientasi realita.
8)      Menjelaskan bahwa halusinasi dapat disebabkan oleh stres yang diakumulasi akibat faktor lingkunganseperti tidak keharmonisan.
b.      Proses terjadinya halusinasi
               Halusinasi berkembang melalui 4 fase:
1)      Fase Pertama: Menenangkan-ansietas tingkat sedang.secara umum halusinasi menyenangkan
Karakteristik: orang yang menderita halusinasi mengalami peningkatan emosi, seperti ansietas, kesepian, merasa bersalah dan perasaan takut serta mencoba untuk berfokus pada kenyamanan untuk mengurangi kecemasannya. Orang tersebut merasakan/mengetahui bahwa pikiran dan pengalaman sensorinya dalam kontrol sadar (jiwa kecemasan teratasi “non psycotic”)
Perilaku yang dapat di observasi:
a)      Menyeringai atau tertawa tidak pada tempatnya
b)      Pergerakan bibir tanpa menimbulkan suara
c)      Pergerakan mata dengan cepat
d)     Respon verbal lambat
e)      Diam membisu dan linglung ( asik sendiri )
2)      Fase kedua: menyalahkan – ansietas tingkat berat.
               Halusinasi umumnya menjadi ancaman
Karakteristik: pengalaman sensori menjadi ancaman yang menakutkan. Orang yang menderita halusinasi mulai merasakan hilang kontrol dan mulai menjauhi diri dari sumber yang ada. orang tersebut merasakan kebingungan oleh penglaman sensori dan menarik diri dari orang lain
Perilaku yang dapat di observasi:
a)      meningkatkan sistem syaraf otomatis, tanda-tanda kecemasan seperti meningkatnya tekanan darah,respirasi dan ritme jantung.
b)      Bentuk perhatian mulai terbatas dan menyempit.
c)      Asyik sendiri dengan pengalamansensori dan hilangnya kemampuan untuk membesarkan halusinasi dari realita.

3)      Fase ketiga : Mengendalikan – ansietas tingak berat
                        Pengalaman sensori menjadi penguasa
Karateristik: orang yang menderita halusinasi menyerah untuk mengalah melawan pengalamanya. Bentuk halusinasi menjadi suatu kebutuhan. Orang tersebut dapat mengalami hidup menyendiri jika pengalaman sosialnya berakhir (psycotic).
                        Perilaku yang dapat diobservasi:
a)      petunjuk yang berasal dari halusinasinya akan diikuti
b)      kesulitan bersosialisasi dengan orang lain
c)      perhatiannya hanya beberapa detik atau menit
d)     gejala-gejala fisik dari kecemasan berat seperti tremor, ketidakmampuan mengikuti petunjuk dan berkeringat
4)      Fase keempat: menaklukan-ansietas tingkat panik.
Biasanya menjadi terfokus dan menjadi berbaur dengan delusi.
Karakteristik: pengalaman sensori dapat menjadi ancaman ketika orang tersebut tidak mengikuti perintah. Halusinasi dapat berakhir dalam beberapa jam atau hari jika tidak ada intervensi terapetik (“psychotic berat”).     
                        Perilaku yang dapat di observasi:
a).    bentuk terol seperti panik
b).    potensial kuat untuk bunuh diri atau pembunuhan
c).    aktifitas fisik yang mengarah pada bentuk halusinasi seperti agitasi, tindakan kekerasan, menarik diri atau katatonia 
d).   tidak dapat berespon terhadap pengarahan atau petunjuk yang kompleks.
e).    tidak dapat berespon terhadap lebih dari satu orang.
c.        Rentang Respon
Respon perilaku klien dengan halusinasi dapat diidentifikasi sepanjang rentang respon.
Respon perilaku klien dengan halusinasi dapat diidentifikasi sepanjang rentang respon.


 

Respon adaptif                                                         Respon maladaptif  
- pikiran logis                          - Kadang proses                      - Ggn. Proses
pikir
      - Persepsi akurat                      - pikiran terganggu                  - Halusinasi
- Emosi konsisten                   - ilusi                                       - kerusakan proses
pikir dengan    pengalaman   
- perilaku cocok                       - Emosi berlebihan /                - Isolasi sosial
                                                        berkurang                             
      - Hubungan sosial harmonis    - perilaku yang tidak biasa
                                     ( stuart and sundeen 1998, hal.302 )
Respon adaptif dari kelima perubahan tersebut adalah sebagai berikut :
1).    Perubahan proses piker
Klien yang terganggu pikirannya sering berperilaku koheren.
2).    Perubahan pola persepsi
Persepsi dapat diartikan sebagai reaksi dari respon tubuh terhadap rangsangan dari luar, kemudian diikuti oleh pengenalan dan pemahaman tentang orang, benda dan lingkungan. Perubahan pola persepsi dapat terjadi pada satu atau lebih bagian tubuh yaitu pendengaran, pengecapan, perabaan, dan penciuman.
3).    Perubahan pada afek dan emosi
Afek berkaitan dengan emosi tubuh individu, perubahan afek terjadi karena pasien berusaha membuat jarak dengan perasaan tertentu. Perubahan afek yang biasa terjadi adalah datar, tumpul, tidak sesuai ,   berlebihan dan ambivalen.
4).    Perubahan motorik
Perilaku motorik dapat dimanifestasikandengan peningkatan atau penurunan kegiatan motorik, impulsif.
5).    Perubahan sosial
Perkembangan hubungan sosial yang tidak adekuat menyebabkan kegagalanindividu untuk belajar dan mempertahankan interaksi.


d.       Manifestasi Klinik
1)      Bicara senyum dan tertawa sendiri.
2)      Mengatakan mendengar sesuatu, melihat, menghidu, mengecap, dan merasa yang tidak nyata.
3)      Merusak diri sediri/orang lain/lingkungan.
4)      Tidak dapat membedakan hal yang nyata dan hal tidak nyata.
5)      Pembicaraan kacau, kadang tidak masuk akal,sikap curiga, dan bermusuhan.
6)      Tidak dapat memusatkan perhatian.
7)      Menarik diri, mengindari orang lain.
8)      Sulit membuat keputusan, ketakutan.
9)      Menyalahkan diri dan orang lain.
10)   Mudah tersinggung, jengkel, marah.
11)   Muka merah kadang pucat.
12)   Ekpersi wajah tegang.
e.        Jenis-jenis halusinasi
1).     Halusinasi pendengaran.
Pasien mendengar dan bunyi yang tidak berhubungan dengan stimulus nyata dan orang lain tidak mendengar.
2).    Halusinasi penglihatan.
Pasien melihat gambar yang jelas atau samara-samar tanpa stimulus yang nyata dan orang lain tidak melihat.
3).    Halusinasi penciuman.
         Pasien mencium bau yang muncul dari sumber tertentu tanpa stimulus yang nyata dan orang lain tidak mencium.
4).    Halusinasi pengecapan.
Pasien merasa makan sesuatu tanpa stimulus yang nyata dan orang lain tidak melihat pasien memakan sesuatu yang nyata.
5).    Halusinasi perabaan.
Pasien merasakan sesuatu pada kulitnya tanpa stimulus yang nyata.

B.     Asuhan Keperawatan
1.       Pengkajian
Pada tahap ini perawatan menggali faktor-faktor seperti predisposi, faktor predisposisi, perilaku, sumber koping dan mekanisme koping.
a.      Faktor predisposisi
Adalah faktor resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang dapat dibanngkitkan oleh individu untuk mengatasi stress. Hal dapat diperoleh baik dari klien maupun dari keluarganya mengenai faktor perkembangan, sosiokultural, biokimia, psikologis, biologi, yaitu faktor resiko yang mempengaruhi jenis dan jumlah sumber yang dapat dibangkitkan oleh individu untuk mengatasi stress:


1)      Faktor Perkembangan
Jika seseorangan mengalami hambatan dalam tugas perkembangan dan hubungan internasional dengan orang lain terganggu, maka individu akan dihadapi dengan stress dan kecemasaan pada dirinya.
2)      Faktor Sosialkultural
Berbagai faktor dan lingkungan dan di masyarakat dapat menyebabkan orang merasa diasingkan atau disingkirkan sehingga klien merasa kesepian dalam lingkungan dimana dia berada, walaupun dia ada dalam lingkungan sekitarnya yang ramai.
3)      Faktor Biokimia
Faktor biokimia ini mempunyai pengaruh terhadap terjadinya gangguan jiwa, dimana teori biokimia menyatakan adanya peningkatan dari dopamine neurotransmiter yang diperkirakan menghasilkan gejala penningkatan aktivitas yang berlebihan sehingga dapat menghasilkan zat halusinogenik.
4)      Faktor Psikologis
Hubungan interpersonal yang tidak harmonis akan mengakibatkan akan mengakibatkan stress dan kecemasan, orang yang mengalami psikosis akan mengakibatkan atau menghasilkan hubuhngan yang penuh dengan kecemasan tinggi. Peran ganda yang bertentangan dan sering diterima oleh anak mengakibatkan stress dan kecemasan yang tinggi dan berakhir dengan gangguan orientasi realita.
5)      Faktor biologi
Dalam Schizoprenia belum diketahui gen apa yang berpengaruh, tetapi hasil penelitia menunjukan bahwa faktor keluarga menujukan hubungan yang sangat berpengaruh pada penyakit ini.
b.      Faktor presipitasi
Yaitu stimulus yang diekspresikan oleh individu sebagai suatu tantangan, ancaman/tuntutan yang memerlukan energi ekstra yang digunakan untuk koping.
Adanya rangsangan lingkungan yang sering yaitu partisipasi klien dalam kelompok, terlalu lama diajak komunikasi, objek yang ada di lingkungan.
c.       Perilaku
Respon klien terhadap halusinogen dapat berupa curiga. Ketakutan perasaan tidak aman, gelisah, dan bingung, perilaku merusak diri, ancaman, dirinya atau orang lain. Oleh karena itu aspek penting dalam melaksanakan intervensi keperawatan yaitu dengan mengupayakan suatau proses interaksi yang menimbulkan pengalaman interpersonal yang memuaskan klien tidak menyendiri sehingga klien selalu berinteraksi dengan lingkungan dan halusinasi tidak berlangsung.
d.      Dimensi spiritual
Manusia diciptakan tuhan sebagai makhluk sosial, sehingga interaksi dengan manusia lainnya merupakan kebutuhan yang mendasar pada individu dengan halusinasi, indivi tersebut cenderung menyendiri hingga proses diatas tidak jadi, Individu tidak sadar akan keberadaannya dan halusinasi menguasai dirinya, individu tersebut kehilangan kontrol kehidupan dirinya.
e.       Sumber koping
Sumber koping seseorang individual dan alamiah serta tergantung pada luasnya gangguan neurobilogical. Sumber koping tersebut sebagai modal untuk memecahkan atau menyelesaikan masalah. Dukungan sosial dan keyakinan budaya serta dukungan keluarga, dapat membantu seseorang menginterprestasikan pengalaman yang menimbulkan stress dan mengadopsi strategi koping yang berhasil.
f.       Mekanisme Koping
Tiap upaya yang diarahkan pada pelaksanaan stress, termasuk upaya penyelesaian masalah langsung dan mekanisme pertahanan yang digunakan untuk melindungi diri. Dalam menghadapi rasa cemas pada klien halusinasi biasanya digunakan mekanisme proyeksi yang dapat memberikan kemampuan pada ego untuk mengatasi rangsangan yang mengancam dari luar sehingga mengurangi kecemasan.
g.      Manifestasi klinik
1)      Bicara senyum dan tertawa sendiri
2)      Mengatakan mendengar sesuatu, melihat, menghidu, mengecap, dan merasa sesuatu yang tidak nyata.
3)      Merusak diri sendiri/ orang lain / lingkungan
4)      Tidak dapat membedakan hal yang nyata dan hal yang tidak nyata
5)      Pembicaraan kacau, kadang tidak masuk akal, sikap curiga dan bermusuhan.
6)      Tidak dapat memusatkan perhatian
7)      Menarik diri,menghindari orang lain
8)      Sikap curiga dan bermusuhan
9)      Sulit membuat keputusan, ketakutan
10)   Menyalahkan diri dan orang lain
11)   Mudah tersinggung, jengkel, marah
Masalah keperawatan yang timbul pada klien sebagai berikut :
1)      Resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan
2)      Perubahan sensori persepsi :halusinasi pendengaran
3)      Kerusakan interaksi sosial :menarik diri
4)      Gangguan konsep diri :harga diri rendah
2.      Pohon Masalah (Kelliat Budi Anna, dkk, 1997)
Resiko menciderai diri sendiri: orang lain dan lingkungan





Perubahan sensori persepsi : halusinasi pendengaran
 



 



Kerusakan interaksi sosial: menarik diri

Gangguan konsep diri: harga diri rendah                               
3.      Diagnosa keperawatanan
a.       Resiko menciderai diri sendiri,orang lain dan lingkungan b/d halusinasi pendengaran.
b.      Perubahan sensori persepsi : halusinasi pendengaran b/d isolasi sosial, kerusakan interaksi sosial, menarik diri.
c.       Gangguan interaksi sosial: menarik diri b/d hargai diri rendah.
4.      Rencana tindakan keperawatan
Diagnosa I: resiko menciderai diri sendiri,orang lain dan lingkungan b/d halusinasi pendengaran.
Tujuan umum : klien tidak menciderai diri
Tujuan khusus:
a.       Klien dapat membina hubungan saling percaya
1)      sapa klien dengan ramah baik verbal dan non verbal
2)      perkenalkan diri dengan sopan
3)      tanyakan nama lengkap dan nama panggilan yang disukai klien.
4)      Jelaskan tujuan pertemuan
5)      Tunjukkan sikap empati dan menerima klien apa adanya
6)      Beri perhatian kepada klien danperhatikan kebutuhan dasar
b.      Klien dapat mengenal halusinasinya

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar