Minggu, 07 Agustus 2011

BAYI BERAT LAHIR RENDAH (BBLR)



A.     KONSEP DASAR


1.      Definisi

Bayi berat lahir rendah (BBLR) ialah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang dari 2500 gram sampai dengan 2499 gram. (Abdul Bari saepudin, 2000).
Berkaitan dengan penanganan dan harapan hidupnya, BBLR dibedakan dalam:
a.      Bayi berat badan lahir rendah ( BBLR) berat lahir 1500-2500 gram
b.      Bayi berat lahir sangat rendah ( BBLSR) berat lahir < 1500 gram
c.      Bayi berat badan exstrim rendah (BBLER) berat lahir < 1000 gram.

Bayi BBLR dapat dibedakan menjadi 2 golongan yaitu:
a.      Prematuritas murni ( kurang bulan)
Masa gestasinya kurang dari 37 minggu dengan berat badan sesuai berat badan masa gestasi itu atau bias disebut neonatus.
b.      Dismatur (cukup bulan)
Bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa gestasi itu.Berarti bayi mengalami letardasi pertumbuhan intra uterin dan merupakan bayi yang kecil untuk masa kehamilan.

2.      Patofisiologi
a.      Prematuritas murni
1)      Etiologi
a)      factor ibu
penyakit yang berhubungan langsung dngan kehamilan misalnya toxemia gravidarum, perdarahan antepartum, trauma fisik, dan psikologis. Penyakit lainnya adalah nefritis akut, DM, infeksi akut, atau tindakan operatif dapat merupakan factor etiologi
b)      Usia
Angka kejadian prematuritas tertinggi adalah pada usia ibu di bawah 20 tahun dan pada multi gravidarum yang jarak antara kelahiran terlalu dekat dan kejaian terendah ialah pada ibu antara usia 26-35 tahun.
c)      Keadaan Sosial Ekonomi
Keadaan ini sangat berperan terhadap timbulnya prematuritas. Kejadian tertentu terdapat pada social ekonimi rendah. Hal ini disebabkan oleh keadaan gaji yang kurang baik dan pengawasan antenatal yang kurang.
d)      Faktor pekerjaan yang terlalu berat
Aktivitas yang terlalu berat untuk ibu hamil sangat tidak baik untuk kondisi kehamilan karena bias mengakibatkan kontraksi terhadap bayi yang di kandungnya maka bias menyebabkan bayi premature.
e)      Faktor kehamilan
Kondisi kehamilan dengan hidrmnion, hamil ganda, perdarahan antepartum dengan komplikasi hasil preeklamsi/eklamsi, KPD bias menjadi factor penyebab terjadinya persalinan premature atau BBLR
f)       Faktor Janin
Hidramnion, kehamilan ganda umumnya akan mengakibatkan lahir bayi rendah; kelainan kromosom; infeksi kronis yang menimpa janin.
g)      Faktor lingkungan
Tempat tinggal, radiasi dan zat-zat beracun
2)      karakteristik
a)      mirip dengan dasa tua laki-laki, kepala lebih besar dari badan
b)      kulit tipis transparan, PB 45cm, LD < 30, LK < 33cm, lanugo banyak, lemak subkutan kurang. Osifikasi tengkorak sedikit, ubun-ubun dan sutura lebar, penitalia imatur, rambut bias any tipis, tangisan lemah, perfasan belum teratur, dan sering terdapat serangan apneu.
3)      Penyakit yang berhubungan dengan bayi premature
a)      sindrom gangguan pernafasan idiopatik
b)      pneumonia aspirasi
c)      perdarahan intraventrikuler
d)      piroflasia retrolental
e)      hiperbilirubinemia.

b.      Sedangkan Dismaturitas adalah BBL yang berat bada kurang bila dibandingkan dengan BB seharusnya untuk masa gestasinya itu. Dismaturitas bisa terjadi preterm, term atau postterm. Nama lain yang sering digunakan adalah kecil untuk masa kehamilan (KMK), insufisiensi plasenta. Untuk dismaturitas. sedangkan postterm sering disebut postmaturitas.
1)      Penyebabnya adalah:
a)      factor ibu
bisa disebabkan oleh penyakit yang diderita ibu pada saat hamil seperti preeklamsi, hipertensi, kelainan pembuluh darah ibu, factor lingkungan misalnya tinggal di daerah tinggi/pegunungan, ibu perokok, alkoholis dan sebagainya.
b)      Faktor bayi
Bayi terkena infeksi akibat suatu bakteri/virus yang masuk ke tubuh ibu kemudian masuk pula ke ovarium dan kemudian menginfeksi perkembangan janin itu sendiri. Karena kelainan congenital dan kelainan ganda (yang satu besar dan yang satu kecil).
c)      Faktor plasenta
Kelainnan plasenta dapat mengakibatkan BBLR karena masukan makanan bayi dari ibu lawat melalui plasenta. Apabila terjadi kelainan pada plasenta maka dapat mengganggu transportasi nutrisi O2, darah dll. Sehingga terjadi hambatan asupan nutrisi sehingga lama kelamaan bisa mengakibatkan pertumbuhan bayi dalam kandungan terhambat atau terganggu.
2)      Gejala klinis pada preterm akan terlihat gejala fisik bayi premature murni ditambah dengan gejala dismatur. Karakteristik sama dengan bayi premature dan mungkin di tambah dengan retardasi pertumbuhan dan wasting. Pada bayi yang cukup bulan dengan dismatur gejala yang menonnjol ialah wasting, demikian pula dengan postterm dengan dismatur.
3)      Bayi dismatur dengan tanda wasting / insufisien plasenta dapat di bagi kedalam 3 stadium yaitu:
a)      Stadium pertama
Bayi tampak lebih kurus dan refleks lebih panjang, kulitnya longgar, kering seperti perkamen tapi belum terdapat mekonium
b)      Stadium kedua
Didapatkan tanda-tanda stadium pertama ditambah dengan warna kehijauan pada kulit plasenta dan umbilicus.
c)      Stadium ketiga
Ditemukan stadium kedua ditambah dengan kulit dengan berwarna kuning. Demikian pada kuku-kuku dan tali pusat, ditemukan juga tanda anoksia, intrauterine yang lama.
4)      Komplikasi pada Dismatur adalah biasanya terjadi sindrom aspirasi mekonium, hipoglikemi sintomatik, aspiksia neonatorium, penyakit membran hialin, dan hiperbilirubinemia.

c.      Adapun penanganan perawatan BBLR secara umum adalah:
1)      Mempertahankan suhu dengan ketat
BBLR mudah mengalami hipotermia, oleh sebab itu suhu tubuhnya harus dipertahankan dengan ketat.
2)      Mencegah infeksi dengan ketat
BBLR sangat rentan terhadap infeksi, perhatikan prinsip-prinsip pencegahan infeksi termasuk mencuci tangan sebelum memegang bayi
3)      Pengawasan Nutrisi atau asi
Reflek menelan BBLR belum sempurna, oleh sebab itu pemberian nutrisi harus dilakukan dengan cermat.
4)      penimbangan ketat
Perubahan BB mencerminkan kondisi gizi atau nutrisi bayi dan erat kaitannya dengan daya tahan tubuh, oleh sebab itu penimbangan BB harus dilakukan dengan ketat.


B.     ASUHAN KEPERAWATAN

1.      Pengkajian
a.      Identitas
b.      Riwayat keperawatan
c.      Riwayat kehamilan
-          riwayat persalinan
d.      Pemeriksaan Fisik
1)      keadaan bayi
-          BBL < 2500 gram
-          PB < 45cm
-          LK < 33cm
-          LD < 30cm
-          Umur kehamilan < 37 minggu.
2)      Kepala
Observasi tengkorak, ibun-ubun, atau sutura lebar, rambut tipis atau halus
a)      Mulut atau tenggorokan
-          bibir kadang sianosis
-          refleks menghisapatau menelan masih lemah
b)      Kulit
-          tipis trans[paran
-          rambut lanugo banyak
-          lemak subkutan kurang
c)      motorik
d)      Tanda-tanda vital
e)      Genitalia

2.      Diagnosa keperawatan
b.      Potensial gangguan pertukaran gas B/D fungsi neurology dan pulmonak\li yang imatur
Tujuan: pertukaran gas kembali normal selama 3x24jam
Kriteria hasil:   -  Nafas kembali normal
-    RR dalam batas normal 35-40x/menit
-    Fungsi aspirasi tidak terganggu
Intervensi;
1)      kaji frekuensi nafas, kerakteristik, dan bunyi
2)      tidurkan bayi dengan posisi bergantian
3)      penghisapan lendir
4)      kaji keadaan sianosis
5)      observasi TTV

b.      Gangguan kebutuhan nutrisi B/D belum sempurnanya refleks isap, telan dan muntah
Tujuan       : kebutuhan nutrisibayi terpenuhi
Kriteria hasil:- refleks isap bayi baik
                     - batuk, muntah tidak terjadi
Intervensi:
1)      beri minum sesuai kondisi oral, refleks isap, perawatan NGT
2)      ukur retensi lambung saat akan memberi minuman pada NGT
3)      observasi adanya kembung
4)      observasi jumlah intake dan output

c.      Potensial terjadinya infeksi B/D proses imunologi yang belum sempurna.
Tujuan       : infeksi tidak terjadi pada bayi
                                    Kriteria hasil: proses imunologi bayi dapat terbentuk secara bertahap
Intervensi:
1)      Pasahkan bayi yang terinfeksi dengan yang tidak
2)      Jaga tehnik septic dan antiseptik
3)      Bersihkan tempat tidur bayi setiap hari
4)      Batasi pengunjung
5)      Petugas, pengunjung atau perawat harus menggunakan baju khusus



DAFTAR PUSTAKA




Bagus ida. ILMU KEBIDANAN  PENYAKIT KANDUNGAN DAN KB. Gde manuaba.DSOG

Saifudin abdul bari. 2001. BUKU ACUAN NASIONAL PELAYANAN KESEHATAN MATERNAL DAN NEONATAL. Jakarta. JNPKKR-POGI.

Wiknjosastro hanifa. 1999. edisi ketiga. ILMU KEBIDANAN. Jakarta. Yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo












HIPERBILLIRUBINEMIA



A.     KONSEP DASAR

1.      Pengertian
Hiperbillirubinemia adalah suatau keadaan dimana konsentrasi bilirubin dalam darah berlebihan sehingga menimbulkan joundice pada neonatus (dorethi R Maslow 1988).
Hiperbillirubinemia adalah suatu kondisi dimana terjadi akumulasi bilirubin dalam darah yang mencapai kadar tetentu dan dapat menimbulkan efek patologis pada neonatus yang ditandai dengan joundice pada sclera mata. Kulit membran mukosa dan cairan tubuh (Andi Smith 1988)

Hiperbillirubinemia adalah ikterik pada neonatus yang disebabkan oleh meningkatnya kadar bilirubin dalam darah sehingga menimbulkan efek patologis pada neonatus.

Hiperbillirubinemia dibagi menjadi
a.      Hiperbillirubinemia fisiologis
Hiperbillirubinemia ikterik yang terjadi pada hari ke-dua atau ke-tiga tidak mempunyai patologik kadarnya melewati yang mempunyai potensi menjadikan ikterik ini biasanya menghilang pada akhir minggu pertama atau 10 hari pertama.
b.      Hiperbillirubinemia
Hiperbillirubinemia yang mempunyai dari patologik 24 jam atau kelahiran yang apabila berlanjut dapat menyebabkan ikterus yaitu terjadinya kerusakan otot akibat peningkatan bilirubin indirec pada otak, trauma pada korpus stratum, thalamus nucleus subtalamus hypokarpus, dan nucleus diventrikel IV, kornik terus sampai ke otak.

2.      Etilologi
Penyebab ikterus pada bayi baru lahir dapat berdiri sendiri ataupun dapat disebabkan oleh beberapa faktor.

Secra garis besar etiologi ikterus neonatorum dapat dibagi menjadi:
a.      Produksi bilirubin yang berlebihan, hal ini melebihi kemampuan bayi untuk mengeluarkannya misalnya pada hemolisis yang meningkat bada incompetibilitas darah RH, ABO, defisiensi enzim ganguan pada plural kinase, peradarahan tertutup dan sepsis.
b.      Defisiensi protein dalam hepar yang berperan dalam proses “uptake” dan konjugasi dihepar. Gangguan ini dapat disebabkan oleh imaturitas hepar, kurangnya substansi untuk konjugasi bilirubin. Gangguan fungsi hepar akibat asidosis, hipoxia dan infeksi.
c.      Gangguan transformasi bilirubin dalam darah terikat pada albumin kemudian diangkat ke hepar, ikatan bilirubin dan albumin ini dapat dipengaruhi oleh obat, misalnya: sulfafurazola, defisiensi albumin menyebabkan lebih banyak terdapatnay bilirubin indirec sebab dalam darah yang mudah melihat ke sel otak.
d.      Gangguan dalam ekspirasi, gangguan ini dapat akibat obstruksi dalam hepar atau diluar hepar, kelainan di luar hepar biasanya disebabkan oleh kelainan bawaan, obstruksi dalam hepar biasanya akibat infeksi atau kerusakan hepar oleh sebab lain.
3.      Patofisiologi

Bilirubin


 


Digradasi eritrosit
(Res. Fenirama dilimpas)


 


Berkaitan dengan albumin diplasma


 


Hepar


 


Enzim gllikoronil transfarase


 


Bilirubin direc


 


Saluran empedu/empedu






 


Saluran urinari                                 Saluran cerna






 


Vceobillinogen 25%                              Scer kobilin

4.      Tanda Dan Gejala
a.      Kejang, tidak mau menghisap, tonus otot meningkat
b.      Iketerus terjadi pada 24 jam pertama
c.      Peningkatan konsentrasi bilirubin 5 gram % atau lebih tiap 24 jam
d.      Konsentrasi bilirubin 10 gram % pada neonatus kurang bulan dan 12,5 gram % pada bayi cukup bulan
e.      Ikterus yang disertai dengan proses hemolisis (inkompatibilitas darah, defisiensi enzim).
f.        Keadaan ikterus yang disertai dengan berat badan lahir kurang dari 2000 gram, masa gestasi (kehamilan) kurang dari 36 minggu, aspiksia, hipoksia, sindrom gangguan nafas, infeksi trauma lahia pada kepala, hyperosmolalitas.

5.      Penatalaksanaan
Pendekatan dalam menentukan kemungkinan penyebab
a.      Penyebab ikterus yang terjadi selama 24 jam pertama
1)      Inkompabillaras darah, Rh, ABO
2)      Infeksi intratenin oleh virus, toxoplasma, bakteri

Pemeriksaan pada darah yang perlu dilakukan adalah
-          Kadar billirubin
-          Darah tepi lengkap
-          Golongan darah ibu dan bayi
-          Kaji cooubs test
-          Cek enzim, gangguan pada biakan darah atau biopsi hepar bila perlu

b.      Ikterus timbul 24-27 jam setelah lahir
1)      Biasanya ikterus fisiologis
2)      Masih ada kemungkinan peningkatan kadar billlirubin cepat
3)      Hemolisis perdarahan tertutup
4)      Hipoxia
5)      Stereoisosis, eliptosilosis
6)      Dehidrasi asidosis
7)      Defisiensi enzim gangguan pada darah atau biopsi hepar bila perlu


 


Pemeriksaan yang perlu dilakukan
-          Pemeriksaan darah lipi
-          Pemeriksaan kadar bilirubin
-          Pemeriksaan enzym gangguan
c.      Ikterus yang timbul sesudah 72 jam pertama sampai akhir minggu peratama
1)      Biasanya karena infeksi
2)      Dehidrasi
3)      Defisiensi enzim gangguan pada
d.      Ikterus yang timbul pada akhir mingu pertama dan selanjutnya
1)      Biasanya karena obstruksi
2)      Hypobyrordisme
3)      Infeksi
4)      Neonatal hepatitis

Pemeriksaan yang perlu dilakukan
-          Pemeriksaan bilirubin berkala
-          Pemeriksaan darah tepi
-          Penyaring gangguan pada biakan daerah biopsi hepar

Ikterus yang kemungkinan besar menjadi patologis
1)      Ikterus yang terjadi 24 jam pertama
2)      Ikterus dengan kadar billirubin melebihi 12,5 mg% pada neonatus cukup bulan, 10 minggu % pada neonatus cukup bulan
3)      Ikterus dengan peningkatan billirubin lebih dari lima minggu % perhari
4)      Ikterus yang menetap setelah dua minggu pertama
5)      Ikterus yang mempunyai hubungan dengan proses hemolitik, infeksi atau keadaan patologik lainnya
6)      Kadar billirubin direct melebihi satu minggu

6.      Pencegahan
a.      Pengawasan antenatal yang baik
b.      Menghindari obat yang dapat meningkatkan ikterus bayi pada masa kehamilan dan kelahiran, misal: sulfafurazol, novabrosin, oksitosin
c.      Pencegahan dan mengobati hypoxia pada janin dan neonatus
d.      Penggunaan fenobarbital pada 1-2 hari sebelum partus
e.      Pencegahan infeksi

7.      Mengatasi hyperbillirubinemia
a.      Mempercepat proses hiper konjugasi, misal: dengan pemberian venobarbital
b.      Memberikan substras yang kurang transportasi misal: dengan pemberian albumin untuk mengikat billirubin yang bebas dengan dosis 15-20 ml/mg BB
c.      Melakukan decomposisi billirubin dan fototherapi
d.      Transfusi tukar

Pada umumnya transfusi sukar dilakukan dengan modikasi sebagai:
1)      Pada semua keadaan dengan kadar billirubin indirect lebih dari 20 mg %
2)      Kenaikan kadar billirubin indirect yang cepat yaitu , 3-1mg%/jam
3)      Anamia yang benar pada neonatus dengan gagal jantung
4)      Bunyi dan kadar Hb, tali pusat kurang dari 19 mg % dan uji coombs test direct positif


B.     ASUHAN KEPERAWATAN

1.      Pengkajian
a.      Identitas klien dan keluarga
b.      Riawayat Keperawatan
1)      Riwayat kehamilan
Kurangnya pengawasan antenatal yang baik, pengguanaan obat-obatan yang dapat menyebabkna ikterus, seperti: fenobarbital, sulfaforazol, novobiosin dan oksitosin.
2)      Riwayat persalinan
Lahir prematur, kurang bulan, gangguan pernafasan, aspiksia, hypoksia
3)      Riwayat post natal
Kelainan darah tepi, kelainan kadar bilirubin, kulit tampak kuning
4)      Riwayat kesehatan keluarga
Adanya incontabilitas, adanya, ketidak cocokan darah ibu dan anak, polysitemia, gangguan saluran cerna
5)      Riwayat psikososial
Perubahan peran orang tua, mekanisme koping yang digunakan, peran keluarga
6)      Pengetahuan keluarga
Tentang penyebab, perawatan, pengobatan dan pemahaman orang tua
c.      Pemeriksaan fisik
Joundice, muka pucat, konsentrasi urine, letargi, hypotoni, tremor, iritabilitas, kejang, suara tangis lemah atau melengking, feces mungkin lunak/coklat kehijauan selama pengeluaran billirubin. Kehilangan reflek moro mungkin terlihat, riwayat aspiksia, krekels, mukus bercak merah, muda (edema plera, hemoragi pulmonal)
d.      Pemeriksaan diagnostik
Laboratorium, serum billirubin, Hb, golongan darah Rh

2.      Diagnosa
a.      Resiko tinggi injuri (internal) berhubungan dengan peningkatan serum billirubin sekunder dari pemecahan sel darah merah dan gangguan eksresi billirubin
b.      Gangguan integritas kulit berhubungan dengan efek blue light therapy
c.      Resiko tinggi gangguan penurunan volume cairan berhubungan dengan photo therapy
d.      Resiko perubahan persepsi sensori visual berhubungan dengan efek samping tindakan photo therapy

3.      Intervensi
a.      Kaji hiperbilirubinemia tiap 1-4 jam dan catat
b.      Observasi warna dan kondisi kulit tiap 2 jam
c.      Gunakan pelindung mata saat photo terapy
d.      Usahakan suhu ruangan 
e.      Mempertahankan intake cairan

ANORECTIAL MARFORMASI



A.     KONSEP DASAR

1.      Pengertian
Anorectial marformasi adalah informasi didaerah anorectal dari system Gastointestinal yang dimanifestasikan dalam beberapa variasi dan selalu disebut dengan inferforata anus.

2.      Etiologi
Penyebab terjadinya anorectal marformasi/atresia ani secara umum belum diketahui dengan pasti. Namun ada kemungkinan diduga terlibat pada factor genetic atatu terjadi perkembangan yang abnormal pada fase embrio.

3.      Tipe Anorectal Marformasi
      Anorectal marformasi dapat bermacam-macam antara lain, sebagai berikut
a.      Berdasarkan tinggi rendahnya dalam hubungan dengan otot puborectal
1)      Transelevator (atresia ani letak tinggi)
      Adalah rectum turun ke bawah sampai melalui otot puborectal
2)      Supra levator (atresia ani letak tinggi)
      Adalah rectum lebih keatas dan tidak melewati otot puborectal
b.      Berdasarkan tinggi rendahnya dalam hubungannya dengan otot levator ani
1)      Stenosis
      Adalah terjadi penyempitan pada anus dan rectal
2)      Membrancus
      Adalah otot levator ani pada anus dan rectum hanya dilapisi selaput            membrane
3)      Agenesis
      Adalah otot levator ani terbentuk tetapi anus tidak terbentuk

4.      Manifestasi Klinis
a.      Thermometer/jari (kecil) tidak dapat masuk kedalam rectum
b.      Sejak lahir tidak ada mekonium
c.      Distensi abdomen
d.      Bayi muntah-muntah setelah 24-48 jam pertama
e.      Jika ada vistula dengan vesika urinaria, maka ada mekonium di dalam air kencing, sehingga warna cair kencing berwarna kehijauan
f.        Pada waita sering dijumpai/disertai fistula rectal, vagina jarang disertai fistula rectal anal
g.      Pada laki-laki sering disertai fistula recto larinary sehingga dalam urin ada mekonium

5.      Pemeriksaan diagnostic
a.      Pemeriksaan klinis
1)      Pemeriksaan umum
Pemeriksaan tetap harus dilakukan untuk mencari kelainan-kelainan 50-60%, penderita anorectial marformasi ini mempunyai kelainan congenital di  tempat lain.
Yang sering ditemukan antara lain:
a)      Pada fraktur genito urinarius
b)      Kelainan jantung
c)      Haklus gashointestinal, misalnya atresia esophagus, atresia doedenum
d)      Tulang, misalnya tulang radius tidak ada
2)      Pemeriksaan fisik khusus untuk kelainan anoreksia
a)      Umumnya pada 80-90% wanita ditemukan fistula ke vesibolom atau vagima, hanya pada 10-20%, wanita tidak ditemukan fistel
(1)    Kloaka
Pemisahan antara fraktus urinarius, traktus genitalia dan traktus digestivus terjadi. Evaluasi feses umumnya tidak sempurna sehingga perlu cepat dilakukan kolostomi.
(2)   Fistel vagina
      Mekonium tampak keluar dari vagina. Evaluasi feses bias tidak      lancer. Sebaiknya cepat dilakukan kolostomi.
(3)   Fistel vestibulum
Muara fistel di bawah luka vulva, umunya evakuasi feses lancer selama penderita hanya minum susu. Evakuasi mulai terhambat saat penderita mulai makan makanan padat. Kolostomi dapat direncanakan bila penderita dalam keadaan optimal.
(4)   Atresia recti
Kelainan amosina anus tampak normal, tetapi pada pemeriksaan colok dubur jari tidak dapat masuk lebih dari 1-2 cm, tidak ada evakuasi sehingga perlu segera dilakuakn kolostomi.
(5)   Tanpa fistel
Udara lebih dari 1 cm dari kulit pada invertogram, tidak ada evakuasi sehingga perlu segera dilakukan kolostomi.
(6)   Fistel perineum
Terdapat lubang antara vulva dan tempat dimana lokasi anus normal. Dapat berbentuk anus anterior, tulang anus tampak normal, tetapi marka anus yang rapat ada di posteriornya. Umumnya menimbulkan obstipasi.
(7)   Stenosis ani
Lubang anus terletak di lokasi normal, tetapi sangat sempit evakuasi feses tidak lancer.
b)      Pemeriksaan pada kai-laki
Perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
(1)    Perineum: bentuk dan adanya fistel
(2)    Urine: dicari ada tidaknya butir-butir, mekonium di urine

Dari kedua hal diatas pada anak laki-laki harus diperhatikan hal-hal sebagai berikut:
(1)    Fistel urine
Tampak mekonium keluar dari arificum urethra eksternum fistulabaik ke uretra maupun ke vesika urinaria, cara praktis untuk membedakan lokasi fistel ialah dengan memasang kateter urine. Bila keteter terpasang dari urine jernih, berarti fistel terletak diuretra yang terhalang kateter. Bila dengan kateter, urine berwarna hijau, berarti fistel ke vesika urinaria. Evakuasi feses tidak lancar. Lakukan segera kolostomi.
(2)   Atresia rekti sama dengan wanita
(3)   Perineum datar
Menunjukan bahwa otot yang berfungsi untuk kontinensi dan terbentuk sempurna
(4)   Fistel perineum sama dengan wanita
(5)   Membran
Anus tertutup selaput tipis dan sering tampak bayangan jalan mekonium dibawah kulit. Evakuasi feses tidak ada.
(6)   Bucket handle (gagang ember)
Daerah lokasi anus normal tertutup kulit yang terbentuk gagang ember, evakuasi feces tidak ada

b.      Pemeriksaan penunjang
Pada pemeriksaan radiologist ditemukan
1)      Udara dalam usus terhenti tiba-tiba yang menandakan terdapat obstruksi didaerah tersebut
2)      Tidak ada bayangan udara dalam rongga pelvis pada bayi baru lahir
Dari gamabaran ini harus difikirkan kemungkinan atresia rekti atau anus imperfotalus, gambaran udara terhenti tiba-tiba didaerah sigmoid, kolon atau rectum.
3)      Dibuat foto
a)      Cara saloman
Bayi dibalik kaki dipegang diatas kepala
b)      Cara wangesteen
Bayi dibalik kaki ditekuk di foto samping/lateral
c)      Sonografi
d)      Px neurology

6.      Penatalaksanaan
a.      Penatalaksanaan medis
Prinsip pengobatan operatif pada malformasi anorectal dengan explorasi posterior sagital anorectal plastic, akan banya menggunakan kolostomi yang dianjurkan dipakai pada neonatus dan bayi, yaitu: transversokolostomi (kolostomi di kolon transversum) dan simoldostomi (kolostomi di domastoid).

Teknik operatif definitive posterior sagital ano-recto plastic
Prinsip operasi
1)      Bayi diletakan tengkurap
2)      Sayatan dilakukan perineum pada garis tengah, mulai dari ujung koksigis sampai batas-batas anterior marka anus
3)      Tetap bekerja digaris tengah untuk  mencegah merusak syaraf
4)      Ahli bedah harus mengenali dan melakukan preseluruh otot
5)      Tidak menimbulkan trauma struktur lain

Letak rendah
1)      Anoplasi: membuat lobang dari bawah dengan anastesi local kemudian diinsisi dan jahit sekelilingnya
2)      Dilatasi fistula dengan menggunakan gusi 8-12 jam

Letak tinggi
1)      Colostomy sigmoid sampai anak berusia satu tahun
2)      Operasi perineal pull throoter bial bayi sudah berusia 1 th/BB anak sudah mencapai 6.75-9 kg. pada operasi ini anus yang buntu diturunkan kebawah, terakhir colostomy ditutup.

b.      Penatalaksanaan keperawatan
1)      Sebelum operasi
a)      Bantu dalam mempertahankan kondisi umum klien sebelum operasi
(1)    Makanan biasa diberikan, catat setiap ada muntah (karakteristik)
(2)    NGT dipasang
(3)    Observasi distensi abdomen
(4)    Observasi secara hati-hati bila ada distress dan cek TTV secara teratur
b)      Observasi setiap ada kelainan/perubahan
(1)    Observasi apakah feces keluarnya dari fistula
(2)    Catat urine apakah warnanya hijau
(3)    Jaga daerah ani agar tetap bersih
2)      Post operasi
a)      Lakukan perawatan dengan baik dan observasi dari kemungkinan komplikasi
b)      Memberikan perawatan anoplah dengan baik supaya tidak terjadi infeksi dan mempercepat penyembuhan
(1)    Jangan letakan apapun pada daerah rectum
(2)    Biarkan perineum terbuka
(3)    Atur posisi dan rubah kiri/kanan
(4)    Posisi panggul ditegakkan jika akan melakukan perawatan
c)      Merawat colostomy dengan baik
(1)    Cegah terjadinya iritasi dan exosiasi
(2)    Catat frekuensi dan karakteristik feces
d)      Mempertahankan nutrisi yang adekuat untuk mencegah dehidrasi dan ketidak seimbangan cairan dan elektrolit
(1)    Oral feeding diberikan setelah beberapa jam tindakan anoplash
(2)    Makan/minum diberikan pada klien post op jika peristaltic usus baik
(3)    Monitor cairan, parenteral
e)      Pendidikan kesehatan
(1)    Keluarga diberi penjelasan bagaimana cara merawat colostomy yang baik
(2)    Memberi pengertian kepada orang tua tentang situasi anaknya bila usianya bertambah
(a)   Ketidak tahuan mengntrol feces
(b)   Perlunya toilot training
f)       Beri bantuan pernapasan jiak terjadi gang oksigen
g)      Beri lingkungan yang aman
h)      Lain-lain hiperbilirubin Ex- tangani sesuai program


B.     ASUHAN KEPERAWATAN

1.      Pengkajian
a.      Eliminasi
      Gejala     :  Riwayat perawatan di rumah sakit sebelumnya karena perdarahan                            gastrointestinal
Diare/konstipasi
Nyeri abdomen tak jelas dan dskess, kembung
Pengguanaan laxative/diuretic
Tanda     :  Menurunnya bising usus, tidak ada peristaltic atau adanya       peristaltic
b.      Untegritas ego
Gejala     :  Ansietas, ketakutan, perasaan tak berdaya/tak ada harapan
Tanda     :  Menolak, perhatian menyempit, depresi
c.      Sirkulasi
Tanda     :  Takkardi, kemerahan, hipotensi, turgor, kulit/membrane mukosa dan tekanan darah


d.      Makanan dan cairan
Gejala     :  Anoreksia, mual/muntah, penurunan berta badn
Tanda     :  Masa otot menurun, kelelmahan, tonus otot dan turgor kulit buruk, membrane mukosa pucat, luka, inflamasi rongga mult.
e.      Nyeri/kenyamanan
Gejala     :  Nyeri tekan
Tanda     :  Distensi abdomen
Data tergantung pada masalah dasar, lamanya dan beratnya (mis: obstruksi, perforasi, implamasi dan kerusakan konginital)

2.      Diagnosa keperawatan
a.      Resiko tinggi gangguan integritas kulit berhubungan dengan tidak adanya spinter stoma
b.      Nyeri berhubungan dengan kerusakan kulit atau jaringan
c.      Resti kurang volume cairan berhubungan dengan gangguan absorpsi cairan
d.      Resti gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anorexia
e.      Gangguan pola tidur berhubungan dengan perlunya perawatan kolostomi

3.      Intervensi
a.      DX I
1)      Latihan stoma/area kulit peristomal pada tiap penggantian kantong. Bersihkan dengan air dan keringkan, catat iritasi, kemerahan
2)      Yakinkan bahwa lubang pada bagian belakang kantong berperekat setidaknya lebih besar 1/8 ukuran stomata dengan perekat adekuat menempel pada kantong
3)      Berikan perlindungan kulit yang efektif
4)      Kosongkan, irigasi dan bersihkan kantong ostomi dengan rutin, gunakan alat yang tepat
5)      Sokong kulit sekitar bila mengangkat kantong dengan pilihan

b.      DX II
1)      Kaji nyeri, catat lokasi, karakteristik, intensitas (skala0-10)
2)      Berikan tindakan kenyaman misalnya misalnya, pijatan punggung. Ubah posisi (sesuaikan kebutuhan).
3)      Dorong pengguanaan teknik relaxasi
4)      Bantu lahan rentang gerak dan dorong ambulasi diri
5)      Berikan obat sesuai indikasi mis: narkotik, analgetik

c.      DX III
1)      Monitor intake dan output cairan
2)      Ukur feces
3)      Timbang BB/hari
4)      Awasi tanda vital, catat hipotensi, takikardi, turgor kulit dll
5)      Barikan cairan IV dan elektrolit sesuai indikasi

d.      DX IV
1)      Lakukan pengkajian nutrisi
2)      Auskultasi bising usus

e.      DX V
1)      Jelaskan perlunya pengawasan fungsi usus dalam periode pasca operasi awal
2)      Berikan system kantong adekuat, kosongkan kantong sebelum tidur
DAFTAR PUSTAKA

Prof. Dr.h.Djamaloedin. (1994). Ilmu Bedah. Jakarta FKUI.
Prof.dr. Iskandar  wahidayat (1985). Ilmu kesehatan anak. Bagian i jakarta fkui1
Doengus e. Marlin Moorhouse Mance Mary, Geissier. C allince (2000). Rencana Asuh Keperawaran, Edisi III. Jakarta. EGC
Whaley & Wong’s (1994). Nursing Care Of Impants And Children. Fifth edition Mosby.





































PNEUMONIA



A.     KONSEP DASAR


1.      Pengertian

Pneumonia adalah suatu radang paru yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing. (Ngastiyah)

Tubuh mempunyai daya tahan yang berguna untuk melindungi dari bahaya infeksi melalui mekanisme daya tahan traktus respiratorius yang terdiri dari:
a.      Susunan anatomis dari rongga hidung
b.      Jaringan limfod di naso – oro – fharing
c.      Bulu getar yang meliputi sebagian besar epitel traktus respiratorius dan secret yang dikeluarkan oleh sel epitel tersebut
d.      Refleks batuk
e.      Refleks epiglottis yang mencegah terjadinya aspirasi secret yang terinfeksi
f.        Drainase system limfatik dan fungsi menyaring kelenjar limfe regional
g.      Fagositosis aksi enzimatik, dan respon imunohumoral terutma dari Ig A

Anak dengan daya tahan tubuh yang terganggu akan menderita pneumonia berulang atau tidak mampu mengatasi penyakit ini dengan sempurna. Faktor lain yang mempengaruhi timbulnya pneumonia adalah mal nutrisi energi protein ( MEP ), penyakit menahun, trauma pada paru, aspirasi dan pengobatan dengan antibiotik yang tidak semurna.

2.      Etiologi
Pada umumnya pembagian pneumonia menurut dasar anatomis dan etiologi. Menurut anatomis dasar dibagi menjadi tiga yaitu:
a.      Pneumonia lobaris
Biasanya gejala penyakit secara mendadak, tetapi kadang-kadang didahului oleh infeksi traktus respiratorius bagian atas. Pada anak besar biasa di sertai demam, dan pada bayi dapat disertai kejang. Suhu naik cepat sampai 39 – 40 C, yang biasanya menunjukkan tipe febris continue. Nafas menjadi sesak, disertai pernafasan cuping hidung dan sianosis sekitar hidung dan mulut bahkan bias disertai oleh rasa nyeri pada dada. Batuk mula-mula kering kemudian menjadi produktif.

Pada pemeriksaan fisik, kelainan yang khas tampak setelah 1-2 hari. Pada inspeksi dan palpasi tampak pergeseran thoraks yang terkena menjadi berkurang. Pada permulaan suara pernafasan melemah.

Sedangkan pada perkusi tidak jelas ada kelainan. Setelah terjadi kongesti, ronkhi basah nyaring terdengar yang akan segera menghilang setelah terjadi konsolidasi.

b.      Pneumonia lobularis ( bronkopneumonia )
Adalah radang paru yang berasal dari cabang – cabang tenggorokan yang mengalami infeksi dan tersumbat oleh getah radang, menimbulkan pemadatan. Pemadatan bergerombol dalam lobulus paru yang berdekatan, biasanya terjadi sebagai akibat batuk rejan, campak, influenza dan tifus.


c.      Pneumonia intertisialis ( bronkolitis )
Sedangkan pemgbagian menurut etiologi adalah sebagai berikut:
1)      Bakteri (ex: coccus, H. influenza)
2)      Virus
3)      Mycoplasma pneumonia
4)      Jamur
5)      Aspirasi (makanan, kerosene, amnion)

3.      Gambaran Klinik
Gejala basanya dapat didahului oleh infeksi traktus respiratorius bagian atas selama beberapa hari. Suhu tubuh dapat naik sacara mendadak sampai 39-40 c dan kadang disertai dengan kejang karena demam yang tinggi. Anak sangat gelisah, dipsnea, pernafasan cepat dan dangkal disertai pernafasan cuping hidung serta sianosis sekitar hidung dan mulut. Kadang – kadang disetai muntah dan diare. Batuk biasanya tidak ditemukan pada permulaan penyakit, tetapi setelah beberapa gari mula – mula kering kemudian menjadi produktif

4.      Pemeriksaan Diagnostik
Pada pemeriksaan Fhoto thorak maka akan terdapat bercak-bercak infiltrasi pada satu atau beberapa lobus. Jika pada pneumonia lobaris terlihat adanya konsolidasi pada satu atau beberapa lobus.

Pemeriksaan Lab. Darah tepi menunjukkan leukositosis, dapat mencapai 15.000 – 40.000/mm dengan pergeseseran ke kiri. Kuman penyebab dapat dibiakkan dari usapan tenggorok dan mungjkin juga dari darah. Urine biasanya berwarna lebih tua, mungkin terdapat albuminurien ringan karena suhu yang naik.

5.      Penatalaksanaan
a.      Penatalaksanaan Terapeutik
a.      pengobatan supportive bila virus pneumonia
b.      bila kondisi berat maka harus dirawat
c.      berikan oksigen ,fisioterapi dada ,dan cairan iv
d.      pemeriksaan censitivitas untuk pembarian antibiotik


B.    ASUHAN KEPERAWATAN

1.      Pengkajian
a.      Kaji status pernafasan
b.      Kaji tanda-tanda distress pernafasan
c.      Kaji adanya demam .tachicardi ,malaise , anaroxia ,kegelisahan dan perubahan kondisi

2.      Diagnosa Keperawatan
a.      Tidak efektifnya bersihan jalan nafas b.d meningkatnya sekret
b.      Tidak efektifnya pola nafas b.d obstruksi bronchial
c.      Gangguan pertukaran gas b.d meningkatnya sekresi dan akumulasi exudat
d.      Kurangnya volume cairan b.d demam,menurunnya intake dan tachipnea
e.      Kecemasan b.d dypsnea dan hospitalisasi
f.        Kurangnya pengetahuan b.d proses penyakit dan perawatan dirumah

3.      Perencanaan

a.      Jalan nafas yang ditandai dengan tidak ada bising suara nafas (rales atau ronchi)

b.      Pola nafas efektif yang ditandai dengan pernafasan teratur ,rhythm dan tidak ada penggunaan otot-otot accessory pernafasan
c.      Pertukaran gas adekuat yang ditandai dengan anak tidak gelisah dan tidak ada cyanosis
d.      Cairan seimbang yang ditandai dengan turgor kulit normal,urine out put sesuai,membran mukosa lembab dan berat badan dapat dipertahankan
e.      Kecemasan menurun yang ditandai dengan anak tidak labil,meningkatnya anak,tanda vital dalam batas normal,dan postur tubuh relaxs
f.        Orang tua secara verbal memahami proses penyakit dan perawatan pada anak

4.      Implementasi

a.      Untuk Implementasi 1, 2 dan 3 mempertahankan kepatenan jalan nafas dan meningkatnya pertukaran gas yang adekuat
1)      Kaji status pernafasan setiap 2 jam, suara nafas, teratur atau tidak teratur,rhytm,penggunaan otot-otot accessory pernafasan,warna kulit,ttv,dan tingkat kegelisahan
2)      Buat jadwal fisioterapi dada sebelum makan dan istirahat
3)      Tinggikan posisi kepala diatas tempat tidur (hindari penggunaan posisi duduk pada bayi karena dapat meningkatan tekanan diagfragma)
4)      Lakukan perubahan posisi setiap 2 jam atau sesuai kondisi
5)      Bila anak toleran ,berikan kebebasan untuk memilih posisi yang nyaman
6)      Kaji batuk dan kedalaman perrnafasan
7)      Berikan oksigen sesuai program dan monitor “pulse oxymetri “
8)      Rencanakan dan buat jadwal secara periodic untuk istirahat
9)      Berikan terapi bermain sesuai dengan kondisi (buku-buku, puzzles, nidrogami )
b.      Implementasi 4 Mempertahankan hidrasi yang adekuat
1)      Kaji turgor kulit dan membran mukosa
2)      Berikan cairan peroral atau intravena terapi
3)      Monitor intake dan out put
4)      Kaji tanda-tanda hidrasi (oliguria ,ubun-ubun cekung,BB menurun )
5)      Timbang BB
6)      Kaji demam setiap 4 jam dan berikan antipiretik ,analgetik dan antibiotik sesuai program
c.      Implementasi 5 Berikan support psikososial untuk mengurangi kecemasan anak dan orang tua
1)      Instruksi untuk memberikan cairan yang adekuat dan istirahat
2)      Anjurkan orang tua untuk menemani anaknya
3)      Anjurkan orang tua untuk mengekspresikan perasaan secara verbal dan perhatian serta respon dan simpati
4)      Cara untuk meningkatkan pengetahuan orang tua :
5)      Jelaskan tentang proses penyakit ,pengobatan dan perawatannya
6)      Lihat perencanaan pulang

5.      Perencanaan Pulang

a.      Instruksikan untuk memberikan cairan yang adekuat dan istirahat
b.      Instruksikan orang tua untuk memberikan obat antipiretik bila demam dan suhu 38,4 C sesuai program
c.      Instruksikan orang tua untuk memberikan antibiotik sesuai dosis dan waktu
d.      Berikan cairan hangat atau buah-buahan yang toleran: juice, apel, lemon, pedlalyte untuk memudahkan atau mengencerkan sekresi
e.      Hindari dekat dengan anak yang sakit
f.        Instruksikan untuk melakukan follow up (kontrol ulang )sesuai dengan yang dijadwalkan



 




DAFTAR PUSTAKA



Bloom, Arnold, Bloom, Stephare.1992. Tooleys. Medicine for Nurse. London. ECBS
Carpenito, Lynda juall. 1999. Rencana Asuhan dan Dokumentasi Keperawatan. Jakarta. Penerbit EGC
Doenges Barbara C.1996. Medical Surgical Nursing Care Plan. SI Luis. Mosby
Ngastiyah. 1997. Perawatan Anak Sakit. Jakarta. Penerbit EGC
Sardono waspaji, Soeparman. 1998. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta EGC
Tucker, Susan Marti, etal. 1992. standar Keperawatan Pasien. Jakarta. EGC
Wongs and Whaly. 1995. Nursing Care Of  Infant and Children. Si. Luis Mosby

























BRONCHOPNEUMONIA



A.     KONSEP DASAR

1.      Pengertian

Bronchopneumonia adalah suatu peradangan pada paru-paru di bagian bronchiolus.

2.      Anatomi Fisiologis

a.      Anatomi Paru-paru
Paru-paru merupakan alat pernafasan utama. Paru-paru mengisi rondda mulut yang terletak disebelah kanan dan kiri dan di tengahnya dipisahkan oleh jantung bederta pembuluh darah besarnya dan struktur lainnya yang terletak didalam mediastinum.

Paru-paru adalah organ yang berbentuk kerucut dengan apek (puncak) di atas dan muncul sedikit lebi tinggi dari kulvikula didalam dasar leher. Pangkal paru-paru duduk di atas landai rongga thoral di atas diagfrgma.

Paru-paru ini dibagi menjadi dua baian yaitu paru-paru kanan yang terdiri dari tiga lobus, yaitu Lobus Pulmo Dextro Superior, Lobus Media dan Inferior. Tiap lobus tersusun oleh lobulus.

Paru-paru kiri terdiri ddari dua lobus yaitu lobus Superior dan Lobus Inferior. Tiap lobus terdiri dari belahan-belahan yang lebih kecil bernama segmen. Tiap-taip segmen terbagi lagi menjadi belahan-belahan lobulus. Diantara lobules satu dengan yang lainnya dibatasi oleh jaringan ikat yang berisi pembuluh-pembuluh getah bening dan syaraf-syaraf, didalam tiap lobulus terdapat sebuah bronchiolus. Didalam lobulus bronchiolus ini bercabang dengan cabang yang anyak sekali. Cabang ini disebut Duktus Olveolus, tiap-tiap duktus olveolus berakhir pada olveolus.

b.      Fisiologi Pernafasan
Fungsi dar paru-paru adalah ventisilasi yaitu memasukkan udara yang mengandung oksigen dan mengalikan kedalam darah serta mengeluarkan darah yang mengandung karbondioksida dari dalam darah. Hal ini merupakan gerakan inspirasi aktif dimana diagfragma turun dan dinding thorax berkembang dan ditarik keluar dengan kontraksi dari muskulus interkstalis eksterna.

Ekspirasi merupakan gerakan pasif pernafasan yang tenang. Aktifitas ini dikendalikan oleh pusat dalam batang otak yang meramgsang otak neuron motorik dari diagfragma dan muskulus interkostalis karena paru-paru elastik, maka mereka mengiku ekspansi paru-paru secara pasif dan udara ditarik ke dalam paru-paru. Pada saat paru-paru berekspansi udara mengalir melalui laring yang terbuka sehingga tekanan mendekati tekanan atmosfir. Pada saat inspirasi muskulus interkostalis eksternal dan diagfragma berelaksasi dan sifat dari dinding thorax dan paru-paru menyebakan ekspirasi pasif.




c.      Patofisiologi
Sebagai akibat masuknya zat kimia seperti debu, asap, rokok, kuman dan lain lain melalui jalan pernafasan bagian atas maka jaringan paru-paru tersebut akan rusak yang mengakibatkan paru-paru tidak data memenuhi oksigen yang cukup bagi tubuh. Dengan adanya produk yang dihasilakn oleh mikroorganisme tadi berupa sputum yang menambah atau memperbesar sumbatan pada jalan nafas sehingga meperkecil umlah oksigen yang dapat dihirup. Sumbatan ini sebagai hasil dari proses infeksi yang terjadi dalm paru-paru. Oksigen yang terdapat dalam paru-paru selanjutnya akan berdifusi untuk masuk kepembuluh darah kemudian oksigen yang telah tercampur dengan darah tadi akan kembali ke jantung untuk dipo, pakan ke seluruh tubuh.

3.      Etiologi / Klasifikasi

Berdasrkan etiologinya dibagi atas :
a.      Bakteri
1)      Pneumokok
2)      Streptotok
3)      Basil gram negatif
4)      Sterpkokok
b.      Virus
Virus Respitory Syncitial, Virus Influensa, Virus Adeno, Virus sitomegalik
c.      Aspirasi
d.      Pneunomia Hipostatik
e.      Jamur
f.        Syndrome Loeffler

4.      Tanda dan Gejala

a.      Bronkopneumonia biasanya didahului oleh infeksi traktus respirorius bagian atas selama beberapa hari.
b.      Suhu meningkat mendadak mencapai 39 – 40 0C dan mungkin disertai kejang karena panas yang sangat tinggi.
c.      Penderita mengeluh sakit kepala,sakit diotot-otot anggota gerak, mualdan kadang-kadang muntah.
d.      Gelisah, sesak, scanosis hidung sekunder hidung dan mulut.
e.      Kadang-kadang disertai diare.
f.        Perasaan nyeri di dada da nyeri ini akan bertambah bila batuk atau menarik nafas.
g.      Batuk mula-mula kering kemudian menjadi produktif.
h.      Batuk disertai pengeluaran sputum yang ketal dan lengket.
i.         Sesudah 1 atau 2 haribila tidak ada pengobatan penderita nampak sakit keras, dispnea dan scanosis.

5.      Proses Perjalanan Penyakit

Proses terjadinya Bronkopneumonia diawali dengan adanya kuman yang masuk kedalam jaringan paru-par yang masuk melalui saluran pernafsan kemudian masuk melalui broncheolus dan areolus. Dengan adanya invasi kuman kedalam jaringan-jaringan paru akan menimbulkan reaksi radang pada lobus bronchiolus bersebukan sel radang akut. Lumen berisikan eksudat dan sel epitel menjadi rusak. Rongga olveolus dan sekitarna penuh dengan nepkropil dan sedikit eksudat fibrinosa. Dinding bronchiolus yang rusak akan mengalami fibrinosis dan pelebaran sehinga akan menimbulkan bronchiektosis. Selain itu organisasi eksudat dapat terjadi karena absosi yang lambat. Kelainan yang timbul pada radang ini berupa bercak, konsolidasi yang tersebar pada kedua paru-paru. Konsolidasi itu melebar sehigga terjadi penggabungan yang disebut “Bronchopneumonia Conkluens”.

6.      Komplikasi

a.      Pleuritis
b.      Empyema Paru-paru
c.      Abses pau-paru
d.      Meningitis
e.      Arteritis
f.        Lemah jantung

7.      PENULARAN

a.      Droplet Infeksi (infeksi tetes), tetapi jarang biasanya disebabkan oleh virus
b.      Melalui makanan atau minuman

8.      Penatalaksanaan Medis

a.      Pemeriksaan Fisik
1)      Pada stadium awal sukar dibuat diagnosa dan pemeriksaan fisik tetapi dengan adanya nafas yang cepat dan dangkal, pernafasan cuping hidung dan scanosissekitar hidung dan mulut harus dipikirkan kemungkinan pneumonia hasil pemeriksaan fisik dari pada luas daerah yang terkena
2)      Pada perkusi thorax sering tidak ditemukan kelainan
3)      Pada auskultasi suara nafas vestikuler dan melemah
4)      Terdapat bronchi halus dan nyaring
5)      Jika sering bronchopneumonia menjadi satu (confluens) mungkin pada perkusi terdengar keredupan dan suara nafas mengeras.

b.      Pemeriksaa menunjang
1)      Secara laboratorik ditemukan leukositosis biasanya 15.00 – 40.000 / m3 dengan pergesera kekiri LDE meninggi
2)      Pengambilan sekret secara bronchoscopi dan fungsi paru untuk preparat langsung biakan dan tes resistensi dapat menentukan / mencari etiologinya teapi cara ni tidak rutin dilakukan karena sukar

c.      Perawatan
1)      Penderita istrahat total baik jasmani maupun rohani, tidur sikap flower.
2)      Kamar cukup ventilasi
3)      Spuntum ditampung didalam pot sputum yang diberi lisoldalam keadaan dispneu dapat diberi oksigen atau uap air hangat
4)      Kebersihan kulit, mulut dan gigi
5)      Kalau ada herper segera kolaborasikan dengan dokter


B.     ASUHAN KEPERAWATAN


1.      Pengkajian
a.      Data Subyektif
1)      Serangan dan lamanya batuk, demam dan daya tahan tubuh
2)      Pasien mengeluh nyeri di daerah dada sewaktu batuk dan pada saat nafas
3)      Keluhan panas atau konsistensi sputum yangkental
4)      Pengobatan yang dberikan setelah adanya infeksi
5)      Keluhan sukar menelan dan tidak nafsu makan karena adanya batuk
b.      Data obyektif
1)      Batuk disertai sputum yang kental
2)      Adanya dispneu, pernafasan cuping hidung, respirasi yang kental dan dangkal
3)      Pergerakan dada terbatas
4)      Adanya ronchi basah (pemeriksaan auskultasi)
5)      Suhu tubuh meningkat

2.      Diagnosa yang mungkin muncul
a.      Tidak efektifnya jalan nafas b/d informasi dan penumpukan secret pada jalan nafas
b.      Gangguan perkaraan gas b/d tidak efektifnya jalan gas
c.      Kurangnya volume cairan b/d pengingkatan suhu tubuh, tidak adekuatnya intake peroral
d.      Hipertermi b/d proses penyakit
e.      Gangguan pemasukan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake yang tdak adekuat
g.      Intoleransi aktifita n/d penurunan fungsi pernafasangangguan pola tidur b/d sesak afas

3.      Evalusi
a.      Tidak efektifnya jalan nafas tidak terjadi
b.      Gangguan pertukaran gas tidak terjadi
c.      Kurangnya volume cairan tidak terjadi
d.      Hipertemi tidak terjadi
e.      Kebutuhan nutrisi klien terpenuhi
f.        Intoleransi aktifitas kembali normal





DAFTAR PUSTAKA

Tjokronegoro Arjatma, Prof dr. Hendro Utomo. Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I, FKUI. Jakarta, 1996
Doegoes Marily R, Mary Prances Moorhosedan alice. Rencana Asuhan Keperawatan, Jakarta, 1999
Junaedi Purnawan, Atieka Sumanto, Husna Amelz, Kapita Selekta Kedeokteran, FKUI, Jakarta,1982


















GASTROENTERITIS



A.     KONSEP DASAR

1.      Pengertian
Gastroentritis adalah peradangan pada mukosa perut dan saluran pencernaan yang ditandai buang air besar yang terus-menerus dalam waktu yang singkat dengan bentuk tinja atau feces yang encer.

Diare adalah kehilangan cairan dan elektrolit secara berlebihan yang terjadi karena frekuensi sat kali ataulebih buang air besar dengan beentuk tinja yang encer atau cair. ( Suriadi.2001).

Diare adalah keadaan frekuensi BAB lebih dari empat kali pada bayi dan lebih dari tiga kali pada anak. Konsistensi feces encer dapat berwarna hijau atau pula berlendir dan darah (Ngastiah, 1997. Jakarta)

Gastroentritis atau diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cairan atau setengah cairan (setengah padat) dengan demikian kandungan air pada tinja lebih banyak dari biasanya (normal 100-200 ml/jam tinja), (Dikutip dari Hendrawanto Budi Setiawan, RHH Nelwah, 1994, Proceeding Komos-1 PETRI, in Press).

2.      Patofisiologi
a.      Etiologi
         Faktor                             Faktor                         Faktor                   Faktor
        Infeksi                          malabsorpsi                      makanan                psikologis















 


 Kerusakan dinding          Intoleransi laktosa     Makanan/zat tidak    Peningkatan korsalitas
      Efiral usus                  lemak, protein                                                  dapat diserap             (hiperperistatik)







 

Peningkatan tekanan                                               Menurunnya
 dalam rongga usus                                     Kesempatan usus untuk
                menyerap makanan
 
                                                                      
                                                           
                                                                                      



 


                                                Mal absorpsi cairan
                                                  elektrolit glukosa
                                                        dan cairan
                                                                                                     

      Kehilangan cairan dan                                                  Peningkatan eksresi cairan                 
               elektrolit                                                               elektrolit, lemak, glukosa
                                                                                                      dan protein


 


      Kekurangan cairan dan elektrolit                                                       Diare
         

            Dehidrasi


Syok Hipovolemik
 
 

b.      Proses Penyakitnya
Penyebab gastroentritis dapat dibagi dalam beberapa faktor diantaraya:
1)      Faktor infeksi
a)      Infeksi enternal yaitu infeksi pencernaan yang merupakan penyebab utama pada anak
(1). Infeksi ini meliputi: infeksi bakteri, vibrio, E. Coli, salmonela, shigela,   complexio bakteri, yersinia aeromonas, dsb.
(2). Infeksi virus: entero virus (virus echo, coxachie, poliomyelitis, openovirus, rotavirus, astro virus, dll).
b)      Infeksi parenteral yaitu infeksi bagian tubuh lain diluar alat pencernaan seperti otitis media akut (OMA), tansiopangitis, bronco pneomonia, eusepalitis, dsb.
2)      Faktor malabsorpsi
a)      Malabsorbsi karbohidrasi (intoleransi laktosa, malrasa dan sukrosa) pada bayi dan anak yang terpenting revseving ialah intoleransi lalktosa.
b)      Malabsorbsi lemak
c)      Malabsorbsi protein
3)      Faktor makanan: makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan
4)      Faktor psikologis: rasa takut dan cemas walaupun jarang dapat menimbulkan diare terutama pada anak yang lebih besar.

c.      Manifestasi klinis
Manifestasi klinis yang mungkin ditemukan pada klien dengan gastroentritis adalah:
1)      Mual-mual
2)      Gelisah
3)      Cengeng
4)      Peningkatan suhu tubuh
5)      Anoreksia
6)      Muntah
7)      Tinja cair disertai lendir
8)      Berat badan menurun
9)      Dehidrasi
10)  Penurunan kesadaran

d.      Komplikasi
Akibat diare, kehilangan cairan dan elektrolit secara mendadak dapat terjadi berbagai komplikasi sebagai berikut:
a)      Dehidrasi (ringan, sedang, berat, hipotonik, isotonik, dan hipertonik).
b)      Renjatan hipovolemik
c)      Hipokalemia (dengan gejala meteorimus, hipotoni otot, lemah, bradikardi. Perubahan elektrokardiogram)
d)      Hipoglikemia
e)      Intoleransi sekunder akibat kerusakan vili mukosa usus dan defisiensi enzim laktosa)
f)       Kejang terjadi pada dehirasi hipertonik
g)      Malnutrisi energi protein akibat muntah dan diare jika akut dan kronik.

e.      Penatalaksanaan
1).    Medik
a).    Pemberian cairan: jenis cairan, cara pemeberian cairan, jumlah pemberiannya
b).    Diet: cara pemberian makanan

c).    Obat-obatan
(1). Anti biotik
(2). Anti sekresi
(3). Obat spasmolitik, dll
2)      Keperawatan
a).    Perawatan di kamar terpisah dan perlengkapan cuci tangan
b).    Perhatikan

(1). Resiko terjadi gangguan sirkulasi darah

(2). Kebutuhan nutrisi

(3). Resiko terjadinya komplikasi

(4). Gangguan rasa aman dan nyaman

(5). Kurangnya pengetahuan orang tua mengenai penyakit


f.        Tumbuh kembang anak usia 13-18 bulan
1)      Fisik atau motorik
a)      Fontanel anterior menutup
b)      Abdomen mennjol
c)      Berjalan dengan jarak kaki yang lebar
d)      Menaiki tangga dengan bantuan
e)      Merangkak menuruni tangga
f)       Melemparkan bola yang ada ditangan
g)      Duduk sendiri diatas kursi kecil
h)      Memanjat
i)        Menarik mainan kedekatnya
j)         Meniru pekerjaan rumah tangga
2)      Bahasa
a)      Bayi mampu mengucapkan empat sampai delapan kata
b)      Menunjuk obyek yang diinginkan
3)      Kognitif
a)      Belajar tial end error
b)      Meminta bantuan orang dewasa untuk menggapai hasil
c)      Memahami hubungan antar obyek dan kegunaannya
4)      Sosialisasi
a)      Minum dengan gelas  tetapi menjatuhkanna bila telah selesai minum
b)      Memegang gelas dengan cukup baik
c)      Tidak begitu takut dengan orang lain
d)      Melepas pakaian yang sederhana



B.     ASUHAN KEPERAWATAN

1.      Pengkajian
a.      Eliminasi
Diare memberi abdomen tidak jelas dan distress, kembung
b.      Makanan cairan
Adanya rasa mual, muntah, penurunan nafsu makan, penurunan bb
c.      Integumen
Turgor kult, membran mukosa kering
d.      Keamanan kenyamanan
Peningkatan suhu tubuh, sakit kepala
e.      Pengetahuan orang tua


2.      Diagnosa Keperawatan
Diagnosa yang mungkin pada klien dengan gastroentritis antara lain:
a.      Kekurangan volume cairan berhubungan dengan output yang berlebihan
b.      Resiko tinggi gangguan kebutuhan  nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat
c.      Gangguan integritas kulit berhubungan dengan dehidrasi
d.      Kurang pengetahuan tentang penyakit diare berhubungan dengan kurangnya informasi

3.      Perencanaan
a.      Kekurangan volume cairan berhubungan dengan output yang berlebihan
Tujuan          : Setelah dilakukan keperawatan selama 3x24 jam kekurangan      cairan teratasi.
Kriteria hasil :  Turgor kulit baik,mukosa bibir tidak kering, intake dan output Seimbang, Suhu tubuh dalam batas normal 36-37C
Intervensi     :
1)       Kaji faktor penyebab diare 
2)      Awasi tanda-tanda vital dan pengisian kapiler
3)      Kaji pola eliminasi
4)      Awasi status membran mukosa dan turgor kulit
5)      Monitor intake dan output cairan
6)      Lakukan kompres bila suhu tubuh naik > 37oc
7)      Berikan obat antibiotik
b.      Resiko tinggi gangguan kebutuhan  nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh          berhubungan dengan intake yang tidak adekuat
Tujuan          : Setelah dilakukan keperawatan kebutuhan nutrisi klien teratasi
Kriteria hasil :  Nafsu makan klien baik, kien makan habis 1 porsi, berat badan                                   Klien dalam batas normal, HB dalam batas normal 12-14 gr/dl     
Intervensi     :
1)      Kaji intake nutrisi klien
2)      Berikan makan sedikit tapi sering
3)      Timbang berat badan pasien
4)      Dorong dan berikan periode istirahat sering
5)      Rujuk ke ahli gizi untuk menentukan komposisi diet
6)      Kolaborasi untuk pemberian anti generik
c.      Gangguan integritas kulit berhubungan dengan dehidrasi
Tujuan          :  Setelah dilakukan tindakan keperawatan gangguan integritas kulit teratasi
Kriteria hasil :  Tidak ada dehidrasi, turgor kulit elastis.
Intervensi     :
1)      Observasi kemerahan, pucat, ekskoriasi
2)      Observasi adanya penurunan berat badan
3)      Dorong mandi dua kali sehari
4)      Gunakan krim kulit dua kali sehari setelah mandi
5)      Diskusikan pentingnya perubahan posisi sering
6)      Tekankan pentingnya masukan nutrisi/cairan adekuat
7)      Rujuk keahli gizi untuk menentukan kompsisi diit
d.      Kurang pengetahuan tentang penyakit diare berhubungan dengan kurangnya   informasi
Tujuan          :  Setelah dilakuka tindaka keperawatan kepada keluarga pengetahua keluarga  bertambah
Kriteria hasil :  Keluarga dapat menyebutka kembali tentang pengertian, penyebab, tanda gejala, pencegahan dan perawatannya.

Intervensi     :
1)      Kaji tingkat pengetahuan klien/keluarganya
2)      Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan ketidaknyamanan
3)      Berikan penjelasan tentang penyaklit diare dan penyebabnya
4)      Berikan informasi cara penularan dan pencegahan jua tentang tanda dan gejala
5)      Berikan penjelasan cara pengobatannya







DAFTAR PUSTAKA

 Doengoes Marllyn E et all. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta EGC.

Engel Joyce. (1198). Pengkajian Pediatric . Edisi 2. Jakarta EGC.

Lewer Helen. (1998). Belajar Merawat Di Bangsal Anak. Jakarta. EGC

Nelson. (1998). Ilmu Kesehatan Anak .Edisi 2. Jakarta. EGC.

Ngastiyah. (1997). Perawatan Anak Sakit. Jakarta. EGC.

Rampengan. (1994). Penyakit Infeksi Tropic Pada Anak. Jakarta. EGC.

Soetjiningsih. (1995). Tumbuh kembang anak. Jakarta. EGC.

Suryadi (2001). Asuhan Keperawatan Pada Anak Edisi 1. Jakarta. EGC.

Wong and Whaley’s. (1996). Clinikal Manual Of Pediatric Nursing Fourth Edition. Mosby.

Wong. Dona L  (2004). Pedoman Klinis Perawatan Pediatric. Edisi Jakarta. EGC.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar