Minggu, 07 Agustus 2011

KDM







Kebutuhan Dasar Manusia


























NUTRISI



A.     KONSEP NUTRISI

 

1.      Pengertian

Nutrisi adalah zat makanan yang mengandung elemen penting untuk membantu menunjang pungsi tubuh atau dengan kata lain nutrisi adalah apa yang dimakan seseorang dan bagaimana tubuh menggunakannya (critian dan orangar).

Nutrisi adalah zat kimia benda organisme maupun organic yang terdapat dalam makanan yang di butuhkan untuk tubuh yang normal untuk mempertahankan pungsi tubuh yang normal tersebut, tubuh memerlukan nutrisi asosiasi yaitu, air, karbonhidrat, protein, lemak vitamin dan mineral.

a.      Karbohidrat (Cn (H2o) n)
Merupakan kimia organisme yang terdiri dari karbon (c) hydrogen (h2) dan oksigen (o2), karbonhidrat mudah larut dalam air dan mudah dicerna oleh tubuh dan 10% dikarnakan pencernaan mekanik di mulai dari mulut dan pencernaan kimia dimulai dari intestinal

Monosakarida diserap melalui mukosa intestinal kehepar melalui sirkulasi darah portal, dihepar diubah menjadi mukosa kemudian dilepaskan dalam aliran darah untuk mempertahankan kadar mukosa.

Polisakarida dan disakarida dipecah menjadi monosakarida, otot dan hati sudah penuh dengan glukagen, karbonhidrat yang berlebihan diubah menjadi lemak dan disimpan dalam jaringan adipose.

Yang bertanggung jawab dalam gula darah adalah hormon insulin dan glukagon, gula kadar glukosa darah berlebihan, maka insulin akanbekerja untuk menyimpan dalam otot dan hati dalam bentuk glukagon, disebut glukonosis, dan bila kadar dalam darah rendah maka glukagon akan bekerja untuk memecah glukagon menjadi glukosa, proses ini disebut glukogenesis, fungsi utama dari karbonhidrat yaitu sebagai sumber energi utama.

b.      Protein
Protein merupakan komponen vital untuk melangsungkan kehidupan sel dan merupakan struktur komplek yang terbuat dari asam amino (Ca, h2, O2, dan N2 ) berdasarkan komposisis asam amino protein dapat digolongkan;
1)      Protein komplit (kualitas tinggi)
Mengndung asam amino asensial  cukup tinggi untuk pertumbuhan (protein hewan)
2)      Protein inkomplit
Kurang satu atau lebih asam amino asensial (protein nabati).

Asam amino asensial adalah asam amino tidak dapat dibentuk oleh tubuh.

Fungsi protein
1)      Mengganti protein yang hilang selama proses metabolisme
2)      Pembentukan jaringan selama masa pertumbuhan dan penyembuhan cidera, kehamilan dan laktasi.
c.      Lemak
Lemak dibentuk mengalami penggabungan gusorah dan asam lemak, setiap satu manit gusorah bergabung dengan tiga unit asam lemak yang disebut trigliserida yang terdapat dalam makanan.

Fungsi lemak;
1)      Sebagai sumber energi
2)      Ikut serta dalam membangun jaringan tubuh perlindungan organ-organ
3)      Perlindungan organ-organ
4)      Melarutkan vitamin A,D,E,K
5)      Penyekatan (isolasi) panas

Pencernaan dan penyerapan lemak dimulai dari avodenum diamulasikan oleh empedu dan dihialisis menjadi asam lemak bebas kemudian masuk ke sel-sel mukosa usus.

d.      Vitamin
Vitamin merupakan zat gizi yang diperlukan oleh tubuh dalam jumlah yang baik, yang sebagian besarnya harus didatangkjan diluar tubuh.
1)      Vitamin A (ratinol) tidak larut dalam air;

Fungsinya    :  proses melihat, metabolisme umum, proses retroduksi

Sumber        :  Hati, minyak ikan, susu, kuning telur, proses reproduksi.     
2)      Vitamin B komplek;
a)      Tiamin /vit B1 sebagai anti beri-beri
b)      Niasin/ niccotinamida, asam nikotinal, berfungsi sebagai anti pellagra (sindrom), kekurangan vit lesu, letih, nafsu makan berkurang, BB menurun.
c)      Ripoblavin/vit B2 sebagai unusr enzim
d)      Vitamin B6 (piridoksin, piridoksal, piridoksamin) sebagai koenzim.
e)      Kobalamin/vit12 sebagai factor antri anemia, sumber; hati, daging, sayuran, padi-padian, ikan, telur, susu dan keju.
3)      Vitamin C atau asam askorbat sebagai pencegah penyakit sariawan dan penyembuhan luka bakar, mempermudah penyerapan zat besi.
4)      Vitamin D atau kolsiforon
Berfungsi meningkatkan absorpsi Ca dan dalam usus mendorong pembentukan garam-garam  Ca dalam jaringan, meningkatanya clearense phospat dalam tubuli gimjal, kekurangan vitamin D dalam jaringan bawah kulit (D3, C7 pehidrokoresterol) sinar ultraviolet, susu, margarin yang tidak diperkuat minyak ikan.
5)      Vitamin E berfungsi secara mendasar yaitu mencegah kerusakan saluran pengobatan supertif.
6)      Vitamin K (Manadion) berfungsi secara mendasar, yaitu:
a)      Sintesa protombin
b)      Sintesa faktor pembekuan II, VII, IV, X

Kekurangan Vitamin K hemoragik (perdarahan), sumber sayur-sayuran hijau, hati babi, sum-sum tulang.


e.      Mineral
      Berasal dari zat kimiawi anorganik terdiri dari Na, K, Cl, Ca, phospor, Mg, Fe, tembaga, yodium.



2.      Faktor-faktor yang mempengaruhi Kebutuhan Nutrisi
a.      usia dan pertumbuhan
b.      jenis kelamin
c.      iklim
d.      status kesehatan
e.      istirahat
f.        makan
g.      aktifitas
h.      pengobatan

3.      Fisiologi
Saluran pencernaan adalah saluran yang menerima makanan atau nutrisi dari luar tubuh dan menyiapkan nutrisi tersebut, untuk diserap oleh tubuh melalui proses pencernaan dengan bantuan enzim dan zat cair lainnya, mulai dari mulut sampai ke usus.

Nutrisi yang dapat dicerna dalam pencernaan melalui beberapa proses, antar lain:
a.      proses pencernaan, proses absorpsi, proses metabolisma dan reabsorpsi (penyerapan kembali)
1)      Proses pencernaan
Makanan masuk melalui saluran cerna pertama kali makanan masuk ke mulut dan di proses secara kimiawi dengan bantuan kelenjar saliva (kelenjar lidah) sampai berbentuk halus, bolus ditahan dan masuk ke esophagus sampai lambung, dilambung bolus diproses secara kimia dengan batuan asam lambung dan enzim lamfase, dilambung juga terjadi proses mekanmik untuk mencampur makanan supaya bersatu dengan asam dan secret lambung hingga berbentuk kamus.
2)      Proses absorpsi
setelah makan makanan dikelurkan dari lambung diteruskan ke usus halus dan usus besar selama berada di usus terjadi proses absorpsi yaitu berupa nutrisi asensial, air, karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral,
Proses absorpsi di usus bisa dipengaruhi oleh beberapa factor, antar lain:
a)      Faktor percampuran
b)      Faktor dorongan
c)      Faktor gerak, peristatik usus
3)      Proses metabolisme
Nutrisi esensial hasil penyerapan masuk ke pembuluh darah, proses metabolisme dalam tubuh dibagi dua, yaitu:
a)      Anabolisme (pembentukan)
b)      Katabolisme (proses perombakan)
4)      Proses reabsorpsi
Setelah proses metabolisme selesai sebagai zat yang yang tidak terpakai akan disimpan oleh tubuh di organ-organreabsorpsi tertentu seperti hati, apabila saatnya zat tersebut harus digunakan maka akan digunakan kembali oleh tubuh.
     

B.     ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN MASALAH KEBUTUHAN NUTRISI

1.      Pengakajian
Pengkajian nutrisi adalah bagian penting untuk mengetahui resiko  masalah nutrisi, hospitalisasi, resiko masalah nutrisi hospitalisasi, gaya hidup dan beberapa factor lain:

a.      Kelengkapan pengkajian nutrisi :
1)      Observasi intake dan output nutrisi
2)      Focus keperawatan mengenai riwayat diet klien
3)      Pengukuran fisik (antarabrometrik)
b.      Tes diagnostiuk (HB+HT, serum albumin)
Pengkajian pada pengukuran atro rometri diperlukan ukuran lingkar lengan atas dan tebal lemak kulit lengan maka ditemukan lingkaran otot lengan atas (lola)= (lingkar lengan atas (ILA). Ukuran normal lengan laki-laki=25.3cm, Wanita= 23.3cm.

2.      Diagnosa Keperawatan
a.      Gangguan pemenuhan kebutuahan nutirisi kurang dari kebutuhan b/d
-          Kesulitan menelan dan mengunyah
-          Anoreksia sekunder tahadap pemenuhan dan pengecap
-          Kesulitan atau ketidakmampuan untuk memperoleh makanan
-          Vomit dan diet yang tidak seimbang
b.      Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh b/d
-          Pola makan yang tidak teratur
-          Cara hidup mewah
-          Kebiasaan makanan yang tidak baik

3.      Intervensi Keperawatan
a.      Kaji batasan karakteristik
-          Resiko berat badan dan tinggi badan
b.      Kaji factor-faktor yang berhubungan dengan
-          Nafsu makan
-          Pola diet
-          Tingkat aktifitas
-          Makanan yang didapatkan
-          Pengetahuan tentang nutrisi
-          Factor resiko fisiologis
-          Obat-obatan
c.      Kaji tanda-tanda fisik
d.      Kaji factor yang berhubungan: kemampuan untuk mengunyah, menelan, dan makan sendiri
e.      Anjurkan klien untuk melakukan kebersihan mulut segera setelah makan















CAIRAN DAN ELEKTROLIT



A.     KONSEP CAIRAN DAN ELEKTROLIT

1.      Pengertian
Cairan dan elektrolit adalah cairan yang ada didalam komponen tubuh yang berfungsi untuk mempertahankan keseimbangan didalam tubuh untuk kelangsungan hidup organ-organ yang ada di dalam tubuh.

a.      Elektrolit
adalah suatu komponen dari zat kimia yang menghasilkan partikel-partikel yang bermuatan kation atau anion jika berada dalam suatu larutan. Air merupakan zat komponen atau zat pelarut, sedangkan elektrolit merupakan zat yang terlarut. (Dasar-dasar ilmu keperawatan).

Elektrolit adalah garam yang terurai didalam air menjadi satu atau lebih partikel yang bermuatan ion Na, K, Ca, Mg, dan Cl.

Non elektrolit adalah zat terlarut yang tidak terurai di dalam larutan dan tidak bermuatan listrik (protein, glukosa, dan ureum).

b.      Cairan tubuh
Cairan adalah larutan yang terdiri dari air dan zat terlarut (Dasar-dasar Ilmu Keperawatan).

Cairan di dalam tubuh dibagi kedalam dua komponen besar yaitu cairan intraseluler (ICF) dan cairan ekstraseluler (ECF).Cairan intrasel disebut juga cairan sel ditemukan dalam tubuh antara 2/3-3/4 dari total cairan tubuh dan 70% dari total berat badan.

Cairan ekstrasel ditemukan di luar sel. Cairan ini dibagi menjadi dua bagian yaitu cairan intravaskuler dan cairan interstitial. Cairan intravaskuler disebut juga darah dan cairan interstitial ditemukan diantara sel-sel cairan serebrospinal, pleura, peritonial, dan cairan sinovial juga termasuk ke dalam cairan ekstraseluler.

Cairan yang masuk ke dalam tubuh dimetabolisme dengan berbagai metode pergerakan yaitu difusi, osmosis, dan transfort aktif. Filtrasi semuanya ini terjadi di dalam sistem vaskularisasi dan arteriola venula.

a.1.     Keseimbangan cairan
Keseimbangan cairan dan elektrolit adalah keseimbangan antara cairan yang masuk dengan cairan yang keluar. Kebutuhan cairan akan berbeda pada tingkatan usia sesuai dengan kebutuhannya. Intake dan output pada orang dewasa 1500-3500ml.
Pengaturan keseimbangan cairan tubuh diekspresikan dengan rasa haus dimana yang menstimulusnya yaitu sel yang kekurangan air. Organ yang berperan penting pada masalah cairan dan elektrolit yaitu ginjal, sistem pernafasan (paru-paru), sistem endokrin, kardiomuskular dll. Cairan yang masuk akan diseimbangkan oleh tubuh dengan mengeluarkan sebagian cairan tersebut melalui urine, keringat, dan feses.

a.2.  Keseimbangan elektrolit
Elektrolit didalam tubuh dibagi kedalam dua komponen yaitu komponen anion dan kation. Komponen elektrolit yang termasuk kedalam kation diantaranya K, Na, Ca sedangkan muatan anionnya yaitu Cl.
1)      Sodium (Na)
Na merupakan konsentrasi normal dalam tubuh yang diatur oleh ADH dan aldosteron, Na bergerak diantara kompartmen cairan, selain bergerak keluar tubuh.Nilai normalnya 135-145mEq/L.
2)      Potasium (K)
Kalium adalah komponen utama dalam cairan intrasel yang berbentuk kation yang berfungsi sebagai relaksasi otot. Nilai normalnya 3,5-5,0mEq/L.
3)      Calsium (Ca)
Ca adalah elektrolit tubuh yang berfungsi untuk pembentukan tulang, kontraksi otot,pembekuan darah dan sebagai media transmosion impuls saraf.Nilai normalnya 4,0-5,5mEq/L.
4)      Clorida (Cl)
Cl merupakan anion terbesar didalam cairan ekstrasel yang berfungsi sebagai pertahanan keseimbangan tekanan osmotik didalam darah. Nilai normalnya 95-105mEq/L.
5)      Magnesium (Mg)
Pusat pengaturan magnesium yaitu di paratiroid dan di absorpsi dari usus atau intestinal. Nilai normalnya 1,5-2,5mEq/L.

a.3.     Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit
Gangguan ketidakseimbangan terjadi apabila mekanisme kompensasi di dalam tubuh tidak mampu lagi mempertahankan homeostasis. Keadaan ini dapat terjadi pada keadaan :
1)      Fluid Volume Defisit (FVD)
Yaitu keadaan defisiensi dimana jumlah cairan dan elektrolit yang terjadi pada cairan ekstrasel, tetapi proporsi antara cairan dan elektrolit mendekati normal atau disebut jega hipovolemia. Hipovolemia terjadi apabila ada perubahan tekanan osmosis. Sehingga cairan interstitial masuk ke ruang vaskuler dan menyebabkan cairan di interstitial sedikit dan mengakibatkan cairan di intrasel keluar ke interstitial. Maka cairan di dalam sel sehingga muncullah perasaan haus.
2)      Fluid Volume Excess (FVE)
Yaitu keadaan dimana air dan natrium tertahan di cairan ekstrasel. Keadaan ini disebut juga hipervolemia yang disebabkan karena kurangnya fungsi dari ginjal.Edema yaitu kelebihan cairan di ekstrasel yang di simpan di jaringan, sering terjadi di daerah mata, kaki, dan jari. Edema disebabkan karena meningkatnya tekanan hidrostatoik tanpa diimbangi dengan peningkatan tekanan osmotik.

3)      Ketidakseimbangan elektrolit
Ketidakseimbangan elektrolit dalam tubuh dapat dilihat dari ketidakseimbangan kandungan elektrolitnya. 
        Hiponatremia : terjadi apabila kadar natrium dalam cairan osmotik ekstrasel kurang yang disebabkan perubahan tekanan osmotik sehingga cairan banyak bergerak ke intrasel yang mengakibatkan sel membengkak.
        Hipokalemia : yaitu kadar kalium pada cairan ekstrasel kurang sehingga kalium banyak keluar dari sel yang mengakibatkan hidrogen dan natrium tertahan di sel yang menyebabkan gangguan pada pH plasma.
        Hiperkalemia : yaitu kelebihan kadar potensial cairan ekstrasel.
        Hipokalsemia : yaitu kekurangan kalsium di ekstrasel sehingga kalsium di serap dari tulang. Keadaan yang terus menerus menyebabkan osteomalasia.
        Hiperkalsemia : yaitu kelebihan kalsium di cairan ekstrasel.

                                           

2.      Pengaturan Perpindahan cairan

      Cairan yang masuk akan di proses melalui metode :
a.      Difusi : Pergerakan cairan dari daerah yang konsentrasinya tinggi ke larutan yang konsentrasinya rendah, sampai terjadi keseimbangan. Kecepatannya dapat di pengaruhi oleh :
1)      Ukuran molekul
Makin besar ukuran molekul makin lambat kecepatan  difusi.
2)      Konsentrasi larutan
Semakin tinggi konsentrasinya semakin cepat bergerak.
3)      Temperatur
Semakin tinggi temperaturnya, semakin tinggi kecepatan difusinya.
b.      Osmosa : merupakan perubahan atau pergerakan cairan dari larutan yang konsentrasinya rendah ke konsentrasi tinggi dengan melalui permeabel sel.
c.      Transfort aktif
1)      Membutuhkan energi
2)      Unuk mempertahankan konsentrasi ion sodium dan potassium pada ekstrasel dan intrasel.
3)      Dikenal dengan pompa sodium-potasium.
d.      Filtrasi : pergerakan cairan dari tekanan tinggi ke tekanan rendah.

3.      Faktor-faktor yang mempengaruhi Keseimbangan Cairan dan Elektrolit
a.      Usia
Intake cairan antara variasi usia berbeda infant dan usia. Pertumbuhan sangat membutuhkan cairan lebih dari usia-usia lainnya
b.      Temperatur lingkungan
1)      lingkungan panas menstimulus sistem saraf simpatis yang menyebabkan keringat.
2)      Pada cuaca yang panas seseorang akan kehilangan 700-2000ml air/jam 15gr-30gr/hari.
c.      Diet
1)      diet mempengaruhi intake cairan dan elektrolit
2)      intake nutrisi tidak adequat sehingga serum albumin menurun menyebabkan cairan interstitial tidak ke pembuluh darah disebut edema.

d.      Situasi stress
stress dapat juga mencetuskan munculnya antidiuretik hormon sehingga produksi urine menurun.

e.      Keadaan sakit
a.    luka bakar
b.    gagalginjal
c.    payah jantung
4.      Etiologi
      Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit dikarenakan output cairan yang lebih besar daripada intake yang masuk. Terjadi pada klien dengan gangguan seperti diare, muntah, dan keringat yang berlebihan. Gangguan lainnya yaitu karena adanya luka bakar yang habis 50% dari tubuh.

Tanda dan gejala yang dapat ditemukan pada masalah cairan dan elektrolit yatu turgor kulit yang tidak elastis, membran mukosa yang kering, klien terlihat lemas. Pada keadaan yang lebih berat dapat ditandai dengan kejang otot, mata cekung dan layu, rasa haus yang dikeluhkan oleh klien dapat juga ditandai sebagai salah satu gejala kurangnya intake cairan.

5.      Fisiologi
Fisiologi  cairan didalam tubuh dibagi dalam dua bagian yaitu fisiologi caiaran intrasel dan ekstrasel; cairan yang didapat oleh tubuh sebagian besar berasal dari system pencernaan yang kemudian diabsorpsi oleh pembuluh darah untuk dialirkan ke seluruh tubuh.

Sedangkan fisiologis pada cairan intrasel yaitu diekstrasel yaitu pembuluh darah yang oleh sel melalui membran sel dan membran arteriola.
Kebutuhan cairan Kebutuhan cairan pada orang dewasa berbeda dengan kebutuhan cairan pada anak-anak, biasanya lebih besar dibandingkan pada orang dewasa. Kebutuhan cairan pada orang dewasa 80 ml/kg bb/hr, sedangkan pada anak-anak kebutuhan cairan sebanyak 40-140 ml/kg bb/hr.

Fungsi cairan tubuh
a.      Sebagai komponen structural dan bantalan antar sel
b.      Sebagai pelarut dalam mencerna dan mensekresi
c.      Sebagai pelumas
d.      Sebagai pengatur suhu tubuh
e.      Sebagai alat transportasi terutama dalam darah.

Total Cairan tubuh (Total Body Fluid (TBF) %BB
a.       Bayi baru lahir      :     70%-80%
b.       Satu tahun            :     61%
c.       Pubertas 20 th      :     P, 52%         L; 60%
d.       40 th- 60 th           :     P; 47%         L; 55%
e.       Lebih 60 th           :     P; 40 %        L; 32%

6.      Penatalaksanaan Medis
-          Pemberian intravena Rl, NaCl dll
-          Minum banyak 8-9 gelas
-          Pemberian cairan garam oralit
-          Pemberian minum sirup, dll.


B.     ASUHAN KEPERAWATAN CAIRAN DAN ELEKTROLIT

1.      Pengkajian
a.      Observasi TTV
b.      Kaji intake dan output
c.      Kaji tanda-tanda dehidrasi (turgor kulit, mata)
d.      Observasi tingkat kesadaran

2.      Diagnosa Keperawatan
a.      Kemungkinan gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit berhubungan  dengan:    
-          Intake yang kurang adekuat
-          Out put  yang berlebihan:muntah, diare
b.      Potensial dehidrasi berhubungan dengan;
-          Intake yang berkurang; mal nutrisi  
-          Output yang berlebihan;diuresis
-          Luka bakar
-          Hipertermia 
c.      Kelebihan cairan;edema berhubungan dengan
-          Intake yang berlebihan
-          Gangguan fungsi ginjal
-          Terapi cairan
d.      Syok Hipovolemik berhubungan dengan
-          Perdarahan yang kurang
-          Intake yang kurang atau tidak adekuat

3.      Intervensi Keperawatan

a.      Kaji turgor kulit
b.      Anjurkan klien untuk minum 2800ml/hari
c.      Kaji intake dan output cairan
d.      Monitor TTV
e.      Observasi tingkat kesadaran



























OKSIGENASI


A.     KONSEP OKSIGENASI

 

1.     Pengertian

Oksigenasi adalah transport dari atmosfer ke sel-sel tubuh dan karbondioksida dari sel-sel ke atmosfer, (Kozier, 1983).

Oksigenasi merupakan kebutuhan dasar fisiologis yang dibutuhkan oleh manusia untuk bertahan hidup, system tubuh yang sangat berperan dalam peemenuhan oksigen adalah system pernapasan.

Proses oksigenasi terdiri dari tiga bagian:
a.      Proses ventilasi
Yaitu gerakan tubuh pernapasan yang menukar udara dalam alveoli dengan udara luar atau proses keluar masuknya udara.
b.      Proses difusi gas
Yaitu prses pertukaran gas diantara alveoli dan kapiler.
c.      Proses transport aktif/pasif
Yaitu transport oksigen masuk keseluruh tubuh, karbondioksida dari seluruh tubuh masuk ke paru-paru.

2.      Faktor-faktor yang mempengaruhi Oksigen
a.      Proses pentilasi
1)      Oksigen atmosfer yang adequat
2)      Jalan nafas yang bersih
3)      Regulasi nafas
b.      Proses difusi
1)      Ketebalan membran alveoli dan kapiler
2)      Permukaan membran
3)      Koofisien divusi gas
4)      Tekanan keluar gas
c.      Proses transport gas
1)      Jumlah eritrosit
2)      Cardiac output
3)      Hematokrit darah

3.     Etiologi
Gangguan oksigen dapat disebabkan oleh beberapa hal, antara lain: Respirasi dan sirkulasi
Faktor-faktor yang mempengaruhi sirkulasi antara lain:
a.      Ketinggian
b.      Lingkungan
c.      Emosi
d.      Latihan
e.      Status kesehatan
f.        Gaya hidup





Status respirasi dapat digambarkan melalui:
a.      Pola nafas
Kecepatan, volume, irama dan kesulitan nafas

1)      Kecepatan
-          Eupnea    : kecepatan teratur, normal dan mudah, tergantung pada usia.
-          Tacypnea : nafas cepat dan dangkal
-          Bradipnea : nafas lambat
-          Apnea       : nafas terhenti
2)      Volume
-          Hiper Pentilasi : peningkatan jumlah udara yang ditandai dengan nafas panjang dan dalam.
-          Hipo pentilasi   : pemenuhan jumlah udara didalam paru yang ditandai dengan nafas dangkal.
3)      Kesulitan bernapas
-          Dyspnea    : napas sangat sulit dan klien tampak tidak puas bernapas dan stress.
-          Orthropnea : mampu bernapas hanya dalam posisi duduk/berdiri.
b.      Suara nafas
c.      Pergerakan nafas
d.      Sekresi dan batuk

Status respirasi digambarkan melalui:
a.      Hate/nadi
b.      Tekanan darah
c.      Oksigenasi

4.     Kebutuhan Oksigenasi
Oksigenasi dalam tubuh dapat diukur menurut keperluan manusia sangat membutuhkan oksigen dalam hidupnya, kalau tidak mendapatkan selama 4 menit akan mengakibatkan kerusakan pada otak yang tak dapat diperbaiki dan bisa  menimbulkan kacau pikiran (anorexia). Serebralis bila oksigen tidak mencukupi maka warna darah merahnya hilang berganti kebiru-biruan, misalnya pada bibir, telinga dan kaki yang disebut dengan sianosis.

5.     Tanda dan Gejala
Tanda dan gejala yang dapat ditemukan pada gangguan oksigen yang sering terjadi yaitu hipoxia.
a.      Tanda-tanda hipoxia dini:
1)      Nadi meningkat
2)      Nafas cepat dan dalam
3)      Cyanosis
4)      Lelah dan berkunang – kunang
5)      Distraksi interkosta dan substernal
b.      Tanda-tanda hipoxia berat
1)      Nadi lambat
2)      Sistolik
3)      Dyspnea
4)      Batuk
5)      Hemolysis
c.      Tanda-tanda hipoxia Kronis
1)      Fatique
2)      Letharge
6.     Penatalaksanaan medis
Prinsip penatalaksanaan medis menghilangkan edema bronkus hipersekresi, bronkopasme dan imbalans perfusi jaringan paru-paru, tindakan preventif juga penting pada pengobatan, misal menjauhkan bahan-bahan yang menjadi alergen pada asma atopik antara lain menyingkirkan binatang piaraan, seperti anjing, kucing, burung, ayam.

Penatalaksanaan selanjutnya adalah
a.      Pengobatan dengan obat-obatan
b.      Tindakan yang spesifik yang dilakukan pada penderita
c.      Tindakan yang spesifik yang tergantung bentuk penyakitnya, dan
d.      Pemberian oksigen 2.5-3 liter/menit.


B.     ASUHAN KEPERAWATAN OKSIGENASI

1.      Pengkajian
a.      Kaji tanda-tanda vital, RR, TD, N, suhu
b.      Kaji factor yang mempengaruhi fungsi pernapasan dan sirkulasi
c.      Kaji thorak paru dan jantung klien (kondisinya)
d.      Kaji tanda- tanda kronis lannya.

2.      Diagnosa Keperawatan
a.      Gangguan pemenuhan 02 b/d infeksi pada jaringan nafas
b.      Gangguan pola nafas b/d tidak efektifnya jalan nafas
c.      Bersihan jalan nafas tidak efektif b/d peningkatan produki secret.
d.      Gangguan pertukaran gas b/d ketidak seimbangan ventilasi perfusi
e.      Gangguan perfusi jaringan b/d penurunan aliran darah atau suplay 02 yang tidak adequate

3.      Intervensi Keperawatan
a.      Posisi
Ventilasi yang adequate dapat dipertahankan dengan cara, posisi:
1)      Beri posisi yang nyaman sehingga expansi paru maximal
2)      Rubah posisi untuk posisi bedrest
3)      Ambulasi
4)      Beri rasa nyaman
b.      Nafas dalam dan batuk efektif.
-          Anjurkan klien nafas dalam dan batuk efektif untuk membersihkan jalan nafas dan ambulasi < penumpukan > secret.
c.      Hidrasi yang adekuat
-          Hidrasi yang adekuat dapat membantu memberikan kelembaban pada saluran nafas.
d.      Memberikan lingkungan yang sehat.
-          Hindari ruang yang sesak, penuh asap rokok dll.
e.      Postural drainage.
-          Adalah penggunaan posisi tertentu untuk mengeluarkan secret/sputum yang ada didalam paru.
f.        Fisiotherapi dada
-          terdiri dari clopping dan vibrasi
g.      Therapy oksigen
-          Therapy oksigen diberikan pada orang yang mengalami hyposemik diberikan melalaui instruksi dokter, jika darurat perawat dapat berinisiatif sendiri.
NYERI



A.     KONSEP NYERI

1.      Pengertian Nyeri

   Nyeri yaitu sensasi tubuh yang sangat tidak menyenangkan yang menyebabkan suatu penderitaan yang merupakan persepsi pisik terhadap rangsangan yang mengancam. (Engel 1945-1970).
Nyeri secara umum daoat didefinisikan sebagai suatu rasa yang tidak nyaman.  

2.      Tipe Nyeri

a.      Nyeri akut dan nyeri kronik
1)      Nyeri akut: nyeri yang terjadi dalam waktu singkat contoh nyeri fraktur, nyeri bedah, nyeri infeksi.
Gejala klinis yang menyertai: respirasi meningklat, hormon meningkat, tekanan darah meningkat, panas.                                                            
2)      Nyeri kronik: nyeri yang munculnya lebih lama gejala klinisnya klien menyadari adanya nyeri.
b.      Nyeri Somatogenik dan psikogenik
1)      Nyeri somatogenik (organic pain): nyeri yang disebabkan karena kerusakan fisik.
2)      Nyeri psiko0genik (functional pain): nyeri yang disebabkan karena masalah mental.
c.      Intractable rain
-          Adalah nyeri yeng disebabkan karena resisten terhadap pengobatan atau nyeri yang mudah kambuh.
d.      Referaid rain
-          Adalah nyeri yang dirasakan pada area yang cukup jauh dari jaringan penyebab nyeri.
e.      Nyeri fiseral dan nyeri somatic
f.        Berdasarkan rasa, contoh: nyeri tusuk, nyeri tekan, nyeri sayat, nyeri terbakar.

3.      Ambang Nyeri dan Toleransi Nyeri

a.      Ambang nyeri adalah jumlah stimulasi nyeri yang dibutuhkan untuk menimbulkan rasa nyeri.
   Factor yang mempengaruhi: tingkat kesadaran obat dal lain-lain bersifat indifidual.
b.      Toleransi nyeri adalah jumlah dan caranya nyeri yang membuat indifidu bertahan.

4.      Faktor yang mempengaruhi Persepsi Nyeri
a.      Fisiologis: - adanya zat kimia tubuh, enkepalin endorphin dan dinorpin
b.      Psikososial dipengaruhi oleh :
-          harapan keluarga
-          kebudayaan, emosi
-          lingkungan
-          pengalaman

5.      Macam-macam Stimulus Nyeri

a.      Motorik disebabkan karena
-          Gangguan dalam jaringan tubuh
-          Tumor, spasme otot
-          Sumbatan dalam saluran tubuh
-          Trauma dalam jaringan tubuh
b.      Thermal (suhu)
-          Panas dingin yang ekstrim
c.      Kimia
-    spasme otot dan iskemia jaringan

6.      Fisiologi
Mekanisme syarat komplek secara keseluruhan tidak mengrti tentang keterlibatannya dengan nyeri.

Ada beberapa, kenyataan serta teori yang akan dijelaskan disini; Teori awal tentang nyeri menjelaskan bahwa nyeri sebagai suatu mekanisme, relative sederhana yang menjelaskan bahwa respon nyeri timbul apabila suatu stimulus neri mengaktifitaskan reseptor nyeri, stimulus dapat berupa zat kimia, panas listrik mekanik maupun non mekanik baik yang berasal dari dalam maupun dari luar tubuh. Informasi Reseptor nyeri mencapai system saraf pusat yaitu dimulai dari serabut asendens, bila informasi ini telah sampai di thalamus maka seseorang akan merasakan adanya suatu sensasi serta mempelajari lokasi dan kebutuhan stimulus. Bila informasi telah sampai ke korteks cerebri maka seseorang lebih terlihat dengan sensasinya mencoba nyeri dan mencari cara untuk menghindari sensasi lebih lanjut. Dua serabut utma dalam nyeri yang utama dalam mepelajari nyeri adlah serabut reseptor dengan diameter besar, serabut diameter kecil menstramisikanm sensasi nyeri yang keras mempunyai reseptor berupa ujung-ujung saraf di kulit dan struktur dalam, seperti tendon, otot dan alat-alat, sedangkan serabut diameter besar mempunyai reseptor yang terletak distruktur permukaan interksi serabut-serabut diameter besar dan kecil di gafe merupakan modulasi sensasi nyeri.

Tiga jenis gambaran yang membantu untuk mendeterminasikan (menunjukan rasa nyeri)
a.      Input emosional dan kognitif yang terus menerus berkaitan dengan stimulasi nyeri.
b.      Intensitas stimulus nyeri dan arti jumlah serabut yang berstimulusi dan frekuensi infuls.
c.      Keseimbangan relatif aktifitas serabut besar terhadap serabut kecil.
Gafe control teori tergantung pada kedua serabut syaraf yang keduanya terletak setara dan paralel lebih besar dengan batang sel pada akar dorsal ganglia, serabut besar beraksi terhadap substansi geltinosa (SG) dan menstimulusinya, stimulasi ini mencegah transmisi dari sel yang diperlukan terhadap persepsi nyeri serabut kecil dapat mengatasi memodifikasi pengaruh serabut besar pada (SG) atau dapat secara langsung terhadap mekanisme. Pemprosesan pusat otak, sinyal-sinyal dapat bersifat inhibitor atau fasilitator, bila fasilitatif hasilnya adalah piring dari sel yang menghasilkan persepsi nyeri dan respon otot dan endokrin.

7.Respon Nyeri
a.      Aktifitas (respon dimana kita siap dan bersiaga)
b.      Redbeun: reaksi perlawanansistem saraf parasimpatis untuk menurunkan denyut dan tekanan darah.
c.      Adapatasi: adanya zat kimia yang dikeluarkan oleh tubuh, contoh: endorphin, yang mempunyai efek analgetik.


8.      Tanda dan gejala
a.      Lokasi, intensitas, kualitas, waktu dan lamanya nyeri
b.      Repon klien baik verbal maupun nonverbal
c.      Giljal yang menyertai
d.      Pengaruh terhadap aktifitas
e.      Sumber koping

Skala nyeri
-          0-3: ringan
-          3-5: sedang
-          5-7 berat

8.      Tindakan Keperawatan untuk mengatasi Nyeri
Beberapa tindakan khusus untuk menghilangkan nyeri adalah:
a.      Distraksi
Distraksi merupakan metode untuk menghilangkan nyeri dengan cara mengalihkan perhatian pada hal-hal lain, hingga klien lupa terhadap nmyeri yang dialaminya. Misalnya: seseorang habis dioperasi mungkin tidak merasakan nyeri sewaktu melihat pertandingan sepak bola di TV.
b.      Relaksasi
Relaksasi merupakan metode yang efektif pada klien yang mengalami nyeri/kronis, ada tiga hal utama yang diperlukan relaksasi yaitu posisi klien diatur senyaman mungkin dengan semua bagian tubuh disokong persendian fleksi otot-otot tidak ditarik, untuk menyenangkan klien dianjurkan memandanbg sekeliling lingkungan. Misalnya: melintas atau turun kedinding dan lain-lain, untuk menyegarkan muka klien dianjurkan sedikit senyum.
c.      Stimulasi kulit
Stiumulasi kulit dapat dilakukan dengan cara pemberian kompres dingin dapat memperlambat impuls-impuls motorik pada rasa yang nyeri, balsam analgetik yang berisi menthol dapat membebaskan nyeri. Balsam ini dapat menyebabkan rasa hangat pada kulit yang berlangsung beberapa jam, stimulasi control latural, dilakukan dengan menstimulasi kulit pada area kulit yang berlawanan. Misal: apabila kaki kiri nyeri maka kaki kanan yang distimulasi analgetik.

9.Penatalaksanaan Medis
a.      Pemberian analgetika pada klien nyeri
Analgetika dapat mengurangi nyeri dengan menekankan system syaraf pusat pada thalamus dan korteks serebri.
b.      Pemberian Anasthesi
Untuk menurunkan nyeri dapat digunakan box saraf ini dikerjakan dengan nenginjeksi anastesi lokasi, missal: lindotaine kedalam syaraf nerveus, blok sering digunakan pada tindak-tindakan gigi atau mengurangi nyeri, missal: pada kanker.
c.      Stimulasi elektrik
Terkadang digunakan untuk mengatasi nyeri berat pada stimulasi elektrik transkutaneus elktroda-elktroda dipasang pada permukaan kulit diatas area yang sakit dan serabut periver.

d.      Pemberian akupuntur
Telah dipraktekan sebagai salah satu cara mengatasi nyeri, jarum-jarum yang tipis dan panjang ditusukan pada berbagai tubuh jarum dapat dihangatkan, dihubungkan dengan aliran listrik atau diputar-putar dengan tangan
e.      Tindakan pembedahan merupakan alternative lanjut untuk nyeri hebat yaitu dengan memotong serabut-serabut yang menghantar nyeri.
f.        Plecebo
Merupakan bentuk suatu tindakan, missal: pengobatan atau tindakan keperawatan yang mempunyyai efek pada klien akibat sugesti daripada kandungan fisika adalah kimianya.
           

B.     ASUHAN KEPERAWATAN NYERI

1.Pengkajian
Riwayat Penyakit
a.      Pengalaman nyeri apakah pertama atau sering
b.      Seseorang secara bertahap atau mendadak
c.      Faktor pencetus: makan atau kecelakaan
d.      Tindakan yang dilakukan untuk menurunkan nyeri

Dalam mengkaji nyeri perawat perlu memastikan nyeri secara jelas meliputi dimana nyeri itu dirasakan, missal: nyeri pada daerah abdomen kuadran kanan bawah intensitas nyeri dinyatakan. Dengan nyeri ringan, sedang atau berat, sedangkan waktu dan durasi dinyatakan sejak kapan dirasakan dan berapa lama dirasakan.

Pengkajian dasar lainnya meliputi
a)      Kaji TTV
b)      Kaji tanda dan gejala nyeri
c)      Kaji pengalaman nyeri, serangan, factor pencetus
d)      Tidakan yang dilakukan

2.      Diagnosa Keperawatan

a.      Gangguan rasa nyaman: nyeri akut b/d penurunan sirkulasi darah dan otot jantung.
b.      Gangguan rasa nyaman: nyeri kronos b/d luka post op
c.      Gangguan mobilisasi b/d nyeri kronis pada daerah abdomen
d.      Resiko tinggi infeksi b/d masuknya mikro organisme
e.      Gangguan kebutuhan saat tidur badan nyeri pada anus
f.        Gangguan perawatan diri badan mobilitas yang tidak adedkuat
g.      Gangguan rasa nyaman: nyeri b/d disuria
h.      Gangguan pola tidur b/d disuria
i.         Gangguan rasa nyaman: nyeri kronis b/d adanya cystitis

Tujuan
a.      Menunjukan factor-faktor yang dapat meningkatkan nyeri
b.      Menurunkan nyeri dengan teknik non infasif (penyuntikan)
c.      Menurunkan nyeri secara optimal dengan anal;getik sesuai dosis
d.      Berikan support emosional (untuk koping indifidu)

3.      Intervensi

a.      Berikan informasi yang akurat untuk mengurangi rasa takut
b.      Kaji keluarga untuk mengetahui adanya kesalahan konsep
c.      Berikan kesempatan pada klien untuk istirahat siang dengan waktu tidur yang tidak terganggu pada malam hari
d.      Anjurkan klien untuk merelaksasikan ototnya
e.      Berikan individu pereda sakit dan kembali 30 menit kemudian untuk mengkaji efektivitasnya
f.        Berikan alasan mengapa individu dapat mengalami peningaktan atau penurunan, missal: keletihan atau adanya distraksi meningkat.

4.      Evaluasi dan dokumentasi
Karena nyeri merupakan pengalaman yang sifatnya subyektif mengevaluasi dapat dilakukan dengan pertanyaan:
a.      Apakah sudah merasa nyaman
b.      Perasaan dapat istirahat/tidur
c.      Skala nyeri 
d.      Infeksi: melihat keadaan klien
-          ekspansi
-          warna kulit
-          kelembaban nyeri
-          sikap klien

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar