Senin, 18 April 2011

FRAKTUR


 


A.     KONSEP DASAR

  1. Pengertian
Fraktur adalah terputusnya kontuinitas keringan baik total/maupun sebagian, dimana terjadi kerusakan jaringan, perdarahan dan adanya spasme otot, penyebab terjadinya adalah trauma dan ada juga sekunder terhadap penyakit (Barbara Engram, 1993).

Fraktur adalah patah tulang yang disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik, kekuatan dan sudut dari tulang tersebut, tulang akan menentukan apakah fraktur yang terjadi itu lengkap atau tidak lengkap (Silvia Prince, 1995).

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa fraktur adalah terputusnya kontuinitas jaringan tulang baik total/sebagian dimana disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik atau kekuatan.

  1. Patofisiologi
a.      Etiologi
Penyebab utama terjadinya fraktur adalah trauma, kecelakaan lalu lintas, olah raga, dan latihan yang terlalu berat, kontribusi mal nutrisi juga akan meningkatkan terjadinya fraktur.

b.      Proses Penyakit
Faktor 4 penyebab utama/trauma
¯
Trauma
¯
Fraktur
¯
Bengkak, deformitas, nyeri.

Trauma yang keras yang berbenturan dengan benda tumpul maupun tajam dapat menyebabkan terjadinya fraktur, yang disertai gejala bengkak, deformitas dan nyeri setiap fraktur akan didapati tiga akibat lanjut fraktur tadi.

c.      Manifestasi Klinis
Tidak semua gejala ini terdapat secara bersamaan :
1.      Nyeri tekan.
2.      Deformities: angulasi dan pemendekan.
3.      Mobilitas abnormal: tempat patah menjadi sendi palsu.
4.      Bengkak.
5.      Spasme otot.

d.      Deskripsi Fraktur
Fraktur terbuka dan fraktur tertutup adalah istilah yang sering dipakai untuk menietaskan fraktur. Fraktur tertutup adalah fraktur dimana kulit tidak ditembus oleh figmen tulang sehingga tempat fraktur tidak tercemar oleh lingkungan. Sedangkan fraktru terbuka adalah dimana kulit dan ekstremitas yang terlibat telah ditembus.

e.      Klasifikasi patah tulang:
1)      Menurut keadaan fraktur :
-          Fraktur complete yaitu pemisahan tulang menjadi 2 fragmen.
-          Fraktur incomplet yaitu patah sebagian dari tulang.
-          Fraktur simple atau dorse yaitu tulang patah kulit utuh.
-          Fraktur komplikata yaitu tulang patah menembus kulit, tulang terlihat.
-          Fraktur tanpa perubahan posisi yaitu tulang patah, posisi pada tempat yang abnormal.
-          Committed fraktur tulang patah menjadi beberapa fragmen.
-          Impacted fraktur sala hsatu tulang yang patah menancap pada ujung yang lain.
2)      Menurut garis tulang :
-          Green stick, retak pada sebelah sisi dari tulang (sering terjadi pada anak dengan tulang yang lembut).
-          Transerxe patah yang menghilang.
-          Oblique patah yang miring.
-          Spiral patah tulang yang melingkari tulang.
-          Comminuted.

3.      Komplikasi
a.      Syok dan perdarahan.
b.      Trombo emboli karena mobilisasi dalam waktu lama.
c.      Infeksi, dapat terjadi pada semua jaringan tubuh, yang akan mengganggu sistem pertahanan tubuh hal ini disebabkan karena kerusakan jaringan supervisial yang menyebabkan abses.
d.      Hekrosis avaskuler disebabkan oleh aseptik, iskemik jaringan dan osteonekrosis yang disebabkan oleh gangguan suplay darah tulang.
e.      Delayed union, non union dan mal union adalah fraktur yang mengalami penyembuhan luka lamanya ± 6 bulan setelah injuri.
f.        Compartemen sindrom, mis kontraktur iskemik vokls mans dan carpaltoyspi syndrom

  1. Penatalaksanaan
a.      Medis
1)      Reduksi untuk memperbaiki kontuinitas tulang.
a)      Reduksi tertutup     : fragmen tulang disatukan dengan manipulasi dan traksi manual memperbaiki kesejajaran.
b)      Reduksi terbuka     : dengan fiksasi internal digunakan sampai tulang padat.

2)      Penggantian endoprostetik.
a)      Penggantian fragmen fraktur dengan alat logam terinplintasi.
b)      Digunakan bila fraktur terganggu nutrisi tulang atau pengobatan pilihan adalah pengganti tulang.
3)      Analgesik diberikan sesuai petunjuk untuk mengontrol nyeri pada paska operasi.
4)      Pembreian infeksi TT.



b.      Keperawatan
-          Penatalaksanaan kedaruratan dengan pembebatan fraktur di atas dan dibawah sisi cedera memberikan kompres dingin dan meningkatkan/meninggikan tungkai untuk menurunkan edema.
-          Kontrol perdarahan dan memberi pengganti cairan untuk mencegah syok.
-          Traksi digunakan untuk fraktur tulang panjang.
-          Fiksasi eksterna untuk menstabilkan fraktur kompleks dan terbuka dengan penggunaan kerangka logam dan sistem pen.


B.     ASUHAN KEPERAWATAN

  1. Pengkajian
Pada klien dengan fraktur akan didapati data :
a.      Pemeriksaan fisik berdasarkan neurovaskular dari fraktur anggota gerak menyatakan :
1.      Nyeri pada lokasi fraktur terutama pada saat digerakkan.
2.      Pembengkakan.
3.      Pemendekatan ekstemitas yang sakit.
4.      Paralisis (kehilangan daya gerak).
5.      Angulasi ekstremitas yang sakit.
6.      Chepitasi (sensasi kripik yang ditimbulkan bila mengalpasi patahan tulang).
7.      Spasme otot.
8.      Pralese (penurunan sensasi).
9.      Pucat pada bagian distal disertai nadi tak ada pada lokasi fraktur bila aliran darah arteri terganggu oleh fraktur.
b.      Mengkaji riwayat imunisasi tetanus bila ada fraktur yang terbuka.
c.      Kemampuan untuk melakukan aktivitas kebutuhan sehari-hari sebagai contoh: mandi, toilet raning, makan, dan berpakaian (mengkaji).
d.      Aktivitas istirahat, kehilangan fungsi efektif.
e.      Sirkulasi : hipertensi (sebagai respon dari nyeri/luka) atau hipotensi (kehilangan darah/pendarahan).
f.        Saraf kehilangan pergerakan/kontraktur, otot spasme, ketakutan (parathesia).
g.      Nyeri, nyeri yang tiba-tiba dari fraktur mungkin dapat lokal pada area jaringan (tulang) yang mengalami kerusakan dapat mengakibatkan imobilitas, nyeri tidak ada pada syaraf yang rusak.
h.      Keamanan, adanya laserasi pada kulit, perubahan warna kulit.
i.         Pemeriksaan diagnostik.
Foto sinar-X dari extremitas yang sakit dan lokasi fraktur.

  1. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul menurut Teori :
a.      Resiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan kehilangan integritas tulang.
b.      Nyeri berhubungan dengan cidera pada jaringan lunak.
c.      Resiko tinggi terhadap disfungsi neuroxaskuler perifer berhubungan dengan cidera vaskular langsung.
d.      Resiko tinggi terhadap kerusakan perturakan gas berhubungan dengan perubahan aliran darah.
e.      Kerusakan mobilisasi fisik berhubungan dengan nyeri/ ketidaknyamanan, kerusakan neorovaskular.
f.        Gangguan kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pilem.
g.      Resiko infeksi berhubungan dengan trauma jaringan.
h.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi.

  1. Intervensi Keperawatan
a.      Resiko tinggi terhadap trauma berhubungan dengan kehilangan integritas tulang.
Tujuan              :  Mempertahankan stabilisasi dan posis fraktur.
Kriteria Hasil    :  -   Menunjukkan mekanika tubuh yang meningkat stabilisasi pada sisi fraktur.
-       Menunjukkan pembentukan kalus/mulai penyatuan fraktur dengan tepat.
Intervensi
-          Pertahankan tirah baring/ekstremitas sesuai indikasi. Berikan sokongan sendi di atas dan di bawah fraktur bila bergerak/membalik.
R /  : Meningkatkan stabilitas, menurunkan kemungkinan gangguan posisi/penyembuhan.
-          Letakkan papan di bawah tempat tidur/tempatkan pasien pada tempat tidur ortopedik.
R /  : Tempat tidur lembut atau lentur dapat membuat deformasi gips yang masih basah.
Gips/Bebat.
-          Sokong fraktur dengan bantal/gulungan selimut, pertahankan posisi netral pada bagian yang sakit dengan bantal pasir, pembebat, gulungan trokanter, papan kaki.
R /  : Mencegah gerakan yang tidak perlu dan perubahan posisi. Posisi yang tepat dari bantal juga dapat mencegah tekanan deformitas pada gips yang ada/kering.
-          Tugaskan petugas yang cukup untuk membalikan pasien. Hindari gangguan papan abduksi untuk membalik pasien dengan gips spika.
R /  : Gips panggul/tubuh atau multipel dapat membuat berat dan tidak praktis secara ekstremitas kegagalan untuk menyokong ekstremitas yang di gips dapat menyebabkan gips patah.
Traksi
-          Pertahakan posisi/integritas traksi.
R /  : Traksi memungkinkan tarikan pada aksis panjang fraktur tulang dan mengatasi ketegangan otot/pemendekan untuk memudahkan posisi/penyaktuan. Traksi tulang (pengkawat tegangan) memungkinkan penggunaan berat lebih besar untuk penarikan traksi daripada digunakan untuk jaringan kulit.
Kolaborasi
-         Kaji ulang foto/evaluasi
R /  : Memberikan bukti visual mulainya pembentukan kalus/proses penyembuhan untuk menentukan tingkat aktivitas dan kebutuhan perubahan/tambahan terapi.

b.      Nyeri berhubungan dengan cidera pada jaringan lunak.
Tujuan              :  Menyatakan nyeri tulang.
Kriteria Hasil    :  -   Menunjukkan tindakan santai, mampu berpartisipasi dalam aktivitas / tidur / istirahat dengan cepat.
-       Menunjukkan penggunaan keterampilan relaksasi dan aktivitas terapeutik sesuai indikasi untuk situasi individual.
Intervensi
-          Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring, gips, pembebat, traksi.
R /  : Menghilangkan nyeri dan mencegah kesehatan posisi tulang/jaringan yang cidera.
-          Tinggikan dan dukung ekstremitas yang terkena.
R /  : Meningkatkan aliran balik vena, menurunkan edema, dan menurunkan nyeri.
-          Hindari penggunaan sprei/bantal plastik dibawah ekstremitas dalam gips.
R /  : Dapat meningkatkan ketidaknyamanan karena peningkatan produksi panas dalam gips yang kering.
-          Evaluasi keluhan nyeri/ketidaknyamanan, perhatikan lokalisasi dan karakteristik.
R /  : Memberikan pilihan/pengawasan keefekfitan intervensi, tingkat ansietas dapat mempengaruhi persepsi/reaksi terhadap nyeri.
-          Dorong pasien untuk mendiskusikan masalah sehubungan dengan cidera.
R /  : Membantu untuk menghilangkan ansietas. Pasien dapat merasakan kebutuhan untuk menghilangkan pengalaman kecelakaan.
-          Jelaskan prosedur sebelum memulai tindakan.
R /  : Memungkinkan pasien untuk siap mental untuk aktivitas, juga memotivasi dalam mengontrol tingkat ketidaknyamanan.
-          Berikan obat sebelum perawatan aktivitas.
R /  : Meningkatkan relaksasi otot dan meningkatkan partisipasi.
-          Dorong meningkatkan teknik manajemen stress, ex : relaksasi progresif dan latihan napas dalam.
R /  : Memfokuskan kembali perhatian, meningkatkan rasa kontrol dan dapat meningkatkan kemampuan koping dalam manajemen nyeri, yang mungkin menetap untuk periode lama.
Kolaborasi
-         Berikan obat sesuai indikasi : narkotik dan analgesik non narkotik.
R /  : Diberikan untuk menurunkan nyeri dan spasme otot.

c.      Resiko tinggi terhadap disfungsi neurovaskuler perifer berhubungan dengan cidera vaskuler langsung.
Kriteria Hasil    :  Mempertahankan perfusi jaringan dibuktikan adanya rodi, kulit hangat/kering.
Intervensi
-          Adanya evaluasi/kualitas rod porifer distal terhadap cidera melalui palpasi. Bandingkan dengan ekstremitas yang sakit.
R /  : Penurunan/tak adanya rodi dapat menggambarkan cidera vaskuler dan perlunya evaluasi medik segera terhadap sirkulasi.
-          Kaji aliran kapiler, warna kulit dan kehangatan distal pada fraktur.
R /  : Kembalinya warna harus cepat (3-5 detik) warna kulit putih menunjukkan gangguan arterial scanosis diduga adanya gangguan vena.
-          Lakukan pengkajian neuromuskuler, perhatikan perubahan fungsi motor/sensori, minta pasien untuk melokalisasi nyeri/ ketidaknyamanan.
R /  : Gangguan perasaan kebas, kecemutan, peningkatan/ penyebaran nyeri terjadi bila sirkulasi pada saraf tidak adekuat atau saraf rusak.
-          Tes sensasi saraf perifer dengan menusuk pada kedua selaput antara ibu jari pertama dan kedua dan kaji kemampuan untuk dorsfleksi ibu jari bila diindikasikan.
R /  : Panjang dan posisi saraf perineal meningkatkan resiko cidera pada adanya fraktur kaki.
-          Kaji jaringan sekitar akhir gips untuk titik yang kasar/tekanan, selidiki keluhan rasa terbakar di bawah gips.
R /  : Faktor ini disebabkan atau mengindikasikan tekanan jaringan/iskemia menimbulkan kerusakan/rekrosis.
Kolaborasi
-         Berikan kompres es sekitar fraktur sesuai indikasi.
R /  : Menurunkan edema/pembentukan hematoma yang dapat mengganggu sirkulasi.

d.      Resti terhadap kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan perubahan aliran darah.
Kriteria Hasil    :  Mempertahankan fungsi pernapasan adekuat, dibuktikan oleh tidak adanya dispnea/sianosis, frekuensi pernapasan dan GDA dalam batas normal.
Intervensi
-          Awasi frekuensi pernapasan dan upayanya, perhatikan stridor dan penggunaan otot bantu retraksi, terjadinya sianosis sentral.
R /  : Takiphea dan dispnea perubahan dalam mental dan tanda dini insupisrensi pernapasan dan mungkin adanya indikator terjadinya emboli paru tahap awal.
-          Auskultasi bunyi nafas, perhatikan adanya ketidaksamaan bunyi.
R /  : Perubahan dalam/adanya bunyi oduentisius menunjukkan terjadinya komplikasi pernapasan.
Contoh : atelektasis, pneumonia; emboli paru.
-          Atasi jaringan cidera/tulang dengan lembut, khususnya selama beberapa hari pertama.
R /  : Meningkatkan/dapat mencegah terjadinya emboli lemak (terlihat pada 12/2 jam).
-          Instruksikan dan bantu dalam latihan nafas dalam dan batuk. Reposisi dengan sering.
R /  : Meningkatkan vertilisasi alveolar dan perfusi. Reposisi meningkatkan drainase sekret dan menurunkan korgesti pada area paru dependen.
-          Perhatikan peningkatan kegelisahan, kacau, letargi, stupor.
R /  : Gangguan pertukaran gas/adanya emboli paru dapat menyebabkan penyimpangan pada tingkat kesadaran pasien.
Kolaborasi
-         Awasi pemeriksaan laboratorium, contoh: seri GOA.
R /  : Menurunkan Pa D2 dan peningkatan Pa Go2 menunjukkan gangguan pertukaran gas/terjadinya kegagalan.
-         Hb, kalsium, IED, lipase serum, lemak, trombosit.
R /  : Anemia hipokalsemia, peningkatan IED, dan kadar lipase, gelembung lemak dalam darah/urine/sputum dan penurunan jumlah trombosit sering berhubungan dengan emboli lemak.

-         Berika nobat sesuai indikasi.
·         Heparin dosis rendah
R /   :  Blok siklus pembekuan dan mencegah bertambahnya pembekuan pada adanya tromboflebitis.
·         Kortikosteroid
R /   :  Steroid telah digunakan dengan beberapa keberhasilan untuk mencegah/mengatasi emboli lemak.

e.      Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ ketidaknyamanan, kerusakan neuromuskuler.
Tujuan              :  Meningkatkan/mempertahankan mobilitas pada tingkat paling tinggi yang mungkin.
Kriteria Hasil    :  -   Mempertahankan posisi/fungsional.
-       Meningkatkan kekuatan/fungsi yang sakit dan mengkompensasi bagian tubuh.
-       Menunjukkan adanya teknik yang memampukan melakukan aktivitas.
Intervensi
-          Kaji derajat imobilisasi yang dihasilkan oleh cidera/pengobatan dan perhatikan persepsi pasien terhadap imobilisasi.
R /  : Pasien mungkin dibatasi oleh pandangan diri/persepsi diri tentang keterbatasan fisik aktula, memerlukan informasi/ intervensi meningkatkan kesehatan.
-          Instruksikan pasien untuk/bantu dalam rentang gerak pasien/aktif pada ekstremitas yang sakit dan yang tidak sakit.
R /  : Meningkatkan aliran darah ke otot dan tulang untuk meningkatkan tonus otot, mempertahankan gerak sendi mencegah kontraktur / attopi dan resopsi kalsium.
-          Bantu / dorong perawatan diri / kebersihan, contoh : mandi, bercukur.
R /  : Meningkatkan kekuatan otot dan sirkulasi, meningkatkan kontrol pasien dalam situasi dan meningkatkan kesehatan diri langsung.
-          Berikan/bantu dalam mobilisasi dini dengan kursi roda, kruk, tongkat, instruksikan keamanan dalam menggunakan alat mobilitas.
R /  : Mobilisasi dini menurunkan komplikasi tirah baring (ex : flebitis) dan meningkatkan penyembuhan dan normalisasi fungsi organ. Belajar memperbaiki cara menggunakan alat penting untuk mempertahankan mobilisasi optimal dan keamanan pasien.
-          Awasi TD dengan melakukan aktivitas, perhatikan keluhan pusing.
R /  : Hipotensi postural adalah masalah umum menyertai tirah baring lama dan dapat memerlukan intervensi khusus (contoh kekeringan meja dan peninggian secara bertahap sampai posisi tegak).
-          Ubah posisi secara periodik dan dorong untuk latihan batuk/nafas dalam.
R /  : Mencegah/menurunkan insiden komplikasi kulit/pernafasan.
-          Dorong peningkatan masukan cairan samal 2000-3000 ml/hari.
R /  : Mempertahankan hidrasi tubuh, menurunkan resiko infeksi urinarius pembentukan batu dan konstipasi.
Kolaborasi
-         Konsul dengan ahli terapi fisik/okupasi dan rehabilitasi spesialis.
R /  : Berguna dalam membuat aktivitas individual/program latihan.
-         Lakukan program defekasi (pelurak feces, edema, laksatif).
R /  : Dilakukan untuk meningkatkan evakuasi usus.

-         Rukus keperawatan spesialis psikratik/ahli terapi sesuai indikasi.
R /  : P/atau orang terdekat memerlukan tindakan intensif lebih untuk menerima kenyataan kondisi/prognosis, mobilisasi lama, mengalami kehilangan kontrol.

f.        Resiko kerusakan integritas kulit berhubungan dengan cidera tusuk, fraktur terbuka.
Tujuan              :  Menyatakan ketidaknyamanan hilang.
Kriteria Hasil    :  -   Menunjukkan perilaku / teknik mencegah kerusakan kulit / memudahkan penyembuhan sesuai indikasi.
Intervensi
-          Kaji kulit untuk luka terbuka, benda asing, kemerahan.
R /  : Memberikan informasi tentang sirkulasi kulit dan masalah yang mungkin yang disebabkan oleh alat/pemasangan gips/bebat.
-          Ubah posisi dengan sering.
R /  : Mengurangi tekanan konstan pada area yang sama dan meminimalkan resiko kerusakan kulit.
-          Observasi untuk potensial area yang tertekan.
R /  : Tekanan dapat menyebabka ulserasi.
-          Letakkan bantalan pelindung di bawah kaki dan di atas tonjolan tulang.
R /  : Meminimalkan tekanan pada area ini.
Kolaborasi
-         Gunakan tempat tidur busa.
R /  : Karena mobilisasi bagian tulang lebih dari area yang sakit oleh gips mungkin sakit karena penurunan sirkulasi.

g.      Resiko infeksi berhubungan dengan trauma jaringan.
Tujuan              :  Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu, bebas drainase purulen, eri temo dan demam.
Kriteria Hasil    :  Mencapai penyembuhan luka sesuai waktu, bebas drainase purulen, eri temo dan demam.
Intervensi
-          Inspeksi kulit adanya iritasi atau cobekan kontiruitas.
R /  : Pen/kawat tidak harus dimasukkan melalui kulit yang terinfeksi, kemerahan atau obrasi (dapat menimbulkan infeksi tulang).
-          Observasi luka untuk pembentukan bula, krepitasi, perubahan warna kulit kecoklatan, bau drainase yang tidak enak/asam.
·         Bantu klien teknik mobilisasi.
R /  : Membantu perawatan diri dan kemandirian pasien, pemindahan yang tepat mencegah operasi kulit.
-          Lakukan/bantu gerak pada sendi tak sakit.
R /  : Pasien dengan penyakit degenerasi sendi dapat secara tepat kehilangan fungsi sendi edema selama periode pembatasan.
·         Dorong partisipasi aktivitas sehari-hari.
R /  : Meningkatkan harga diri, meninggikan kontrol dan kemandirian.
Kolaborasi
-         Konsul pada teorapi fisik/kejuruan, ahli rehabilitasi.
R /  : Berguna dalam membuat program aktivitas (latihan individual). Pasien dapat memerlukan bantuan lanjut dalam pergerakan, peregangan dan aktivitas beban serta alat bantu contoh: walker, kruk, tongkat, peninggalan dudukan kakus, dan mengangkat.



DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, Marilyn E. et. all, 1999, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakarta, EGC.
Enggram Barbara, 1998, Perawatan Medikal Bedah, Jakarta, EGC.
Prince Sylvia  A. et. all, 1995, Patofisiologi, Edisi 4, Jakarta, EGC.
Mansloer Arif, 2002, Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3 Jilid 2, Jakarta, EGC.
Nettina Sandra  M, 2003, Pedoman Praktek Keperawatan, Jakarta, EGC.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar