Minggu, 07 Agustus 2011

ANTERNAL





A.     KONSEP DASAR


1.      Pengertian

Antenatal adalah perawatan fisik dan mental sebelum persalinan yaitu sejak masa kehamilan. Antenatal ini bersifat preventife care dan tujuan secara umumnya adalah mencegah hal-hal yang kurang baik bagi bayi maupun ibu.
(Prof Sulaiman Sastra Winata)

2.      Fisiologi Kehamilan (Fertilisasi)
Pada waktu koitus (persetubuhan) air mani terpancar kedalam ujung atas vagina sebanyak +3cc.Dalam air mani terdapat spermatozoa (sel-sel mmani) seperti kecebong kepala yang lonjong dan ekor yang dibedakan menjadi tengah dan leher.

Inti sel terdapat pada kepala sedangkan ekor berguna untuk bergerak maju, karena pergerakan ini maka dalam satu jam saja spermatozoa melalui canalis cervicalis dan cavum uteri kemudian berada dalam tuba.Disini sel mani menunggu kedatangan sel telur.

Jika kebetulan pada saat ini terjadi ovulasi, maka mungkin fertilisasi berlangsung.Jika tidak terjadi ovulasi maka penghamilan tidak mungkin. Maka jelaslah bahwa hanya coitus sekilas saat ovulasi yang dapat menghasilkan kehamilan.

Sel telur hanya dapat dibuahi beberapa jam setelah ovulasi.Sedangkan sel mani dalam badan wanita masih kuat membuahi selama satu sampai tiga hari.

3.      Tujuan Perawatan Antenatal

            Tujuan perawatan antenatal terhadap ibu adalah:
a.      Untuk mecegah penyakit atau penyulit masa antenatal
b.      Untuk mempertahankan kesehatan jasmaniah dan rohaniah ibu
c.      Supaya persalinan dapat berlangsung dengan aman
d.      Supaya ibu sesehat-sehatnya setelah post partum
e.      Supaya ibu dapat memenuhi segala kebutuhan janin

            Sedangkan tujuan perawatan antenatal terhadap anak adalah:
a.      Mengurangi prematuritas, kelahiran mati dan kematian neonatal
b.      Mencapai kesehatan optimal dari bayi

4.      Lingkup Antenatal

a.      Diet dalam kehamilan
Makanan wanita hamil harus lebih diperhatikan daripada diluar kehamilan karena dipergunakan untuk:
1)      Mempertahankan kesehatan dan kekuatan badan
2)      Pertumbuhan janin
3)      Untuk cadangan masa laktasi
Adapun zat-zat yang diperlukan oleh tubuh adalah: Zat putih telur, zat tepung, zat lemak, garam,terutama garam dapur, phosfor, besi, vitamin dan air.



Makanan hendaknya beraneka ragam, berganti-ganti jangan selalu makan makanan yang sama maksudnya supaya kekurangan menu hari ini dapat diimbang menu hari berikutnya.Juga cara pengolahan makanan harus diperhatikan karena dapat mengurangi nilai makanan.

Kebutuhan beberapa zat yang penting pada wanita yang belum hamil, yang hamil dan yang menyusui anaknya adalah sebagai berikut:

Jenis Kebutuhan
Tidak Hamil
Hamil
Laktasi
Kalori
Protein
Kalsium
Ferrum
Vitamin A
Vitamin B
Vitamin C
Vitamin D
Riboflavin
Asam nikotin

2500
60
0,8
12
5000
1,5
70
+
2,2
15
2500
85
1,5
15
6000
1,8
100
400-800
2,5
18
3000
100
2
15
8000
2,3
150
400-800
3
23

b.      Protein
Protein dibutuhkan karena metabolisme bertambah untuk pertumbuhan janin, pertumbuhan rahim, pertumbuhan kelenjar buah dada dan untuk penambahan volume darah. Kekurangan dari protein mungkin menimbulkan anemia, toksemia gravidarum, edema dan premature.

c.      Garam
Dalam kehamilan diberikan tambahan Fe misalnya dengan SF 3x200mg Ca dan Phosfor dipergunakan untuk pembuatan tulang-tulang janin serta Fe untuk pembuatan Hb janin.

d.      Vitamin
1)      Vitamin A untuk menambah daya tahan tubuh terhadap infeksi
2)      Vit Bcompleks bersifat antipelagra.Dan apabila kekurangan akan menyebabkan perdarahan pada bayi, menambah kemungkinan perdarahan post partum dan atropi dari ovarium.
3)      Vit C selain mencegah skorbut penting sekali untuk kebutuhan janin.
4)      Vit D bersifat anti rachitis. Vit ini sangat penting sekali terutama pada daerah yang kurang sinar matahari
5)      Vit E penting untuk reproduksi dan pertumbuhan embrio

e.      Air
Wanita hamil harus minum cukup banyak kira-kira 6-8 gelas sehari.Air berfungsi untuk mengganti cairan yang keluar melalui keringat dan juga membantu pengeluaran racun melalui anus dan ginjal.

f.        Hygiene umum dalam kehamilan
1)      Pekerjaan dan gerak badan.
Wanita hamil boleh melakukan pekerjaan sehari-hari dirumah, kantor ataupun pabrik asal bersifat ringan.
2)      Kebersihan diri
Kebersihan badan kemungkinan mengurangi infeksi,karena badan yang kotor banyak mengandung kuman.Pemeliharaan buah dada juga penting. Putting susu harus dibersihkan kalau tidak dibersihkan dapat terjadi eczema pada putting susu dan sekitarnya. Putting susu yang masuk usahakan supaya keluar dengan pemijatan keluar setiap mandi.

g.      Pakaian
Pakaian yang baik untuk wanita hamil adalah yang enak dipakai tidak boleh menekan badan karena akan menyebabkan bendungan vena dan mempercepat terjadinya varices.

h.      Bab
Pada wanita hamil mungkin terjadi konstipasi karena:
1)      Kurang gerak badan
2)      Peristaltik usus kurang karena pengaruh hormon
3)      Tekanan pada rectum

i.         Coitus
Pada wanita yang hamil mudah keguguran sebaiknya dinasehati supaya jangan melakukan coitus pada hamil muda.

j.         Aspek jiwa dalam kehamilan dan persalinan
Dua persoalan penting yang sering kita temui pada wanita hamil:
1)      Perasaan takut yang ditimbulkan karena kehamilan menyebabkan perubahan besar pada ibu.
2)      Penolakan terhadap anak yang dikandungnya.

k.      Persalinan Tanpa Nyeri
Persiapan mental penderita secara psykopropilaksis dilakukan sebagai berikut:
1)      mempelajari lingkungan penderita
2)      pendidikan dan latihan
3)      adabtasi pada lingkungan tempat bersalin

5.      Pemeriksaan ibu hamil
Hendaknya dilakukan sedini mungkin, supaya dokter/bidan mempunyai waktu yang cukup banyak untuk mengatasi atau memperbaiki keadaan-keadaan dimana yang kurang memuaskan.

            Pada umumnya pemeriksaan kehamilan dilakukan:
a.      1x sebulan sampai dengan bulan ke VI
b.      2x sebulan dari bulan ke VI sampai dengan bulan ke IX
c.      1x seminggu pada bulan terakhir

Pemeriksaan umum
a.      Keadaan umum
b.      Adakah anemia, sianosis, ikterus dan dipsnea.
c.      Keadaan jantung dan paru-paru
d.      Keadaan edema
e.      Repleks patella
f.        Tekanan darah: pada orang hamil tidak boleh lebih dari 140/90 mmHg .
g.      Berat badan pada trisemester ketiga tidak boleh bertambah lebih dari 1kg/mg atau 3kg sebulan
h.      Pemeriksaan laboratorium
1)      air kencing terutama glukosa, zat putih telur dan sedimen
2)      Darah terutama Hb.
3)      Feses
Pemeriksaan kehamilan
a.      Inspeksi
1)      Muka
Adakah coasma gravidarum, keadaan selaput mata pucat atau merah, adakah edema pada muka, bagaimana keadaan lidah dan gigi.
2)      Leher
Apakah vena terbendung dileher, adakah kelenjar gondong membesar, atau kelenjar limfa membengkak
3)      Dada
Bentuk buah dada, pigmentasi putting susu
4)      Perut
Perut membesar kedepan dan kesamping (pada asites membesar kesamping). Keadaan perut, pigmentasi di linea alba, nampakan gerakan anak, adakah striae gravidarum atau beklas luka.
5)      Vulva
Keadaan perineum, adakah varises, tanda cadwick, condyloma, atau flour.
6)      Anggota Bawah
Adakah varises, edema, lika, sikatrik pada lipatan paha.
b.      Palpasi
Untuk menentukan:
1)      Besarnya rahim untuk menentukan usia kehamilan
2)      menentukan letak anak dalam rahim
3)      cara melakukan palpasi adalah menurut Leopold yang terdiri dari 4 bagian

6.      Keluhan-keluhan pada ibu hamil
a.      Mual, muntah
b.      Sakit pinggang disebabkan karena perubahan sikap badan
c.      Hemoroid
d.      Sakit kepala, timbul pada hamil muda dan sukar menentukan sebabnya
e.      Edema (pada kaki dan tungkai bawah)
f.        Sesak nafas (disebabkan oleh rahim membesar diafragma keatas)
g.      Demam yang tinggi


B.     ASUHAN KEPERAWATAN
1.      Askep pada ibu hamil trimester I (1-12 minggu)
a.      Pengkajian
1)      Dari pola keadaan kesehatan ibu yang meliputi adanya pembesaran mamae, hipertropi, tuber kelenjar   mengomeri   puting  menonjol  dan hiperpigmentasi.
2)      Dari segi nutrisi yaitu adanya peningkatan BMR, peningkatan natrium, sering haus dan sering BAK.
3)      Riwayat reproduksi yaitu; aktivitas sexual, kehamilan direncanakan, riwayat KB, riwayat ginekologi dan riwayat perkawinan.

Pemeriksaan kehamilan
1)      Anamnase
Nama, umur, pekerjaan, nama suami agama, alamat, keluhan utama.
2)      Riwayat menstruasi
a)      Menarse
b)      Haid teratur atau tidak
c)      Banyaknya darah dan sifat darah, warna dan baui.

3)      Tentang perkawinan
a)      Kawin atau tidak
b)      Berapa kali kawin
4)      Kehamilan, persalinan, nifas yang lalu
a)      Kehamilan: ada gangguan seperti perdarahan, muntah yang berlebihan, toxoemia gravidarum.
b)      Persalinan: spontan, buatan aterm, post partum, dan perdarahan ditolong oleh siapa.
c)      Anak: jenis kehamilan, hidup/mati, jika mati umur berapa? BB lahir dan kenapa sebabnya ?
5)      Kehamilan sekarang
6)      Anamnesa keluarga

Pemeriksaan fisik
1)      Integumen
Adanya hiperpigmentasi pada area mamae dan areola hipertropi tuber kelenjar mengomeri, striae gravidarum cloasma  gravidarum, linia nigra, dan adanmya pigmentasi pada daerah leher.
a)      Cardiovaskuler
TD biasanya menurun 8-12 mmhg, nadi meningkat 8-10 kali/menit.
b)      Pernafasan
Volume tidal meningkat, frekuensi 6-12 kali/menit dan bernafas lebih dalam.
c)      Gastrointestinal
Adanya nause dan vomiting karena dipengaruhi oleh peningkatan hormon estrogen dan tonus traktus-traktus digestinus menurun sehingga mortilitas menurun konstipasi dan hipersalivasi.
d)      Traktus urinarius
Vesika urinaria tertekan sehingga menyebabkan frekuensi BAK meningkat, poliuria karena peningkatan sirkulasi.
Pengkajian psikososial
1)      Reaksi terhadap kehamolaian/kehamilan
2)      Pengetahuan tentang respon sex
3)      Mekanisme koping
4)      Konsep diri
5)      Behavior

b.      Diagnosa Keperawatan yang muncul
1)      Resiko tinggi kekurangan nutrisi dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan BMR
Intervensi
a)      Kaji keadequatan nutrisi sebelum hamil
b)      Kaji tentang pengetahuan ibu tentang nutrisi pada ibu hamil
c)      Kaji adanya tabu makanan/pantangan
2)      Gangguan rasa nyaman (diskomport) berhubungan  dengan nause dan vomiting.
Intervensi:
a)      Kaji tingkat gangguan rasa nyaman klien
b)      Anjurkan klien untuk memakai BH yang menyangga mamae
c)      Kaji adanya kram, mual dan muntah
3)      Resiko tinggi injuri pada ibu berhubungan dengan komplikasi kehamilan, kehamilan ektopik.

Intevensi:
a)      Anjurkan untuk melaporkan adanya perdarahan pervagina
b)      Anjurkan segera melapor jika nyeri akut
c)      Kolaborasi
4)      Resiko tinggi infeksi pada traktus urinaria berhubungan dengan efek tekanan uterus pada vesika urinaria.
Intervensi:
a)      Berikan informasi tanda dan gejala adanya infeksi
b)      Jaga  personal higiene
c)      Anjurkan untuk minum minimal 6-8 gelas/hari.

c.      Prioritas Askep pada trimester I
1)      Suport klien untuk berprilaku sehat
2)      Deteksi adanya faktor resiko
3)      Cegah komplikasi
4)      Bantu pasangan agar berpartisipasi terhadap kehamilan dalam menjadi orang tua.           

2.      Askep pada Ibu Hamil pada Trimester II
a.      Pengkajian
1)      Memperbaharui   riwayat   keperawatan    perlu   dilanjutkan   dari
2)      trimester I ditambah sesuai dengan perkembangan
3)      Pengkajian fisik
4)      Pengkajian psikososial
5)      Pengkajian kondisi janin

b.      Diagnosa Keperawatan yang muncul
1)      Resiko tinggi terjadi konstipasi berhubungan dengan perubahan timester II pada sistem GI.
2)      Resiko tinggi gangguan perfusi jaringan berhubungan dengan menurunnya absorpsi Fe selama trimester II.
3)      Resiko gangguan penampilan peran berhubungan dengan kurangnya model peran pada ibu
4)      Resiko tinggi konflik peran berhubungan dengan konflik karier dan perlunya bekerja untuk menambah penghasilan.

c.      Intervensi:
1)      Kaji tingkat pengetahuan klien
2)      Kaji kondisi psikososial

3.      Askep Ibu hamil Trimester III
a.      Pengkajian
1)      Sitem Reproduksi
a)      Uterus         :       Bertambah besar, distensi miometrium, dinding menipis dan adanya kontraksi broxon his.
b)      Cervik         :       Mengeluarkan mukus
c)      Vagina         :       Hiperemia   dan leokorea maningkat
d)      Mamae        :       Membesar dan kolostrum bertambah
2)      Sistem cardiovaskuler
HR meningkat 15x, kerja CV meningkat, cardiak output meningkat 40% volume darah meningkat 30-50%.
3)      Sistem Pernapasan
Diafragma tertekan keatas, iga ekspansi, konsumsi oksigen meningkat.

4)      Sistem Urinaria
      Frekuensi miksi meningkat, filtrasi glomerolus meningkat dan konsentrasi albumin meningkat.
5)      Sistem Muskulus kletal: lordosis
6)      Sistem integumen
      Pigmentasi meningkat, aktifitas kelenjar keringat meningkat, rambut menipis dan kuku cepat patah dan mudah tumbuh.
7)      Sistem Gastro intestinal
      Mulut dan gusi hiperemi, gusi sensitif, esopagus dan gaster refluk kapasitas gaster menurun, intestinal, mortilitas menurun, absorpsi nutrisi dan air meningkat.
8)      Sistem Endokrin
      Kelenjar pituitari, prolaktin, dan oksitosin meningkat, kelenjar thiroid meningkat. BMR meningkat dan plasenta fungsi maksimal.
9)      Pengkajian Janin
a)      Pembukaan leopod
b)      Pergerakan janin
c)      Elektronik fetal mariltoni contoh USG
d)      Non stress test (NST)

b.      Diagnosa keperawatan
1)      Gangguan rasa nyman
2)      Resiko tinggi terjadinya perdarahan
3)      kurangnya pengetahuan tentang persiapan persalinan berhubungan dengan kurangnya informasi
4)      Resti terjadinya cidera berhubungan dengan adanya hipertensi
5)      perubahan pola eliminasi urin berhubungan dengan pembesaran uterus
6)      perubahan pola seksualitas berhubungan dengan ketidaknyamanan (pembesaran abdomen)

c.      Intervensi
1)      anjurkan klien memakai sepatu tumit pendek
2)      kurangi minum susu imblance Ca
3)      rubah/ganti posisi
4)      hindari duduk terlalu lama sering mandi
5)      gunakan baju yang longgar dan menyerap keringat.








INTRA NATAL



A.     KONSEP INTRA NATAL

1.      Pengertian
Intranatal adalah serangkaian kejadian yang berakhir dengan pengeluaran bayi yang cukup bulan/hamprir cukup buluan, disertai dengan pengeluaran plasenta dan selaput janin dari tubuh ibu. (Sulaiman Sastrawinata).

2.      Beberapa Istilah Yang Ada Hubungannya Dengan Partus

a.      Menurut Cara Persalinan
1)      Partus normal disebut juga partus spontan yaitu proses lahirnya bayi dengan tenaga ibu sendiri, tanpa bantuan alat-alat, serta tidak melukai bayi dan ibu, yang umumnya berlansung kurang dari 24 jam.
2)      Partus abnormal yaitu persalinan parvaginan dengan bantuan alat-alat atau melalui dinding perut dengan operas caesarea.
b.      Menurut Usia Kehamilan
1)      Abortus (keguguran) adalah terhentinya kehamilan sebelum janin dapat hidup (viable) berat janin di bawah 1000 gram, usia kehamilan di bawah 28 minggu.
2)      Partus prematurus adalah persalinan dari hasil konsepsi pada kehamilan 28-36 minggu, janin dapat hidup tetapi prematur, berat janin antara 1000-2500 gram.
3)      Partus maturus atau aterm (cukup bulan) adalah partus pada kehamilan 37-40 minggu, janin matur, berat badan diatas 2500 gram.
4)      Partus post maturus (serotinus) adalah persalinan yang terjadi 2 minggu atau lebih dari waktu partus yang ditaksir, janin disebut post matur.
5)      Partus presipatatus adalah partus yang berlangsung cepat, mungkin di kamar mandi, di atas beca dan sebagainya.
6)      Partus percobaan adalah suatu penilaian kemajuan persalinan untuk memperoleh bukti tentang ada atau tidaknya disproporsi sefalopelvik.

3.      Sebab-sebab Yang Menimbulkan Persalinan

Adapun yang menyebabkan persalinan belum benar, yang ada hanyalah teori-teori yang kompleks, antara lain karena faktor hormonal, struktur rahim, sirkulasi rahim, pengaruh tekanan pada syaraf dan nutrisi.
a.      Teori Penurunan Hormon
1-2 minggus sebelum partus mulai terjadi penurunan kadar hormon estrogen, progesteron bekerja sebagai penenang otot-otot polos rahim dan akan menyebabkan kekejangan pembuluh darah sehingga timbul his bila kadar progesteron turun.
b.      Teori Plasenta Menjadi Tua
Menyebabkan turunnya kadar estrogen dan progesteron yang menyebabkan kekejangan pembuluh darah, hal ini akan menimbulkan kontraksi rahim.
c.      Teori Distensi Rahim
Rahmi yang besar dan meregang menyebabkan iskemi otot-otot rahim, sehingga mengganggu sirkulasi utero-plasenter.
d.      Teori Iritasi Mekanik
Dibelakang serviks terletak ganglion servikale (fleksus franken hauser). Bila ganglion ini digeser dan ditekan, misalnya oleh kepala janin, akan timbul kontraksi uterus.
e.      Induksi Partus

4.      Tanda-tanda Permulaan Persalinan

Sebelum terjadi kehamilan/persalinan beberapa minggu sebelumnya, wanita hamil memasuki “bulannya” atau “minggunya” atau “harinya” yang disebut kala pendahuluan. (Prepatory Stage of Labor). Tandanya adalah sebagai berikut :
a.      Lightening atau settling atau dropping yaitu kepala turun memasuki pintu atas panggul terutama pada primigravida.
b.      Perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri turun.
c.      Perasaan sering atau susah kencing (polikisuria) karena kandun kemih tertekan oleh bagian terbawah janin.
d.      Perasaan sakit di perut dan di pinggang oleh adanya kontraksi-kontraksi lemah uterus, kadang disebut “false labor pains”.
e.      Serviks menjadi lembek, mulai mendatar, dan sekresinya bertambah bisa bercampur darah (bloody show).

5.      Tanda-tanda Inpartu

1)      Rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat, sering, dan teratur.
2)      Keluar lendir bercampur darah (show) yang lebih banyak robekan-robekan kecil pada serviks.
3)      Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya.
4)      Pada pemeriksaan dalam : serviks mendatar dan pembukaan telah ada.

6.      Tahap – Tahap Persalinan
Proses persalinan terdiri dari 4 kala yaitu :
a.      Kala I (kala pembukaan)
Waktu untuk pembukaan serviks sampai pembukaan lengkap 10 cm ditandai dengan keluarnya lendir bercampur darah, karena serviks mulai membuka dan mendatar. Darah berasal dari pecahnya pembuluh darah kapiler sekitar kanalis servikalis. Kala pembukaan dibagi atas 2 fase yaitu :
1)      Fase laten: dimana pembukaan serviks berlangsung lambat sampai pembukaan 3 cm berlangsung 7-8 jam.
2)      Fase aktif : berlangsung selama 6 jam dan dibagi atas 3 subfase.
a)      Periode akselerasi : berlangsung 2 jam, pembukaan 4 cm.
b)      Periode dilatasi maksimal : selama 2 jam, pembukaan berlangsung cepat menjadi 9 cm.
c)      Periode deselerasi : berlangsung lambat, dalam waktu 2 jam pembukaan menjadi 10 cm atau lengkap.

b.      Kala II (kala pengeluaran janin)
Pada kala II, his terkoordinir, cepat, dan lebih lama, kira-kira 2-3 menit sekali, kepala janin telah turun masuk ruang panggul sehingga terjadilah tekanan pada otot-otot dasar panggul yang secara reflektoris menimbulkan rasa mengedan, karena tekanan pada rektum, ibu merasa seperti mau BAB, dengan tanda anus terbuka.

Pada waktu his kepala janin mulai kelihatan, vulva membuka perineum merenggang, dengan his mengedan terpimpin akan lahirkan kepala, diikuti oleh seluruh badan janin, kala II pada primi 1 ½-2 jam, pada multi ½-1 jam.


c.      Kala III (kala pengeluaran uri)
Setelah banyi lahir, kontraksi rahim istirahat sebenar, uterus terata keras dengan fundus uteri setinggi pusat, dan berisi plasenta yang menjadi tebal 2 x sebelumnya. Beberapa saat kemudian timbul his pelepasan dan pengeluaran uri, dalam waktu 1-5 menit seluruh plasenta terlepas, terdorong ke dalam vagina dan akan lahir spontan atau dengan sedikit dorongan dari atas simfisis atau fundus uteri, seluruh proses biasanya berlangsung 5-30 menit setelah bayi lahir, pengeluaran plasenta disertai dengan pengeluaran darah kira-kira 100-200 cc.

Ada 3 tanda lepasnya plasenta :
-          Perubahan ukuran dan bentuk uterus.
-          Tali pusat memanjang.
-          Semburan darah.





Perasat-perasat untuk mengetahui lepasnya uri :
-          Kustner
Dengan meletakkan tangan disertai tekanan di atas symphisis tali pusat ditegangkan, jika tali pusat masuk berarti belum lepas, jika diam/maju berarti sduah lepas.
-          Strassman
Tegangkan tali pusat dan ketok pada fundus, bila tali pusat bergetar berarti belum lepas, bila diam/turun berarti sudah lepas.
-          Klein
Sewaktu ada his, rahim kita dorong sedikit, bila bergetar kembali berarti belum lepas, bila diam/turun berarti sudah lepas.

d.      Kala IV
Adalah kala pengawasan selama 1 jam setelah bayi lahir dan uri lahir untuk mengamati keadaan ibu terutama terhadap bahaya perdarahan post partum.

7.      Tiga Faktor penting yang memegang peranan pada persalinan
a.      Kekuatan- kekuatan yang ada pada ibu, seperti kekuatan his dan kekuatan mengedan
1)      His atau tenaga yang mendorong anak keluar adalah;
a)      His : Kontraksi otot rahim pada persalinan, pada bulan terakhir dari kehamilan sebelumnya persalinan dimulai  sudah ada kontraksi rahim.
b)      His pendahuluan:  ini tidak teratur menyebabkan nyeri perut bagian bawah dan lipatan paha tidak menyebabkan nyeri yang memancar dari pinggang ke perut bagian bawah, mis: persalinan.
c)      His persalinan: kontraksi dari otot rahim yang psikologis lainnya yang bersifat nyeri, dan nyeri ini mungkin disebabkan oleh sel-sel otot saat kontraksi rahim bersifat otonom tidak dipengaruhi oleh:
Tekanan misalnya:
Rangsangan oleh jari-jari yang dapat menimbulkan kontraksi hi
2)      Tenaga mengedan adalah setelah pembukaan lengkap, ketuban pecah tenaga yang mendorong anak janin yang keluar selain his, terutama disebabkan olen kontraksi otot dinding perut yang mengakibatkan peningkatan tekanan intra abdominal.
b.      Keadaan jalan lahir
c.      Keadaan janinnya sendiri

8.      Mekanisme Persalinan
a.      Turunnya kepala
Bila his cukup kuat kepala akan turun, dan mulai masuk kedalam rongga panggul. Masuknya kepala melintasi pintu atas panggul dapat terbagi atas dua keadaan
1)      Sinklitismus, yaitu bila arah sumbu kepala janin tegak lurus dengan bidang pintu atas panggul.
2)      Asinklitismus ialah, yaitu arah sumbu kepala janin miring dengan bidang pintu atas panggul.
      Asinklitismus terbagi atas dua bagian :
a)      Asinklitismus anterior: menurut Naegele ialah apabila arah sumbu kepala membuat sudut lancip ke depan dengan pintu atas panggul.
b)      Asinklitismus posterior: menurut Litzman; yaitu keadaan sebaliknya dari asinklitismus anterior.
Keadaan asinklitismus anterior lebih menguntungkan dari pada mekanisme turunnya kepala dengan asinklitismus posterior karena ruangan pelvis di daerah posterior adalah lebih luas dibandingkan ruangan pelvis di daerah anterior. Hal asinklitismus lebih penting, apabila daya akomodasi panggul agak terbatas.

b.      Fleksi
      Kepala janin memasuki ruang panggul dengan ukuran paling kecil, yakni dengan dengan diameter suboksipitobregmatikus (9,5 cm) dan dengan sirkumsirkumferensia  suboksipitobregmatikus (32 cm). Sampai di dasar panggul kepala janin berada didalam keadaan fleksi maksimal.
c.      Rotasi (putaran paksi dalam)
      Akibat kombinasi elastisitas diafragma pelvis dan tekanan intrauterin disebabkan oleh his yang berulang-ulang. Di dalam hal mengadakan rotasi ubun-ubun kecil akan berputar kearah depan, sehingga di dasar panggul ubun-ubun kecil berada di bawah simfisis.

d.      Defleksi
      Sesudah kepala janin sampai di dasar panggul dan ubun-ubun kecil dibawah simfisis, maka dengan suboksipot sebagai hipomoklion, kepala akan mengadakan gerakan defleksi untuk dapat dilahirkan. Pada tiap his, vulva lebih membuka dan kepala janin makin tampak. Perineum menjadi makin lebar dan tipis, anus membuka dinding rektum. Dengan kekuatan his bersama dengan kekuatan mengedan, berturut-turut tampak bregma, dahi, muka dan akhirnya dagu.

e.      Putaran paksi luar
      Adalah gerakan kembali sebelum putaran paksi dalam terjadi, untuk menyesuaikan kedudukan kepala dengan punggung anak.
      Bahu melintasi pintu atas panggul dalam keadaan miring. Di dalam rongga panggul bahu akan menyesuaikan diri dengan bentuk panggul yang dilaluinya, sehingga didasar panggul, apabila kepala telah dilahirkan, bahu akan berada dalam posisi depan belakang. Selanjutnya dilahirkan bahu depan terlebih dahulu baru kemudian bahu belakang. Demikian pula dilahirkan trokanter depan terlebih dahulu, baru trokanter belakang. Kemudian bayi lahir sepenuhnya.


B.     ASUHAN KEPERAWATAN PADA IBU INTRA NATAL

  1. Kala I
a.      Fase laten
1)      Pengkajian
a)      Riwayat sekarang, catat tanda persalinan seperti his yang teratur, frekuensi, interval, adanya ruptur, selaput ketuban dan status emosional.
b)      Pemeriksaan fisik, dilatasi uteri 0-3 cm posisi fetus, his anatara 5-30 menit dan berlangsung selama 10-30 menit vagina mengeluarkan cairan pink, coklat, ruptur, keluhan, djj terdengar lebih jelas di umbilikus.
2)      Diagnosa keperawatan
a)      Cemas
b)      Kurangnya pengalihan aktivitas
c)      Kurangnya pengetahuan tentang proses persalinan
d)      Resiko tinggi kekurangan volume cairan
e)      Koping individu tidak efektif
f)       Resiko tinggi cidera atau trauma pada fetus

b.      Fase aktif
1)      Pengkajian
a)      Riwayat keadaan sekarang, klien lebih serius terhadap persalinan, tampak kelelahan dan bisa melakukan tehnik relaksasi.
b)      Pemeriksaan fisik, kontraksi uterus 2,5-5 menit berlangsung selama 30-45 menit, dilatasi servik 4-7 cm, perdarahan pervagina, fetus turun 1-3 cm, djj terdengar jelas.
1)      Diagnosa keperawatan
a)      Nyeri akut
b)      Resiko gangguan pola eliminase urine
c)      Koping klien tidak efektif
d)      Gangguan konsep diri
e)      Resiko injuri pada ibu




  1. Kala II
a.      Pengkajian
1)      Tanda dan gejala persalinan kala II
      Perineum menonjol, vulva dan anus membuka, meningkatnya pengeluaran darah dan lendir, kepala turun di dasar panggul, keinginan BAB, meneran, amnesia, perasaan panas dan tegang pada perineum, tremor, kelelahan, emosi labil, takut, gelisah, ketidak percaya dan merintih-rintih.
2)      Data umum
      Peningkatan tekanan darah 5-10 mmhg, peningkatan RR, nadi kurang       dari100, suhu tubuh dan diaporesis.
3)      Data obstetri
Kontraksi 2-3 menit, intensitas kuat, lamanya 50-70 detik pembukaan servik 10 cm, pendataran 100%, peningkatan pengeluaran darah dan lendir, cairan amnion, perineum menonjol, keluar feses pada saat melahirkan dan distensi kandung kemih.

b.      Diagnosa keperawatan
1)      Nyeri akut
2)      Resiko tinggi gangguan pertukaran O2 pada janin
3)      Kurangnya pengetahuan tentang persalinan kala II
4)      Resti infeksi maternal
5)      Resiko luka pada fetus
6)      Pola nafas tidak efektif
7)      Gangguan intoleran aktifitas

  1. Kala III
a.      Pengkajian
      Setelah janin lahir, tinggi fundus uteri, setinggi pusat, pelepasan plasenta ada dua macam, yaitu:
1)      Schulze
      Pelepasan plasenta dimulai dari bagian bawah plasenta tidak ada perdarahan sebelum plasenta lahir, ada perdarahan setelah plasenta lahir.
2)      Duncan
      Pelepasan plasenta dari pinggir plasenta bagian lateral ada perdarahan      sedikit-sedikit.
b.      Data umum
      Ibu kelelahan, pucat, sianosis, tekanan darah lebih dari 100/10 mmhg, kemungkinan sock, nyeri abdomen, mules, pusing, tremor dan kedinginan.
c.      Data obstetri
      Perubahan uterus (discoid-globular), ueterus bundar dan keras, keadaan kandung kemih penuh atau kosong, perdarahan pervagina, normalnya 250-300 ml, janin lahir efisiotomi.

  1. Kala IV
a.      Pengkajian
Data umum
      Keadaan umum kelelahan, pucat, sianosis, TD, RR, S dan keadaan     psikologis ibu gembira, sedih, kecewa, kesiapan ibu dan suami
b.      Diagnosa keperawatan
1)      Perubahan peran dan keluarga
2)      Resti kekurangan cairan dan elektrolit
3)      Nyeri akut
4)      Resiko tinggi terjadinya infeksi

5.      Intervensi
a.      Intervensi kala I
1)      perkenalan klien pada lingkungan puskesmas/ ruang bersalin
2)      monitor TTV
3)      awasi intake cairan klien
4)      berikan support mental
5)      hadirkan suami atau orang terdekat untuk mengurangi cemas
6)      bantu klien untuk beraktifitas semaksimal mungkin
b.      Intervensi kala II
1)      ajarkan klien cara meneran yang baik dan benar
2)      anjurkan klien meneran bila his kuat
3)      berikan kesepatan pada klien untuk memilih posisi yang tepat
4)      anjurkan posisi miring kiri, semi fowler dan lhitotomi
c.      Intervensi kala III
1)      tampung perdarahan
2)      kolaborasi pemberian obat matergin dan oxitosin
3)      anjurkan klien nafas dalam bila terasa nyeri
4)      kosongkan ketika urinaria dengan penggunaan katteri
d.      Intervensi kala IV
1)      informasikan kepada orang tua tentang kebutuhan-kebutuhan neonatus segera dan perawatan yeng diberikan
2)      anjurkan orang tua untuk mengulas dan bicara pada bayi baru lahir
3)      awasi intake cairan klien
4)      observasi TTV
5)      observasi keadaan jahitan luka post efisiotomi
6)      anjurkan kepada klien untuk untuk melakukan teknik relaksasi nafas dalam dan distraksi untuk mengurangi nyeri









































BAYI BARU LAHIR



A.     KONSEP BAYI BARU LAHIR

1.      Pengertian
Bayi baru lahir merupakan hasil konsepsi secara sempurna yang dikeluarkan oleh ibu tanpa memandang lamanya kehamilan dan ketika berpisah dengan ibunya, bayi bernafas atau menunjukkan tanda-tanda kehidupan. (Sulaiman Sastrawinata).

Bayi baru lahir adalah makhluk ciptaan tuhan yang paling tinggi sebagai hasil konsepsi ovum dan spermatozoaoon dengan massa gestasi memungkinkan bayi dapat hidup di luar kandungan (Depkes 1996)

Bayi baru lahir disebut dengan neonatus dengan tahapaan :
a)      Umur 0-7 hari disebut neonatal dini
b)      Umur 8-28 hari disebut neonatal lanjut
Yang disebut perinatal adalah antara umur 28 minggu dalam kandungan dan sampai sesudah 7 hari sesudah melahirkan.

Penilaian bayi dilakukan secara apgar:
Tanda
O
1
2
A : Appearance color
       (warna kulit)

P  : Pulse (heart rate) /
       Frekuensi jantung
G : Grimace (reaksi
       Terhadap rangsangan)
A : Activity (tonus otot)
R : Respiration
        (pernafasan)

Pucat


Tidak ada

Tidak ada

Lemas
Tidak ada

Badan merah ekstremitas biru

Dibawah 100

Sedikit gerakan mimik
Fleksi sedikit
Lemah, tidak teratur

Seluruh tubuh kemerah-merahan

Di atas 100

Menangis, batuk/ bersin
Gerakan aktif
Baik, teratur, menangis

Klasifikasi klinik :
-          Nilai 7-10       : bayi normal
-          Nilai 4-6         : bayi asfiksia ringan-sedang
-          Nilai 0-3         : bayi asfiksia berat

Bayi baru lahir dapat dibagi menjadi 2:
-          Bayi normal (sehat) memerlukan perawatan biasa.
-          Bayi gawat (high risk baby) memerlukan penanggulangan khusus seperti adanya asfiksia dan perdarahan

2.      Adaptasi Fisiologis Bayi Baru Lahir 
a.      Sistem pencernaan
      Pada saat lahir aktifitas mulut sudah berfungsi yaitu menghisap dan menelan, saat menghisap lidah berposisi dengan palatum sehingga bayi hanya bernapas melalui hidung, rasa kecap dan penciuman sudah ada sejak lahir, saliva tidak mengandung enzim tepung dalam tiga bulan pertama dan lahir volume lambung 25-50 ml.
Adapun pencernaan adalah:
1)      Pada hari ke-10 kapasitas lambung menjadi 100 cc.
2)      Enzim tersedia untuk mengkatalisis protein dan karbohirat sederhana yaitu monosacarida dan disacarida.
3)      Difesiensi lifase pada pankreas menyebabkan terbatasnya absorpsi lemak sehingga kemampuan bayi untuk mencerna lemak belun matang maka susu formula sebaiknya tidak diberikan pada bayi baru lahir.
4)      Kelenjar lidah berfungsi saat lahir tetapi kebanyakan tidak mengeluarkan ludah sampai usia bayi ± 2-3 bulan.

b.      Sistem Endokrin
Adapun penyesuaian pada sistem endokrin adalah:
1)      Kelenjar thiroid berkembang selama minggu ke-3 dan 4
2)      Sekresi-sekresi thyroxin dimulai pada minggu ke-8 thiroxin maternal adalah bisa memintasi plasenta sehingga fetus yang tidak memproduksi hormon thiroid akan lahir dengan hypothiroidism konginital jika tidak ditangani akan menyebabkan  reterdasi mental berat.
3)      Kortek adrenal dibentuk pada minggu ke-6 dan menghasilkan hormon pada minggu ke-8 atau minggu ke-9
4)      Pankreas dibentuk dari foregut pada minggu ke-5 sampai minggu ke-8 dan pulau langerhans berkembang selama minggu ke-12 serta insulin diproduksi pada minggu ke-20 pada infant dengan ibu DM dapat menghasilkan fetal hyperglikemi yang dapat merangsang hyperinsulinemia dan sel-sel pulau hyperplasia hal ini menyebabkan  ukuran fetus yang berlebih.
5)      Hyperinsulinemia dapat memblok maturasi paru sehingga dapat menyebabkan janin dengan resiko tinggi distress pernafasan.

c.      Sistem cardiovaskuler
1)      Penutupan obliterasi sel pirau, voramen oral, duktus venosus, duktus arteriosus
2)      Duktus venosus berfungsi dalam pengendalian tahanan vaskuler plasenta terutama pada saat janin mengalami hypoxia
3)      Duktus venosus menutup  beberapa  menit  pertama  setelah  lahir dan
penutupan anatomis yang lengkap terjadi pada hari ke-20 setelah lahir.  
4)      Pada neonatus darah tidak bersikulasi dengan mudah, pada kaki dan tangan sering berwarna kebiru-biruan dan terasa dingin dan biasanya TD: 80/46 mmhg.
5)      Duktus anteriosus merupakan peran vaskuler yang penting sirkulasi fetus dan melakukan peran darah dari erteri pulmonalis ke aorta desenden (melalui paru), selama kehidupan fetal tekanan arteri pulmonalis sangat tinggi dan lebih dari tekanan aorta dan penutupan duktus arteriosus disebabkan oleh peningkatan tegangan oksigen dalam tubuh.
d.      Sistem pernafasan
1)      Perubahan fisiologis yang segera dilakukan atau tugas pertama yaitu bernafas untuk kebutuhan oksigenasi.
2)      Sel-sel eritrosit yang menstimulasi untuk merangsang timbulnya nafas pertama yang terjadi perubahan kimia dan perubahan suhu yang mempenyai fungsi pernafasan.

e.      Sistem reproduksi
1)      Hingga minggu ke-7 tidak ada perbedaan sex pada janin kemudian terjadi pembentukan cromosomy pada laki-laki untuk pembentukan testis
2)      Pada minggu ke-28 testis mulai turun kearah skrotum dan setelah lahir terjadi pembentukan testosteron tingkat rendah dan secara kontingen disekresi sampai massa pubertas
3)      Pada janin perempuan, pada saat lahir ovarium sudah berisi ovum dan disuplai sepanjang hidupnya
4)       Pseudomenstrusi atau hormon pengeluaran dari vagina dapat terjadi saat lahir, saat hormon material hilang dan tingginya tingkat estrogen maternal juga merangsang “mammary engorgement” dan pengeluaran cairan

3.   Pemeriksaan fisik pada Bayi Baru Lahir
a.      Pemeriksaan umum
1)      Lingkar kepala
Bayi term yang normal ukuran lingkar kepala: 33-35,5 cm. Lingkar kepla biasanya ± 2-3 cm lebih besar dari lingkar dada.
2)      Lingkar dada
Untuk ukuran bayi normal biasanya 30,5-33 cm
3)      Panjang bayi
Diukur dari kepala sampai tumuit dengan ukuran normal 48-53 cm.
4)      Berat badan
Untuk ukuran bayi normal 2700-4000 gram. Kehilangan berat badan kurang dari 10% pada minggu pertama dan bertambah pada minggu-minggu berikutnya setelah bayi mencapai usia 10-14 hari. 
5)      Abnormalitas berat badan bayi kurang dari berat badan normal dan lebih dari 90% dari berat badan normal.

b.      Tanda Vital
a.      Temeperatur Suhu tubuh bayi pada axilla biasanya36,5-37oc dan suhu tubuh pada daerah oral 35,8-37oc
b.      Denyut jantung Pada daerah paru aspek biasanya frekuensi 120-140 x/menit dan keadaan takikardi yaitu frekuensi jantung pada saat istirahat dibawah 80-100x/menit dan keadaan takikardi frekuensi jantung diatas 160-180x/menit.
c.      Repsirasi
d.      Frekuensi pernafasan biasanya 30-60x/menit, takikardi RR diatas 60x/ menit dan bisa terjadi apneu bila dalam keadaan takikardi yang lebih dari 15 detik.
e.      Tekanan darah
f.        Biasanya TD pada lengan dan betis 65/41 Mmhg dan tekanan sistolik pada betis 6-9 mmhg lebih rendah dibanding pada lengan atas.


B.     ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI BARU LAHIR

1.      Pengkajian
a.      Keadaan umum
1)      Postur tubuh
Adanya fleksi kepala apa tidak dan ekstremitas dan adanya retraksi dada dan abdoemen.
2)      Kulit
Adanya sianonis lanugo edema sekitar mata, wajah, kaki, srotum dan labia terjadinya sianosis pada tangan dan kaki yang disebut acrosianosis dan terjadinya keadaan dimana bayi kedingan sementara yang disebut cutis marmorata.
3)      Tulang kranium
Menyatu apa tidak dan terjadi moulding dan tumpang tindih serta adanya hematoma
4)      Mata
Adanya peradangan atau sekresi mukus yang berlebihan refleks terhadap cahaya positif apa tidak adanya kecacatan dan hyperbilirubin apa tidak
5)      Telinga
                  identifikasi adanya kelainan-kelainan pada strukur tulang pembentuk          telinga dan adanya hypersekresi .
6)      Hidung
Identifikasi reflek bayi dalam pengeluaran  mukun dan perhatikan   apakah ada kelainan-kelainan pada bayi yang baru lahir
Perhitungan atau identifikasi yang dilakukan segera bayi lahir adalah dengan menggunakan nilai AFGAR SCORE yang dinilai pada menit pertama setelah bayi lahir dan menit ke lima segera setelah kelahiran bayi.
7)      Mulut dan kerongkongan
-          Keutuhan langit atas
-          Ovula digaris tengah
-          Frenulum lidah
-          Sicting reflek, gag reflek, rootaring reflek
8)      Leher
      Pendek tebal, biasanya dikelilingi lipatan, reflek tonik ned
9)      Dada
-          Pembesaran buah dada
-          Sedikit retraksi sternal, selama inspirasi
-          Prosesus xipod jelas diameter ant, post, lateral sama
10)  Paru
-          Pernafasan abdominal
-          Reflek batuk tidak ada saat lahir timbul 1-2 hari
-          Suara nafas kedua sisi sama
11)  Jantung
      Afek, ruang intercosta 4-5 sisi kiri garis sternum
12)  Abdomen
-          Berbentuk silindris
-          Hati palpasi 2-3 cm dibawah pinggir kanan costal
-          Lamfa dapat dipalpasi pada akhir minggu pertama
-          Ginjal 1-2 cm diatas umbilikus
-          Tali pusat putih kebiruan dua arteri satu vena
13)  Genetalia
-          Laki-laki :
a)      Lubang uretra pada ujung galn gland penis
b)      Testis dapat dipalpasi pada masing-masing scrotum
c)      Scrotum biasanya besaredena ditutupi rugae dengan warna gelap
-          Perempuan :
a)      Labia dan clitoris edema
b)      Meatus uretra dibawah clitoris
c)      Vernik caseosa diantara labia
d)      Kurang dalam 24 jam
14)  Punggung dan rectum
-          Spina utuh tidak ada massa
-          Turnk incurvation reflek
-          Anus membuka
-          Pengeluaran mikonium dalam 48 jam

15)  Gasteremitas
-          Jari tangan/kaki utuh
-          Pergerakan room normal
-          Ujung kaki pink dengan cepanosis sementara setelah lahir
-          Telapak kaki biasa datar
-          Simetris
16)  Neoromuskular
-          Dapat memalingkan kepala dari satu sisi ke sisi lain
-          Dapat menahan kepala pada garis horizontal  dan punggung saat dipegang dalam posisi proe prose
-          Ekstremitas mempertahankan derajat yang sama saat pleksi

2.      Diagnosa Keperawatan
a.      Resiko tinggi hipothermi berhubungan denagn adaptasi yang belum efektif pada bayi antara lingkungan intra uteri dengan akstra uteri
b.      Resiko tinggi gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi berhubungan dengan proses pengeluaran asi yang belum efektif
c.      Resiko terjadi infeksi berhubungan denagn permeabel dan entri portal ekstra tali pusat sirkumsisi
d.      Jalan nafas yang tidak efektif berhubungan dengan hypersekresi mukus
e.      Resiko tinggi terjadinya distress pernafasan berhubungan dengan minimnya atau belum efektifnya reflek bersin pada bayi
f.        Proses perubahan ikatan keluarga berhubungan dengan transisi perkembangan dan penambahan anggota keluarga

3.      Intervensi
a.      DX I
1)      Berikan segera ASI dini atau ekslusif segera setelah bayi lahir
2)      Berikan atau pertahankan lingkungan dengan menciptakan kehangatan yaitu selalu memberikan selimut ekstra pada bayi dan lakukan bounding atac menit
3)      Hindari memandikan bayi setelah lahir dan berikan atau lakukan memandikan bayi dengan menggunakan air hangat

b.      DX II
1)      Berikan penjelasan pada ibu tentang pentingnya ASI dini setelah bayi lahir
2)      Anjurkan ibu untuk selalu menyusui bayinya walaupun pengeluaran ASI belum lancar
3)      Berikan penjelasan bahwa dengan seringnya bayi menyusui walaupun ASI belum keluar tapi daya isapan bayi dapat merangsang dan melancarkan pengeluaran ASI
4)      Lakukan perawatan payudara
5)      Anjurkan ibu untuk memakan makanan yang tinggi protein dan tinggi kalori
6)      Anjurkan ibu untuk minum sebanyak 8 gelas perhari

c.      DX III
1)      Cuci tangan dan instruksikan  ibu melakukannya sebelum memegang bayi
2)      Anjurkan bayi mandi dengan spon sampai tali pusat lepas 
3)      Tinjau ulang perawatan tali pusat yang tepat
4)      Observasi terhadap/diskusikan tanda-tanda infeksi, kaji suhu aksila sesuai indikasi
5)      Memandikan bayi setiap hari dan ganti batlutan tali pusat
6)      lakukan perawatan tali pusat setiap hari dan dengan memberikan betadin pada luka
d.      DX IV
1)      miringkan bayi bila terjadi aspirasi pada bayi
2)      usahakan dan lakukan pemberian ASI dalam keadaan bayi setengah agak tegak
3)      hindari pemberian makanan tambahan apalagi yang meningkatkan hypersekresi

e.      DX VI
1)      Informasikan kepada orang tua tentang kebutuhan-kebuthan neonatus segera dan perawatan yang diberikan
2)      Tempatkan bayi dalam lengan ibu/ayah segera setelah kondisi neonatus memungkinkan
3)      Anjurkan orang tua untuk mengulas dan bicara pada bayi baru lahir
4)      Anjurkan ibu untuk menyusui bayi bila diinginkan
5)      Bagi informasi tambahan dari pengkajian fisik awal bbl
6)      Diskusikan kemampuan bayi untuk berinteraksi





















POSTNATAL


A.     KONSEP DASAR

1.      Pengertian
Masa nifas (puerperium) adailah masa sesudah persalinan yang diperlukan untuk pemulihan kembali alat kandungan selama 6 sampai 8 minggu.

2.      Periode Nifas
a.      Peurperium dini yaitu kepulihan dimana ibu telah diperbolehkan berdiri dan berjalan-jalan. Dalam agama Islam, dianggap telah bersih dan boleh bekerja setelah 40 hari.
b.      Puerperium intermedial yaitu kepulihan menyeluruh alat-alat genitalia yang lamannya 6 sampai 8 minggu.
c.      Remote puerperium adalah waktu yang diperlukan untuk pulih dan sehat sempurna terutama bila selama hamil atau waktu persalinan mempunyai komplikasi, waktu untuk sehat sempurna bisa berminggu-minggu, bulanan atau tahunan.

3.      Perubahan-Perubahan
a.      Involusi rahim
Secara berangsur-angsur menjadi kecil, sehingga akhirnya kembali sebelum hamil, involusi disebabkan proses autolysis, dimana zat protein dinding rahim dipecah, diabsorpsi dan kemudian dibuang dengan air kencing.

Tinggi fundus uterus dan berat uterus menurut masa involusi
Involusi
Tinggi Fundus Uterus
Berat Uterus
Bayi lahir
Uri lahir
1 minggu
2 minggu
6 minggu
8 minggu
Setinggi pusat
2 jari dibawah pusat
pertengahan pusat simfisis
Tidak teraba diatas simfisis
Bertambah kecil
Normal
1000 gram
  750 gram
   500 gram
    350 gram
       50 gram
       30 gram

b.      Involusi tempat plasenta
Setelah persalinan, tempat plasenta merupakan tempat dengan permukaan kasar, tidak rata dan kira-kira sebesar telapak tangan dengan cepat luka ini mengecil, pada akhir minggu ke dua hanya sebesar 3 sampai 4 cm, dan pada akhirnya nifas 1 sampai 2 cm.

Pada permulaan nifas bekas plasenta mengandung banyak pembuluh darah besar yang tersumbat oleh thrombus, biasanya luka yang demikian sembuh dengan menjadi parut, tetapi luka bekas plasenta tidak meninggalkan parut.

c.      Perubahan pembuluh darah rahim
Dalam kehamilan, uterus banyak mempunyai pembuluh-pembuluh darah yang besar, tetapi karena setelah persalinan tidak diperlukan lagi peredaran darah yang banyak, maka arteri harus mengecil lagi dalam nifas.

d.      Perubahan pada cervix dan vagina
Beberapa hari setelah persalinan, ostium externum dapat dilalui oleh 2 jari, pinggir-pinggirnya tidak rata tetapi retak-retak karena robekan dalam persalinan.
Pada akhir minggu pertama hanya dapat dilalui oleh 1 jari saja, dan lingkaran rettraksi berhubungan dengan bagian atas dari canalis cervicalis. vagina yang sangat diregang waktu persalinan lambat laun mencapai ukuran-ukurannya yang normal, pada minggu ketiga post partum rugae mulai nampak kembali.

e.      Dinding perut dan peritoneum
Setelah persalinan dinding perut longgar karena diregang begitu lama, tetapi biasanya pulih kembali dalam 6 minggu.
Kadang-kadang pada wanita yang asthenis dapat diastasis dari otot-otot rectus abdominis sehingga sebagian dari dinding perut digaris tengah hanya terdiri dari peritoneum, fascia tipis dan kulit.

f.        Saluran kencing
Dinding kandung kencing memperlihatkan edema dan hyperaemia. Kadang-kadang edema dari trigonun, menimbulkan obstruksi dari urethra sehingga terjadi retentio urin.

g.      Laktasi
Masing-masing terdiri dari 15 sampai 24 lobi yang terletak dan terpisah satu sama lain oleh jaringan lemak.
Tiap lobus terdiri dari lobuli yang terdiri pula dari acini. Acini ini menghasilkan air susu.
Tiap lobulus mempunyai saluran halus untuk mengalirkan air susu, saluran ini disebut Ductus lactiferosus. Pada waktu ini buah dada belum mengandung susu, melainkan colostrum yang dapat dikeluarkan dengan memijat aerrola mammae colostrum alkalis, colostrum lebih banyak mengandung protein dan garam.

4.      Klinik Nifas
a.      Lochia
Adalah cairan sekret yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam masa nifas.
1)      Lochia Rubra (cruenta): Berisi darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban sel-sel desidua, vernic caseosa, lanugo dan mekonium selama 2 hari pasca persalinan.
2)      Lochia sanguinolenta: Berwarna merah, kuning berisi darah dan lendir hari ke 3-7 pasca persalinan.
3)      Lochia serosa: Berwarna kuning, cairan tidak berdarah lagi pada hari ke 7-14 pasca persalinan.
4)      Lochia alba: Cairan putih setelah 2 minggu.
5)      Lochia stasis: Lochia tidak lancar keluarnya.

b.      Keadaan umum ibu:
Suhu    :   beberapa hari setelah persalinan suhu agak baik sedikit 37,2oc-37,5oc karena penghisapan zat putih telur dari rahim, jika suhu melebihi dari 38oc dianggap tidak wajar.
Nadi     :   persalinan mungkin lebih lambat karena ibu dalam keadaan istirahat penuh, tapi setelah diobservasi nadi ibu 80x/menit.
Miksi    :   pembentukan air seni meningkat dan darah terdapat pada hari ke-1 dan



5.      Perawatan Pasca Persalinan
a.      Mobilisasi
Karena lelah sehabis bersalin, ibu harus istirahat, tidur terlentang selama 8 jam pasca persalinan, kemudian boleh miring-miring ke kanan dan ke kiri untuk mencegah terjadinya trombosis dan tromboemboli. Pada hari ke 2 diperbolehkan duduk, hari ke 3 jalan-jalan dan pada hari ke 5 sudah diperbolehkan pulang. Mobilisasi diatas mempunyai variasi, bergantung pada kompukasi persalinan nifas dan sembuhnya luka-luka.

b.      Diet
Makanan harus bermutu, bergizi dan cukup kalori, sebaiknya makan makanan yang mengandung protein, banyak cairan, sayur-sayuran dan buah-buahan.

c.      Suhu
Harus diawasi terutama dalam minggu pertama dari masa nifas karena kenaikan suhu adalah tanda pertama infeksi.


d.      Miksi
Tiap penderita dianjurkan kencing 6 jam post partum, kalau dalam 8 jam post partum belum dapat kencing atau sekali kencing belum melebihi 100 cc, maka dilakukan kateterisasi akan tetapi, bila kandungan kencing penuh, tidak usah menunggu sampai 8 jam untuk kateterisasi.

Sebab-sebab retensi urin post partum :
1)      Tekanan intra abdominal berkurang
2)      Otot-otot perut masih lemas
3)      Edema dari uretra
4)      Dinding kandung kencing kurang sensitif

e.      Defekasi
Jika penderita hari ke 3 belum juga buang air besar, maka diberi clysma air sabun atau glycerine.

f.        Puting susu
Harus diperhatikan kebersihannya dan luka pecah harus diobati, karena kerusakan puting susu merupakan port dientree dan dapat menimbulkan mastitis.

Air susu yang kering merupakan kerusakan dan dapat merangsang kulit sehingga terjadi eczema : maka sebaiknya putting susu dibersihkan dengan air yang telah dimasak, tiap kali sebelum dan sesudah menyusukan bayi.

g.      Datangnya haid kembali
Ibu yang tidak menyusukan anaknya, haidnya datang lebih cepat dari ibu yang menyusukan anaknya.


h.      Laktasi
Untuk menghadapi masa laktasi sejak dari kehamilan telah terjadi perubahan-perubahan pada kelenjar mammae yaitu :
-          Proliferasi jaringan pada kelenjar-kelenjar, alveoli, dan jaringan lemak bertambah.
-          Hipervaskularisasi pada permukaan dan bagian dalam, dimana vena-vena berdiri diatas sehingga tampak jelas.
-          Setelah persalinan, pengaruh supresi estrogen dan progesteron hilang maka timbul pengaruh hormon LH dan prolaktin yang akan merangsang air susu.

i.         Follow up
6 minggu setelah persalinan ibu hendaknya memeriksa dirinya kembali.

j.         Keluarga berencana
Masa post partum merupakan saat yang paling baik untuk menawarkan kontrasepsi, oleh karena pada saat ini motivasi paling tinggi, oleh karena pil dapat mempengaruhi sekresi air susu.


B.     ASUHAN KEPERAWATAN POST NATAL

1.      Pengkajian
a.      Aktivitas / Istirahat
Tampak berenergi / kelelahan / keletihan, mengantuk.
b.      Sirkulasi
Nadi biasanya lambat (50-70 dpm), karena hipersensitivitas vagal tekanan darah berfariasi, edema bila ada kehilangan darah selama persalinan.
c.      Eliminasi
Hemoroid sering ada dan menonjol, kandung kemih mungkin teraba diatas symfisis pubis atau kateter urinarius mungkin dipasang diuresis dapat terjadi.
d.      Makanan / cairan
Dapat mengeluh haus, lapar atau mual
e.      Neuresonsori
Sensasi dan gerakan ekstremitas bawah menurun.
f.        Nyeri / ketidaknyamanan
Trauma jaringan, kandung kemih penuh, perasaan dingin.
g.      Seksualitas
Fundus keras terkontraksi, lochia jumlahnya sedang, perineum bebas dari kemerahan, edema echymosis, striae mungkin ada, payudara lunak, putting tegang.
h.      Pemeriksaan diagnostic
Hemoglobin / hematokrit, jumlah darah lengkap, urinalisis.

2.    Diangnosa
a.      Perubahan proses keluarga berhubungan dengan peningkatan perkembangan anggota keluarga.
b.      Resiko tinggi kekurangan volume cairan berhubungan dengan ketidak edekuatan perpindahan cairan.
c.      Nyeri berhubungan dengan trauma mekanis.
d.      Menyusui berhubungan dengan tingkat pengetahuan.
e.      Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan trauma jaringan.

3.    Intervensi
a.      Diagnosa 1:
1)      Anjurkan klien untuk menggendong, menyentuh, dan memeriksa bayi.
2)      Anjurkan ayah untuk menyentuh dan menggendong bayi dan membantu dalam perawatan, bayi sesuai kondisi.
3)      Observasi dan catat interaksi bayi – keluarga.

b.      Diagnosa 2 :
1)      Tempatkan klien pada posisi rekumben.
2)      Kaji hal yang memperberat kejadian intrapartum.
3)      Catat lokasi dan konsitensi fundus setiap 15 menit.
4)      Masase fundus bila lunak.
c.      Diagnosa 3 :
1)      Kaji sifat dan derajat ketidak nyaman.
2)      Beri ucapan selamat kepada pasangan karena bayinya lahir.
3)      Berikan informasi yang tepat tentang perawatan rutin selama periode pasca partum.
d.      Diagnosa 4 :
1)      Kaji pengetahuan dan pengalaman klien tentang menyusui sebelumnya.
2)      Tentukan sistem pendukung yang tersedia pada klien.
3)      Berikan informasi mengenai fisiologi, perawatan payudara dan keuntungan menyusui.
e.      Diagnosa 5 :
1)      Pantau suhu dan nadi.
2)      Kaji tanda – tanda infeksi
3)      Inspeksi perbaikan episitiotomi
4.    Evaluasi
a.      Diagnosa 1:
1)      Menggendong bayi, saat kondisi ibu dan neonatus memungkinkan.
2)      Mendemonstrasikan prilaku kedekatan dan ikatan yang tepat.
b.      Diagnosa 2 :
-          Menunjukan TTV dalam batas normal.
c.      Diagnosa 3 :
1)      Mengungkapkan rreduksi ketidak nyamanan atau nyeri.
2)      Postur dan ekspresi wajah rileks.
d.      Diagnosa 4 :
1)      Mengungkan pemahaman tentang proses menyusui.
2)      Mendemonstrasikan tekhnik efektif dari menyusui.
e.      Diagnosa 5 :
1)      Bebas dari komplikasi
2)      Menurunkan faktor resiko 
SEKSIO CESAREA



A.     KONSEP SEKSIO SESAREA


1.      Pengertian 

SC adalah tindakan untuk melahirkan bayi perabdominal atau pervaginam dengan membuka dinding uterus

2.      Klasifikasi SC

a.      seksio sesarea transperitoneal
b.      seksio sesarea korporal
c.      seksio sesarea  ektra peritoneal, terbagi atas:
-          perabdominal
-          pervaginam

Berdasarkan saat di lakukannya seksio sesarea di  bagi atas   :
a.      seksio sesarea primer : perencvanaan pada wqaktu ante natal care
b.      seksio sesasrea  : tidak di rencanakan lebih dahulu, sewaktu masuk sudah termasuk kasus emergensi

3.      Indikasi Seksio Sesarea

a.      Ibu :
1)      disporposi sefaloserviks
2)      plasenta previa
3)      letak lintang
4)      tumor jalan lahir
5)      jaringan parut  bekas sesarea yang tidak baik
6)      incoordinat uterine action
7)      pre eklamsia / eklamsia
8)      solusio plasenta
9)      infelsi intra partum
b.      Bayi:
1)      gawat janin
2)      prolapsus funikuli
3)      primi gravida tua
4)      kehamilan dengan DM
5)      infeksi intra partum

Keuntungan dan Kerugian SC transperitoneal profunda (TPP) dan korporal
                                                Korporal                                  TTP
a.      inersi                      korpus uteri                             segmen bawah uterus
b.      perdarahan            banyak                                    sedikit
c.      penyembuhan       kurang baik                             baik
d.      perlengketan         kemungkinan besar                kecil/ tidak ada
e.      ruptura uteri           sering terjadi                            jarang terjadi
f.        tehnik melakukan                                                 lebih mudah    lebih sulit
g.      luka                       tidak dapat di tutupi                 terletak ekstraperitoneal        




4.      Penatalaksanaan Medis

a.      Operasi
b.      Antibiotik seperti amoxsan
c.      Transamin
d.      Metergin / biosanbe


B.    ASUHAN KEPERAWATAN PADA POST SC

1.      Pengkajian
a.      data demografi
b.      riwayat kehamilan masa lalu
c.      frekuensi koitus
d.      keadaan emosi
e.      kebiasaan merokok , peminum alkohol
f.        kaji tingkat kenyamanan
g.      kaji masalah perinatal, peningkatan TD, infeksi saluran kemih
h.      auskultsasi denyut jantung janin
i.         kaji tanda-tanda infeksi pada daerah perineum

2.      Diagnosa Keperawatan
a.      Gangguan rasa nyaman : nyeri b.d luka post ops SC
b.      resiko tinggi  infeksi b.d invasi MO kedalam luka insisi pembedahan
c.      intoleran aktivitas b.d kelemahan fisik
d.      gangguan eliminasi fecal b.d imobilisasi
e.      kurang pengetahuan tentang proses penyakit atau tindakan yang di lakukan b.d kurang informasi

3.      Intervensi
a.      DX  I
1)      Kaji lokasi sifat dan durasi nyeri
2)      Bantu klien padsa posisi yang nyaman
3)      Beri motivasi pada klien untuk tarik nafas dalam jika terasa sakit 
4)      Anjurkan klien melakukan tehnik distraksi seperti baca buku
5)      Kolaborasi dengan tim medis tentang pemberian analgetik

b.      DX  2
1)      Obsevasin TTV tiap 4 jam
2)      Ganti balutan luka dengan menggunakan bethadine dan kassa streil
3)      Lakukan perawatan luka dengan menggunakan  tehnik aseptik dan anti septik
4)      Kaji tanda-tanda infeksi
5)      Kolaborasi tentang pemberian obat antibiotic

c.      DX 3
1)      Observasi TTV
2)      Anjurkan klien untuk melakukan miring  kiri dan miring kanan
3)      Motivasi klien dalam bermobilisasi
4)      Kaji aktivitas klien
5)      Libatkan klg dalam aktivitas klien















PLASENTA PRAEVIA



A.     KONSEP DASAR

Implanntasi plasenta yang normal adalah: pada didinding depan atau dnding belakang rahim di daerah fundus uteri, dan secara garis besar dan secara garis besar terdiri atas dua bagian

1.      Definisi Plasenta Praevia
Plasenta yang letaknya abnormal yaitu pada segmen bawah rahim sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh permukaan jalan lahir.

Plasenta praevia dapat diklasifikasikan berdasarkan atas terabanya jaringan plasenta melalui pembukaan jalan lahir.
a.      Placenta praevia totalis, yaitu: Seluruh permukaan tertutup oleh jaringan placenta.
b.      Placenta praevia lateralis, yaitu: sebagian permukaan tertutup oleh jaringan placenta.
c.      Plasenta marginalis, yaitu: pinggir plasenta tetap pada pinggir pembukaan
d.      Plsenta letak rendah, yaitu: adalah yang menutupi pembukaan jalan lahir

2.      Patofisiologi
Placenta praevia lebih sering terjadi pada multi gravida dan pada umur ibu yang lanjut, biasanya perdarahan baru timbul setelah bulan ke tujuh yang bersifat berulang-ulang. Dengan bertambah tuanya kehamilan segmen bawah rahim dan pembukaan serviks tidak dapat diikuti oleh placenta yang terletak disitu tanpa terlepasnya sebagian placenta dari dinding uterus. Pada saat ini mulailah terjadi perdarahan, darah berwarna merah segar berbeda dengan darah yang disebabkan oleh solotio placenta yang berwarna kehitaman. Nasib janin sangat tergantungdari banyaknya perdarahan dan tuanya kehamilan pada saat persalinan.

Akan tetapi persalinan yang terpaksa diselesaikan dengan janin diselesaikan dengan janin yang prematur tidak selalu dapat dihindarkan.

Setelah janin lahir seringkali terjadi perdarahan karena perlekatan placenta pada dinding uterus dan ketidak mampuan serabut otot segmen bawah uterus untuk berkontraksi menghentikan perdarahan dari bekas insersio placenta atau karena pertukataran serviks dan segmen bawah uterus yang rapuh serta banyak mengandung pembuluh darah yang besar yang dapat terjadi bila persalinan barlangsung pervagina.

Untuk mengurangi angka kejadian tersebut maka dilakukan tindakan pembedahan dinding perut dan dinding uterus, dengan syarat rahim dalam keadaan utuh dan berat janin diatas 500 gram. (Hanifa 1989).

3.      Etiologi
Placenta praevia dapat terjadi pada:
a.      Keadaan endometrium yang belum matang dan placenta lebih besar dan tipis.
b.      Diperkirakan terdapat defisiensi endometrium dan desidua pada segmen atas uterus sehingga placenta akan meluas untuk mendapatkan suplai darah. Hal ini didapatkan pada multi para dengan jarak kehamilan yang pendek dan endometrium hipoplastis yaitu kawin dan hamil pada usia muda.
c.      Endometrium bercacat karena bekas persalinan yang berulang-ulang kurattase, manual placenta dan bekas operasi.
d.      Pada korpus lateum yang bereaksi lambat disebabkan endometrium belum siap menerima hasil konsepsi.
e.      Adanya tumor seperti myoma uteri dan polip endometrium.
f.        Kada-kadang terjadi pada keadaan malnutrisi.


4.      Gejala
Gejala yang terpenting adalah perdarahan tanpa rasa nyeri. Biasanya timbul pada bulan ke tujuh dan kepala anak tinggi dimana kepala tidak dapat mendekati pintu atas panggul. Selanjutnya terjadi kelainan letak, misalnya letak lintang, perdarahan timbul tanpa sebab apapun dan secara tibab-tiba bersifat berulang-ulang, dan lebih banyak dari sebelumnya.

5.      Penatalaksanaan
Apabila ada penilaian yang baik yaitu perdarahan sedikit belum inpartu kehamilan belum cukup 37 minggu atau berat janin dibawah 2500 gram. Perdarahan dapat ditunda dengan istirahat total, memberikan obat spasmolitika progestin atau progesteron dan observasi secara teliti bila kehamilan tidak dapat dipertahankan, maka ada dua alternatif yang mungkin dapat dilakuakan pada pasien dengan placenta praevia, yaitu:
a.      Perdarahan pervagina yang bertujuan agar bagian terbawah janin menekan placenta dan bagian yang berdarah.
b.      Pembedahan (SC) bertujuan mengangkat tempatnya sumber perdarahan dengan demikian memberikan kesempatan pada uterus untuk berkontraksi serta menghindarkan perlukaan servix dan segmen bawah uterus yang rendah.

B.     ASUHAN KEPERAWATAN PADA POST SC

1.      Pengkajian
a.      Data demografi
b.      Riwayat kehamilan masa lalu
c.      Frekuensi koitus
d.      Keadaan emosi
e.      Kebiasaan merokok , peminum alkohol
f.        Kaji tingkat kenyamanan
g.      Kaji masalah perinatal, peningkatan TD, infeksi saluran kemih
h.      Auskultsasi denyut jantung janin
i.         Kaji tanda-tanda infeksi pada daerah perineum

2.      Diagnosa Keperawatan
f.        Gangguan rasa nyaman : nyeri b.d luka post ops SC
g.      Resiko tinggi  infeksi b.d invasi MO kedalam luka insisi pembedahan
h.      Intoleran aktivitas b.d kelemahan fisik
i.         Gangguan eliminasi fecal b.d imobilisasi
j.         Kurang pengetahuan tentang proses penyakit atau tindakan yang di lakukan b.d kurang informasi

3.      Intervensi
a.      DX  1
1)      Kaji lokasi sifat dan durasi nyeri
2)      Bantu klien padsa posisi yang nyaman
3)      Beri motivasi pada klien untuk tarik nafas dalam jika terasa sakit 
4)      Anjurkan klien melakukan tehnik distraksi seperti baca buku
5)      Kolaborasi dengan tim medis tentang pemberian analgetik

b.      DX  2
1)      Obsevasin TTV tiap 4 jam
2)      Ganti balutan luka dengan menggunakan bethadine dan kassa streil
3)      Lakukan perawatan luka dengan menggunakan  tehnik aseptik dan anti septik
4)      Kaji tanda-tanda infeksi
5)      Kolaborasi tentang pemberian obat antibiotik
c.      DX 3
1)      Observasi TTV
2)      Anjurkan klien untuk melakukan miring  kiri dan miring kanan
3)      Motivasi klien dalam bermobilisasi
4)      Kaji aktivitas klien
5)      Libatkan klg dalam aktivitas klien
CARSINOMA SERVIKS



A.     KONSEP DASAR


1.      Pengertian

Carsinoma serviks adalah pertumbuhan sel yang abnormal yang  bermetastase secara cepat yang terjadi di daerah serviks atau leher rahim.

2.    Etiologi

Penyebab langsung dari carsinoma reviks belum diketahui, beberapa faktor yang menunjukkan hubungan kuat dengan carsinoma serviks adalah :
a.      Wanita dengan coitus pertama pada usia sangat muda kurang dari 16 tahun.
b.      Sering berganti-ganti pasangan seksual.
c.      Riwayat terkena infeksi virus yang ditularkan melalui hubungan seksual, contohnya: herpes simplex (tipe Z/HSV-Z) dan human papilorma virus (terutama tipe HPV-16 dan HPV-18).
d.      Tingginya paritas (multiple pregnancy) jarak persalinan yang pendek.
e.      Sosial ekonomi rendah, misalnya : hygiene seksual yang buruk.
f.        Rendahnya kadar vitamin A, C dan asam folat dalam diet.
g.      Perokok dan peminum alkohol.

3.    Patofisiologi

Carsinoma serviks timbul dibatasi antara epitel yang melapisi ekstoserviks (portio) dan endoserviks kanalis sreviks yang disebut squama cloumnar junction (SCJ). Pada wanita mudah squama columnar junction ini berada di luar ostium uteri eksternum, sedangkan pada wanita berumur lebih dari 35 tahun squama columnar junction berada di dalam kanalis serviks.

Penyebaran pada umumnya secara limfogen melalui pembuluh getah bening yang menuju 3 arah :
a.      Ke arah forniks dan dinding vagina.
b.      Ke arah corpus uteri.
c.      Ke arah parametrium dan dalam tingkatan yang lanjut menginfiltrasi septum rektovaginal dan kandung kemih.

Tumor dapat tumbuh dengan cara :
a.      Eksofilik, mulai dari squama columnar junction ke arah lumen vagina sebagai masa prliperatif yang mengalami infeksi sekunder dan nekrotis.
b.      Endofilik, mulai dari squama columnar junction tumbuh ke dalam stroma sreviks dan cenderung untuk mengadakan infiltrasi menjadi ulkus.
c.      Ulseratif, mulai dari squama columnar junction dan cenderung merusak struktur jaringan serviks dengan melibatkan awal forniks vagina untuk menjadi ulkus yang luas.

Jika sel tumor sudah terdapat lebih dari 1 mm dari membrana basalis atau kurang dari 1 mm tetapi sudah tampak berada dalam pembuluh limfe atau darah, maka prosesnya sudah invasif. Sesudah tumor menjadi invasif, penyebaran secara limfogen menuju ke limfa regional menuju forniks vagina, korpus uterus, rektum dan kandung kemih, yang pada tahap akhir menimbulkan fistula rektum dan fistula kandung kemih.

Penyebaran limfogen ke parametrium akan menuju limfa regional melalui ligamentum latum, kelenjar-kelenjar illiaka, obturator, hipogastrika, prasakral, praaorta melalui trunkus mencapai paru, hati, ginjal dan otak.


4.    Manifestasi Klinis

Gejala dari carsinoma serviks, dapat dimanifestasikan sebagai berikut:
a.      Keputihan, getah yang keluar dari vagina, makin lama akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan.
b.      Perdarahan kontak, misalnya : setelah senggama.
c.      Perdarahan spontan diluar senggama, akibat terbukanya pembuluh darah, yang lebih sering terjadi pada tingkat klinik lanjut yaitu stadium II atau III terutama tumor yang bersifat eksofilik.
d.      Perdarahan spontan saat defekasi akibat tergesernya tumor eksofilik dari serviks.
e.      Anemia akibat dari perdarahan berulang.
f.        Nyeri akibat infiltrasi sel tumor ke serabut saraf.
g.      Gejala-gejala sehubungan dengan metastasis yang jauh.

Tingkat Keganasan Klinik (Figo, 1978)
a.      Tingkat 0      :  karsinoma insitu (Kis) atau karsinoma intraepitel dimana membran basalisnya masih utuh.
b.      Tingkat 1      :  proses terbatas pada serviks, walaupun ada perluasan korpus uteri.
c.      Tingkat 1a    :  karsinoma mikroinvasif, bila membrana basalis rusak dan sel tumor sudah memasuki stroma, tidak lebih dari 3 mm dan sel tumor tidak terdapat dalam pembuluh limfa atau darah.
d.      Tingkat 1b OCC :  (1b occult, 1b yang tersembunyi), secara klinis tumor belum tampak sebagai karsinoma, tetapi pada pemeriksaan histologik ternyata sel tumor telah mengadakan invasi stroma, melebihi 1a.
e.      Tingkat 1b    :  secara klinis sudah diduga adanya tumor yang secara histologik menunjukkan invasi ke dalam stroma serviks uteri.
f.        Tingkat II      :  proses keganasan sudah keluar dari serviks dan menjalar ke 2/3 bagian atas vagina, dan ke parametrium tetapi tidak sampai dinding panggul.
g.      Tingkat IIa    :  penyebaran hanya ke vagina, parametrium masih bebas dari infiltrat tumor.
h.      Tingkat IIb    :  penyebaran hanya ke parametrium, unilateral atau bilateral tetapi belum sampai dinding panggul.
i.         Tingkat III     :  penyebaran telah sampai ke 1/3 bagian distal, vagina atau ke parametrium sampai dinding panggul.
j.         Tingkat IIIa   :  penyebaran sampai ke 1/3, bagian distal vagina sedang ke parametrium tidak dipersoalkan asal tidak sampai dinding panggul.
k.      Tingkat IIIb   :  penyebaran sudah sampai dinding panggul, tidak ditemukan daerah bebas infiltrasi antara tumor dinding panggul atau proses pada tingkat klinik I atau II, tetapi sudah ada gangguan faal ginjal.
l.         Tingkat IV     :  proses keganasan telah keluar dari panggul kecil dan melibatkan mukosa rektum dan kandung kemih atau telah terjadi metastase ke luar panggul atau ke tempat-tempat yang jauh.
m.    Tingkat IVa   :  proses sudah keluar dari panggul kecil, atau sudah menginfiltrasi mukosa rektum atau vesika urinaria.
n.      Tingkat IVb   :  telah terjadi penyebaran jauh.      

5.    Penatalaksanaan

Penatalaksanaan medis untuk klien dengan carsinoma serviks adalah :
a.      Pada tingkat klinis (Kis) dibenarkan dilakukan elektrokongulasi/ electrofulgerasi, bedah krio (cryosunrgery) atau dengan sinar laser.
b.      Biopsi kerucut (kone biopsi), meskipun klien didiagnostik acapkali menjadi terapeutik).
c.      Bila klien cukup tua atau punya cukup anak, bisa dilakukan histerektomy sederhana (simple vaginal histerektomy).
d.      Pada kasus-kasus tertentu dimana operasi merupakan kontraindikasi maka aplikasi dengan radium dengan dosis 6500-7000 rads titik A, tanpa penambahan penyinaran luar dapat dilakukan.
e.      Bilamana kedalaman invasi kurang dari atau hanya 1 mm dan tidak meliputi area yang luas, serta tidak melibatkan pembuluh limfa atau darah, penanganannya seperti pada kis
f.        Pada tingkat 1a, ditangani sebagai kanker invasif.
g.      Tingkat 1b-IIa, dilakukan histerektomy radikal dengan limfadenektomy panggul, dilanjutkan dengan penyinaran pasca bedah (tergantung ada atau tidak sel tumor dalam kelenjar limfa regional).
h.      Pada tingkat IIb-IV, tidak dibenarkan melalui tindakan bedah untuk primer tapi harus dilakukan radiography.
i.         Bilamana diperlukan penyinaran pasca bedah dilakukan radiasi luar dengan cobalt 60 dosis 500 rads, (fraksi 200 rads/hari selama 25 hari) kemudian dengan radiasi dalam aplikasi, 2 kali, interval 1-2 minggu @ 760 R dititik A (setinggi 2 cm dari klien dan sejauh 2 cm dari sumbuh uterus di titik B).
j.         Pada tingkat klinik IVa dan IVb, penyinaran hanya bersifat paliatif dengan pemberian chemotheraphy atau dapat dipertimbangkan.
k.      Pada penyakit yang kambuh 1 tahun, setelah penanganan lengkap :
1)      Jika therapi terdahulu radiasi dan prosesnya terbatas pada panggul maka dilakukan operasi, jika proses sudah jauh atau tidak mungkin operasi maka chemotheraphy terdiri dari kombinasi beberapa sitotastika atau polichemotherapi.
2)      Jika therapy terdahulu terbatas pada panggul maka dilakukan penyinaran, jika penyebaran sudah lanjut dilakukan chemotherapy.

 


B.     ASUHAN KEPERAWATAN


1.      Pengkajian

a.      Aktivitas/Istirahat
Kelemahan atau keletihan yang dapat disebabkan oleh perubahan pada pola istirahat dan jam kebiasaan tidur pada malam hari (adanya faktor-faktor yang mempengaruhi tidur misalnya : nyeri, ansietas, keringat malam).
b.      Sirkulasi
Gejala         :  Palpitasi, nyeri dada.
Kebiasaan   :  Perubahan pada tekanan darah.

c.      Integritas Ego
Gejala         :  Faktor stres (keungan, pekerjaan, perubahan peran), caar mengatasi stres, masalah perubahan dalam penampilan.
Dapat dilihat dari adanya penyangkalan, perasaan tidak percaya dan putus asa.



d.      Eliminasi
Gejala         :  Perubahan pada pola defekasi, contoh : darah pada feces, perubahan pada pola eliminasi urinalius, contoh : nyeri/rasa terbakar saat berkemih.
Tanda          :  Perubahan pada bising usus.
e.      Makanan/Cairan
Gejala         :  Anoreksia, mual, muntah, intoleransi makanan, perubahan pada berat badan, berkurangnya masa otot.
Tanda          :  Perubahan pada kelembaban/turgor kulit, edema.
f.        Interaksi Sosial
Ketidakadekuatan/kelemahan sistem pendukung, masalah tentang fungsi atau tanggung jawab peran.
g.      Neurosensori
Pusing, sinkope.
h.      Seksualitas
Masalah seksual, misalnya : dampak pada hubungan, perubahan pada tingkat kepuasan.

2.      Diagnosa Keperawatan dan Intervensi

a.      Resiko tinggi terhadap perubahan perfusi jaringan terhadap penurunan atau penghentian aliran darah.
Intervensi :
1)      Observasi tanda-tanda vital.
2)      Observasi pengisian kapiler.
3)      Kaji keluaran/karakteristik urine.
4)      Inspeksi balutan dan pembalutan perineal, perhatikan warna, jumlah.
5)      Ubah posisi pasien dan latihan nafas dalam.
6)      Periksa tanda-homan, perhatikan eritema, pembengkakan ekstremitas.
b.      Perubahan eliminasi urinarius berhubungan dengan gangguan sensori.
Intervensi :
1)      Perhatikan pola berkemih.
2)      Palpasi kandung kemih.
3)      Berikan perawatan kebersihan perineal.
4)      Kaji karakteristik urine.
c.      Resiko tinggi konstipasi berhubungan dengan nyeri/ketidaknyamanan abdomen.
Intervensi :
1)      Auskultasi bising usus.
2)      Perhatikan distensi abdomen.
3)      Perhatikan adanya mual atau muntha.
4)      Dorong pemasukan cairan adekuat.
d.      Nyeri berhubungan dengan proses penyakit.
Intervensi :
1)      Kaji karakteristik nyeri, lokasi nyeri, frekuensi nyeri, lamanya nyeri, intensitas nyeri.
2)      Dorong penggunaan keterampilan managemen nyeri (misalnya: teknik relaksasi, sentuhan terapeutik).
3)      Berikan tindakan kenyamanan (misalnya : gosokan punggung).
4)      Berikan analgesik sesuai indikasi.
e.      Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan status hipermetabolik.
Intervensi :
1)      Pantau masukan makanan setiap hari.
2)      Ukur tinggi badan, berat badan, lipatan kulit.
3)      Kaji penurunan berat badan.
4)      Dorong klien untuk makan diet tinggi kalori, kaya nutrisi dengan masukan cairan yang adekuat.
5)      Timbang berat badan secara periodik.
6)      Berikan obat antiemetik sebelum makan.


3.      Evaluasi

a.      Diagnosa 1
Menunjukkan perfusi adekuat, sesuai dengan bukti tanda-tanda vital, pengisian kapiler baik, keluaran urine adekuat dan bebas edema.
b.      Diagnosa 2
Mengosongkan kandung kemih secara teratur dan tuntas.
c.      Diagnosa 3
Memperhatikan pola eliminasi biasanya.
d.      Diagnosa 4
Mengekspresikan penurunan nyeri/ketidaknyamanan.
Tampak rileks, mampu tidur/istirahat dengan tepat.
e.      Diagnosa 5
Adanya peningkatan berat badan, nutrisi terpenu

KISTA OVARIUM



A.     KONSEP DASAR


1.      Pengertian

Kista adalah kantong berisikan cairan semisolid (setengah padat). Kista pada ovarium menyebabkan terjadinya pembesaran pada ovarium dan dapat berkembang setiap waktu dan dapat terjadi pada wanita pubertas dan menopouse.

2.      Etiologi

Penyebab dari kista ovarium sampai saat ini belum dapat diketahui.

3.      Tanda dan Gejala

Tanda dan gejala kista ovarium benigna masing-masing tergantung dari jenisnya. Gejala dari tumor kistik ovari yang neoplastik adalah :
a.      Kista Follikel
Kista ini tidak memberikan gejala, bila kista ini membesar akan memberikan rasa penuh dan tidak enak.
b.      Kista Lutein
Kista ini sering menyerupai kehamilan, sering disertai perdarahan dan rasa sakit pada perut bagian bawah dan ditemukan pula benjolan.
c.      Kista Endometrial
Gejala yang nampak adalah dysminorrhoe, kram perut, perdarahan uterus yang abnormal dan rasa sakit menjelang haid atau sesudah haid pada perut bagian bawah dan belakang pinggang.
d.      Kista Inklusi Germinal dan Peradangan Tuba Ovarii
Gejala yang jelas belum nampak berarti.
e.      Kista Stein Laventhal
Secara klinis, yaitu sterilisasi, obesitas dan aligomenorrhoe dan disertai menorragia dan clitoris membesar.

4.      Patofisiologi

Kanker ovarium dapat bermetastase dengan invasi langsung ke struktur-struktur yang berdekatan dengan abdomen dan panggul dan melalui penyebaran benih tumor melalui cairan peritoneal ke rongga abdomen dan rongga panggul, pembesaran ovarium mungkin merupakan indikasi adanya gangguan sirkulasi darah, pada ovarium yang mempunyai peranan untuk mengembangkan fungsi ovarium. Beberapa wanita mengeluh adanya perasaan tidak nyaman pada perut, tidak teraturnya menstruasi, infertility dan adanya gangguan hormonal dan dapat mempersulit persalinan.

5.      Manifestasi Klinis

a.      Gejala-gejala tidak jelas, dapat berupa berat di panggul.
b.      Sering berkemih.
c.      Perubahan fungsi saluran cerna yang disertai rasa penuh pada abdomen.
d.      Beberapa wanita mengalami perdarahan vaginal abnormal, sekunder dari hiperplasi endometrium, jika tumornya menghasilkan estrogen.
e.      Gejala-gejala abdomen akut dapat timbul mendadak, jika terjadi perdarahan dalam tumor, tumor atau torsi ovarium.


6.      Klasifikasi Tingkat Keganasan Ca-Ovarium Menuruf Figo

Tingkat I       :  terbatas pada ovarium
Tingkat Ia     :  satu ovarium tanpa ascites.
Tingkat Ib     :  kedua ovarium tanpa ascites.
Tingkat II      :  dengan perluasan ke panggul.
Tingkat IIa    :  uterus dan tuba tanpa ascites.
Tingkat IIb    :  jaringan panggul lainnya tanpa ascites.
Tingkat IIc    :  jaringan panggul lainnya dengan ascites.
Tingkat III     :  perluasan ke usus halus/omentum dalam panggul atau penyebaran peritoneal.
Tingkat IV     :  penyebaran ke alat-alat jauh.

7.      Klasifikasi Kista Ovarium

a.      Tumor ovarii yang benigna
-          Kistik   ®  non neoplastik dan neoplastik
-          Solid    ®  fibrom, limphangioma.
b.      Tumor ovarii yang maligna
-          Kistik   : cysta adenocarsinomucinosum, serosum, epidermoid carcinnoma.
-          Solid    :            carsinoma, endometroid, mesoncphroma.
Kista yang paling sering terjadi terutama bersifat neoplastik dibandingkan dengan yang bersifat plastik.

8.      Penalaksanaan

Penanganan tumor ovarium yang penting adalah dalam penentuan diagnosa yang tepat dengan melakukan pemeriksaan  laparascopi, USG, rontgen foto, parasintesis dan tindakan lanjut operasi yang dapat menentukan ganas atau tidaknya tumor.

9.      Therapi

a.      Semua tipe Ca ovarium ditangani dengan pembedahan ® prosedur standar yaitu: histerektomi abdominalis totalis dan salpingo ooforektomi bilateral.
b.      Kemotherapi susulan, biasanya diberikan pula penyakit telah menyebar ke bawah ovarium.
Therapi yang paling efektif adalah deksorubisin dan sisplatin yang dikombinasi dengan siklofos famid dan heksametil melanin.


B.     ASUHAN KEPERAWATAN


1.      Pengkajian

a.      Riwayat Keperawatan
Ditanyakan siklus haid dan lamanya, volume darah yang keluar, apakah ada ganjalan perut bagian bawah, apakah benjolan itu sudah lama dirasakan, apakah bertambah besar, apakah ada rasa tidak enak sepreti begah di perut bagian bawah.




b.      Pengkajian Fisik Kista
Faktor-faktor yang harus diperhatikan untuk menentukan diagnosa medik yaitu: besarnya kista, kekenyalan, keadaan kedua ovarium apakah kista terdapat pada satu atau kedua ovarium, apakah terjadi perlengketan, bagaimana permukaan kista, adanya nodul adan terjadinya ascites.
c.      Pemeriksaan Penunjang
1)      Ultrasonografi.
2)      Pemeriksaan klinis.
3)      Laparaskopik.
4)      Kuldosintesisi aspirasi cul-desac peritoneum.
5)      Rontgen foto.

d.      Pengkajian segera pada klien bedah meliputi keadaan sebagai berikut :
1)      Pernafasan       ® observasi jalan nafas, kualitas, kedalalaman, dan kecepatan.
2)      Status sirkulasi ® observasi adanya shock dan perdarahan.
3)      Neurologi          ® tingkat responsif dan kesadaran.
4)      Drainage           ® bila ada selang khusus sistem drainage.
5)      Psikologis         ® perlunya istirahat atau tidur, terganggu karena gaduh dan keadaan klien.

2.      Diagnosa Keperawatan

Pre Operasi :
a.      Cemas berhubungan dengan akan dioperasi dan berada dilingkungan baru.
b.      Resiko tinggi terjadinya infeksi pasca operasi.
c.      Resiko tinggi terjadinya hipovolemix berhubungan dengan akan dilakukan operasi.

Post Operasi :
a.      Nyeri berhubungan dengan efek insisi pembedahan.
b.      Ketergantungan sepenuhnya dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari berhubungan dengan ketidakmampuan klien menolong dirinya sendiri.
c.      Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan luka operasi.
d.      Resiko tinggi infeksi perkemihan berhubungan dengan efek pemasangan kateter.

3.      Intervensi

Pre Operasi :
a.      Diagnosa 1
1)      Orientasikan pasien dan keluarga terhadap rungan perawatan.
2)      Jelaskan tentang penyakitnya kenapa perlu operasi.
3)      Jelaskan tentang jadwal operasi, prosedur operasi, resiko operasi, situasi ruangan operasi.
4)      Anjurkan dan beri kesempatan kepada keluarga untuk memberi dukungan kepada pasien.
5)      Jelaskan persiapan operasi.
b.      Diagnosa 2
1)      Anjurkan pasien untuk melakukan extra personal hygiene.
2)      Lakukan pencukuran pada daerah luka operasi.
3)      Kenakan baju dan yakinkah alat-alah tenun dalam keadaan bersih.
4)      Dower kateter dipasang dahulu.
5)      Berikan obat profilaksis sesuai program medis.
c.      Diagnosa 3
1)      Anjurkan klien tidak memakai kosmetik di ruang operasi.
2)      Kolaborasi dalam melakukan pemeriksaan laboratorium, Hb, Ht, trombosit, bleding time dan clothing time dalam persiapan darah.



Post Operasi
a.      Diagnosa 1
1)      Kaji tingkat rasa nyeri klien.
2)      Jelaskan penyebab rasa nyeri.
3)      Ajarkan teknik relaksasi dengan benar, anjurkan melakukannya.
4)      Observasi tanda-tanda vital.
b.      Dianogas 2
1)      Beri bantuan sesuai dengan ketidakmampuan klien.
2)      Ikutsertakan famili untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
3)      Monitor perkembangan pasien dalam perawatan diri.
c.      Diagnosa 3
1)      Perhatikan pembesaran dan kebersihan luka.
2)      Jaga kebersihan balutan dan daerah luka operasi agar tetap kering.
3)      Observasi tanda-tanda infeksi.
d.      Diagnosa 4
1)      Observasi tanda-tanda infeksi pada saluran perkemihan.
2)      Observasi keadaan kandung kemih.
3)      Observasi konsistensi urine.
4)      Catat intake dan output cairan.
5)      Lakukan perawatan perineum dan penggantian urine bag serta jaga kebersihan.


4.      Evaluasi

Pre Operasi :
a.      Diagnosa 1
1)      Pasien mau bertanya dan membicarakan masalahnya.
2)      Pasien mengatakan rasa cemasnya berkurang.
3)      Pasien mau bekerja sama dalam setiap tindakan operasi.
b.      Diagnosa 2
1)      Daerah operasi bersih dari rambut dan kotoran.
2)      Personal hygiene baik.
c.      Diagnosa 3
1)      Nilai Hb, Ht, trombosit, bleeding time dan clothing time dalam batas normal.
2)      Klien tidak memakai lipstik atau kutek ke ruang operasi.
3)      Darah telah disiapkan sesuai program medis.

Post Operasi :
a.      Diagnosa 1
1)      Dapat therapi analgetik.
2)      Dapat beradaptasi dengan teknik relaksasi.
b.      Diagnosa 2
1)      Kebutuhan dasar terpenuhi.
2)      Keluarga memberikan bantuan.

c.      Diagnosa 3
-          Pasien dapat merawat luka operasi dengan bantuan perawat.
d.      Diagnosa 4
1)      Ganti kateter setiap 3 hari.
2)      Personal hygiene baik.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar