Senin, 08 Agustus 2011

LAPORAN PENDAHULUAN UROLITIASIS

 
  1. Pengertian

Urolitiasis ( batu ginjal ) adalah bentuk deposit mineral, paling umum oksalat Ca2+ dan fosfat Ca2+, namun asam urat dan kristal lain juga pembentuk batu .(Marylin E. Doenges.2000: 686)
Urolitiasis ( batu perkemihan ) merupakan penyakit pada saluran perkemihan yang timbul  pada berbagai tingkat dari sistem perkemihan ( ginjal ureter, kandung kemih ), tapi yang paling sering ditemukan di dalam ginjal ( nefrolitiasis ) yang memperlihatkan sering timbul pembentukan batu . ( Barbara C. long.1996 : 322 )
Dari beberapa pengertian diatas penulis menarik kesimpulan urolitiasis adalah suatu penyakit pada saluran perkemihan terutama ditemukan dalam ginjal dimana terdapat pembentukan batu.

  1. Anatomi, Fisiologi dan Partografi
*      Anatomi sistem urinarius
Ginjal merupakan organ yang berpasangan  dan setiap ginjal memiliki berat ± 125 gram, terletak pada posisi dierbelah lateral vertebra torakalis bawah . Organ ini terbungkus oleh jaringan ikat tipis yang dikenal sebagai kapsula renis. Darah dialirkan ke dalam setiap ginjal melalui arteri renalis dan keluar dari ginjal melaui vena renalis. Arteri renalis diperdarahi dari aorta abdomonalis dan vena renalis membawa kembali ke dalam vena kava inferior.
Urine terbentuk dalam unitr-unit fungsional ginjal yang disebut nefron. Urine yang terbentuk dalam nefron akan mengalir ke dalam duktus pengumpul dan pelvis renal yang kemudian  menyatu untuk membentuk ginjal. Setiap pelvis ginjal membentuk ureter merupakan pipa panjang dengan dinding yang sebagian besar terdiri atas otot polos. Organ ini menghubungkan setiap ginjal dengan kandung kemih dan berfungsi sebagai pipa untuk menyalurkan urine.
Kandung kemih merupakan organ berongga yang terletak di sebelah anterior tepat di belakang umbilicus. Organ ini berfungsi sebagia wadah sementara untuk menampung urine. Sebagian besar dinding kandung kemih tersusun dari otot polos  yang dinamakan musculus destrussor. Kontraksi ini terutama berfungsi untuk mengosongkan kandung kemih pada saat BAK. Uretra muncul dari kandung kemih, pada umumnya uretra berjalan lewat penis pada pria dan pada wanita berada tepat di sebelah anterior vagina..
Nefron .Ginjal terbagi menjadi bagian eksternal yang disebut korteks dan bagian internal yang dikenal sebagai medulla. Nefron, yang dianggap sebagai unit fungsional ginjal, terdiri atas sebuah glomerulus dan sebuah tubulus. Glomerulus membentuk tubulus yang terbagi menjadi 3 bagian : tubulus proksimal, ansa henle, tubulus distal. Tubulus distal bersatu untuk membentuk duktus pengumpul. Duktus ini berjalan lewat korteks dan medulla renal untuk mengosongkan isinya ke dalam pelvis ginjal.
*      Fungsi Ginjal
·         Pengatur ekskresi air
·         Pengatur ekskresi elektrolit
·         Pengatur ekskresi asam dan basa
·         Pengeluaran zat – zat toksin/ racun
·         Pengeluaran produk akhir metabolisme ( ureum, kreatinin, fosfat dan sulfat )
*      Partrografi

















  1. Patofisiologi
Batu dalam perkemihan berasal dari obstruksi saluran kemih, obstruksi mungkin hanya parsial atau lengkap. Obstruksi yang lengkap bisa menjadi hidronefrosis yang disertai tanda-tanda dan gejala-gejalanya.
Proses patofisiologi dari batu perkemihan atau urolitiasis sifatnya mekanis Urolitiasis merupakan kristalisasi dari mineral dari matriks seputar, seperti pus, darah, jaringan yang tidak vital,tumor atau urat. Komposisi mineral dari batu ginjal bervariasi. Kira-kira ¾ bagian dari batu adalah kalsium, fosfat, asam urin,dan custine. Peningkatan konsentrasi larutan urin akibat dari intake cairan rendah dan juga peningkatan bahan- bahan organic akibat infeksi saluran kemih atau urin statis, mensajikan sarang untuk pembentukan batu. Ditambah ada infeksi meningkatakan kebasaan urin (oleh produksi ammonium), yang berakibat prepitasi kalsium fosfat dan magnesium ammonium fosfat.

  1. Manifestasi Klinik
·         Rasa nyeri (kolik renal)
·         Hematuri
·         Berkemihnya sering tapi sedikit-sedikit sekali
·         Pada saat berkemih keluar batu
·         Peningkatan TD/nadi (nyeri, ansietas, gagal ginjal)
·         Kulit hangat dan kemerahan; pucat
·         Oliguria, piuria
·         Distensi abdominal; penurunan atau tak ada bising usus
·         Muntah
·         Nyeri tekan pada area ginjal saat dipalpasi
·         Demam, menggigil
·         Kandung kemih penuh
·         Rasa terbakar




  1. Pemeriksaan Diagnostik
    1. Urinalisis
Untuk menentukan terdapatnya silinder, kristal dan sel-sel darah, kultur untuk mengetahui infeksi saluran kemih dan jumlah urinnya dikumpulkan selama 24 jam untuk mengukur kadar kalsium oksalat, phosporus, dan asam urin.
    1. Pemeriksaan urin Nitroprusside
Dilakukan untuk mencek terdapatnya cystine
    1. BUN dan serum kreatinin
Untuk menentukan fungsi renal.
    1. IVP
Untuk memperlihatkan dilatasi ureter diatas batu yang menyumbat
    1. USG
Untuk mengetahui Hidronefrosis
    1. X-ray
Untuk mendeteksi batu kalsium.
    1. Studi Radiografi
Untuk membilas batu yang kecil sekali

  1. Manajemen Medik
Berikan obat sesuai indikasi:
    1. Antispasmodik, contoh : flavoksat (uripas), oksibutin (ditrofan)
Untuk menurunkan reflek spasme, dapat menurunkan kolik dan nyeri.
    1. Narkotik, contoh Meperidin (Demerol), morfin
Biasanya diberikan pada episode akut untuk menurunkan kolik uretral dan meningkatkan relaksasi otot atau mental.
    1. Kortikosteroid
Digunakan untuk menurunkan eema jaringan dalam membantu gerakan batu.
    1. Asetazolamid (diamox)
Untuk meningkatkan pH urin, untuk menurunkan pembentukan batu asam
    1. Amonium klorida
Menurunkan pembentukan batu fosfat
    1. Hidroklorotiazid (hidroiuril)
Mencegah stasis urin dan menurunkan pembentukan batu kalsium.
    1. Alopurnol (ziloprim)
Menurunkan produksi asam urat.
    1. Antibiotik
Adanya ISK atau alkali urin potensial pembentukan batu.
    1. Pyelolitotomi terbuka atau perkutaneus, Nefrolitotomi, Ureterolitotomi
Untuk membuang batu yang terlalu besar melewati ureter.
    1. Litotripsi Ultrasonik Perkutaneus
Tindakan gelombang syok infasif untuk batu pelfik atau uretra atas.
    1. Litotripsi gelombang syok eksta corporeal
Menghancurkan batu ginjal dari luar dengan syok gelombang.

  1. Analisa Data
·         Data Subjektif
Rasa bnyeri ( kolik renal ) merupakan gejala utama paad episode akut dari calculus renal. Lokasi rasa nyeri tergantung kepada lokasi dari batu. Bila batu berada dalam piala ginjal, rasa nyeri adalah akibat dari hidronefrosis yanh rasanya lebih tumpul dan sifatnya konstan, terutama timbul pada sudut costovertebral.Bila batu berjalan disepanjang ureter rasa nyeri menjadi menghebat dan sifatnya intermiten. Disebabkna ole spasmus ureter akibat tekanan batu.ras nyeri menuturi jalur anterior dari ureter turun ke daerah suprupubis dan menjalar ke eksternal genetalia. Sering kali batu  “ diam – diam “ dan tidak menimbulkan gejala- gejala selam beberapa tahun, dan ini sungguh – sungguh terjadi pada batu ginjal yang sangat besar. Batu yang sangat kecil dan halus bisa berlalau tanpa disadari oleh orangnya. Mual dan muntah sering menyertai kolik renal.


·         Data Objektif
Urin dipantau tentang terdapatnya darah. Gross hematuri atau pendarahan segar bisa terjadi bila batu pinggirnya runcing dan juga bisa terjadi mikrohematuri. Bila diduga terdapat batu, semua urin bisa disaring untuk menentukan terdapatnya batu yang bisa keluar waktu berkemih. Pola berkemih juga di catat karena berkemih sering tapi sedikit – sedikit sekali. Asiditas atau kalkalisan urin diperiksa dengan kertas Ph atau kertas lakmus.

  1. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan urolitiasis diantaranya :
    1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan peningkatan frekuensi/dorongan kontraksi ureteral, trauma jaringan, pembentukan edema
    2. Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal atau ureteral.
    3. Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual/muntah
    4. Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang informasi










  1. Intervensi keperawatan

No
Diagnosa keperawatan
Intervensi
Rasional
1




























2.







































3.


























4.



































Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan peningkatan frekuensi/dorongan kontraksi ureteral, trauma jaringan, pembentukan edema






















Perubahan eliminasi urine berhubungan dengan stimulasi kandung kemih oleh batu, iritasi ginjal atau ureteral.


































Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan mual/muntah























Kurang pengetahuan tentang kondisi, prognosis dan kebutuhan pengobatan berhubungan dengan kurang informasi


a.       Catat lokasi, lamanya intensitas ( skala 0-10 ) dan penyebaran
b.      Jelaskan penyebab nyeri dan pentingnya melaporkan ke staff terhadap perubahan kejadian/karakteristik nyeri
c.       Berikan tindakan nyaman, contoh pijatan punggung, lingkungan istirahat.
d.      Bantu atau dorong penggunaan nafas berfokus dan aktivitas terapetik
e.       Dorong atau Bantu ambulasi sesuai indikasi dengan tingkatkan pemasuakn cairan sedikitnya 3-4 liter/hari dalam toleransi jantung
f.       Perhatikan keluhan peningkatan atau menetapnya nyaeri abdomen
g.      Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi
h.      Berikan kompres hangat pada punggung

i.        Pertahankan patensi caterer bila digunakan

a.       Awasi pemasukan dan pengeluaran dan karakteristik urine.
b.      Tentukan pola berkemih normal pasien dan perhatikan variasi.
c.       Dorong meningkatkan pemasukan cairan

d.      Periksa semua urine. Catat adanya batu dan kirim ke laboratorium untuk analisa

e.       Selidiki keluhan kandung kemih penuh; palpasi untuk distensi suprapubik.

f.       Observasi perubahan status mental, perilaku atau tingkat kesadaran.
g.      Awasi pemeriksaan lab, contoh BUN, elektrolit, kreatinin.

h.      Ambil urine kultur dan sensitifitas.

i.        Berikan obat sesuai indikasi
j.        Pertahankan patensi kateter tek menetap bila menggunakan
k.      Irigasi dengan asam atau larutan alkalin sesuai indikasi

l.        Kolaborasi tindakan pembedahan

m.    Kolaborasi stents uretreral

a.       Awasi pemasukan dan pengeluaran

b.      Catat insiden muntah, diare

c.       Tingkatkan pemasukan cairan 3-4 liter/hari dalam toleransi jantung


d.      Awasi tanda vital


e.       Timbang  BB tiap hari


f.       Kolaborasi pemberian cairan IV

g.      Awasi Hb / Ht, elektrolit

h.      Berikan diet tepat, cairan jernih, makanan lembut sesuai toleransi
i.        Berikan obat anti emetic sesuai indikasi

a.       Kaji ulang proses penyakit dan harapan masa depan
b.      Tekankan pentingnya peningktan pemasukan cairan, contoh 3-4 l/hr atau 6-8 L/hr
c.       Kaji ulang program diet, sesuai individual
d.      Diet rendah purin, contoh membatasi daging berlemak, tumbuhan polong, gandum, alcohol
e.       Diet fendah kalsium, contoh membatasi susu,keju, sayur hijau.
f.       Diet fendah oksalat, contoh pembatasan coklat, miniman mengandung kafein, bayam
g.      Diet rendah kalsium/fosfat dengan jeli karbonat alimunium 30 -40 ml, 30 mnt/jam
h.      Diskusikan program obat-obatan., hindari obat yang dijual bebas
i.        Mendengar dengan aktif tentang program terapi


j.        Identifikasi tanda/gejala yand memerlukan evaluasi medik

k.      Tunjukan perawatan yang tepat terhadap insisi/kateter bila ada
a.       Membantu mengevaluasi temapt obstruksi dan kemajuan gerkan kalkulus
b.      Memberikan kesempatan untuk pemberian anlgesi sesuai waktu dan kemungkinan lewatnya batu/ terjadi komplikasi
c.       Meningkatkan relaksasi, menurunkan tegangan otot, dan menongkatkan koping
d.      Mengarahkan kembali perhatian dan membantu dalam relaksasi otot
e.       Hidrasi kuat meningkatkan lewatnya batu, mencegah statis urin dan mencegah pembentukan batu selanjutnya

f.       Obstruksi lengkap ureter dapat menyebabkan perporasi dan ekstravasasi urin ke dalam perirenal
g.      Menurunkan rasa nyeri/ kolik
h.      Menghilangkan tegangan otoo dan dapat refleks spasme
i.        Mencegah stasis/ retensi urin, menurunkan resiko infeksi


a.       Membrikan informasi tentang fungsi ginjal dan adanya komplikasi
b.      Kalkulus dapat menyebabkan sensasi kebutuhan berkemih segera
c.       Peningkatan hidrasi membilas bakteri, darah dan dapat membantu lewatnya batu
d.      Penemuan batu memungkinkan identifikasi tipe batu dan mempengaruhi pilihan terapi

e.       Retensi urin dapat terjadi, menyebabkan distensi jaringan dan potensial resiko infeksi, gagal ginjal
f.       Akumulasi sisa uremik dapt menjadi toksik pada SSP

g.      Peninggian BUN, kreatinin dan elektroloit mengindikasikan dsifungsi ginjal.
h.      Menentukan adanya ISK yang penyebab atau gejala komplikasi
i.        Untuk menurunkan pembentukan batu asam
j.        Diperlukan untuk membantu aliran urine/ mencegah retensi dan komplikasi
k.      Mengubah Ph urin dapat membantu pelarutan batu danmencegah pembentukan batu selanjutnya.
l.        Pembedahan diperlukan untuk membuang batu yang terlalu besar
m.    Untuk meningkatkan dilatasi uretra atau lewatnya batu

a.       Membandingkan keluaran actual dan antisipasi membantu dalam evaluasi adanya kerusakan ginjal
b.      Mual/muntah dan diare secara umum berhubungan dengan kolik ginjal
c.       Mampertahankan keseimbangan cairan untuk homeostatis juga tindakan  “mencuci “ yang dapat membilas batu keluar
d.      Indicator hidrasi / volume sirkulasi dan kebutuhan intervensi
e.       Peningkatan BB yang cepat mungkin berhubungan dengan retensi
f.       Mempertahankan volume sirkulasi meningkatkan fungsi ginjal
g.      Mengkaji hidrasi dan keefektifan intervensi
h.      Makanan mudah cerna menurunkan aktivitas GI / iritasi
i.        Menurunkan mual/ muntah


a.       Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat membuat pilihan berdasarkan informasi
b.      Pembilasan system ginjal menurunkan kesempatan stasis ginjal dan pembentukan batu
c.       Diet tergantuing pada tipe batu yang dapat mencegah kekambuhan
d.      Menurunkan pemasukan oral terhadap prekusor asam urat


e.       Menurunkan resiko pembentukan batu kalsium

f.       Menurunkan pembentukan batu kalsium oksalat


g.      Mencegah kalkulus fosfat dan mengurangi beban  nefron ginjal

h.      Obat – obatan diberikan untuk mengasamkan atau mengalkalikan urin
i.        Membantu pasien bekerja melalui perasaan dan meningkatkan rasa control terhadap apa yang terjadi
j.        Dengan peningkatan kemungkinan berulangnya batu , intervensi segera dapat mencegah komplikasi serius
k.      Meningkatkan kemampuan perawatan diri dan kemandirian


  1. Evaluasi Keperawatan
Hasil yang diharapkan dari orang denga urolitiasis yaitu  :
    1. Orang tetap merasa nyaman
    2. Tidak ada tanda – tanda dan gejala kelebihan volume cairan
    3. Tidak ada tanda- tanda dan gejala retensi urin
    4. Tidak ada atau hematuri berkurang
    5. Orang atau orang penting lain dapat menerangkan :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar