Rabu, 20 April 2011

Makalah


BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Angka Kematian Bayi (AKB) dan Angka Kematian Balita (AKABA) merupakan indikator dari pencapaian derajat kesehatan anak di Indonesia. AKB adalah jumlah bayi usia 0-1 tahun yang meninggal dari 1000 kelahiran hidup dalam satu tahun, sedangkan AKABA adalah jumlah anak usia 0-5 tahun yang meninggal dari 1000 balita yang hidup dalam satu tahun. Program pembangunan kesehatan di Indonesia dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2005 – 2009, salah satu sasarannya adalah menurunnya angka kematian bayi dari 35 menjadi 26 per 1.000 kelahiran hidup (www.depkes.go.id)
Berdasarkan data dari Survey Kesehatan Nasional didapatkan data AKB berturut-turut pada tahun 2001 sebesar 50 per 1.000 kelahiran hidup dan pada tahun 2002 sebesar 45 per 1.000 kelahiran hidup serta pada tahun 2003 sebesar 35 per 1000 kelahiran hidup, sementara itu AKABA di Indonesia pada tahun 1995 sebesar 73 per 1.000 kelahiran hidup, turun menjadi 64 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 1998. Pada tahun 2001 AKABA tersebut tidak mengalami perubahan yaitu tetap 64 per 1.000 kelahiran hidup namun pada tahun 2003 menurun menjadi 46 per 1000 kelahiran hidup (ridwanamiruddin.wordpress.com).
Permasalahan di Negara berkembang seperti Indonesia adalah kematian bayi dan anak kebanyakan terjadi karena penyakit infeksi yang sebenarnya masih bisa dicegah dengan imunisasi atau disebut penyakit dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Imunisasi merupakan salah satu cara yang efektif dan efisien dalam mencegah penyakit dan merupakan bagian kesehatan preventif yang mendapatkan prioritas (Markum, 2002). Adapun tujuan imunisasi adalah merangsang sistem imunologi tubuh untuk membentuk antibodi spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) (syehaceh.wordpress.com).
Sampai saat ini ada tujuh penyakit infeksi pada anak yang dapat menyebabkan kematian dan cacat, walaupun sebagian anak dapat bertahan dan menjadi kebal. Ketujuh penyakit tersebut dimasukkan pada program imunisasi yaitu penyakit tuberkulosis, difteri, pertusis, tetanus, polio, hepatitis-B dan campak (ridwanamiruddin.wordpress.com).
Keberhasilan program imunisasi dapat diketahui dengan melihat cakupannya. Cakupan imunisasi dinyatakan dalam persentase. Semakin besar persentasenya menandakan cakupan imunisasi atau keberhasilan imunisasi itu semakin baik (Notoatmodjo, 2005).
 Cakupan imunisasi pada bayi di Jawa Barat tahun 2007 mencapai 79,97% dari 934.279 target bayi. Di Kabupaten Bandung cakupan imunisasi pada tahun 2007 mencapai 90,13% dari 26.229 target bayi dan pada tahun 2008 menurun menjadi 82,94% dari 26.378 target bayi. Dari data yang didapatkan penulis di Puskesmas Kecamatan Cibiru tentang cakupan imunisasi dasar lengkap bayi usia 0-1 tahun pada tahun 2007 total cakupan di Puskesmas tersebut sebesar 93,52% dari jumlah target bayi sebanyak 1814 bayi. Hal itu berarti bahwa sekitar 6,48% atau sekitar 118 bayi tidak diimunisasi secara lengkap, sedangkan cakupan imunisasi tahun 2008 sebesar 93,57% dari jumlah target yang sama, terjadi peningkatan yang tidak terlalu besar.
Dalam Profil Kesehatan Kabupaten Bandung Tahun 2008 di targetkan bahwa target cakupan imunisasi setiap desa di Kabupaten Bandung minimal 80%. Sehingga dari data-data diatas dapat disimpulkan bahwa hanya satu desa yang cakupan imunisasinya tidak sesuai target Profil Kesehatan Kabupaten Bandung Tahun 2008 yaitu Desa Pasirbiru.

Keperawatan sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan mempunyai peranan yang penting dalam meningkatkan derajat kesehatan anak, hal ini dilandasi oleh pelayanan keperawatan yang konprehensif dan universal (Lokakarya Keperawatan Nasional dalam Kusnanto, 2003). Menurut Kozier & Erb dalam Kusnanto (2003) ada empat area pelayanan keperawatan yaitu meliputi promotif, preventif, curative dan rehabilitative. Kegiatan keperawatan yang dapat dilaksanakan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan anak adalah dengan pemberian imunisasi secara lengkap yang bertujuan untuk mencegah dan memberantas penyakit menular (Nakita, 2006).

Berdasarkan penelitian sebelumnya oleh Lisma Purwanti (2007), terdapat hubungan dengan kategori sedang antara pengetahuan ibu dengan tindakan ibu untuk mengimunisasikan anak usia infant (0-1 tahun), dari penelitian tersebut didapatkan koefisien kontingensi sebesar 0,427 dan OR sebesar 11,429 sehingga dapat diartikan bahwa ibu yang pengetahuan tentang imunisasinya kurang baik memiliki resiko 11 kali untuk tidak mengimunisasikan anaknya secara lengkap dari pada ibu yang pengetahuan tentang imunisasinya baik.
Motivasi merupakan akibat dari interaksi seseorang dengan situasi tertentu yang dihadapinya, sehingga terdapat perbedaan dalam kekuatan motivasi yang ditunjukan oleh seseorang dalam menghadapi situasi tertentu dibandingkan dengan orang lain dalam menghadapi situasi yang sama. Motivasi dapat bersumber dari dalam diri individu atau disebut motivasi intrinsik dan dapat pula bersumber dali luar individu itu sendiri atau disebut motivasi ekstrinsik (Siagian, 2004).
Berdasarkan fenomena dan data-data diatas, maka peneliti memilih motivasi ibu dan perilaku ibu sebagai bahan untuk diteliti sehingga peneliti tertarik untuk mengadakan penelitian dengan judul “Pengaruh Motivasi Ibu Untuk Mengimunisasikan Dasar Pada Anak Di Desa Pasir Biru Tahun 2009“.
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana pengaruh antara motivasi ibu untuk mengimunisasikan dasar pada anak di Desa Pasir Biru Tahun 2009.
1.3.2 Tujuan Khusus
1)      Diketahuinya motivasi ibu yang mempunyai anak di Desa Pasir Biru tahun 2009 untuk melakukan imunisasi dasar anaknya secara lengkap.
2)      Diketahuinya tindakan ibu dalam mengimunisasikan dasar pada anak. Diketahuinya pengaruh antara motivasi ibu untuk mengimunisasikan dasar pada anak di Desa Pasir Biru Tahun 2009. Jika terdapat hubungan bagaimanakah hubungan tersebut dan berapakah nilai odd ratio nya.
1.4  Manfaat
Melalui penelitian tentang pengaruh antara motivasi ibu untuk mengimunisasikan dasar pada anak di Desa Pasir Biru Tahun 2009, diharapkan berguna bagi:
1.4.1   Bagi Instansi Penelitian
Sebagai data dasar dalam bidang imunisasi bagi pihak Puskesmas dan Institusi terkait yang dapat digunakan untuk mengambil keputusan secara bijaksana sehingga dapat lebih meningkatkan kualitas pelayanannya terutama dalam hal motivasi untuk melakukan imunisasi dasar sehingga dapat meningkatkan cakupan imunisasi dasar.
1.4.2   Bagi Peneliti
Penelitian ini merupakan sarana untuk menerapkan ilmu dan teori yang diperoleh dalam rangka menambah wawasan, salah satunya untuk mengetahui hubungan antara motivasi ibu dengan tindakan ibu untuk mengimunisasikan dasar pada anak usia infant (0 – 1 tahun).
1.4.3   Bagi Instansi Pendidikan
Penelitian ini diharapkan memberikan manfaat sebagai bahan referensi atau bacaan bagi mahasiswa/i untuk melakukan penelitian yang lebih lanjut terutama untuk penelitian tentang hal-hal yang berhubungan dengan imunisasi dasar pada anak usia infant.

1.5  Kerangka Pemikiran

Keperawatan sebagai bagian integral dari pelayanan kesehatan mempunyai peranan yang penting dalam meningkatkan derajat kesehatan anak, hal ini dilandasi oleh pelayanan keperawatan yang konprehensif dan universal (Lokakarya Keperawatan Nasional dalam Kusnanto, 2003). Menurut Kozier & Erb dalam Kusnanto (2003) ada empat area pelayanan keperawatan yaitu meliputi promotif, preventif, curative dan rehabilitative. Kegiatan keperawatan yang dapat dilaksanakan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan anak adalah dengan pemberian imunisasi secara lengkap yang bertujuan untuk mencegah dan memberantas penyakit menular (Nakita, 2006).

Imunisasi merupakan salah satu cara yang efektif dan efisien dalam mencegah penyakit dan merupakan bagian kesehatan preventif yang mendapatkan prioritas (Markum, 2002). Adapun tujuan imunisasi adalah merangsang sistem imunologi tubuh untuk membentuk antibodi spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). (syehaceh.wordpress.com [15/09/08]).
Selain peran petugas kesehatan dalam upaya pencapaian derajat kesehatan anak, peran keluarga pun berpengaruh terhadap hal tersebut. Pemenuhan kebutuhan imunisasi anak dipengaruhi oleh peran dan fungsi keluarga yaitu fungsi keluarga untuk memelihara dan merawat anggota keluarganya. Terpenuhinya cakupan imunisasi sangat tergantung dari peran seorang ibu. Peran yang sangat penting diantaranya adalah peran serta aktif ibu yang bertanggung jawab terhadap kesehatan anaknya, khususnya perilaku ibu untuk mengimunisasikan anaknya. (Effendi, 1998).
Menurut John P Elder yang dikutip dari Notoatmodjo (2005) mengatakan bahwa untuk berperilaku sehat diperlukan tiga hal yaitu pengetahuan yang tepat, motivasi, dan keterampilan untuk berperilaku sehat.
Motivasi merupakan akibat dari interaksi seseorang dengan situasi tertentu yang dihadapinya, sehingga terdapat perbedaan dalam kekuatan motivasi yang ditunjukan oleh seseorang dalam menghadapi situasi tertentu dibandingkan dengan orang lain dalam menghadapi situasi yang sama. Motivasi dapat bersumber dari dalam diri individu atau disebut motivasi intrinsik dan dapat pula bersumber dali luar individu itu sendiri atau disebut motivasi ekstrinsik (Siagian, 2004).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar